
Pada akhirnya penyesalan memang tak ada gunanya. Aku yang bertindak di landasi emosi dan karena ucapannya yang sudah menyinggungku, malah membawaku ke dalam permasalahan yang lebih dalam. Bukan lagi kesalahpahaman namun sudah kesepakatan. Dan aku tak tahu bagaimana harus memperbaikinya.
" Kenapa jadi begini..." Aku jadi lemas memikirkannya.
" Menyesali juga tidak ada guna," celetuk Tia yang tiba-tiba duduk di hadapanku. " Congratulations." Ia menjabat tanganku dengan senyuman penuh arti.
" Bagaimana...."
" Aku bisa tahu," potong Tia.
Aku mengangguk.
" Tentu saja aku tahu bahkan hasil menungguku juga tidak sia-sia. Aku melihat drama yang lebih seru ketimbang menonton televisi. Kau benar-benar luar biasa," ujarnya memberikan dua jempol padaku.
" Mati saja sana."
" Jangan mengumpatku, aku ini saksi hidup kalian."
Aku menghela napas berat.
" Aku harus bagaimana?" keluhku.
" Ya sudah jalani saja, apa susahnya."
" Jangan berkata seperti itu. Aku harus mengatakan apa pada mereka."
" Mereka?"
" Adik dan ayahku."
" Kalau itu kau yang harus pandai menyampaikannya. Aku tidak tahu kondisimu, jadi aku tidak bisa memberikan saran apa pun."
Aku terdiam sesaat.
" Yuna."
" Ayahku pasti akan sedih." Mataku mulai berkaca-kaca.
Aku menyandarkan punggungku di kursi. Pikiranku mulai melayang entah kemana.
" Apa seberat itu?"
" Hm." Aku menganggukkan kepalaku. “ Aku takut Ayahku akan sedih kalau aku benar akan menikah nantinya. Aku juga tidak tahu apakah adikku akan senang kalau aku menikah secara mendadak seperti ini.”
“ Ternyata banyak hal yang aku tidak tahu tentangmu.”
“ Kenapa kau sangat terobsesi denganku. Apa kau sangat menyukaiku, ha!”
“ Suka.” Tia menatapku serius. “ Sudahlah, bukan waktunya untuk berdebat. Pikirkanlah, bukankah kalian akan bertemu besok?”
Aku mengangguk. " Kami akan bertemu besok dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi.”
“ Tenanglah, semua pasti baik-baik saja.”
Aku menganggukkan kepalaku.
“ Yuna, apa kau mengenal pria yang bersama dengan Gafi?”
“ Aril?”
Tia mengangguk.
__ADS_1
“ Kau mengenalnya?”
“ Tidak terlalu, tapi dia pria yang aku ceritakan waktu itu, pria yang memberiku kartu nama, apa kau masih ingat?”
“ Aku ingat. Jadi dia ya yang memberimu kartu nama.”
“ Iya, aku rasa dia juga pria yang baik,” ujarku. “ Tapi kenapa kau penasaran dengannya?”
“ Aku bukan penasaran, cuma mau tahu saja. Dia sepertinya sangat perhatian padamu.”
“ Perhatian padaku? Kenapa begitu?”
“ Aku mana tahu. Lagi pula aku tidak setuju kalau kau menyebutnya pria yang baik, dia itu sangat menyebalkan. Kau tidak tahu betapa kesalnya aku saat bersamanya, rasanya aku ingin sekali menghajarnya.”
“ Ha! Kedengarannya kalian sangat akrab.”
“ Akrab dari mana? kau itu jangan asal menyimpulkan.”
“ Kali ini aku tidak salah menyimpulkan. Mari kita taruhan, dia pasti akan mencarimu.”
“ Kau jangan menakutiku.”
“ Kenapa kau jadi takut? Malah aneh kan kalau kau takut dengan hal seperti itu, padahal kau terlihat sangat garang dengan orang lain.”
“ Jangan kau sama kan, hal ini dan itu berbeda.”
“ Ucapanmu itu malah membuat ambigu.”
“ Kenapa kau malah membuatku kesal, sudahlah, aku tidak mau membahasnya lagi. Aku lapar, traktir aku makan.”
“ Terserah lah, pesan saja sana.”
...****...
Aku dan Tia berpisah jalan karena aku harus pergi ke suatu tempat. Sepertinya aku akan menemui Aydin hari ini juga. Aku pikir tidak ada jalan lain selain memberitahunya secepat mungkin.
Memikirkan bagaimana ekspresinya saja membuatku takut. Entah Aydin akan bereaksi seperti apa kalau mendengar berita mendadak ini.
" Terima kasih sudah menemaniku hari ini," ujarku menyunggingkan senyuman.
" Ya, sama-sama. Lagi pula aku juga menikmati hari ini."
Aku tersenyum.
" Bus ku sudah datang, kau tidak apa-apa aku tinggal?" tanya Tia sedikit khawatir.
" Tidak masalah, aku sudah terbiasa," jawabku menenangkannya.
" Baiklah, kau hati-hati."
Aku mengangguk. " Kau juga hati-hati."
Tia pun menaiki bus itu lalu melambaikan tangannya dari balik jendela. Sesaat kemudian bus itu melaju meninggalkanku.
Aku menunggu sebuah bus yang akan membawaku ke tempatnya. Sembari menunggu, aku membuka sebuah buku yang aku bawa dari rumah. Membacanya perlahan dan sesekali melihat ke arah jalan memastikan apakah bus yang aku tunggu sudah terlihat atau belum.
Sebuah mobil merah yang sepertinya tidak asing di mataku terlihat berhenti di depanku. Perlahan kaca jendela mobil itu pun turun dan terlihat lah sang pemilik mobil. Perkiraanku tidak salah, dia adalah Martin.
“ Yuna, masuklah,” ujarnya menyuruhku untuk masuk ke dalam mobilnya.
Aku menggelengkan kepalaku seraya tersenyum padanya.
__ADS_1
“ Tidak perlu, aku akan ke suatu tempat,” jawabku.
“ Yuna, hanya sebentar saja, ada yang ingin aku bicarakan. Tolonglah.”
Permohonannya itu membuatku tak enak hati ditambah orang di sekitar yang menatapku. Aku pun memasukkan buku yang aku baca tadi ke dalam tasku dan berjalan menuju mobil merah itu. Aku membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya.
Sekejap saja mobil ini melaju meninggalkan halte bus itu. Menyusuri jalanan yang terlihat sangat ramai ini. Suara bunyi klakson menderu memekakkan telinga, apalagi kalau bukan ulah dari para angkutan umum yang berebut penumpang di jalanan.
Martin menolehkan wajahnya ke arahku yang memandang lurus ke depan. Tak ada pembicaraan di antara kami sejak aku menaiki mobil ini. Lagi pula aku juga tidak tahu harus mengatakan apa padanya setelah apa yang telah terjadi kemarin lalu.
“ Maaf sudah memaksamu untuk bersamaku,” ucapnya meminta maaf, tapi aku tidak menggubris perkataannya itu. “ Aku tahu kau masih kecewa dan marah padaku setelah kejadian itu.”
“ Jangan meminta maaf, kesannya kau melakukan hal yang salah. Yang kau lakukan tidaklah salah, tapi aku hanya kecewa kau seakan tak percaya padaku.”
“ Aku tahu dan aku juga menyadari hal itu. Aku terus menghubungimu, tapi kau mengabaikanku. Aku jadi serba salah harus bagaimana lagi untuk menebus kesalahanku.”
Aku menyunggingkan senyuman.
“ Kau sudah mendapatkan balasannya kan. Aku mengabaikanmu, jadi kau tahu bagaimana perasaanku.”
Martin terlihat bingung.
“ Jadi kau sengaja mengabaikanku?”
“ Tentu saja, aku juga ingin kau kesal.”
Martin terlihat lega.
“ Ini baru Yuna yang ku kenal. Jangan mengabaikanku lagi, aku tidak suka kau yang seperti itu.”
“ Saat ini kau bukan bosku, jadi jangan memerintah.”
“ Aku memang bukan bos mu, tapi temanmu.”
Aku pun tertawa.
“ Melihatmu tertawa membuatku senang. Tidak ada yang lebih menyenangkan melihatmu seperti ini.”
“ Kenapa kau jadi puitis begitu. Apa kau belajar merangkai kata sejak aku tak ada.”
Martin hanya tersenyum.
“ Kau akan kemana? Biar aku antarkan kau ke sana.”
“ Hmm….” Aku melihat jam yang ada di pergelangan tanganku. “ Aku rasa tidak perlu.”
“ Kenapa?”
“ Aku harus menyiapkan hatiku dulu, sepertinya aku belum terlalu siap. Tadinya aku mau nekat saja, tapi ternyata belum senekat itu.”
“ Memangnya kau mau kemana?bertempur ke medan perang?”
Aku mengangguk.
“ Kau ini ada-ada saja. Kalau begitu kau akan kemana?”
“ Pulang saja.”
Martin mengangguk-anggukkan kepalanya.
“ Oke, baiklah. Aku akan mengantarkanmu pulang.”
__ADS_1
Aku menyandarkan kepalaku ke bahu kursi. Ternyata aku belum siap bertemu dengan Aydin pada akhirnya. Menenangkan diri dan pikiran adalah solusi yang terbaik saat ini sebelum bertempur esok hari.