
" Yuna, kenapa kau ada di sini?"
Aril mendekatiku yang membungkuk dengan kedua tangan memegang sebuah buffet kecil.
" A-ril."
Aril kelihatan bingung denganku yang terlihat agak aneh. Ia mengamatiku, lalu di dapatinya sebuah gelas berisi minuman di atas buffet itu.
" Ini apa?" tanyanya sambil mencium bau air yang ada di dalam gelas itu.
" Air, tapi sedikit aneh. Aku tidak suka."
" Dari mana kau mendapatkannya?"
" Ben. Dia tadi memberikanku air itu. Katanya sebagai permintaan maaf."
Aril menghela napas panjang.
" Yuna, tunggu di sini dan jangan pergi kemana-mana."
Aku hanya mengangguk dan Ia pun bergegas mencari Gafi.
" Gafi," panggilnya begitu mendapati Gafi. Aril hanya membisikkan sesuatu padanya, kemudian tanpa berpikir panjang ia bergegas pergi.
Aku terduduk di lantai dengan perasaan yang sedikit aneh. Air yang sudah kuminum itu memberikan reaksi yang aneh di tubuhku.
" Yuna."
Gafi sudah ada dihadapanku. Aku langsung tersenyum begitu melihatnya.
" Ga-fi, kenapa kau ada di sini?"
" Apa kau bisa berdiri?"
Aku menggelengkan kepalaku.
" Aku tidak bisa. Rasanya dunia seperti berputar."
Aku mulai bertingkah.
Gafi mendengus kesal. Bisa-bisanya Ben memberikan Yuna alkohol.
" Kenapa kau bisa sebodoh ini, ha!Seharusnya kau curiga saat Ben memberikanmu sesuatu bukan malah menerimanya begitu saja."
" Kenapa kau malah memarahiku," rengekku. " Suamiku, kenapa kau jahat sekali padaku."
Aku meracau tak terkendali.
Gafi pun tak bisa berbuat apa-apa karena ulahku ini. Air yang kuminum itu sudah membuatku hilang kendali.
" Kau mabuk."
" Gafi...sebaiknya kau segera membawa Yuna, sebelum yang lain melihat," ujar Aril yang tiba-tiba menghampiri.
" Apa kau tidak lihat bagaimana dia ini. Aku tidak bisa menggendongnya, dia menarik kemejaku."
" Yuna." Aril mencoba menyadarkanku. " Gafi..."
Aku langsung membuka mataku sebelum Aril melanjutkan perkataannya.
" Jangan membawa Gafi, dia milikku."
Ocehanku itu sukses membuat Gafi dan Aril mematung. Tak ada kata yang bisa mendeskripsikan ekspresi mereka saat ini.
" Wah...Yuna, kau benar-benar posesif," celetuk Aril. " Gafi memang milikmu, aku tidak akan mengambilnya, kau puas."
__ADS_1
" Hentikan."
" Kenapa? apa kau malu? atau kau senang mendengar pengakuan darinya."
" Yuna sedang mabuk."
" Perkataan orang mabuk itu lebih bisa di percaya."
" Apa kau harus terus mengoceh."
" Ha...baiklah."
Aril membantu Gafi menarik tanganku dari kemejanya agar ia lebih leluasa mengangkat tubuhku untuk membawaku ke kamar.
" Ga-fi...rasanya aku ingin muntah."
" Hei..hei..tahan dulu."
Aku menggelengkan kepalaku. Rasa mual yang tak bisa lagi kutahan. Dan terjadilah...aku memuntahkan semua isi di dalam perutku. Pakaian Gafi kotor karena ulahku. Ia tak bisa berbuat apa-apa walaupun ia sangat kesal.
" Yuna!!"
...****...
" Kau benar-benar membuatku gila." Gafi terus mengomel karena kesal, lalu ia membuka pakaiannya yang sudah kotor itu.
"Ha..." Gafi menghela napas panjang. " Apa yang harus kulakukan padanya."
Gafi melepas satu per satu pakaian yang melekat di tubuhku karena muntahan yang mengotori seluruh pakaianku. Diambilnya sebuah handuk kecil lalu di celupkannya ke dalam wadah berisi air. Perlahan Gafi membersihkan tubuhku menggunakan handuk basah itu.
Setelah selesai, ia mengangkatku dari kamar mandi lalu membawaku ke tempat tidur. Ia mengambil sebuah selimut putih lalu menutupi seluruh tubuhku.
" Kau benar-benar dalam masalah Gafi." Ia menggaruk kepalanya. Menatap wajahku dalam.
" Yuna...semua ucapanku tidak ada yang ambigu. Aku ingin bersamamu, ada atau tidak perasaan di antara kita."
Saat Gafi bangkit dari tempat tidur, langkah kakinya terhenti karena aku menahan tangannya.
" Jangan tinggalkan aku."
Dengan mata yang setengah terbuka, aku mengoceh agar tidak meninggalkanku sendirian.
" Apa kau tahu apa yang sedang kau minta ini, Yuna? Baiklah, jangan salahkan aku jika esok hari kau membuka matamu."
...****...
Malam berganti pagi, bulan berganti matahari , lalu menyadarkanku dari tidurku yang panjang. Perlahan kubuka mata ini, lalu tepat di depan mataku terpampang sebuah pemandangan yang tak bisa kupahami. Berusaha menyadarkan diri ini sepenuhnya.
Bola mataku membesar ketika aku menyadari kalau posisiku sekarang ini bukanlah posisi tidurku yang biasanya.
Tanganku yang melingkar di pinggang Gafi dan tangannya yang juga melingkar di pinggangku, di tambah Gafi yang bertelanjang dada dan aku yang hanya di baluti sebuah selimut.
Aku mulai panik.
Apa yang sedang terjadi ini? Ini benar-benar gila...
Aku mengangkat kepalaku, memandangi wajah Gafi yang sedang tertidur. Sekali lagi aku terpesona dengan wajahnya ini.
" Ha...tampannya,"ocehku tanpa sadar, lalu mengatupkan bibirku saat menyadari ucapanku barusan.
" Apa aku setampan itu?"
Mata Gafi tiba-tiba terbuka. Ia menyeringai menatapku. Aku mengalihkan pandanganku, lalu berusaha melepaskan dekapannya. Tapi, Gafi malah menahan tubuhku kuat hingga aku tidak bisa lepas darinya.
" Lepaskan aku," pintaku.
__ADS_1
" Kenapa aku harus?"
" Pokoknya lepaskan saja."
" Aku tidak mau."
" Kenapa kau tidak mau? Kenapa kau jadi aneh begini?"
" Bukankah kau yang memintanya? Setelah kau mendapatkan apa yang kau inginkan, sekarang kau mencampakkanku?
" Ha??" Aku terkejut dan bingung." Aku tidak mengerti maksudmu."
" Jangan tinggalkan aku. Kau mengatakan itu padaku."
" Aku?"
" Ha..." Gafi menghela kesal. " Dasar pemabuk, jadi kau tak ingat apapun yang kau ucapkan."
" Aku mabuk?"
" Ya, kau mabuk dan sangat bodoh."
Aku mengernyitkan dahiku, memahami kejadian yang sudah terjadi semalam.
Ya, Ben lah pelakunya.
Saat itu, ia mendatangiku dan mengatakan kalau ia menyesal karena sudah bicara tak pantas padaku, lalu sebagai permintaan maaf, ia memberikanku segelas minuman. Tanpa curiga, aku menerima dan meminum air itu. Aku yang memang tidak tahu dengan minuman seperti itu, tentu saja seketika mabuk. Lalu...
Aku pun menatap Gafi.
" Kau sudah ingat?"
Gafi menatapku seolah ia tahu apa yang sedang kupikirkan. Aku pun mengangguk. Tidak tahu harus mengatakan apa karena aku malu dengan sikapku kemarin.
" Maaf," ucapku.
" Jangan lakukan itu lagi."
" Aku tahu. Tapi, boleh aku bertanya?"
" Tentu."
" Siapa yang mengganti pakaianku? Apa bibi?"
" Kau pikir aku akan membiarkan orang lain menyentuhmu."
" Ha!!"
Tunggu, berarti Gafi...
" Aku sudah melihatnya, lalu apa?"
" Kau!"
Aku kesal bukan main.
" Kenapa kau harus kesal. Menurutmu aku ini siapa? Suamimu. Apapun yang ada padamu adalah milikku dan hakku."
" Kau aneh."
Sekali lagi aku mendorong tubuhnya agar menjauh dariku, namun lagi-lagi ia malah semakin menahanku.
Tatapannya yang intens itu membuatku salah tingkah. Aku menundukkan wajahku, namun Gafi menahan, lalu ia mengangkat daguku. Wajahnya semakin mendekati wajahku. Tanpa sadar aku menutup mataku.
Namun, semua buyar karena suara ketukan pintu dari luar sana.
__ADS_1
" Gafi-Yuna. Apa kalian belum bangun."
Ya, suara dari panggilan Aril merusak situasi yang tengah romantis itu.