
Aku menduga-duga kenapa Gafi tiba-tiba memelukku seperti ini setelah melihatku. Memelukku dengan erat tanpa melonggarkan pelukannya itu. Kata-kata maaf yang berulang yang terucap dari bibirnya menambah daftar kebingunganku. “ Gafi, ada apa?” Pertanyaan itu hanya dijawab dengan senyuman yang semakin membuatku bingung. “ Apa terjadi sesuatu?”
tanyaku lagi.
Gafi mengelus pipiku, lalu mengecup bibirku lembut. “ Kenapa kau tidak memberitahuku, Yuna, kalau aku akan menjadi seorang ayah?”
Aku terdiam sejenak karena terkejut. Bagaimana Gafi bisa tahu tentang kehamilanku ini. Apa mungkin mama Sherin yang memberitahukannya.
“ Yuna, apa aku tidak berhak tahu tentang kehamilanmu ini atau aku sedang mendapatkan karmaku karena telah menyakitimu?” Aku langsung menutup bibirnya dengan kedua tanganku, lalu menggelengkan kepalaku. “ Kenapa kau bicara seperti itu. Tidak ada karma, Fi. Maafkan aku tidak langsung memberitahukannya padamu. “
“ Jangan meminta maaf. Aku yang harus meminta maaf padamu. Ini pasti karena aku terlalu memperdulikan Sherin sehingga membuatmu tidak bisa berbuat apa-apa. Kau mengalah untuknya dan mencoba menahan perasaanmu."
“ Fi, aku malah sempat berpikir aku akan sendirian bersama dengan anak kita. Baru merasakan kebahagiaan, tetapi sekaligus kesedihan. Pikiran sudah jauh kesana, Fi.”
“ Tidak, jangan berkata seperti itu. Ini sudah cukup, hanya sampai disini. Aku tidak akan meninggalkanmu, Yuna, apapun alasannya aku tetap akan bersamamu. Aku sudah berjanji padamu.”
Aku memeluknya. “ Aku sangat senang mendengarnya. Aku harap masalah kita akan cepat selesai. ”
“ Iya, sayang semoga masalah kita cepat selesai. Terima kasih juga sudah hadir di kehidupanku, Yuna. Sudah memberikanku kebahagian paling besar dalam hidupku," ujarnya mengelus perutku.
Aku tersenyum. Sebuah pernyataan yang sangat menggugah hatiku terucap dari bibirnya. Kebahagiaan yang sekali lagi datang padaku dan semoga tidak ternodai.
...****...
__ADS_1
Aku dan Gafi langsung memberitahu keluarga besar tentang kehamilanku ini. Mereka sangat senang terutama papa dan tante Liz. Ibu mertua serta adik iparku tentu saja tidak senang mendengar berita ini. Lagipula, apa yang aku harapkan dari reaksi mereka.
Mereka pasti merasa bahwa posisinya akan tergantikan dengan kehadiran anak ini. Aku tidak ingin terpengaruh dan lebih fokus dengan kehamilanku ini.
“ Selamat sayang. Tante sangat senang sekali mendengar berita kehamilanmu,” ujar tante Liz memelukku. “ Akhirnya tante akan menjadi seorang nenek.” Tante benar-benar terlihat sangat senang. Berulang kali ia terus mengelus perutku.
“ Terima kasih, tante. Yuna juga senang kalau semuanya juga senang.”
“ Jadi tante harap, mulai sekarang kau tidak boleh bekerja lagi. Tinggalkan semua itu dan mulai fokus dengan kehamilanmu. Kamu mengerti, Yuna.”
“ Tapi, tante…”
“ Tidak ada penolakan. Ini bukan permintaan, tapi perintah.”
Aku melirik Gafi. Ia mengangguk kecil agar aku menuruti apa yang diucapkan tante. Aku pun menghela napas. Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menyetujui perkataan tante Liz.
“ Semoga saja ini benar, Pa. Tapi, Gafi takut Sherin tidak setuju dan berulah kembali. Gafi tahu pemikiran ini terlalu negatif, tapi melihat perbuatannya akhir-akhir ini, Sherin sangat nekat dan tidak perduli dengan siapapun.”
“ Papa mengerti maksudmu. Ada kekhawatiran seperti itu, mengingat Sherin yang berubah. Tapi, papa yakinkan semuanya pasti baik-baik saja.”
“ Mudah-mudahan saja, Pa. Berdoa yang terbaik.”
...****...
__ADS_1
Ucapan papa memang benar. Sherin memang dibawa oleh orang tuanya ke luar negeri. Namun sebelum itu bukanlah Sherin kalau tidak berbuat sesuatu agar tetap tinggal disini. Ia mengancam akan bunuh diri jika dipaksa untuk pergi.
Satu-satunya yang diinginkan dari aksinya ini adalah perhatian dari Gafi. Tidak mengherankan kenapa ia melakukan hal itu. Rasa cintanya yang terlalu besar membuatnya tidak bisa membedakan mana yang seharusnya ia lakukan dan mana yang tidak. Aku tidak sepenuhnya menyalahkannya karena itu merupakan perasaan yang tidak bisa dibuang begitu saja.
“ Apa sangat berat untukmu melepaskan Gafi untukku.” Lagi dan lagi sebuah kalimat yang sering ia lontarkan padaku. Sebuah ucapan yang begitu putus asa darinya.
“ Sangat berat. Aku tidak mudah melepaskan seseorang begitu saja, apalagi Gafi adalah suamiku dan ayah dari anakku. Apa itu saja kau tidak mengerti, Sherin."
“ Tapi aku sakit, Yuna. Hidupku mungkin tidak akan lama lagi.”
“ Maka dari itu, hiduplah tanpa menyakiti orang lain. Kau yang seperti ini bukan hanya menyakitiku maupun Gafi, tapi kau juga menyakiti orang tua serta orang yang perduli padamu. Kau sudah berjuang melawan penyakitmu selama ini, bagaimana bisa kau menyerah sekarang.”
“ Kau tidak mengerti, hidupmu tidak sepahit hidupku.”
“ Apa kau mengenalku? Bagaimana bisa kau membandingkan hidupmu dengan orang lain. Apa kau tahu bagaimana perjalanan hidupku untuk sampai dititik sekarang ini? Aku butuh jalan yang panjang dan melelahkan sampai harus kehilangan keluargaku. Kau masih punya keluarga yang selalu ada untukmu, sedangkan aku harus bersabar agar bisa bersama dengan mereka.”
“ Ayahku di penjara karena menyelamatkan putrinya. Ibuku meninggal karena penyakit yang serius, sedangkan adikku, kami harus berpisah demi masa depan yang lebih baik, dia harus kehilangan sosok yang sangat penting baginya di usianya yang sangat muda. Aku sendiri, harus berjuang agar tetap hidup dengan pandangan sebagai anak narapidana, lalu ditinggalkan seorang pria yang kuanggap akan melindungiku dan menjagaku.
" Berbagai pandangan yang sangat negatif selalu tertuju padaku karena status ayahku. Aku tidak marah padanya karena dia adalah sosok ayah yang sebenarnya untukku. Hanya Gafi yang melihatku sebagai seorang Yuna. Tidak pernah menyesal memilihku yang serba kekurangan. Lalu, apa kau pikir aku akan melepaskan suamiku untukmu. Maaf, aku tidak bisa. Sampai kapanpun aku akan bersikap egois untuk yang satu ini.”
Aku menggenggam tangan Gafi, lalu menatapnya. Gafi tersenyum kecil dan memberikan isyarat kalau semuanya akan berakhir baik.
“ Sherin, sadarlah. Kita sudah berpisah dan memilih jalan masing-masing. Tidak ada kesempatan selanjutnya karena dulu aku sudah memberikannya berulang kali padamu. Sekarang aku bahagia dengan istri dan keluarga kecilku. Perlu waktu bagiku untuk sampai pada titik ini juga. Aku mencintai istriku, Yuna. Kau harus menerima itu, Sherin."
__ADS_1
Sherin tak bisa berkata-kata lagi. Ia sepertinya memikirkan apa yang sudah aku dan Gafi utarakan. Tanpa sepatah kata, ia pun menangis sejadi-jadinya. Tangisan yang begitu menyesakkan darinya.
Aku juga berharap yang terbaik untuknya. Kelak ia akan bertemu dengan orang yang akan menyayanginya sepenuh hati dan semoga kesehatannya akan membaik agar ia bisa melanjutkan kehidupannya. Hanya doa itu yang bisa aku panjatkan untuknya.