Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Berharap


__ADS_3

" Gafi!" Aril begitu tergesa-tega memasuki ruangan itu. Dengan langkah panjang ia mendatangi Gafi yang tengah duduk di kursinya. " Apa yang kudengar ini benar?"


" Soal apa?"


" Jangan tanya soal apa, kau pasti tahu maksudku."


" Kau tiba-tiba masuk ke ruanganku terus bertanya ini-itu, sekarang kau malah marah-marah. "


" Fi!" Aril menggebrak meja di mana Gafi tengah sibuk dengan dokumen yang tersusun di atas meja. Seketika raut wajah Gafi berubah.


" Apa kau cari masalah denganku, ha!"


" Serius sedikit, Fi. Kau tahu maksudku adalah Sherin."


" Lalu mengapa dengan Sherin? Apa itu mengganggumu?"


Aril menghela napas. " Mengganggu, sangat menganggu," ujarnya. " Bagaimana dengan Yuna?"


" Kau mengkhawatirkannya atau menanyakan keadaannya?"


" Keduanya."


" Sekarang Yuna baik-baik saja walaupun pada awalnya dia sangat tidak nyaman. Tapi, aku mengerti kalau kehadiran Sherin pasti sedikit banyak membuat pikirannya terganggu."


" Tentu saja Yuna pasti terganggu karena Sherin datang pasti karenamu."


" Aku tidak peduli. Dia pergi semaunya dan kembali semaunya. Bukankah diantara kami memang sudah berakhir, tidak ada yang harus di luruskan."


" Bagaimana kalau Sherin tidak menganggap seperti itu."


" Aku bisa apa? Apa aku harus memikirkan Sherin?" Gafi malah melontarkan pertanyaan. Aril tak bergeming dengan pertanyaannya itu. " Raut wajahmu tidak mengenakkan. Tentu saja aku tidak akan melakukannya. Dia sudah lama hilang dari pikiran maupun hatiku. Lalu apa aku harus mengatur perasaanku karena kehadirannya?"


" Syukurlah kalau kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan."


" Nona..." Terdengar suara Jenny sampai terdengar oleh Gafi dan Aril. " Maaf Nona, pak Direktur sedang ada tamu. " Tolong, jangan..." Jenny langsung terdiam karena wanita yang di halanginya langsung membuka pintu. " Direktur, maaf," ucapnya bersalah.


" Sudah tidak apa-apa," ujar Gafi. " Kau kembali bekerja."


" Baik, Direktur."


Sherin.


Wanita yang menerobos masuk itu adalah Sherin. Ia tak berubah, melakukan apapun yang ia inginkan.

__ADS_1


" Jadi tamu yang dikatakan oleh sekretaris itu adalah Aril?" Sherin menunjuk Aril yang berdiri mematung di sana.


" Kau tak seharusnya menerobos masuk, aku dan Gafi sedang mendiskusikan pekerjaan," ujar Aril sinis.


" Kenapa sepertinya kau tidak menyukai kehadiranku?"


" Apa aku harus menyambutmu dengan istimewa?"


" Tch..." Sherin mendengus kesal. Ia tak menyangka akan mendapat sambutan tak menyenangkan dari temannya ini. " Kau tak pernah seperti ini sebelumnya."


" Mulai sekarang terbiasalah," celetuknya. " Fi, kita bahas lagi nanti," ujar Aril meninggalkan ruangan itu.


" Bukankah itu tidak sopan," protesnya kesal, tapi Gafi tidak terlalu merespon perkataannya itu. " Kau ada waktu?"


" Bukankah kau sudah ada di sini?"


" Maksudku berbicara di luar kantor."


" Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan, kalau tidak keberatan katakan saja di sini."


" Baiklah." Sherin pun duduk di hadapan Gafi. " Aku senang melihatmu lagi. Selama ini aku sangat merindukanmu."


" Merindukanku?" Sherin mengangguk. " Untuk apa?"


" Menyukaiku? Sejak kapan? Apa itu penting?"


Sherin menghela napas. " Gafi!"


Gafi menyilangkan kedua tangannya. " Kau membicarakan sesuatu yang menurutku lucu. Kata-kata yang kau ucapkan sekarang, mengapa berbeda dengan yang kudengar dulu. Apa kau sudah lupa dengan semua itu?"


" Kau tak tahu bagaimana situasiku dulu. Aku melakukannya karena suatu hal."


" Lalu?"


" Gafi!" Sherin tampak kesal. " Kenapa aku merasa kau sudah banyak berubah, tidak seperti Gafi yang kukenal dulu."


" Gafi yang bisa kau tipu maksudmu?"


" A-ku..." Sherin kehilangan kata-kata. Sejenak ia menghembus napas panjang. Ia tak menyangka Gafi akan mengucapkan hal yang mengejutkan itu.


" Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Tidak ada gunanya kau masih berkutat di masa lalu. Aku sudah menikah dengan wanita pilihanku. Apapun alasanmu meninggalkanku, aku rasa itu pilihanmu dan tidak akan bisa berubah."


" Gafi... kenapa kau bisa segampang itu melupakan semuanya."

__ADS_1


" Segampang itu?" Gafi masih terlihat tenang dengan argumen-argumennya. " Kau mendadak meminta berpisah, lalu di saat aku menanyakan alasanmu, kau bilang tidak mencintaiku. Aku mencoba bertahan, tapi kau tetap dengan keputusanmu, aku bisa apa? Menuruti keinginanmu adalah keputusan yang sangat sulit untukku. Lalu kau menghilang bak di telan bumi, tak ada yang tahu keberadaanmu. Aku seperti orang yang kehilangan semangat hidup karena kepergianmu. Dan sekarang kau kembali dan mengatakan hal yang sangat tidak masuk akal hanya untuk menutupi kesalahanmu. Kau tak berhak mengomentari kehidupanku yang sama sekali tak kau pahami."


" Kata-katamu begitu pedas. Apa begini sejak kau menikah?"


" Kau benar-benar tidak paham. Apapun yang aku katakan kau pasti akan menyimpulkan sesuai pikiranmu. Aku menangkap sepertinya kau ingin menyalahkan Yuna dalam hal ini."


" Aku benar-benar tidak mengerti kenapa kau harus menikah dengannya, Fi?"


" Sherin, kita sudah berakhir, selanjutnya apapun yang aku lakukan, tidak ada hubungannya denganmu. Aku menikah dengan siapapun, aku tidak perlu meminta izinmu."


" Aku menunggumu sampai detik ini. Kau tidak tahu bagaimana aku menjalani kehidupanku tanpamu. Menunggu sampai aku bisa berdiri tegak di hadapanmu."


" Jangan memulai pembicaraan yang tidak ada habisnya ini."


" Aku sakit, saat dokter memberitahuku tentang penyakit ini, aku tidak tahu harus bagaimana."


" Sakit??"


Sherin mengangguk kecil. " Aku sakit waktu itu, Fi."


" Bagaimana aku bisa tahu kalau kau tidak memberitahuku waktu itu."


" Karena aku tidak ingin membebanimu," ujarnya penuh emosi.


Gafi menghela napas. " Membebaniku? Bagaimana bisa kau berpikir negatif seperti itu. Apa kau berpikir kalau aku akan meninggalkanmu kalau aku tahu tentang penyakitmu ini."


Sherin terdiam.


" Kau memilih jalanmu, menyakiti, lalu meninggalkan. Lalu apa gunanya kau memberitahuku sekarang? Apa ini juga jalan yang kau ambil, sesuka hatimu."


" Ga-fi." Sherin tercengang tak percaya dengan ucapan Gafi padanya. " Aku tahu jalan yang aku ambil salah, tapi tak bisakah kau mengerti dengan keputusanku ini."


" Aku mengerti dan memaafkan, tapi bukan seperti ini, bukan seperti yang kau inginkan. Kita hanyalah dua orang yang sudah memiliki jalan masing-masing, jadi kau juga harus mengerti dengan keadaan ini."


" Fi..."


" Jadi, tolong." Gafi menunjuk pintu tang ada di ujung sana. " Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."


Sherin menahan kekesalannya karena permintaan Gafi ini. " Baiklah, aku akan pergi. Tapi, ini belum berakhir. Aku yakin kau akan berubah pikiran," ujarnya pergi.


Gafi menghela napas panjang, menyandarkan bahunya di sofa. Satu per satu masalah muncul bersamaan. Tapi kali ini kehadiran Sherin memang menyita perhatian terutama orang-orang yang mengenalnya.


Ia tahu kemunculan Sherin bukan perkara yang sederhana. Ia maupun Yuna harus siap menghadapi apapun yang terjadi nanti. Ini sandungan kesekian kalinya yang harus mereka lewati. Bisa atau tidaknya, hanya Gafi dan Yuna yang bisa menjawabnya.

__ADS_1


__ADS_2