Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Keterkejutan Hanum


__ADS_3

Aku menghabiskan waktu tiga puluh menit untuk mengganti pakaianku. Waktu yang cukup lama karena kegaduhan yang Gafi buat tadi. Kalau saja dia tidak menggodaku tadi, aku pasti sudah selesai dengan pakaianku ini.


“ Mbak, mereka ada di mana?” tanyaku karena tante Liz dan Gafi sudah tidak terlihat di tempat ini. Aku melihat sekitar mencari keberadaan mereka, namun tak kutemukan.


“ Nyonya Liz dan Tuan Gafi ada di ruangan sebelah Nona. Nanti akan saya antarkan Nona ke sana.”


“ Oh begitu, baiklah. Terima kasih.”


“ Sama-sama Nona.”


Aku melihat-lihat sekitar sambil menunggu sang pegawai mengantarkanku ke tempat tante Liz dan Gafi berada. Memperhatikan beberapa gaun yang di pajang di tempat itu. Salah satu gaun yang ada di tempat ini akan menjadi gaun yang aku pakai saat pernikahan nanti. Gaun impian yang benar-benar akan menjadi kenyataan.


“ Yuna.”


Aku menoleh ke belakang begitu aku mendengar namaku di sebut. Aku terkejut melihat seorang wanita berdiri di sana. Dengan langkah besar ia datang menghampiriku.


“ Apa kau masih menganggapku teman, ha!” hardiknya, “ kenapa kau tidak memberitahuku rencana pernikahanmu ini, apa aku tidak berarti untukmu lagi, Yuna!”


Aku menyunggingkan senyuman, bukan untuk mengejeknya tapi karena melihatnya tiba-tiba ada di tempat ini dengan keluhannya yang bertubi-tubi padaku. Bahkan ekspresi marahnya malah lucu di mataku.


“ Yuna…” rengeknya. " Kenapa kau seperti ini padaku. Aku tidak suka kau diam-diam merencanakan sesuatu. Kenapa kau jahat, Yuna..."


Aku pun menghela napas.


“ Hanum…apa kau sudah selesai marah-marah padaku? karena kau tidak akan diam sampai kau mengeluarkan seluruh isi hatimu.”


“ Sudah.”


“ Jadi aku boleh bicara sekarang?”


“ Tentu saja. Kau memang harus bicara dan menjelaskan semuanya padaku. Aku tidak ingin ada yang kau tutupi dariku lagi.”


“ Baiklah, apa pun yang kau inginkan akan aku kabulkan.”


“ Oke, kau harus berjanji karena aku sekarang kesal padamu karena tidak memberitahuku, bahkan aku harus tahu dari orang lain dan itu sangat mengesalkan.”


“ Iya, maaf. Akan aku usahakan untuk menepatinya.”


“ Sekarang katakan padaku, kenapa kau tidak memberitahukanku tentang pernikahanmu ini?”


“ Aku juga masih terkejut dengan pernikahan ini, jadi aku masih bingung bagaimana memberitahukannya kepadamu.”

__ADS_1


“ Tapi kau akan menikah dengan Gafi yang notabennya keponakan Tante Liz, orang yang aku kenal. Kenapa kau harus bingung, Yuna.”


“ Aku juga masih shock saat tahu kalau Gafi adalah keponakannya Tante Liz. Aku tidak tahu mereka ada hubungan. Di tambah aku juga tidak tahu kalau kau mengenal Gafi.”


“ Lalu bagaimana bisa kau menikah dengan Gafi? kalau kau tidak tahu tentang keluarganya ataupun temannya.”


“ Kalau mengenai itu, aku tidak bisa cerita sekarang, Hanum. Akan sangat panjang untuk aku jabarkan padamu, suatu saat nanti aku akan menceritakannya. “


“ Yuna…”


“ Hanum…percayalah padaku.”


“ Aku percaya padamu, tapi aku masih tidak percaya kalau akan menikah dengan Gafi. Padahal awalnya aku dan Reza ingin memperkenalkannya padamu, tapi tidak di sangka kalau kalian sampai berjodoh. Tapi, kenapa kau tidak pernah cerita kalau kau mengenal Gafi sebelumnya.”


“ Aku mengenal Gafi juga tidak di sengaja, lagi pula aku juga tidak tahu kalau kau mengenalnya. Semua ini benar-benar di luar dugaanku.”


" Kenapa hubungan kalian aneh sekali?"


" Sepertinya memang begitu."


Hanum menatapku.


“ Tentu saja, doakan aku, Hanum,” ujarku memeluknya erat.


“ Kalian ini seperti teman yang sudah lama tidak bertemu saja,” ujar tante Liz yang membuat kami saling melepas pelukan. “ Hanum, jangan marah pada Yuna. Dia saja kaget melihat Tante, jadinya Yuna serba salah hingga lupa memberitahumu.”


“ Hanum, mengerti Tante. Hanum juga tidak marah lagi karena sudah melihat Yuna bisa tersenyum seperti ini lagi.”


“ Kau ini…” Aku pun tersipu malu yang membuat orang-orang di sekitaku tersenyum.


“ Hei! Tuan Muda Gafi!,” tunjuk Hanum pada Gafi yang berdiri di pojok sana. “ Kau harus tahu, wanita yang akan menikah denganmu ini adalah orang yang paling berharga buatku, sahabatku, keluargaku dan segalanya untukku. Jadi, jangan coba-coba membuatnya menangis apalagi menyakitinya, kalau saja aku tahu kau melakukannya, aku akan memukulmu sampai babak belur, bila perlu aku akan mengakhiri kontrakmu di dunia ini.”


Gafi menyeringai.


“ Kenapa aku terlihat seperti orang jahat di matamu, ha! apa aku terlihat seperti penjahat.”


“ Karena kau sangat menyebalkan, makanya aku memperingatkanmu. Ini peringatan pertama dan terakhir untukmu, mengerti!”


“ Kau ini seperti ibunya saja," kesalnya. " Lagi pula dia akan menjadi milikku, jadi kau tidak perlu mengatur apa pun yang akan aku lakukan padanya, mengerti!”


“ Milikmu!”

__ADS_1


“ Tentu saja.”


Seketika Hanum tertawa yang membuat kami jadi bingung sendiri.


“ Ini untuk pertama kalinya aku melihat seorang Gafi sangat posesif bahkan sebelum menikah. Yuna akan menjadi milikmu dan tidak akan ada yang merebutnya. Jadi jaga dia baik-baik sebelum ada orang yang bersedia menggantikanmu.”


“ Kenapa kau malah terdengar seperti Aril.”


“ Ucapanku dan ucapan Aril, seharusnya kau pikirkan baik-baik.”


“ Ya…ya…baiklah, terserah kalian saja.”


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan mereka itu. Sekali lagi aku melayang mendengar ucapan Gafi yang terdengar sangat indah itu. Sebuah kata sederhana namun sangat sarat makna. Padahal seharusnya ia tak mengatakan hal semanis itu di depan orang banyak karena akan membuat ekspektasi yang terlalu tinggi dengan hubungan ini. Dan aku juga tidak ingin terjebak dengan perasaan cinta atau apa pun itu yang bisa saja akan muncul suatu saat nanti jika aku terbawa suasana.


“ Yuna…kau bahagia, kan?”


Aku menganggukkan kepalaku. “ Aku bahagia, Hanum. Sangat bahagia.”


“ Aku tahu, kau belum menyukai Gafi, kan?”


Deg…


Aku membelalakkan mataku.


“ Kenapa kau berkesimpulan seperti itu, Hanum?”


“ Karena aku sahabatmu dan aku sudah lama mengenalmu, Yuna. Tapi, apa pun yang menjadi alasanmu menikah dengannya, aku berharap kau akan selalu bahagia bersama dengannya.”


" Terlebih...aku sangat mengenal bagaimana karakter orang tuanya. Kau pasti akan kesulitan nantinya. Tapi, aku yakin Gafi tidak akan membiarkanmu kesusahan. Kau harus percaya padanya."


" Gafi memang terlihat arogan, dingin, kasar tapi sebenarnya ia sangat baik. Aku sudah lama mengenalnya maka dari itu aku sangat senang kalau kalian bisa bersama selamanya."


Aku menyunggingkan senyuman.


“ Aku tahu, aku akan percaya padanya," ujarku. " Terima kasih, Hanum. Ternyata aku memang tidak bisa merahasiakan apa pun padamu. Aku akan berusaha untuk bahagia seperti yang kalian inginkan.”


Hanum memelukku sekali lagi.


“ Selamat berbahagia sahabatku.”


“ Terima kasih.”

__ADS_1


__ADS_2