
Aku berjalan lunglai meninggalkan kantor Martin. Walaupun aku menerima keputusannya, tapi aku rasa ini tak adil karena aku merasa tidak melakukan apa pun.
Aku memasuki ruangan karyawan, aku berniat mengambil tas ku. Sayup-sayup terdengar teman-teman yang lain masih menceritakan kejadian tadi. Aku memilih menutup telingaku seolah-olah tak mendengar apa pun. Aku menutup mulutku untuk tak menjawab apa pun yang mereka simpulkan karena aku sudah lelah.
“ Ternyata kau biangnya masalah, ya.” Widya menatapku dengan senyuman tak ramah. “ Kau juga suka merebut sesuatu yang bukan milikmu.”
Aku menghela napas, sudah banyak kejadian hari ini, aku harus bersabar menghadapinya.
" Murah hati sekali kau mau berbicara denganku."
" Aku tak punya niat untuk berbicara denganmu, tapi melihat kejadian hari ini rasanya ingin sekali aku melihat seperti apa raut wajahmu."
Aku menyeringai.
" Bukankah ini lucu, sejak awal Martin bukanlah milikmu, jadi jangan terlalu terbawa perasaan. Dia bukan milikmu."
" Dan juga bukan milikmu."
" Memang, tapi aku temannya dan kau?"
Widya tak senang.
" Kalau kau menyukainya bukan begini caranya, aku menganggapmu teman tapi kau menusukku dari belakang. Kau pikir dengan begitu Martin akan berpaling padamu?"
" Setidaknya kau buruk di matanya."
" Sekarang aku menyadari betapa jahatnya dirimu."
" Kau menyadarinya terlalu lama."
" Ya, setidaknya aku sudah sadar dan semakin menyadarkan diriku untuk tidak terjebak dengan embel-embel pertemanan, apalagi dengan dirimu."
" Wah, aku malah tidak menyangka kau bisa galak seperti ini."
" Semua itu tergantung kondisi dan siapa yang di hadapi."
" Oh oke, jadi selamat menikmati skorsing panjangmu itu," ucapnya lalu pergi.
Aku mengepalkan tanganku, rasanya ingin sekali aku meledak seperti tabung gas.
" Kalian terlihat akrab sekali," seru Tia yang datang menghampiriku.
" Ya, akrab sekali, sampai-sampai aku ingin memeluknya," timpal ku. " Aku juga ingin mengatakan kalau aku sangat merindukannya."
" Kenapa tidak kau lakukan saja tadi."
" Aku malas berakting."
Tia tertawa.
" Semua orang sudah tahu kalau kau di skorsing."
" Berita cepat sekali menyebar, aku seperti artis saja yang beritanya selalu di cari."
" Memang, apalagi dengan kejadian yang melibatkanmu akhir-akhir ini, kau memang pantas di nantikan beritanya."
" Wah...." Aku menatapnya heran.
" Lalu apa yang akan kau lakukan selama seminggu nanti."
" Tidak tahu, mungkin di rumah."
" di rumah?"
" Tentu saja di rumah, apalagi yang akan kulakukan ."
" Dasar."
Aku hanya tersenyum mendengar ocehannya.
" Ini." Tia memberikan sesuatu padaku. Secarik kertas berisi tulisan yang tidak aku mengerti dari mana ia mendapatkannya. " Namanya Gafi Fazal Ilario, Direktur EJ Group. Dia Direktur muda yang sangat terkenal."
" Dari mana kau dapatkan semua ini. "
__ADS_1
" Tidak sulit untuk mendapatkan informasinya. Dia itu sangat terkenal. Kau tak tahu?"
" Kenapa aku harus tahu."
" Wah, kau ini benar-benar keterlaluan."
" Lagi pula untuk apa aku tahu tentang pria ini. Kau ini yang aneh."
" Ya terserah sajalah. Itu informasi untukmu. Aku mencari itu karena kau akan jadi pengangguran. Kenapa tidak kau datangi saja pria itu."
Aku berpikir sejenak.
Memang benar aku jadi terkena masalah karenanya, namun aku juga tak ingin terkena masalah dua kali jika aku bertemu dengan wanita aneh itu lagi. Tapi, kalau aku tidak mendatanginya, bisa-bisa kesalahpahaman ini akan terus berlanjut.
" Kenapa jadi melamun? kau ini terlalu banyak berpikir. Jadilah pengangguran yang sibuk, jangan bermalas-malasan di rumah."
" Wah, kau ini, benar-benar bermulut bisa."
Tia malah tertawa.
" Pokoknya nanti aku harus mendapatkan kabar kalau kau sudah menemuinya dan membuat perhitungan padanya."
" Kenapa kau malah senang?"
" Tentu saja, paling tidak aku bisa melihat berita mu di internet. Seorang wanita muda telah menganiaya seorang Direktur dari EJ Group. Bukankah itu keren?"
" Ya keren," seruku.
" Tentu saja."
" Ha..." Aku menghela napas. " Baiklah, aku harus pulang, menikmati hari-hari pengangguranku."
" Ok."
" Aku akan menghubungimu nanti, paling tidak status pengangguranku tidak sia-sia."
" Hmm, hati-hati di jalan."
...****...
Aku pun meninggalkan tempatku bekerja.
Setelah Martin menskorsingku, berita pun menyebar dengan cepat. Tak tahu siapa yang memulainya, apakah ada yang menguping pembicaraan kami atau memang dinding bisa bicara.
Aku juga tak menyalahkan Martin karena ia melakukan apa yang di anggapnya paling baik. Apalagi wanita itu sudah memulai aksinya dengan memberikan komentar negatif di salah satu media sosial kafe ini. Tentunya Martin harus bergerak cepat sebelum terjadi hal yang lebih besar dan akan merugikan usahanya dan juga teman-teman yang lain.
Aku tak mengerti dengan apa yang terjadi denganku akhir-akhir ini. Terlalu banyak hal yang terjadi hingga aku tak mengerti harus bagaimana. Terlebih entah kesalahan apa yang telah kuperbuat hingga harus terlibat dengan masalah pelik ini.
Aku duduk di sebuah halte menunggu bus untuk membawaku pulang. Keadaan di halte ini juga tidak terlalu ramai. Tak sampai 5 menit, bus yang ku tunggu pun tiba, namun sebelum aku menaiki bus itu, tiba-tiba seorang wanita berlari dan berteriak memanggilku. Aku menoleh ke arah sumber suara, ternyata pemilik suara itu adalah Hanum. Aku pun tak jadi menaiki bus dan berjalan menghampirinya.
" Hanum, kenapa kau ada di sini?" tanyaku bingung.
" Iya, aku tadi ada di kafe seberang sana lalu aku melihatmu, jadi aku cepat-cepat menghampirimu. Lagi pula ponselmu tidak aktif, jadinya aku harus berlari ke sini."
" Ah." Aku mengambil ponselku. " Maaf, ponselku mati. Aku lupa mengisinya."
" Pantas saja."
Aku tersenyum.
" Kau sudah pulang kerja?"
Aku mengangguk pelan. Tak mungkin juga aku mengatakan kepadanya kalau aku dalam masalah.
" Oh iya, kapan kau pulang bulan madu? bukankah ini terlalu cepat?"
" Kemarin, sebenarnya memang terlalu cepat, tapi mau gimana lagi, ada kepentingan yang mendesak, jadi kami pulang lebih awal."
" Oh begitu," ucapku. " Apa kau sendirian?"
" Tidak, aku bersama dengan Reza," jawabnya. " Kau mau pulang, kan? "
" Tidak, ada tempat yang ingin aku datangi."
__ADS_1
" Benarkah?"
" Iya."
Sebenarnya aku berbohong, aku hanya ingin sendiri sekarang ini.
" Padahal aku ingin mengantarkanmu pulang.''
" Maaf, lain kali kalau kita bertemu lagi. Sekarang ini aku harus ke suatu tempat."
" Kalau begitu aku antarkan, ya, kau tinggal bilang mau kemana."
" Ah, tidak usah."
Hanum menatapku. Ia mungkin kaget karena penolakanku. Aku sebenarnya tak enak menolaknya, tapi sekarang ini aku hanya ingin sendiri.
" Baiklah, aku tidak akan memaksamu," ujar Hanum pada akhirnya.
" Maaf ya Hanum."
" Tidak apa-apa, aku mengerti," ucapnya. " Itu busnya, cepatlah, nanti kau ketinggalan."
" Iya, aku pamit ya, bye Hanum."
" Bye Yuna."
Aku pun berlari menuju bus yang sudah berhenti di depan halte itu. Sesaat aku melambaikan tanganku ke Hanum. Ia tersenyum sambil melambaikan tangannya juga.
Dan bus yang kutumpangi ini pun melaju meninggalkan Hanum seorang diri di sana.
" Nona, apa kau perlu tumpangan?"
Hanum menoleh lalu tertawa begitu tahu siapa yang sedang menggodanya itu.
" Tentu saja," ujarnya membuka pintu lalu masuk ke dalam mobil.
" Kenapa wajahmu cemberut begitu, sayang."
" Aku kepikiran Yuna."
" Memang Yuna kenapa?"
" Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu dariku, dia melakukannya lagi, memendam masalahnya sendiri."
" Mungkin dia tak ingin kau cemas."
" Aku tahu, tapi aku tidak suka dia seperti itu. Setidaknya dia bisa berbagi denganku, jadi dia tidak terbebani seperti itu."
" Kau kenal dia bagaimana, kan."
" Iya, tapi kan...seharusnya..." Hanum tak melanjutkan pembicaraannya. " Andai saja kejadian itu tidak ada, pasti dia tidak akan seperti ini."
" Walaupun kau hanya menceritakan secara garis besar kejadian menimpanya, tapi sebaiknya jangan mengungkitnya lagi. Kalau kau cemas, cari kan saja pasangan untuknya, jadi dia punya tempat berbagi."
" Mencari pasangan untuk Yuna? tapi siapa? aku tidak kepikiran siapa pun, sayang."
" Kau terlalu jauh berpikir sampai kau tak ingat seseorang."
" Maksudnya?"
" Gafi." Reza menyebut nama itu dengan serius. " Kita jodohkan saja dengan Gafi."
Hanum ternganga. Ia sampai tak kepikiran dengan sahabat baiknya itu.
" Kau benar, kenapa tidak kepikiran, ya, mereka berdua pasti cocok."
Hanum begitu gembira begitu menjodohkan kedua sahabatnya itu. Tak ada salahnya juga untuk mendekatkan mereka. Ia juga mengenal dengan baik kedua orang itu.
" Aku jadi tak sabar mengenalkan mereka. Aku akan berbicara dengan Yuna dan kau, sayang, beri penjelasan pada Gafi yang keras kepala itu."
" Siap nyonya."
Hanum pun tersenyum senang.
__ADS_1