Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Teman yang Tadinya Kupercaya


__ADS_3

Aku memukul pelan tubuhku yang terasa pegal ini. Selain karena kelelahan karena pernikahan Hanum kemarin, hari ini pun aku tak berhenti menggerakkan tubuhku hingga menguras tenaga.


Aku menyandarkan tubuhku di dinding untuk mengistirahatkan sejenak tubuh yang lelah ini. Mumpung pekerjaanku sudah berkurang, tidak ada salahnya aku istirahat sebentar saja.


Tanpa sadar mataku terpejam, kalau bukan karena suara temanku mungkin saja aku sudah terlelap.


" Herman." Aku membetulkan posisi tubuhku yang bersandar tadi.


" Loh Yuna. Kau ada di sini?"


" Iya, aku istirahat sebentar."


" Oh begitu," ujarnya " Oh ya, kemarin kemana? kenapa tidak masuk?"


" Kemarin?"


" Iya, kemarin kenapa tidak masuk? Bos mencari mu."


" Bos mencariku?"


Herman mengangguk.


" Tapi aku sudah minta izin tidak masuk dan aku juga sudah meminta Widya untuk menggantikanku."


" Widya?"


Aku mengangguk. Dan Herman tampak mengernyitkan dahinya.


" Tapi Widya tidak datang."


" Apa?" Aku kaget sejadi-jadinya. " Tapi aku sudah meminta Widya untuk menggantikanku. Apa dia lupa."


" Apa kau yakin memang meminta Widya untuk menggantikanmu?"


Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.


Dan raut wajah Herman langsung berubah.


" A-da apa?" Aku mulai cemas dengan responsnya. Isi kepalaku sudah menduga akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.


" Aku tak bisa menjelaskannya, nanti kau akan tahu sendiri. Sekarang pergilah ke ruangan bos, dia tadi mencarimu."


Aku mengangguk tanpa mengatakan apa pun padanya.


Entah kejadian apa yang terjadi kemarin hingga aku harus berurusan dengan temanku sendiri. Yang jelas perasaanku mengatakan akan terjadi hal besar yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya.


...****...


" Permisi Bos," ucapku membuka pintu setelah sebelumnya mengetuk pintu.


" Masuklah Yuna," balasnya mempersilahkan masuk. " Duduklah," ujarnya mempersilahkanku duduk.


Sekejap suasana sedikit berubah. Raut wajah Martin pun terlihat serius.


" Kau tahu kenapa aku memanggilmu ke sini?"


" Saya tahu Bos, tadi Herman sudah menyampaikannya pada saya."

__ADS_1


Martin mengangguk-anggukkan kepalanya.


" Begini Yuna, waktu itu kau bilang bahwa Widya akan menggantikanmu, tapi mengapa tidak seperti itu kejadiannya. Baik kau maupun Widya sama-sama tidak datang bekerja. Apa kau bisa menjelaskannya?"


" Saya memang meminta Widya untuk menggantikan saya kemarin dan Widya menyanggupinya. Tapi, saya tidak tahu kenapa Widya tidak datang kemarin. Saya pikir mungkin ada kesalahpahaman di sini."


" Widya apa itu benar?"


Aku langsung menoleh ke belakang. Tampak Widya sedang berdiri memandangiku. Aku merasa melihat Widya yang berbeda, tak seperti Widya yang kukenal.


" Yuna tidak mengatakan apapun pada saya, Bos. Kalau Yuna meminta bantuan saya, saya tidak mungkin mengingkarinya. "


Pengakuan yang benar-benar di luar ekspektasiku. Ia bahkan tak terlihat ragu dengan ucapannya itu. Sebuah kebohongan yang sangat luar biasa keluar dari bibirnya.


" Sebelum kejadian kemarin, Yuna melapor kepada saya kalau kalian sudah bertukar jadwal dan kalian sepakat dengan itu."


" Saya tidak tahu soal itu Bos. Seingat saya, Yuna tidak mengatakan apa pun soal bertukar jadwal."


" Tapi Widya, bukankah kita sudah sepakat, saat aku memintamu untuk menggantikan ku. Kenapa kau tidak ingat. Saat itu kau menyanggupinya."


" Kenapa kau tega Yuna."


" A-pa.."


" Dengan kata lain kau mau mengatakan kalau aku sedang berbohong, kan." Mata Widya mulai berkaca. " Sungguh aku tidak tahu Bos."


Air mata.....


Selalu ampuh untuk dijadikan tameng. Seolah-olah aku melakukan hal yang keji terhadapnya.


Aku hanya mematung. Tubuhku terasa tak berdaya. Melihatnya dengan air mata yang bercucuran membuatku berpikir drama apa yang sedang ia mainkan. Apa ini sebuah lelucon yang sering aku lihat di televisi ataukah aku masih di alam mimpi. Sungguh aku tak berdaya dengan semua ini.


" Sudah Widya jangan menangis," tegas Martin. Widya pun terdiam. Martin mengarahkan pandangannya ke arah Yuna yang masih terdiam. Sedikit pun tak ada pembelaan darinya. Kemudian mengarahkan pandangannya ke Widya yang masih menghapus air matanya.


Martin menghela napas. Mencoba menenangkan pikirannya menghadapi masalah yang terjadi dengan kedua pekerjanya.


" Widya kembalilah bekerja."


Widya pun mengangguk dan pergi. Sedangkan aku masih terdiam tanpa respon apa pun.


" Yuna." Martin memegang bahuku dan aku pun tersentak. " Kenapa kau diam saja? kenapa kau tak membela dirimu?"


" Untuk apa?" Martin terkejut dengan ucapanku. " Membela sampai mati pun kalau yang di lawan orang seperti itu hanya membuang energi saja. Mungkin bukan sebagai Bos tapi sebagai teman, apa kau percaya padaku, Martin?"


" Aku percaya padamu, Yuna. Tapi sebagai atasanmu, aku harus adil."


" Aku tahu."


" Masalah ini kita anggap selesai. Jangan ada masalah seperti ini lagi. Sekarang kembalilah bekerja."


" Baik Bos, terima kasih. Kalau begitu saya permisi."


" Silakan," ujarnya tersenyum kecil.


...****...


Aku terduduk di lantai di ruangan ganti. Masih segar di ingatanku kalimat yang di ucapkan oleh Widya. Membalikkan semua fakta yang ada. Entah kenapa ia tega melakukannya padahal kami sangat dekat. Ia pun sudah kuanggap sahabat sendiri.

__ADS_1


Suara pintu terbuka membuatku tersadar. Terlihat Tia berdiri memandangku tajam. Ia pun memberikanku sebotol air mineral.


" Ambillah."


Dengan ragu-ragu aku pun mengambil botol minuman itu.


" Terima kasih," ucapku.


" Apa kau tak ingat dengan ucapanku waktu itu?"


" Ucapan?"


Aku mulai mengingat-ingat ucapan yang Tia maksud. Dengan sedikit memoriku bersamanya, aku berpikir keras untuk mengingatnya.


Perlahan aku mengangguk begitu aku mengerti dengan pertanyaannya itu.


" Syukurlah kau ingat, sekarang kau tahu, kan, maksud dari ucapanku."


" Ya, aku juga tak menyangka akan ada hal yang seperti ini. Benar-benar di luar dugaanku. Dan aku juga tak tahu apa salahku padanya. "


" Tentu saja diluar dugaanmu karena sejak awal kau sudah di dekati Widya dan menjadikanmu teman baiknya. Jadi kau tak akan sadar kalau nantinya dia akan berbuat jahat padamu. "


Aku menyeringai.


" Soal apa salahmu padanya, sebenarnya kau tak punya salah, hanya saja ada sesuatu yang membuatnya iri dan tak suka denganmu."


" Apa itu?"


" Kau tanyakan saja sendiri padanya."


" Kalau bisa sudah kutanyakan sejak tadi."


Tia tak merespons. Ia sama sekali tak punya keinginan untuk memberitahuku cerita yang sebenarnya.


Aku juga tak ingin memaksa. Mungkin memang lebih baik aku memburu jawaban dari Widya sendiri dan dengan begitu akan membuatku lebih puas.


" Apa aku terlihat sangat polos hingga bisa di jadikan target empuk?"


" Bisa jadi."


" Kau ini benar-benar terlalu terus terang. Tak bisakah kau sedikit berbohong untuk menenangkanku?"


" Apa itu akan menyelesaikan masalah?"


Aku mengangguk-anggukkan kepala.


" Setidaknya aku tahu kau bisa bicara manis."


" Ini pelajaran untukmu. Setidaknya kau menyadarinya lebih cepat walaupun dengan cara yang tidak kau duga."


" Ya kau benar, setidaknya aku tahu karakter asli dari teman yang kuanggap baik itu."


" Oh ya, Tia, aku minta maaf padamu, untuk sesuatu yang secara tak sadar aku percayai. Dan aku juga berterima kasih padamu dengan peringatanmu padaku tempo hari."


" Ok."


Aku hanya bisa tersenyum dengan jawaban singkatnya itu. Benar-benar seorang Tia yang kukenal.

__ADS_1


__ADS_2