Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Gafi Yang Membuat Yuna Bingung


__ADS_3

" Yuna...kita impas."


Kalimatnya itu membuatku tertohok. Makhluk yang sifatnya menyebalkan ini sukses membuatku shock berat. Bagaimana tidak, suasana yang tadinya romantis berubah jadi kekesalan hebat. Ia menciumku hanya karena aku pernah menciumnya. Hanya sebuah kata impas. Dan itu membuatku marah.


" Ah...tunggu, kenapa juga aku harus kesal dan marah. Memangnya apa yang aku harapkan."


Aku memukul-mukul kepalaku pelan karena kebodohanku itu.


" Yuna...kau benar-benar bodoh!"


" Kau baru sadar," sambung Gafi yang masuk ke dalam kamar. " Kenapa kau belum tidur?'


" Aku belum mengantuk," jawabku. " Kau dari mana saja?"


" Tadi Papa memanggilku dan ingin bicara."


" Oh begitu."


" Kenapa kau sepertinya ingin tahu kemanapun aku pergi?"


" A-pa?" Aku terheran. " Aku hanya bertanya, kalau tak ingin menjawab, ya sudah tidak apa-apa. Kenapa malah membuat orang jadi bingung."


Lagi-lagi Gafi menyeringai. Senyumannya itu benar-benar menyimpan sejuta makna.


" Setelah bulan madu nanti, aku akan membawamu ke rumah kita. Rumah itu tidak terlalu besar, jadi kalau kau ingin rumah yang lain. Kita bisa mencarinya."


Aku menggelengkan kepalaku cepat.


" Tidak perlu. Itu saja sudah cukup."


" Kenapa kau tidak berpikir dahulu sebelum menjawab. Aku tidak keberatan kalau kau ingin sesuatu."


" Tidak, aku sudah bilang tidak, kan."


Gafi menghela napas.


" Apa kau marah padaku?"


" Kenapa aku harus marah padamu?"


" Karena kau terlihat seperti itu. Kalau kau tidak marah, nada bicaramu tidak tinggi seperti ini."


" Aku tidak marah!"


" Tidak marah, tapi seperti itu."


" Karena kau membuatku kesal."


" Kenapa aku membuatmu kesal?"


" Jangan tanya-tanya terus. Itu membuatku kesal."


" Ha??" Gafi mengernyitkan dahinya. " Apa kau marah karena kejadian tadi?"


" Ha? kejadian apa?"


" Bukankah kita tadi berciuman."

__ADS_1


Aku membelalakkan mataku. Terkaget dengan ucapannya itu.


" Kita berciuman, Yuna!"


Segera aku menutup mulutnya. " Kau sudah gila. Apa kau harus mengatakannya dengan suara sekuat itu? Apa kau ingin semua orang tahu!"


" Tchh...memangnya kenapa kalau orang harus tahu. Apa kau malu? Kenapa sekarang kau bisa berpikir malu, tapi saat kau menciumku di depan orang banyak, kau malah santai saja, malah menikmatinya."


" Kau..." Aku kehabisan kata-kata. Bisa-bisanya dia menceritakan kejadian itu lagi. " Jangan di bahas lagi!" ujarku kesal. " Lagi pula sudah impas, kan? bukankah itu yang kau katakan setelah menciumku."


" Benarkah?"


" Wah..." Aku semakin kesal dengan tingkahnya itu.


" Apa kau marah karena itu?"


" Aku tidak marah!"


Tiba-tiba suara terkikik keluar dari bibir Gafi. Ia tertawa dengan puasnya. Aku terdiam terpaku melihatnya tertawa seperti itu.


" Kau lucu sekali, Yuna. Setiap kali melihat ekspresimu seperti itu, aku jadi tidak tahan untuk tidak menggodamu."


" Ha? jadi kau pikir ini lucu, ha!" Aku memukulnya dengan bantal yang tak jauh dariku. " Terlihat sekali kau sangat senang!"


Gafi masih terus tertawa, sedangkan aku kesal bukan main dengan sikapnya itu.


" Dasar jahat!"


Brukk...


Gafi menarik tubuhku hingga terjatuh ke tubuhnya.


" Kau memang sedang menyakitiku," timpalku. " Sekarang lepaskan aku! Posisi kita saat ini sangat tidak baik."


" Memangnya kenapa?"


" Gafi, jangan bercanda. Kita bukan pasangan suami-istri pada umumnya."


" Tapi tetap saja kita ini suami-istri yang sah. Jadi aku berhak, kan?"


" Ha? jangan bercanda."


Aku yang ingin melepaskan diri dari dekapannya malah tidak bisa bergerak karena dekapannya yang sangat erat itu. Gafi bahkan tidak bergeming sedikitpun.


" Gafi!"


" Hussh....diamlah," ujarnya. " Sekarang tidurlah, Yuna..."


Aku membuang napas berat. Sikapnya ini benar-benar membuatku tak bisa berkutik. Entah apa yang ada dipikirannya hingga harus memperlakukanku seperti ini.


Sudahlah, aku tidur saja. Kalau nanti dia sudah lelap, aku bisa melepaskan diriku dari dekapannya ini, pikirku.


Dan aku pun akhirnya tertidur.


...****...


Aku terbangun dari tidurku seperti biasanya. Mimpi buruk itu entah mengapa datang lagi ke dalam tidurku. Gafi yang berada di sampingku masih tertidur dengan pulasnya. Perlahan aku turun dari tempat tidur dan beranjak ke balkon untuk menghirup udara.

__ADS_1


Malam yang semakin larut dan sepi menghiasi langit malam. Aku mendekap tubuhku karena dinginnya angin malam.


Aku menggenggam ponselku. Seperti biasa aku ingin mendengar suara Aydin tatkala aku terbangun dari tidurku. Sejak aku menikah, belum pernah sekalipun aku menanyakan kabarnya. Tapi, jika aku menghubunginya sekarang, Aydin pasti langsung khawatir. Ia terlalu peka dengan kondisiku dan aku jadi serba salah di buatnya.


Aku mengambil napas dalam.


" Aku harus bagaimana...," celotehku.


" Kenapa kau ada di sini?" Suara Gafi mengagetkanku. Aku tak menyadari kehadirannya di belakangku. " Di luar sangat dingin, nanti kau sakit."


" Apa aku mengganggu tidurmu?" tanyaku balik tanpa menjawab pertanyaannya tadi.


" Apa itu menjadi kebiasaanmu setiap ada orang yang bertanya padamu? selalu melontarkan pertanyaan sebagai jawaban?"


Aku tersenyum.


" Maaf," ucapku. " Ini juga bagian dari kebiasaanku. Terkadang aku terbangun dari tidurku kalau mimpi itu datang menghampiri."


" Mimpi?"


" Umm...berawal dari trauma hingga sampai terbawa ke mimpi. Biasanya aku selalu menghubungi Aydin jika sudah seperti ini."


" Lalu kenapa kau tidak menghubunginya?"


" Karena aku tidak ingin Aydin jadi semakin khawatir. Dia terlalu peka terhadapku."


" Aydin dan Ayah, mereka berdua sangat melindungimu."


" Ha?"


" Hal yang tidak akan pernah aku lupa, ucapan mereka kepadaku waktu itu." Gafi menatapku." Jika kau lelah dengannya, jangan sakiti dia, kembalikan Yuna kepada keluarganya. Ucapan Ayah dan Aydin, selalu sama."


Aku tersenyum simpul.


" Yuna...kau sangat beruntung."


" Terima kasih sudah mau mengerti dengan permintaan Ayah dan Aydin."


Gafi hanya tersenyum sebagai jawaban dari ucapanku.


" Masuklah di luar sangat dingin."


Aku mengangguk.


" Gafi..."


" Umm..."


" Kau belum pernah membawaku ke tempat Mama. Kau juga hanya sekali membicarakan tentangnya. Tadi aku tidak sengaja melihat poto kalian berdua. Mama sangat cantik dan kau terlihat sangat bahagia di poto itu," ujarku. " Gafi...bolehkah suatu hari nanti kita ke sana?"


Gafi terdiam sejenak. Terlihat ia sedang memikirkan permintaanku itu.


" Kalau kau keberatan, tidak masalah. Maaf kalau aku sudah lancang."


" Kenapa kau bicara seperti itu?" ujarnya. " Aku akan membawamu ke sana suatu hari nanti. Mama pasti senang jika menantunya mengunjunginya di sana."


Aku mengangguk dan tersenyum karena senang Gafi menyanggupi permintaanku itu.

__ADS_1


" Tidurlah, jika kau bermimpi buruk lagi, kau bisa membangunkanku. Jangan menyimpannya sendiri. Sekarang kau punya aku."


Aku tertegun dengan ucapan Gafi itu. Untuk sekian kalinya, aku merasakan kehangatan darinya. Biarlah aku larut dalam perasaan ini sekarang dan setelahnya aku akan menyadarkan diriku, agar bangun dari harapan yang tak akan mungkin terjadi ini.


__ADS_2