Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Pesta Malam Itu


__ADS_3

Aku membantu bi Susi, asisten rumah tangga Gafi, membersihkan rumah ini. Walaupun awalnya bi Susi menolak, tapi aku bersikeras untuk membantunya. Rasanya hanya berdiam diri dan tak melakukan apapun sangat tidak cocok denganku.


Bi Susi hanya datang di saat Gafi pergi bekerja. Ia hanya datang untuk membersihkan rumah. Menurut bibi, Gafi lebih suka memasak makanannya sendiri ketimbang ada orang lain yang melakukan untuknya. Jadi, bibi hanya melakukan tugasnya membersihkan rumah yang besar ini.


" Bibi sudah lama bekerja di sini?"


" Sudah Nyonya, dulu orang tua Bibi yang bekerja di rumah besar, waktu itu almarhumah masih ada."


" Oh...jadi dulu Bibi bekerja di sana."


" Iya Nyonya. Bibi juga tahu gimana masa kecilnya tuan Gafi. Bibi masih ingat betapa bahagianya tuan Gafi saat itu, tapi setelah nyonya besar meninggal, semua berubah, apalagi setelah tuan menikah lagi, semakin tidak nyaman."


" Ternyata memang begitu ya, bibi yang bekerja di villa juga mengatakan hal yang sama."


" Maka dari itu Nyonya yang sabar kalau menghadapi nyonya besar."


" Iya Bi. Itu sih sudah jadi kewajiban Yuna harus sabar."


" Bibi senang akhirnya ada Nyonya di dalam rumah ini. Tidak sepi karena setiap Bibi datang dan pergi, jarang melihat tuan. Hari libur juga begitu, tapi sejak ada Nyonya sepertinya bakalan berubah."


" Memangnya nyonya yang dulu tidak tinggal di sini, Bi?"


" Maksudnya Nyonya, nyonya Sherin?"


Aku mengangguk.


" Nyonya belum tinggal di sini. Waktu itu masih di rumah besar, itupun hanya sebentar, setelah itu nyonya menghilang, lalu tuan dan nyonya bercerai dan sampai sekarang tidak pernah melihat nyonya Sherin lagi."


" Oh begitu."


" Biar Bibi kasih tahu, tuan sampai menyuruh Putra untuk mencuci dan membingkai foto pernikahan tuan dan nyonya. Tuan kelihatan sangat senang melihat hasilnya."


" Oh, foto yang di kamar ya, Bi"


" Iya Nyonya."


" Yuna sampai kaget ada foto sebesar itu di kamar."


" Mudah-mudahan tuan dan Nyonya tetap langgeng sampai maut memisahkan."


Aku tersenyum simpul.


" Terima kasih, Bi, atas doanya."


" Sama-sama Nyonya."


...****...


Waktu terus berlalu, setelah bi Susi pamit pulang, pada akhirnya aku hanya seorang diri di rumah ini. Aku memang sudah terbiasa tinggal sendiri, namun entah kenapa rasa ini berbeda dari biasanya. Mungkin karena aku belum terbiasa di tempat ini, jatuhnya aku malah kesepian.


Siaran televisi entah sudah berapa kali aku gonta-ganti, tetap saja tidak ada yang bisa menghilangkan kebosananku ini.


Gafi juga tidak menghubungiku sejak pergi tadi pagi. Sesibuk apa dia di sana hingga tidak sempat untuk mengabariku di sini.


Apa dia akan meninggalkanku sampai larut malam karena pesta itu. Apa dia akan membiarkanku sendirian di rumah ini dan tak memperdulikanku.


Semua pertanyaan itu terus hadir silih berganti di pikiranku. Entah mengapa aku jadi cemburu begini, padahal tak mestinya aku seperti itu. Di tambah Gafi juga tidak memperdulikan perasaanku pagi itu.


" Ha..."


Aku menghempaskan tubuhku di bahu kursi.


" Kenapa aku berpikiran negatif begini."


Aku memukul-mukul kecil kepalaku.


" Sadar Yuna..."


Aku terperanjat karena suara bel berbunyi. Aku pun bergegas ke depan, lalu mengintip dari balik gorden jendela. Terlihat seorang pria berjas rapi berdiri di depan pintu. Aku memperhatikan wajahnya yang terasa tak asing di mataku.

__ADS_1


Setelah mengenalinya, aku pun membuka pintu itu.


" Selamat sore, Nyonya," sapa Putra, supir pribadi Gafi.


" Iya," balasku. " Kenapa kau ada di sini? Gafi ada di mana?"


" Tuan masih ada pekerjaan, Nyonya. Saya datang ke sini untuk menjemput Nyonya."


" Menjemputku? Memangnya kita akan ke mana?"


" Bukankah malam ini ada pesta ulang tahun nona Diana. Saya menjemput Nyonya untuk membawa Nyonya ke butik dan salon."


" Ha??"


Aku terkejut sesaat. Yang aku tahu hanya Gafi yang pergi ke sana, kenapa dia malah mengutus Putra menjemputku. Kenapa dia tidak mengatakan apapun padaku. Tak ada yang tahu apa yang ada dipikirannya itu.


" Nyonya..."


" Ah...ya," ujarku. " Tunggulah sebentar, aku akan mengambil tasku."


" Iya, Nyonya."


Aku pun bergegas mengambil tasku di dalam kamar. Setelah merapikan pakaian dan rambutku, aku menghampiri Putra yang ada di depan sana.


Putra sudah bersiap di depan mobil, membuka pintu mobil untukku dan membawaku ke tempat yang sudah di perintahkan.


Tempat pertama, sebuah butik. Di sana aku di sambut seorang Manajer yang memang menjadi langganan keluarga mereka. Manajer itu memperlihatkan gaun-gaun cantik yang memang hanya limited edition.


Sebuah gaun panjang dengan lengan cape bernuansa vintage. Desain gold vintage cape yang mengandalkan payet bermotif bunga yang sangat indah ini menjadi pilihanku.


Aku memakai gaun itu dan aku sangat menyukainya.


Sepasang sepatu berwarna nude yang tidak terlalu tinggi menjadi pilihanku kali ini. Sepatu ini pun begitu nyaman di kakiku. Terang saja, harga dari pakaian hingga sepatu di tambah tas tangan tidak lah main-main. Gajiku saja tidak cukup membayarnya. Butuh berkali-kali gajian untuk bisa melunasinya.


" Nyonya, ini kartu dari tuan. Pinnya adalah ulang tahun Nyonya sendiri. Nyonya bisa menggunakannya."


" Benar sekali Nyonya."


Wah...orang kaya memang beda. Tanpa berpikir panjang memberikan kartu berisi uang yang sangat banyak ini padaku.


" Terima kasih," ujarku padanya.


Aku pun memberikan kartu itu kepada Manajer butik agar membayarkan semua yang sudah aku kenakan ini.


Perjalan kedua adalah salon terkenal yang tentu saja pemiliknya seorang MUA handal. MUA ini juga pernah merias wajahku saat aku menikah waktu itu. Tidak bisa di pungkiri, hasilnya memang sangat memuaskan. Tak ada kata yang bisa mendeskripsikan kepuasanku dengan hasil yang diberikan.


Perlahan demi perlahan wajahku mulai di polesi make up yang mereka punya. Rambutku pun tak luput dari tangan kreatif mereka.


Satu jam berlalu, aku pun selesai dengan riasanku. Aku memandangi diriku di depan kaca yang cukup besar ini. Sedikit memuji diri sendiri karena hasil yang sangat indah ini.


Setelah membayar dan mengucapkan terima kasih. Aku pun kembali ke dalam mobil dimana Putra sudah menungguku.


" Maaf, sudah membuatmu menunggu lama," ujarku karena aku tahu Putra pasti sangat lelah menungguku melakukan ini dan itu.


" Tidak apa-apa Nyonya," jawabnya . " Itu sudah tugas saya."


" Lalu kita akan kemana? Apa menjemput Gafi?"


" Tidak Nyonya, kita langsung ke tempat acara. Lagipula Tuan sudah ada di sana, mungkin sebentar lagi acara akan di mulai."


" Oh begitu. Kalau begitu kita pergi sekarang saja."


" Baik, Nyonya."


Putra pun menginjak pedal gas membawaku ke tempat acara malam ini. Sebuah hotel mewah menjadi pemberhentianku. Aku pun turun, lalu Putra membawaku ke dalam sana.


Perasaanku campur aduk, aku menjadi tak tenang jika belum melihat Gafi. Apa yang akan terjadi jika aku muncul di sana. Aku jadi takut sendiri.


" Nyonya, silakan masuk," ujar Putra mempersilakanku.

__ADS_1


Aku memasuki ruangan itu. Ruangan yang sudah di penuhi para tamu. Mataku mencari keberadaan Gafi, namun belum kutemukan.


Beberapa pasang mata menatapku dengan pandangan heran. Mungkin karena mereka merasa asing dengan kehadiranku yang tiba- tiba ini.


Senyumanku langsung merekah begitu melihat tante Liz menghampiriku.


" Kau cantik sekali sayang," pujinya.


" Terima kasih Tante," ujarku tersipu.


" Tante dari tadi menunggumu, tapi bukan hanya Tante saja, ada orang yang tidak tenang sejak tadi menunggu kedatanganmu."


" Siapa?"


" Siapa lagi." Tante menunjuk Gafi yang berdiri tak jauh dariku.


Seperti seorang putri yang dipertemukan dengan pangerannya.


Gafi memberikan senyuman manis padaku. Sekali lagi aku seperti di dalam film Disney yang pernah aku tonton saat aku kecil.


" Kau sudah datang."


Aku mengangguk. " Ya."


" Aku senang sekali melihatmu. Kau sangat cantik setiap kali kau muncul."


Aku tersipu malu dengan pujiannya itu.


" Yuna, ayo kita ke sana."


" Iya."


Aku pun melingkarkan tanganku di lengan Gafi berjalan berdampingan bersamanya. Kini bukan lagi tatapan tapi juga bisikan kecil membicarakan kami.


Di sana terlihat kedua mertuaku dan adik iparku. Aku pun menyapa mereka.


Ibu mertua dan adik iparku itu tentu saja tidak senang melihat kehadiranku. Terlihat jelas di raut wajah mereka.


" Gafi " Suara yang tak asing itu tentu saja milik Diana. " Kenapa kau meninggalkanku..." Diana langsung terdiam karena melihatku di samping Gafi.


Ia tak menyangka aku akan menghadiri acaranya ini.


" Kau! Kenapa kau ada di sini! Kau tak di undang ke tempat ini!" hardiknya.


" Aku yang mengundangnya," balas Gafi. " Dia istriku, aku tidak akan ada di sini jika istriku tidak ada."


" Apa?" Diana seakan tak percaya. " Tapi tante bilang kau hanya akan datang sendiri ke sini dan akan memperbaiki semuanya."


" Aku rasa kau salah paham. Aku tak pernah mengatakan apapun."


" Tapi, kau tak menyukainya, kan."


" Siapa yang mengatakannya padamu ?" Diana terdiam. " Apa kau perlu bukti?"


" Ha?"


Gafi menarikku hingga menempel ke tubuhnya, mendekatkan wajahnya, lalu menciumku seperti biasanya. Ciuman yang cukup panas untuk di lihat semua orang yang hadir di tempat ini. Entah apa yang di pikiran pria yang menjadi suamiku ini hingga berani melakukan ini di depan umum.


" Kau sudah puas dengan apa yang kau saksikan?"


Diana tampak geram. Sekali lagi ia merasa tertipu dan di permalukan. Faktor kesalahannya adalah mempercayai ibu Gafi. Ia tampak kesal dengan situasi ini, kemudian pergi begitu saja. Ibu dan adik Gafi mengejar Diana yang sedang kesal itu.


Aku menatap Gafi meminta penjelasan padanya atas apa yang terjadi malam ini. Aku merasa kasihan pada Diana untuk pertama kalinya.


" Kau jangan menyimpulkan apapun. Aku melakukan ini agar mereka tidak melakukan hal yang buruk dengan hubungan kita. Semakin aku diam, mereka akan semakin melancarkan rencana yang jahat. Jadi karena itu, aku harus melakukan ini."


Aku menyandarkan wajahku di dada bidangnya, kemudian Gafi memelukku. Aku menggenggam tangan satunya dan sekejap aku merasa tenang karenanya.


" Terima kasih," ucapku lirih.

__ADS_1


__ADS_2