Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Lembaran Baru#2


__ADS_3

Aku mengelap wajahku yang basah dengan handuk kecil. Dengan cepat Gafi mengambil handuk itu dari tanganku, lalu mengusap wajahku dengan lembut.


" Maafkan aku," ucap Gafi tiba-tiba.


" Kenapa kau meminta maaf," tanyaku bingung.


" Karena perlakuan mereka padamu."


" Tidak apa-apa. Jangan merasa bersalah begitu. Lagi pula ini juga bukan yang pertama kali' kan."


" Iya, tapi bukan berarti harus seperti ini terus. Aku juga tidak mengerti mengapa mereka masih belum menyerah, masih berusaha memutuskan hubungan kita."


Aku tersenyum kecil.


" Kenapa kau malah tersenyum."


" Karena perkataanmu tadi. Aku senang mendengarnya."


Gafi menghela napas. " Hampir saja aku berpikir yang tidak-tidak."


" Dasar." Aku tersenyum simpul. " Oh ya, bukankah kau bilang sedang banyak pekerjaan dan akan ada rapat, lalu mengapa kau bisa pulang seperti biasa."


" Iya, tadi memang akan ada rapat, namun aku harus membatalkannya karena beberapa hal yang belum selesai. Kau tahulah pasti ada saja masalah di saat penting seperti itu."


" Oh begitu."


" Tapi, syukurlah aku pulang, kalau tidak, apa yang akan mereka lakukan padamu."


" Sudahlah...lagi pula kita harus cepat, mereka sudah menunggu di bawah."


" Biarkan saja."


" Jangan begitu."


" Baiklah..."


Aku pun mengganti pakaianku, begitu juga dengan Gafi. Kami mengenakan pakaian santai berupa celana panjang dan sebuah kaos.


Kami pun keluar dari kamar bersama-sama dan di sambut dengan tatapan para wanita di sana.


Gafi segera membuka pintu mobil untukku, namun dengan cepat Diana menyerobot tempat duduk yang seharusnya aku duduki. Aku dan Gafi sedikit kaget dengan tingkahnya itu.


" Diana...di situ bukan tempatmu," ujar Gafi menyuruhnya untuk pindah. Namun dengan sigap ibu mertuaku melarangnya.


" Sudahlah Gafi, jangan di besarkan, biarkan saja Diana di sana."


" Ma..."


Aku menggenggam tangan Gafi agar ia tidak melampiaskan kekesalannya itu. Gafi pun mengerti dan tidak jadi mengucapkan kalimat yang ingin ia katakan.


Ia pun membuka pintu belakang, lalu menyuruhku untuk masuk.


" Kau tidak memakai jaket atau cardiganmu?"


Aku menggelengkan kepalaku.


Gafi langsung membuka jaket yang ia pakai, lalu memberikannya padaku.


" Pakailah."


Aku mengangguk. " Terima kasih."


Gafi tersenyum, lalu mengelus lembut rambutku.


Dan mata yang memandang kami terlihat sangat tidak senang dengan perlakuan lembut Gafi padaku.


" Gafi pergi, Ma," pamitnya.

__ADS_1


" Iya, hati-hati menyetirnya."


" Iya."


Gafi pun masuk ke dalam mobil, lalu menghidupkan mesin itu. Sedetik kemudian mobil yang membawa kami ini melaju meninggalkan mereka.


Di sepanjang perjalanan, Diana terus mengoceh mengajak Gafi berbicara, berusaha mencari perhatiannya. Namun, Gafi hanya menanggapinya dengan seadanya. Dan aku, tentu saja sebagai pendengar yang budiman, lagi pula aku juga tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka.


" Oh ya Yuna, terakhir kali kau mencurigaiku, apa kau sudah mendapatkan jawaban atas kecurigaanmu itu?"


Aku terkaget dengan pertanyaannya itu, begitu juga dengan Gafi yang langsung melihatku dari balik kaca.


" Kau masih mengingatnya."


" Tentu saja."


" Aku minta maaf padamu sudah mencurigaimu tempo hari."


" Apa aku tidak salah dengar. Kau meminta maaf padaku?"


" Kau tidak salah dengar. Kalau aku memang salah, aku akan meminta maaf, sekalipun itu padamu."


" Bagus sekali, aku jadi terharu. Aku menerima permintaan maafmu, lagi pula aku tidak peduli dengan permasalahanmu."


" Oh," jawabku seadanya.


" Kau lihat' kan Gafi, aku tidak sejahat itu padanya. Aku wanita baik-baik."


" Terserah saja," ujarnya.


" Kau ini, tidak ada manis-manisnya. Bicaralah sedikit manis denganku, kan tidak ada salahnya."


Memang, dia ini wanita yang pantang menyerah. Apa saja akan ia lakukan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Bagus-bagus saja punya sifat seperti itu, namun jika salah pengaplikasian, maka sudah pasti akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.


...****...


Lebih dari setengah jam waktu yang kami tempuh untuk sampai ke kediaman Diana. Sebuah rumah yang sangat besar membuatku takjub melihatnya. Pantas saja ibu mertuaku begitu pantang menyerah dengan menjodohkan Gafi dan Diana. Anak seorang konglomerat tidak mungkin ia lewati begitu saja.


" Maaf, aku tidak bisa mampir. Ini sudah malam."


" Ayolah Gafi..."


" Aku sudah mengantarmu sesuai permintaan, aku hanya menghargai permintaan mama, tapi untuk masuk, maaf aku tidak bisa."


" Kenapa? Apa karena ada Yuna?"


" Bukan karena ada Yuna, tapi karena Yuna. Jangan mempersulit, aku minta kau jangan egois."


" Kau memang tak pernah berubah!" ujarnya kesal, lalu turun dari mobil.


Gafi menghela napas, kemudian melirikku, memberikan isyarat agar segera duduk di depan.


" Kenapa? Setelah di tinggal, sekarang kau memintaku menemanimu."


" Kau ini..."


Aku tertawa. Segera aku pindah dari kursi belakang ke kursi depan.


" Sekarang kau senang?" godaku.


" Tentu saja," ujarnya tersenyum.


Mobil ini pun kembali melaju. Di sepanjang jalan kami bercengkrama panjang lebar. Aku mulai terbiasa mengoceh ini dan itu padanya. Dan Gafi pun menyambut ocehanku itu.


Aku menyadari bahwa rute perjalanan ini sudah melenceng dari arah rumah. Aku mempertanyakan kemana gerangan Gafi membawaku ini. Dan ia hanya menjawab ke tempat yang tidak akan aku duga.


Pastinya aku penasaran karena ini pertama kalinya kami di luar rumah selarut ini. Ternyata kalau sudah halal kemanapun akan terasa tenang.

__ADS_1


Dan sampailah kami di sebuah tempat. Sebuah resort yang cukup jauh dari kota. Butuh waktu 2 jam untuk sampai ke sini.


Udara dingin begitu menusuk tulang. Dan aku tidak mempersiapkan diri untuk situasi seperti ini.


Seorang pria paruh baya menyambut kedatangan kami. Ternyata ini adalah resort keluarga Gafi yang di kelola oleh ayahnya. Pantas saja pekerja di sini mengenalnya dengan sangat baik.


" Kau pasti kedinginan." Tiba-tiba Gafi memelukku dari belakang. " Tempat kita ada di ujung sana."


Aku hanya mengangguk tak sanggup lagi berkata karena dinginnya cuaca di tempat ini.


...****...


Bapak yang mengantarkan kami pun pamit begitu kami sampai di tempat peristirahatan. Tempat yang sangat indah. Dari atas balkon bisa terlihat lampu-lampu dari bawah sana.


" Kau suka?" tanyanya.


" Aku suka," jawabku. " Matahari terbit akan terlihat dari sini, kan?"


" Iya."


" Tapi...kenapa kau membawaku ke sini? Bukankah seharusnya kita pulang?"


" Suasana rumah sudah tidak enak karena kedatangan mereka. Jadi supaya mood kembali baik, aku membawamu ke sini."


" Oh begitu..."


Aku pun tersenyum simpul.


" Terima kasih," ucapku padanya.


" Umm.. ya..."


Aku menatap Gafi yang berada di sampingku. Pria ini entah mengapa memilihku sebagai pendampingnya. Begitu banyak wanita yang ingin bersamanya, namun memilihku yang seyogyanya tak mengenalnya sama sekali.


" Bukankah kita pernah membuat sebuah taruhan?" ujarku yang membuatnya langsung memandangku. " Apa kau ingat?"


" Taruhan..."


" Iya... Bukankah aku kalah."


" Jadi, aku boleh meminta hadiahku."


Aku mengangguk. " Tentu."


" Apapun itu?"


" Ya."


" Kalau begitu... boleh aku menyentuhmu."


Aku terdiam sesaat. Tak pernah terpikirkan akan mendapatkan sebuah kalimat seperti itu.


" Ya..."


" Kau yakin? Apa kau mengerti dengan permintaanku barusan."


" Aku yakin dan mengerti."


" Kalau begitu kau tak boleh menariknya kembali dan aku tidak akan menahan diri lagi."


Aku mengangguk pelan.


Gafi mendekatiku. Sebenarnya ada sensasi lain yang tiba-tiba menghampiri. Perasaanku mulai tak karuan. Sentuhan jari tangannya yang menyentuh jari jemariku membuatku terpaku.


Tatapan matanya yang menatapku seolah menghipnotisku.


" Yuna...," bisiknya di telingaku. Aku bergidik.

__ADS_1


Perlakuannya benar-benar berbeda malam ini.


" Aku menyukaimu..."


__ADS_2