
Ting…Tong…
“ Hai!” sapa Tia saat kubuka pintu rumahku.
“ Kau sampai juga ke sini,” ujarku lalu mempersilahkannya masuk. “ Kupikir kau tidak akan datang.”
“ Zaman sudah semakin canggih, rumah di pelosok manapun akan mudah ditemukan. Lagi pula aku sedang bosan sendirian di rumah, jadi aku iseng saja ke sini.”
“ Iseng? alasan macam apa itu?”
“ Ha…pura-pura sajalah kalau kau paham dan jangan membuka perdebatan denganku.”
Aku tersenyum.
Setelah Gafi mengantarkanku pulang, aku menghubungi Tia. Akhir-akhir ini aku dan Tia memang sedikit akrab. Entah mengapa aku merasa nyaman berbicara dengannya selain dengan Hanum. Gaya bicaranya yang terlalu terus terang terkadang sangat aku butuhkan, walaupun nantinya akan ada debatan kecil diantara pembicaraan kami.
Hari-hari skorsingku pun akan segera berakhir. Tapi, aku tidak tahu akan tetap berkerja atau tidak. Sejauh ini aku juga belum membicarakan hal ini kepada Gafi. Aku masih berharap akan tetap bekerja karena aku tidak ingin berpangku padanya nanti karena aku takut akan menjadi beban untuknya.
“ Kau akan datang ke pernikahanku, kan?”
“ Umm…sebenarnya aku ingin datang, tapi pernikahanmu tepat di hari bekerjaku. Jadi, aku minta maaf, tidak bisa hadir nantinya.”
“ Ya…aku mengerti” ujarku kecewa. Walaupun aku mengerti permasalahannya, tapi tetap saja ada yang kurang jika salah satu orang yang kukenal tidak bisa hadir nantinya.
" Kau kecewa?"
" Tentu saja. Aku ingin kau dan Herman datang ke pernikahanku."
" Tidak sekalian Widya?"
" Kau ingin mati!"
Tia tertawa.
" Aku juga belum bilang ke Martin dan mamanya. Mungkin setelah pernikahan usai, aku akan berbicara dengan mereka."
" Apa pernikahan kalian mengundang banyak orang?"
" Tidak, hanya orang- orang terdekat saja."
“ Umm...," gumamnya. " Yuna…semoga kau bahagia dengan pernikahanmu nanti. Mendengar ceritamu tentang tante dan teman-teman Gafi yang juga kau kenal, aku percaya kalau kau akan baik-baik saja nantinya. Walaupun akan ada rintangan di depan, tapi akan ada orang yang selalu menjagamu dengan baik.”
“ Ya… di satu sisi aku merasa sedikit tenang dengan kehadiran mereka. Dan…aku yakin akan baik-baik saja.”
Walaupun tak menutupi kemungkinan aku sedikit takut dan tak enak dengan kedua orang tuanya yang memang tidak menyukai kehadiranku ini. Aku takut akan mempengaruhi hubungan Gafi dan orang tuanya nanti, batinku.
“ Hei! kenapa kau malah melamun?”
“ Aku sedikit cemas.”
“ Apa yang kau cemaskan? kau jangan terlalu banyak berpikir, rileks saja.”
__ADS_1
“ Kau benar.”
“ Tapi…Yuna, aku heran dengan rumahmu ini. Apa benar ini rumahmu? bukankah ini terlalu besar?”
“ Ini memang rumahku, hanya ini yang tersisa. Dulu...” Aku terdiam sesaat. “ Keuangan kami tidak seperti ini dulunya. Ayahku seorang pengusaha yang cukup sukses, namun ia bertemu dengan orang yang salah. Perusahaan hancur dan kehidupan kami juga terkena dampaknya. Entah kau akan menjauhiku setelah tahu ini. Ayahku di penjara.”
“ Ha?”
“ Ayah menolongku karena aku hampir saja di perkosa oleh seorang kenalannya. Orang itu meninggal dan ayah di tuntut, ibuku juga meninggal setelahnya. Kami hancur sehancurnya dan hanya ini yang bisa kami selamatkan untuk melindungi kami dari panas dan hujan. Sekarang kami harus bertahan hidup dengan kemampuan kami sendiri.”
“ Yuna...” Tia memelukku. “ Seharusnya kau tidak perlu cerita kalau itu membuatmu harus mengenang peristiwa itu.”
“ Kau tidak akan menjauhiku?”
“ Kenapa aku harus melakukannya? semua orang punya cerita kehidupannya masing-masing. Lagi pula ayahmu tidak melakukan hal yang salah, dia ayah yang baik dan melindungi kehormatan putrinya. Hanya saja dunia ini tidak seramah yang kita kira, Yuna.”
Aku menyunggingkan senyuman. Tak kusangka akan mendengar hal ini darinya. Kupikir dia akan pergi dan menjauhiku. Ternyata di dunia masih banyak orang yang baik padaku.
“ Tia…terima kasih.”
“ Kenapa kau berkata seperti itu, kau malah membuatku bergidik.”
“ Tch…kau ini!”
Tia pun tertawa dengan kerasnya.
...****...
Aku keluar dari kamarku dengan perlahan agar Tia tidak terbangun. Kakiku berjalan menuju ruang dapur dan mengambil segelas air untuk kuminum. Segelas air putih telah menyegarkan tenggorokkanku yang terasa kering ini.
Aku memainkan ponselku, membaca setiap pesan yang masuk ke dalam media sosialku. Aku menghentikan jemariku di sebuah nama.
Gafi…
“ Mengapa aku harus berhenti di nama ini. Aku dan dia tak punya hubungan apapun.”
Aku menyandarkan tubuhku ke meja. Sesaat aku terkejut mendengar suara dari balik ponselku. Aku langsung mengecek dan ternyata tanpa sengaja aku menghubunginya.
“ Halo.” Suara Gafi terdengar dari ujung telepon.
“ Ha-lo,” jawabku ragu.
“ Ada apa? kenapa kau meneleponku selarut ini?”
“ Ah, itu…aku tidak sengaja. Maafkan aku sudah mengganggu istirahatmu.”
“ Aku masih bekerja.”
“ Apa? kau masih bekerja? Tapi ini sudah jam 1 malam, kenapa kau belum istirahat?”
“ Kau mengkhawatirkanku?”
__ADS_1
“ Aku…”
“ Ya, aku mengerti, kau tidak mengkhawatirkanku, kan?” potongnya. “ Lalu bagaimana denganmu? kenapa kau masih belum tidur?”
“ Aku…tiba-tiba terbangun dari tidurku dan aku tidak bisa tidur sekarang,” jawabku. “ Lalu kenapa kau masih bekerja?”
“ Karena sebelum pernikahan kita, aku harus menyelesaikan pekerjaanku ini. Makanya aku harus memangkas waktu istirahatku.”
“ Tapi, itu akan berpengaruh pada kesehatanmu, kan?”
“ Umm…entahlah. Aku sudah terbiasa dengan rutinitas seperti ini.”
“ Dunia kita sungguh sangat berbeda.”
“ Kenapa tiba-tiba kau mengatakan hal seperti itu?”
“ Apa kau yakin dengan pernikahan ini?”
“ Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku dan malah memberikan pertanyaan lain untukku? apa kau ingin membatalkan pernikahan ini?”
“ Apa aku harus melakukannya.”
“ Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya.”
“ Perkataanmu terdengar sangat indah.”
“ Aku mengatakannya bukan untuk menyenangkanmu, tapi karena aku serius dengan ucapanku. Kau percaya atau tidak, itu pilihanmu.”
“ Umm…”
“ Kenapa kau terdengar seperti mengejekku.”
“ Tidak, aku tidak mengejekmu. Aku hanya tidak tahu harus mengatakan apa. Aku…juga bingung dengan sikapmu.”
“ Tentu saja karena kau tidak mengenalku. Tapi, lambat laun kau akan mengerti bagaimana aku.”
Aku tertawa kecil.
“ Ya, kau benar.”
“ Kau tidurlah. Aku juga harus menyelesaikan pekerjaanku ini.”
“ Sebaiknya kau juga istirahat, kalau nanti kau sakit saat pernikahan tiba, bukankah aku juga yang akan repot.”
“ Ya…aku akan mengusahakan untuk istirahat secepat mungkin.”
“ Baiklah…aku tutup.”
“ Umm.”
Aku pun mengakhiri pembicaraan. Untuk pertama kalinya kami mengobrol sebanyak ini melalui telepon. Biasanya aku hanya mengirimkan pesan dan Gafi pun seperti itu. Dari ketidaksengajaan berakhir saling mencurahkan pikiran masing-masing. Setidaknya aku semakin mantap dengan rencana pernikahan ini. Aku akan menghadapi apapun nantinya walaupun aku tahu tidak akan semudah itu. Tapi dengan keyakinannya aku semakin kuat untuk melangkah bersamanya kelak. Semoga semuanya akan lancar sampai hari pernikahan tiba.
__ADS_1