Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Siapa Pelakunya


__ADS_3

" Sampai kapan kalian akan berada di sini?" tanyaku pada kedua orang penjaga ini.


" Sampai tuan Gafi memerintahkan untuk pergi, Nyonya," jawab salah satu dari mereka.


" Apa kalian tidak lapar?"


Kedua penjaga itu hanya saling memandang. Ragu untuk menjawab pertanyaanku.


" Kenapa tidak di jawab? Kalian tidak lapar?"


" Maaf, Nyonya, kami tidak apa-apa."


" Tidak apa-apa bagaimana, sejak pagi sampai siang kalian cuma duduk di situ. Sekarang makanlah, aku sudah memasak untuk kalian juga."


" Tapi, Nyonya."


" Kalian tidak mau makan?"


" Itu..."


" Makan atau aku akan marah."


" Ba-baik, Nyonya."


" Baguslah. Makan yang banyak, tidak perlu sungkan-sungkan."


" Terima kasih, Nyonya."


Aku pun meninggalkan mereka untuk menyantap makanan yang sudah aku siapkan itu. Tapi, yang tak mereka tahu kalau aku sudah memasukkan sesuatu ke dalamnya.


Ya...aku memasukkan obat tidur ke dalam makanan itu. Hanya tunggu beberapa waktu dan mereka akan segera tertidur.


Aku mengintip dari balik tembok untuk melihat reaksi dari obat itu. Satu per satu penjaga itu mulai tertidur. Aku pun menghampiri mereka untuk memastikan kalau obat itu memang bereaksi sepenuhnya.


" Hei...hei...bangunlah," ujarku mengguncang tubuh mereka. " Hei..." Mereka tak bereaksi dengan ucapanku.


Aku tersenyum puas. Akhirnya aku bisa keluar dari tempat ini.


" Maafkan aku," ucapku pada mereka.


Aku pun membuka pintu, lalu pergi dengan berjalan kaki sebelum aku mendapatkan sebuah taksi.


Di sana aku sudah di tunggu oleh Tia. Sebelumnya Tia memang sudah menghubungiku karena ingin membicarakan kejadian hari ini dengan detail.


Setelah sampai, aku segera menghampiri Tia yang tengah duduk di sana.


" Maaf, sudah menunggu lama," ujarku.


" Tidak apa-apa," jawabnya. " Kau mau minum apa?"


" Tidak, nanti saja. Aku mau kau ceritakan secara rinci terutama soal surat itu. Apa kau melihat surat pengunduran diriku dengan mata kepalamu sendiri?"


" Aku melihatnya karena bos memanggilku untuk menanyakan surat itu, tapi karena ada yang menguping, jadinya berita pengunduran dirimu menyebar."


" Sepertinya aku tahu siapa pelakunya "


" Ya, tebakanmu memang benar," Tia membenarkan, " Tapi, tunggu....bagaimana kau bisa keluar rumah? Kau bilang Gafi menyuruh dua penjaga untuk menjagamu di rumah."


" Aku memberikan mereka makanan yang di dalamnya kumasukkan obat tidur."


" Kau memang nekat. Dari mana kau dapatkan obat tidur itu?"

__ADS_1


" Aku tidak sengaja menemukannya di kotak obat, jadi kugunakan saja agar aku bisa keluar."


" Kau memang pintar." Tia memberikan jempol padaku.


" Oh iya, bagaimana dengan keadaan Martin? Dia pastinya sangat shock."


" Ya begitulah, kasihan bos. Hari ini pun kami di pulangkan cepat karena sepertinya bos ingin beristirahat."


" Begitu ya...," ujarku khawatir.


" Yuna, kau tak serius' kan menuduh Gafi yang melakukannya?"


Aku terdiam sesaat.


" Yuna, sebaiknya kau pikirkan baik-baik sebelum menuduhnya."


" Aku tahu, tapi entah mengapa semuanya mengarah padanya. Sebelum ini, Gafi marah besar karena Martin mengantarkanku pulang. Dan Gafi selalu mengatakan padaku kalau tidak ada persahabatan di antara pria dan wanita dan dia bilang cara Martin menatapku itu berbeda. Di tambah dia juga melarangku bekerja karena pastinya aku akan bertemu dengannya"


" Oh begitu." Tia menyilangkan kedua tangannya. " Aku bukannya membela Gafi, tapi yang dikatakan olehnya juga tidak salah. Aku melihat kalau bos memang memperhatikanmu dengan cara yang berbeda."


" Itu karena kami berteman."


" Aku rasa tidak."


" Kau juga menyimpulkan hal sama seperti Gafi?"


Tia mengangguk.


Aku menyandarkan tubuhku di bahu kursi. Mungkin hanya orang lain yang bisa melihatnya ketimbang aku sendiri.


" Entahlah...," Aku menghela, " Aku tidak bisa berpikir apa-apa lagi."


" Antara Gafi dan bos, nantinya kau juga akan mengerti. Namun, kenapa kafe di rusak, itu masih jadi pertanyaan. Bukankah kejadian ini termasuk kriminal."


" Kau benar."


" Aku mengerti."


" Yuna kalau kau bisa menuduh Gafi, kenapa tidak dengan bos? Apa kau pikir dia tidak mungkin melakukan hal itu padamu?"


" Untuk apa dia menghancurkan usahanya."


Tia menaikkan kedua bahunya. " Bukankah hanya bos yang tahu."


Aku menghela.


" Semakin rumit saja."


" Kita tidak tahu siapa pelakunya karena siapapun pasti bisa menjadi tersangka termasuk aku atau juga kau."


" Kau benar."


Tia melirik jam yang ada di lengan tangannya. " Kau pulanglah sebelum penjaga itu sadar dan Gafi pulang ke rumah."


Aku pun langsung melihat waktu yang sudah kulewati di luar ini. " Baiklah, aku harus pulang."


Tia mengangguk. " Berhati-hatilah."


" Ok."


Aku pun bergegas pulang ke rumah. Sebuah transportasi online menjadi pilihanku untuk membawaku ke sana. Jalanan sore ini tidak begitu ramai sehingga motor yang membawaku ini berjalan dengan lancarnya.

__ADS_1


Tak lama aku pun sampai di depan rumah. Aku segera turun dan membayar ongkos kepada pengemudi itu.


Belum tampak mobil Gafi di sana. Aku segera masuk perlahan. Tidak tampak kedua penjaga itu di sana. Aku tambah bingung kemana mereka berada.


" Kau sudah pulang."


Suara bariton itu mengagetkanku. Aku langsung menoleh ke belakang. Terlihat Gafi sedang duduk di sofa dengan kaki dan tangan menyilang. Sorotan matanya begitu tajam melihatku.


" Kau..." Aku terbata-bata, kalimat yang keluar dari mulutku pun tak selesai ku ucapkan.


" Yuna...kau sudah tak menurutiku?"


" Itu karena kau," ucapku, " Kau membuatku harus tinggal di rumah ini."


" Bukankah sudah kubilang ini demi kebaikanmu."


" Aku tidak mengerti, kebaikan seperti apa? Apa kau tahu kalau ada seseorang yang membuat surat pengunduran diriku dan membuat kafe berantakan."


" Lalu?"


" Apa kau tidak punya rasa simpatik sedikitpun? Atau jangan-jangan semua ini adalah perbuatanmu?"


" Kau menuduhku?"


" Aku sedang bertanya."


" Pertanyaanmu layaknya menuduhku. Katakanlah aku bisa melakukan hal itu, tapi untuk apa?"


" Bukankah kau tidak menyukai Martin."


" Aku memang tidak menyukainya, tapi aku tidak sekotor itu. Apa kau tidak menyadari kalau Martin itu tidak sebaik yang kau kira, Yuna."


" Aku mengenalnya lebih darimu. Jangan bicara yang tidak-tidak."


" Oh, ok. Anggap saja aku salah dan kau yang benar."


" Gafi, kenapa kau seperti ini?"


" Aku sedang menjagamu dan kau tidak menganggapnya, malah kau menganggapku tak tulus padamu."


" Karena caramu itu salah. Kau mengurungku di sini bersama dengan dua orang penjaga, apa kau pikir itu baik?"


" Aku tahu itu salah, tapi tidak ada cara lain. Setidaknya aku mengetahui kondisimu dalam keadaan baik-baik saja."


" Apa kau pikir Martin akan menyakitiku?"


" Kau tak akan percaya padaku kalau aku mengatakannya."


Aku terduduk lemas di lantai. Dan Gafi pun menghampiriku.


" Apa aku sepicik itu?" tanyaku lirih.


" Karena dia temanmu, dia juga yang selalu ada bersamamu di saat yang sulit. Aku mengerti akan sulit bagimu untuk menerima kenyataan yang ada."


" Tapi, kita tidak tahu' kan siapa pelakunya . Bisa saja Diana, Martin, kau, aku ataupun Tia."


" Ya, kau benar."


" Bisakah kau membiarkanku mencari kebenaran ini? Nama baikku juga sudah hancur. Teman-temanku menganggapku melakukan semua itu. Aku tidak bisa tinggal diam."


" Baiklah, terserah kau saja. Tidak akan ada lagi penjagaan. Kau boleh melakukannya tanpa syarat apapun dariku."

__ADS_1


Setelah mengucapkan itu, Gafi pun pergi meninggalkanku di sini. Ia masuk ke dalam ruangan kerjanya dan menutupnya rapat.


__ADS_2