
Karena pekerjaan Gafi yang tidak bisa di tinggal, aku pun pulang bersama dengan Putra.
Di tengah perjalanan, aku memintanya untuk mengantarkanku ke kampus Aydin. Aku sangat merindukannya. Terakhir kali aku menghubunginya sekitar seminggu yang lalu. Selain memang ada masalah yang datang, Aydin pun saat itu tengah sibuk dengan kegiatannya.
Tibalah aku di kampus itu. Aku menyuruh Putra untuk pulang tanpa menunggu, namun Putra menolak karena sudah di minta untuk menemaniku kemanapun aku pergi. Kalau sudah begitu aku pun tak bisa berkata apa-apa lagi. Putra hanya mendengarkan apapun perkataan Gafi ketimbang perkataanku.
Aku sudah menghubungi Aydin untuk bertemu dengannya di kantin tempat kami sering bertemu. Tempat ini masih saja sama, tidak ada yang berubah. Makanannya pun tidak ada yang berubah masih enak seperti biasanya.
Aku memilih beberapa makanan sambil menunggunya karena Aydin masih ada kelas sekitar satu jam lagi.
Pesanan makananku pun datang dan aku menyantapnya pelan.
Sesekali aku memeriksa ponselku, membaca dan membalas pesan yang masuk. Akhirnya aku memutuskan untuk memberitahu Widya dan Herman perihal kejadian itu. Tentu saja reaksi mereka sudah aku prediksi, mereka sangat marah. Tapi, aku meyakinkan mereka kalau semuanya sudah selesai dan aku sudah bisa menjalani hidupku dengan baik.
Aku senang dengan perhatian yang mereka berikan padaku. Ada teman yang benar-benar tulus padaku.
" Maaf..."
Aku menoleh.
Di depanku berdiri seorang wanita cantik yang tersenyum padaku. Tinggi semampai, berambut panjang dan berkulit putih , persis seperti model.
" Ya, ada apa?" tanyaku.
" Apa kursi ini kosong? Soalnya tempat ini sudah penuh. Boleh saya duduk di sini, saya tidak akan lama, hanya sebentar saja."
" Ah...tentu saja. Silakan duduk."
" Terima kasih."
Aku melanjutkan menyantap makananku dan wanita ini juga melakukan hal yang sama denganku.
" Apa anda mahasiswi di sini?" tanyanya membuka pembicaraan.
" Tidak. Saya sedang menunggu seseorang," jawabku.
" Oh begitu..., senangnya menunggu seseorang. Pasti seseorang itu sangat penting ya."
" Ya, begitulah." Aku tersenyum canggung.
Tiba-tiba suara deringan ponsel miliknya berbunyi. Ia pun meminta izin untuk menjawab ponselnya itu.
" Ya, aku sedang ada di suatu tempat," ujarnya.
Aku hanya mendengarkan pembicaraan mereka yang tidak aku mengerti. Sebenarnya aku agak sedikit terganggu, namun aku tidak mungkin menyela pembicaraannya.
Aku yang sedang menikmati makananku di buat terkejut olehnya karena menyebut sebuah nama yaitu Hanum. Tapi di dunia ini banyak wanita yang bernama Hanum, jadi kupikir itu bukan Hanum yang kukenal. Namun, ia juga menyebut sebuah toko yang sangat tidak asing di telingaku. Aku bertanya-tanya apakah orang yang sedang berbincang dengannya adalah Hanum yang memang kukenal.
" Maaf, aku terdengar berisik," ucapnya meminta maaf.
" Tidak apa-apa," jawabku.
" Aku baru saja tiba di sini tiga hari yang lalu, jadi aku sangat excited ingin bertemu dengan teman-temanku."
" Oh ya... Memangnya sebelum ini anda tinggal di mana?"
" Saya tinggal di Swiss."
" Oh begitu."
" Ya...saya harus ke sana karena sesuatu hal."
Aku hanya tersenyum menanggapinya.
" Makanya saya pulang ke sini karena sesuatu hal juga."
__ADS_1
" Kedengarannya hal itu sangat penting."
" Ya...dia memang penting untukku."
" Dia? apa itu kekasih anda?"
" Bisa di bilang begitu. Kami dulu pernah bersama, tapi harus berakhir."
" Maaf, saya tidak bermaksud mengungkit."
" Tidak apa-apa." ucapnya tersenyum. " Tapi...." Wanita ini malah menatapku dan membuatku agak risih.
" Tapi kenapa?"
" Ah...tidak," ujarnya tersenyum. " Oh ya, terima kasih sudah mengizinkanku duduk di sini. Saya harus pergi sekarang, padahal sebenarnya saya sangat ingin berbincang dengan anda lebih banyak "
" Tidak apa-apa, mungkin lain kali "
" Kalau begitu saya permisi."
" Silakan."
Tak lama wanita cantik itu pergi, Aydin pun datang. Aku segera memeluknya begitu melihat kedatangannya.
" Kakak sendirian?"
" Memangnya sama siapa lagi."
" Soalnya tadi aku lihat kakak tidak sendirian."
" Oh...itu tadi hanya numpang duduk saja, soalnya di sini ramai."
" Oh begitu."
" Kau baik-baik saja?"
" Kakak juga baik."
" Kak Gafi memperlakukan kakak dengan baik' kan?"
" Tentu."
" Syukurlah."
" Apa kau tidak percaya dengan Gafi?"
" Bukan tidak percaya, hanya memastikan saja karena dulu aku juga pernah mempercayakan seseorang pada kakak, tapi ternyata dia malah menyakiti kakak."
Aku menyunggingkan senyuman. " Kau tidak perlu khawatir. Yang dulu dengan yang sekarang, mereka berdua sangat berbeda. Kakak sangat yakin."
" Kalau kakak sudah berkeyakinan seperti itu, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kakak."
Aku mengangguk dengan yakin.
" Itu bukannya kak Hanum?" Aydin menatap lurus. Aku pun langsung menoleh ke belakang. Dari fisik dan pembawaan memang itu Hanum, namun kenapa dia ada di sini.
" Dia bicara dengan siapa," celetukku.
" Apa kakak tidak ingat?" Aku menggelengkan kepalaku. " Bukankah itu wanita yang duduk di sini bersama kakak."
" Ha?" Aku mengamati dengan serius. Memang benar kalau yang di lihat Aydin adalah Hanum dan wanita yang bersamaku tadi. Mereka tampak sangat akrab. Tapi, mengapa Hanum ada di kampus Aydin. Ada keperluan apa ia ada di sini.
" Kak."
Aku tersentak. " Ya."
__ADS_1
" Aku rasa aku tahu siapa wanita itu. Dia pengisi acara di seminar nanti."
" Seminar?"
" Iya, ada seminar di kampus ini, kebetulan teman Aydin sebagai panitianya dan pernah melihat pengisi acara itu, walaupun hanya sekilas, tapi aku sangat yakin, kak."
" Begitu ya..."
" Kak." Aydin mengalihkan perhatianku yang memang masih terpaku melihat mereka.
" Ya."
" Dua hari lagi, aku akan pergi ke Jepang. Ada kegiatan yang melibatkan kampus. Kakak jaga diri baik-baik selama aku tidak ada. Jenguk papa juga. Kemungkinan akan lama di sana."
" Kau akan pergi ke Jepang?"
Aydin mengangguk. " Kira-kira dua bulan."
" Kenapa mendadak sekali. Kakak bisa mempersiapkan sesuatu untukmu."
" Karena aku tahu kakak akan seperti ini, makanya baru sekarang aku sampaikan."
" Kau ini, dasar anak nakal. Biarkan kakakmu ini memanjakanmu."
Aydin menghela napas.
" Aku bukan anak kecil lagi, Kak."
" Kakak tahu, kau selalu saja berkata seperti itu sejak kau masuk SMP."
Aydin menyunggingkan senyuman. " Kalau terjadi sesuatu, Kakak harus menghubungiku."
" Tentu."
" Aku tahu Kakak berbohong."
Aku tersenyum kecil. " Jagalah diri baik-baik di sana. Kakak juga akan baik-baik saja di sini."
Aydin menganggukkan kepala. " Dengan begini, aku lebih tenang."
" Oh ya, Kakak harus pulang," ujarku melihat jam tangan ini. " Sebentar lagi Gafi akan pulang."
" Oke."
Aku pun berdiri, lalu memeluk adik kesayanganku ini. " Kakak pasti merindukanmu."
" Kakak mulai lagi," celetuknya yang membuatku tertawa kecil. " Cepatlah pulang sebelum kak Gafi tiba di rumah."
" Baiklah, Kakak pergi."
" Uhm."
Aku pun melangkahkan kakiku meninggalkan Aydin di sana. Di luar sana Putra masih setia menungguku untuk membawaku kembali.
Begitu ia melihatku, Putra langsung keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untukku. " Terima kasih," ucapku.
Sedetik kemudian mobil ini pun melaju. Entah mengapa isi kepalaku masih seputar Hanum dan wanita yang bersamaku itu. Ada hubungan apa dengan mereka berdua ? Kenapa sepertinya mereka sangat dekat?
" Haaa .." Aku menghela napas berat. Putra yang menyadari perilakuku itu pun langsung bertanya keadaanku.
" Nyonya baik-baik saja."
" Ha?" Aku sedikit kaget. " Ya, aku baik-baik saja."
" Nyonya yakin?"
__ADS_1
" Aku benar-benar baik-baik saja. Kau tidak perlu cemas."
" Baiklah, Nyonya."