
“ Selamat pagi,” sapaku pagi ini.
Aku dan teman-teman lainnya bekerja seperti biasanya, seolah tak ada peristiwa yang terjadi kemarin lalu. Hanya aku dan Widya yang berbeda sekarang. Tak ada kebiasaan yang biasanya dulu kami lakukan.
Dan masih seperti kemarin, Widya terus menghindariku. Walaupun aku sudah tahu alasan di balik perlakuannya padaku, namun aku juga ingin mendengar penjelasan langsung darinya. Tapi entah kapan Widya akan melakukannya, aku pun tak tahu.
“ Yuna, tolong antarkan pesanan ini ke meja 5, ya,” ujar Herman menunjuk meja yang berada di ujung sana.
“ Oh oke,” jawabku menyanggupi.
Aku pun mengambil nampan yang berisi tiga minuman dan makanan di atas meja. Dengan hati-hati aku membawanya ke meja yang berisi tiga wanita muda itu.
Sesampainya di meja itu, aku meletakkan satu per satu pesanan mereka. Tak lupa aku mempersilahkan mereka untuk menikmati hidangan itu.
“ Ada lagi yang bisa saya bantu?" tanyaku dan mereka hanya menggelengkan kepala. " Kalau begitu saya permisi,” ucapku ingin kembali ke belakang, namun ada seorang wanita yang menatapku tajam.
“ Kau!” tunjuk wanita itu.
Aku yang bingung dengan sikapnya itu hanya tersenyum kaku.
“ Bukankah kau wanita itu!” serunya lagi.
“ Ha? Ma-af.” Aku semakin bingung dengan perkataannya itu.
“ Jadi kau hanya seorang pelayan,” ujarnya melirikku dari atas sampai ke bawah. “ Apa kau tak sadar diri dengan keadaanmu.”
Aku sudah cukup bersabar dengan hinaannya, tapi ia tak menghentikan perkataan kasarnya itu.
“ Maaf nona, tolong bicara dengan sopan,” ucapku setenang mungkin.
“ Sopan katamu!”
Ia berdiri lalu menarik rambutku, seketika aku meringis kesakitan.
“ Tak pantas kau bicara seperti itu padaku, ha! Dasar pelayan kurang ajar!”
Aku berusaha melepaskan jambakan nya itu, namun karena terlalu kuat, aku pun hanya pasrah saja. Orang-orang sekitar mulai mengerumuni kami dan berusaha merelai pertikaian yang tak ku pahami ini.
“ Nona, aku tidak mengenalmu, kenapa kau lakukan ini padaku.”
“ Tidak mengenalku? Setelah kau mengambil pacarku, kau bilang tidak mengenalku, kau membuatku semakin kesal.”
Pacar?
“ Nona, kau salah orang.”
“ Aku tidak mungkin salah orang, setelah dia memperkenalkanmu sebagai calon istrinya, mana mungkin aku melupakan wajahmu yang menyebalkan itu.”
Calon istri?
“ Aw.” Ia menarik rambutku dengan kuat.
Orang-orang di sekitarku tak mampu menghentikan keganasan wanita yang sudah di penuhi emosi ini. Hingga Martin datang dan membuat wanita itu seketika melepaskan tarikannya.
“ Ada apa ini?”
“ Kau ini siapa?” tanya wanita itu.
“ Saya pemilik kafe ini nona."
“ oh jadi kau pemilik kafe ini.”
__ADS_1
“ Benar, saya pemilik kafe ini. Kalau boleh tahu kenapa nona melakukan ini kepada pegawai saya.”
“ Seharusnya Anda lebih selektif mencari pekerja, jangan asal-asal begini. Bisa-bisa tempat ini akan mendapatkan reputasi yang buruk.”
“ Maaf nona, saya tidak mengerti dengan maksud perkataan Anda. Kalau pegawai saya melakukan kesalahan mohon di maafkan atau Anda bisa komplain kepada saya. “
“ Ini bukan kesalahan biasa yang bisa di maafkan begitu saja. Wanita ini sudah merebut milik orang lain.”
“ Saya tidak melakukannya,” ucapku cepat.
“ Kau bertingkah sekali ya hanya karena Gafi memilihmu dan kau merasa sudah sok karena sebentar lagi kau akan menjadi istri Direktur, ha! EJ Group tak akan serta merta menjadi milikmu.”
Ha...
Aku menghela napas panjang. Aku sama sekali tak mengerti dengan ocehannya itu. Aku rasa dia sedang mabuk atau berhalusinasi.
“ Maaf nona, sudah saya bilang, Anda salah orang.”
“ Kau!” ia yang ingin menyakitiku lagi akhirnya harus terhenti karena Martin melindungi ku.
“ Nona, tolong jangan membuat keributan di sini. Sudah jelas juga kalau pekerja saya tidak melakukan apa yang nona tuduhkan.”
“ Jadi Anda tidak percaya padaku.”
“ Maaf nona.”
“ Ha!” Ia mulai habis kesabaran. “ Lihat saja kalau Anda masih memperkerjakan wanita jalang ini, saya akan memastikan kalau tempat ini akan hancur!” teriaknya yang kemudian di tarik oleh teman-temannya.
Aku masih shock dengan kejadian ini. Tak menyangka akan mengalami hal mengerikan seperti ini. Herman yang berada di dekatku lalu membawaku ke belakang. Ia mengambil segelas air putih untuk aku minum.
“ Minumlah Yuna, kau pasti sangat shock.”
“ Terima kasih,” ucapku lalu meneguk air itu.
“ Yuna.”
Aku yang termenung tadi lalu tersadar karena panggilannya.
“ Maaf.”
“ Wanita tadi itu siapa? Kau memang tak mengenalnya?”
“ Aku tak tahu dia siapa, aku juga tidak mengenalnya.”
“ Kau yakin?” Tiba-tiba suara Tia mengagetkanku. “ Tidak mungkin dia menyerangmu, kan? Coba kau ingat lagi.”
Aku menggelengkan kepalaku.
“ Dia menyebut nama Gafi, apa kau tak ingat dengan nama itu?”
“ Gafi?”
“ EJ Group," timpalnya lagi.
“ Ga-fi...” Aku mengingat-ingat nama itu. Nama yang begitu akrab di telingaku. Sesaat aku teringat dengan kejadian di pernikahan Hanum. “ Ah, dia benar-benar membuatku dalam masalah.”
“ Kau sudah ingat ya?”
“ Ya, aku ingat. Aku tak tahu kalau akan jadi seperti ini.”
“ Jadi benar kau merebut kekasihnya.”
__ADS_1
“ Tidak! Aku tidak melakukannya, bahkan aku tidak mengenalnya. Pria yang bernama Gafi itu menjadikanku tameng untuk menghindari wanita itu. Lagi pula kalau mereka sepasang kekasih, untuk apa pria itu harus berbohong padanya “
“ Kau benar juga, tapi masalahnya sekarang wanita itu menganggapmu sebagai perebut kekasihnya.”
“ Ya, kau benar. Wanita itu akan berpikir seperti itu sampai kapan pun.”
“ Hm.”
“ Arghh!!! Benar-benar menyebalkan.” Aku mengacak-acak rambutku karena kesal.
“ Tapi bukan hanya itu masalahmu, Bos Martin menyuruhmu datang ke kantornya.”
“ Ha?”
“ Sudah sana. Bos sudah menunggumu.”
“ Kenapa kau tidak bilang dari tadi.”
Aku pun segera bangkit dan merapikan penampilanku yang berantakan tadi.
...****...
“ Permisi Bos.”
“ Masuklah Yuna,” ujarnya mempersilahkanku masuk.
“ Saya minta maaf soal tadi Bos, saya benar-benar tidak menyangka akan seperti ini.”
“ Apa kau benar tak mengenalnya?”
“ Saya tidak mengenalnya, tapi ada suatu kejadian yang pernah melibatkan saya dan wanita tadi. Itu pun karena ketidaksengajaan dan saya juga baru mengingatnya tadi.”
“ Jadi benar kau merebut kekasihnya, Yuna.”
“ Tidak, bukan seperti itu.”
“ Lalu?”
“ Intinya saya terjebak di dalam hubungan mereka. Kekasihnya ingin menghindarinya lalu menjadikan saya sebagai tameng dan wanita itu tidak senang.”
Martin mengernyitkan dahinya.
“ Memang sedikit aneh, tapi begitulah keadaan sebenarnya, saya tidak merebut siapa pun.”
“ Tapi kau sudah dianggapnya sebagai perebut.”
Aku menganggukkan kepalaku.
“ Maaf Bos.”
“ Yuna, ini sudah sangat serius, kalau dia melakukan hal yang tidak-tidak dengan kafe ini, semua orang akan dalam masalah.”
“ Maksudnya Bos?”
“ Untuk sementara ini, kau di rumah saja selama seminggu. Aku akan membereskan semua masalah ini dengannya.”
“ Seminggu? Maksudnya saya di skors?”
“ Iya Yuna, ini hanya seminggu. Kau tahu kan bagaimana wanita itu tadi, dia orang yang nekat. Kalau sampai ia merusak nama baik kafe ini, yang susah bukan hanya aku, namun semua orang. Kau mengertikan maksudku.”
“ Baiklah, aku mengerti,” ujarku dengan suara lirih.
__ADS_1
Aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Aku mengerti maksud dan tujuan Martin dan aku pun tak boleh egois, ini demi kebaikan semuanya.