Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Bulan Madu


__ADS_3

Akhirnya pada hari ini rencana bulan madu yang sudah disiapkan pun terealisasi juga. Pakaian dan peralatan yang dibutuhkan sudah disiapkan dengan baik. Tentu saja dengan campur tangan tante Liz. Sepertinya tante Liz lah orang yang lebih excited ketimbang kami berdua. Bukannya aku tidak senang, tapi terkadang berpura-pura di depan tante Liz membuatku takut. Apalagi kalau sudah melihat senyumannya semakin terasa menyakitkan.


" Apa ada sesuatu di wajah Tante? Dari tadi kau memandangi Tante, sayang?"


Aku tersentak.


Aku tak sadar sudah menatap tante begitu lama.


" Maaf Tante," ucapku. " Yuna senang melihat Tante bahagia."


" Tentu saja Tante bahagia karena melihat kalian akan pergi berbulan madu. Tante sudah tidak sabar menggendong cucu."


Mataku langsung membelalak, sedangkan Gafi di ujung sana seketika terbatuk. Bagaimana bisa tante mengatakan hal seperti itu. Aku tidak bisa membayangkan bulan madu versi tante Liz.


" Kau kenapa Gafi? Apa kau sakit?" tanya tante khawatir.


" Gafi baik-baik saja, Tan," jawabnya yang tentu saja hanya sekedar basa-basi.


" Syukurlah."


Aku sangat mengerti dengan reaksinya itu, aku pun tak kalah kaget dengan ucapan tante Liz barusan.


" Kalau nanti sudah sampai di sana, jangan lupa hubungi Tante."


" Iya, Tante."


" Gafi menyetirlah dengan perlahan."


" Iya Tante," jawabnya. " Kalau begitu kami berangkat."


" Iya, Nak. Berhati-hatilah."


Mobil berwarna putih ini pun melaju meninggalkan kediaman tante Liz. Di temani alunan musik yang mengalun, kami berangkat menuju vila keluarga Gafi. Walaupun judulnya bulan madu, tapi aku tahu tidak ada yang seperti itu nantinya. Gafi sudah mewanti-wanti kalau ia akan sedikit bekerja di sela-sela bulan madu ini. Sepertinya ada pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan untuk saat ini. Dan aku memakluminya. Lagi pula selama ini Gafi sering membantuku, jadi tidak ada salahnya berkorban sedikit saja pikirku.


Di sepanjang jalan setelah keluar dari hiruk pikuk perkotaan, aku mendapatkan pemandangan yang menyejukkan mata. Hamparan persawahan dan hijaunya pepohonan menghiasi sisi-sisi jalan yang kami lalui. Persis seperti sebuah lukisan yang pernah aku lihat saat kecil.


Di sebuah persimpangan, Gafi membelokkan mobil ini dan memasuki sebuah perkampungan yang padat penduduknya. Di ujung sana terlihat sosok Aril yang sedang bercengkrama dengan dua orang pria paruh baya. Ia pun menghampiri kami begitu mobil ini berhenti.


“ Kau jangan kemana-kemana,” ujar Gafi lalu keluar dari dalam mobil.


Sebenarnya aku agak kesal dengan perintahnya itu karena harus berdiam diri di dalam mobil ini sendirian, padahal aku ingin sekali berkeliling di tempat yang sangat indah ini.


Aku hanya bisa memainkan ponselku untuk menghilangkan rasa bosan karena harus menunggunya. Sudah bermacam-macam media sosial hingga permainan yang aku mainkan, namun tetap saja rasa bosan ini belum hilang.


" Harus berapa lama lagi aku menunggu," ocehku sambil merenggangkan tubuhku.


Suara ketukan jendela yang tiba-tiba sontak membuatku terkejut. Terlihat seorang anak kecil kira-kira berusia 10 tahun berdiri seraya tersenyum padaku. Aku pun menurunkan jendela mobil ini untuk bertanya siapa gerangan anak kecil ini.


“ Hai…,” sapaku.


“ Hai, Kak,” balasnya. " Apa ini mobilnya Kak Gafi, Kak?"


" Iya."


" Apa Kakak tahu dimana Kak Gafi?”

__ADS_1


“ Kau kenal dengan pemilik mobil ini?”


“ Tentu saja kenal,” ujarnya.


" Memangnya ada perlu apa dengan Kak Gafi?”


“ Saya mau memberikan sesuatu, nenek juga sudah menunggu di rumah.”


“ Oh ya?”


Anak kecil itu mengangguk.


“ Kalau boleh tahu, siapa namamu?”


“ Seto, Kak,” jawabnya. “ Kalau Kakak?”


“ Yuna.”


“ Kak Yuna, pacarnya Kak Gafi?”


“ Bukan.”


“ Kalau begitu pasti istrinya Kak Gafi.”


Aku sedikit terkejut dengan tebakannya itu. Dan aku hanya mengangguk dan tersenyum.


“ Kebetulan sekali, Kakak bisa bantu Seto, kan. Sepertinya Kak Gafi sangat sibuk, apa boleh kalau Seto menitipkannya kepada Kakak?”


" Apa itu?"


“ Hanya makanan kecil. Setelah tahu kalau Kak Gafi akan datang, nenek langsung membuat makanan untuk Kak Gafi.”


“ Tidak repot, Kak. Lagi pula Kak Gafi sudah baik mau menolong nenek saat sakit. Mengantarkan nenek ke rumah sakit bahkan membayar biayanya. Padahal kami bukan siapa-siapa, tapi Kak Gafi tanpa pamrih mau menolong, jadi nenek ingin mengucapkan terima kasih.”


“ Oh begitu,” ujarku. “ Baiklah, kalau begitu kita akan ke mana?”


“ Ke sana Kak, tidak jauh dari sini,” tunjuknya.


“ Oh, tunggu sebentar ya.”


Setelah aku menutup jendela dan keluar dari mobil, aku pun mengikuti Seto ke kediamannya yang tak jauh dari tempatku tadi. Di perjalanan, Seto menceritakan tentang Gafi yang tidak pernah aku tahu sebelumnya, ia dengan antusias bercerita tentang Gafi padaku.


Tibalah kami di sebuah rumah kecil yang terbuat dari papan. Sesaat aku jadi teringat dengan rumah almarhum nenek dan kakek di kampung yang tak jauh beda dari rumah ini.


Dari dalam sana, kami di sambut oleh nenek Seto yang sedang duduk sambil mengepak makanan ke dalam wadah. Aku di sambut sangat hangat oleh nenek. Apalagi setelah tahu kalau aku adalah istri Gafi, ia tambah antusias denganku. Aku begitu tersanjung dengan perlakukan nenek dan Seto padaku.


“ Ayo di makan, Nak,” ujarnya mempersilakan.


Aku pun menyicipi makanan yang nenek suguhkan.


“ Mmm…. ini sangat enak, Nek,” pujiku.


“ Benarkah…syukurlah kalau Yuna suka.”


Aku tersenyum simpul.

__ADS_1


Kami pun mengobrol panjang, hingga tak terasa sudah satu jam lamanya. Aku pun harus bergegas kembali ke sana sebelum Gafi menyadari kepergianku.


Aku pun berpamitan. Namun, saat aku berbalik, terlihat Gafi sudah ada di depan pintu. Ia menghambur memelukku tanpa aba-aba. Dan tentu saja aku merasa kaget dengan pelukannya yang tiba-tiba ini.


“ Gafi…”


“ Sudah kubilang jangan kemana-mana, kan.”


Aku hanya terdiam.


“ Lain kali kau harus pamit padaku.”


Suara lirihnya itu, sungguh membuatku terenyuh. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa padanya.


Aku pun hanya menganggukkan kepalaku.


“ Maaf Kak Gafi, tadi Seto yang mengajak Kak Yuna,” ujarnya. “ Soalnya Seto ingin memberikan sesuatu pada Kakak.”


Gafi tersenyum kecil.


“ Memangnya Seto mau memberikan apa?” tanyanya dengan suara rendah.


“ Nenek sudah mempersiapkan sedikit makanan untukmu, Nak,” ucap nenek menghampiri kami.


“ Nenek tidak perlu repot-repot seperti ini.”


“ Nenek tidak repot, malah Nenek senang.”


“ Kalau begitu terima kasih, Nek.”


Setelah percakapan singkat itu, aku dan Gafi pamit untuk melanjutkan perjalanan.


Di dalam mobil, Gafi tidak mengucapkan sepatah katapun. Aku tahu ia sedang marah padaku dan semua itu adalah murni kesalahanku karena sudah pergi tanpa sepengetahuannya.


“ Gafi…maaf,” ujarku pada akhirnya, tapi Gafi masih diam.


Apa sebegitu marahnya ia padaku hingga ia tidak menggubris permintaan maafku ini.


“ Maaf…”


Dan Gafi masih diam.


...****...


Hari sudah semakin gelap saat kami tiba di vila ini. Sebuah bangunan yang cukup luas dan asri yang di kelilingi bunga dan pepohonan yang rindang. Di depan pintu, kami di sambut sepasang suami-istri penjaga vila keluarga mereka.


Setelah membersihkan diri, aku merebahkan tubuhku di atas ranjang. Saat Gafi memasuki kamar, reflek aku membalikkan tubuhku ke samping.


Perlahan Gafi menaiki ranjang ini lalu memeluk tubuhku dari belakang. Sontak aku kaget. Tak biasanya ia seperti ini padaku.


“ Gafi…”


“ Sebentar saja. Biarkan seperti ini sebentar saja. Aku takut kau akan menghilang lagi.”


Deg...

__ADS_1


Sebuah kalimat yang tak kupahami maksudnya. Mengapa aku merasa ia seperti orang yang sedang takut kehilangan sesuatu.


Entah apa yang terjadi padanya saat ini. Aku pun hanya membiarkannya memelukku sampai ia tenang dengan sendirinya.


__ADS_2