Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Bertemu#2


__ADS_3

Aku menyeruput secangkir kopi yang ada di hadapanku ini. Suasana yang terkesan kaku ini semakin membuatku gelisah, di tambah pria yang ada di hadapanku ini terus menatapku tanpa memalingkan wajahnya sedikit pun. Entah kemana lagi kedua mataku ini harus memandang tanpa harus tertangkap mata olehnya.


" Apa kau tidak bisa tenang?" ucapnya tiba-tiba. " Kau terlihat gelisah sekali."


" Bagaimana aku tidak gelisah," ujarku dengan suara pelan.


" Apa?" Gafi seolah-olah tak mendengar, " kalau bicara yang jelas, aku tidak mendengar suaramu."


" Aku bilang aku minta maaf!"


" Kenapa kau marah?"


" Aku tidak marah. Bukankah kata-kataku jelas tadi. Aku bilang, aku minta maaf."


" Minta maaf dengan nada tinggi sama saja kau sedang marah."


" Kau ini kenapa ribet sekali."


" Kau ini memang aneh."


Aku mendengus kesal. Setiap perkataan ku selalu di mentahkannya dan itu membuatku kehabisan kata-kata.


Aku menarik napas, menenangkan hati dan pikiranku yang sudah kusut.


" Terima kasih sudah mau datang bertemu denganku," ujarku dengan nada paling rendah. " Pertama, aku ingin meminta maaf padamu mengenai insiden penamparan kemarin. Seharusnya aku tidak melakukan hal itu padamu dan aku akan mengintrospeksi diriku lagi dengan baik."


" Kedua, aku memintamu dengan sangat untuk mengklarifikasi soal pernyataan mu kepada wanita itu, tolong katakan kalau kita tidak punya hubungan sama sekali, aku bukanlah calon istrimu."


" Ketiga, aku tidak akan menikah denganmu. Aku rasa ucapanku sudah cukup banyak. Aku berharap kaumengerti."


" Tch.." Gafi berdecak. Ia pun menyilangkan kedua tangannya. Tatapan matanya yang menatapku begitu mengintimidasi.


" Katakan sesuatu," ujarku karena ia tak kunjung berbicara.


" Apa kemarin kurang jelas?"


" Aku rasa kau sudah berpikir kembali."


" Keputusanku tetap sama, aku tidak akan mengklarifikasi apa pun."


" Jangan mempersulitku. Hidupku sudah cukup sulit, tolong jangan seperti ini."


" Aku tidak mempersulitmu justru aku mempermudah hidupmu. Kau hanya perlu bersamaku dan sebagai imbalannya apa pun yang kau minta akan aku penuhi. Bukankah sangat sederhana?"


" Bicara memang mudah!"


" Bukankah kau yang memintanya waktu itu, sekarang aku menyanggupinya, tapi kenapa kau malah menolakku? atau ini permainanmu."


" Waktu itu aku hanya asal bicara. Siapa pun pasti butuh uang, tapi..." Aku menghentikan perkataan ku.


" Kau terlalu banyak berpikir," timpal Gafi.


" Aku memang harus banyak berpikir, aku pernah gagal menikah. Dan kau bermain-main dengan pernikahan. Apa pernikahan ini berlangsung dua tahun atau 5 tahun? berapa tahun kontrak pernikahan ini?"


" Ini bukan drama televisi, ini kehidupan. Kau bisa menikah dengan siapa pun, wanita yang lebih sederajat denganmu. Kita tidak saling kenal, jadi jangan usik hidupku."

__ADS_1


" Yuna, kenapa kau mengucapkan kalimat yang sama lagi. Apa pernah aku mengatakan pernikahan ini main-main dan seingatku, tidak sekali pun aku mengatakan ada kontrak dalam pernikahan ini."


" Aku pernah menikah dan aku tahu rasanya pernikahan main-main yang kau sebutkan itu. Walaupun kita tidak saling mengenal, bukankah tidak ada salahnya dengan itu. Setelah menikah, kita akan saling mengenal dengan sendirinya."


Aku terdiam dengan perkataannya itu. Ada benarnya juga, tapi bukankah tidak semudah itu.


" Kau terdiam lagi," ujar Gafi.


" Sepertinya kita tidak akan mencapai titik temu."


" Kau benar."


Gafi terlihat sangat tenang sedangkan aku mulai bingung merangkai kata untuk membuatnya menyerah.


Aku mengambil secangkir kopi yang ada di atas mejaku. Aku meneguknya kembali perlahan demi perlahan. Sampai aku melihat seorang wanita yang tak asing lagi di mataku.


" Kau!" tunjuknya.


Aku hampir saja memuntahkan air yang ada di dalam mulutku karena suara yang mengagetkan itu. Bukan, bukan hanya suara tapi juga si pemilik suara itu.


Kenapa aku sial sekali.


Aku menatap wanita yang ada di hadapanku ini. Melihat wajahnya kembali serasa membuat duniaku nelangsa.


" Gafi." Ia pun terkaget begitu melihat Gafi membalikkan tubuhnya. " Ternyata kau ada di sini. Aku tadi mencarimu ke kantor, tapi sekretarismu bilang kau tidak ada. Mengapa kau tidak menghubungiku, bahkan kau enggan menjawab teleponku. Kenapa kau seperti itu padaku?"


" Apa itu penting?"


" Tentu saja, lagi pula tante Yuli sudah memastikan semuanya. Kau tidak akan menikah dengan wanita pelayan itu!"


" Apa kau tidak tahu kalau dia itu seorang pelayan. Dia itu hanya mengincar hartamu, kau jangan sampai terjebak."


Diana menatapku dengan sinisnya. Saat aku ingin menjawab ucapannya itu, Gafi terlebih dahulu menyahutinya.


" Apa ada yang salah dengan itu?"


Aku langsung menoleh ke arahnya. Sebuah kalimat yang tak kusangka akan keluar dari bibirnya.


" Tentu saja salah, kau seharusnya menikah dengan wanita yang sepadan denganmu."


" Maksudmu wanita itu adalah kau?"


" Tentu saja. Apa yang kurang dariku, keluarga kita juga sudah dekat. Kau jangan salah memilih."


" Dia ini asal usulnya saja tidak jelas. Orang tua bahkan keluarga saja kau tidak mengenalnya. Bagaimana kalau dia berasal dari keluarga kriminal. Dia bisa mencoreng nama keluarga, Fi."


" Kau!" Aku berdiri dari tempat dudukku. aku sudah tidak bisa lagi bersabar kalau sudah menyangkut keluarga." Kau boleh menghinaku tapi tidak dengan keluargaku."


" Oh, begitu," ujarnya dengan nada mengejek. " Bukankah kau dan keluargamu sama saja. Kalau kau berasal dari keluarga baik-baik, tidak mungkin kau semarah ini, kan."


" Diana!" hardik Gafi. " Jaga ucapanmu itu."


" Kenapa kau malah membelanya, Fi!"


" Sebaiknya kau pergi saja, jangan membuat keonaran di sini."

__ADS_1


" Kau mengusirku demi pelayan ini!"


" Diana!"


" Dia tidak pantas untukmu, jangan terjebak dengan wajahnya yang polos, dia itu sudah menipumu!"


" Sudah cukup!" Aku mulai meradang. " Apa salahnya kalau aku seorang pelayan? apa aku tidak berhak menikah dengannya. Gafi memilihku bukan kau! seharusnya kau tahu dimana batasanmu!"


" Ha! apa kau sudah gila. Apa kau sedang mengigau? Gafi tidak akan menikahimu."


" Kau yakin?" Aku meliriknya dengan tajam.


Aku pun menarik dasi yang melekat di leher Gafi lalu mengecup bibirnya. Gafi begitu kaget dengan aksi gilaku ini. Entah apa yang ada di pikiranku ini hingga aku berani melakukan hal itu padanya.


" Aku akan menikah denganmu," ucapku menatapnya. Terlihat Gafi menyunggingkan senyuman begitu mendengar ucapanku. Ia pun merengkuh tubuhku kemudian perlahan tangannya memegangi wajahku lalu menciumku.


Sontak Diana maupun orang sekitar kaget melihat aksi kami itu.


Bukan hanya mereka, namun aku juga tidak kalah kagetnya karena mendapat balasan dari Gafi. Aku tidak berpikir akan seperti ini jadinya.


" Gafi! kau sudah keterlaluan!" ujarnya meninggalkanku yang masih shock dan Gafi yang terlihat biasa saja.


Gafi mendecap.


" Dia itu merepotkan sekali."


" Apa yang sudah aku lakukan." Aku menyesali perbuatanku pada akhirnya.


Gafi menyunggingkan senyuman melihat tingkahku yang uring-uringan.


" Aku mengartikan ini semua dengan kata persetujuan."


" Apa?" Aku masih belum sadar dari keterkejutanku ini.


" Aku akan menjemputmu besok, beritahu aku di mana alamat rumahmu."


" Ha!"


" Lupakan saja, aku bisa mencari di mana alamat rumahmu."


" Tapi, yang tadi itu, aku menarik ucapanku."


" Sudah terlambat untuk menariknya kembali."


" Tapi..."


" Sampai jumpa besok," ujarnya pergi meninggalkanku.


" Gafi."


Ia tidak menggubris panggilanku dan berjalan semakin menjauhiku.


" Oh Tuhan."


Aku pun terduduk lemas.

__ADS_1


__ADS_2