
Aku memasuki kamar dengan kesal. Pintu yang tak biasa di kunci kini aku menutupnya dengan rapat. Berulang kali Gafi mengetuk pintu agar aku membukanya, tapi berulang kali juga aku menolaknya. Aku tak ingin mendengarkan apapun darinya dan aku juga tak ingin melihatnya untuk saat ini.
Keadaan kami berdua saat ini masih sama-sama keras. Aku butuh waktu untuk mendinginkan hatiku yang sedang panas. Dan aku juga perlu mencerna situasi yang terjadi saat ini.
Aku belum bisa menerima perlakuan Gafi kepada Martin. Dia adalah teman yang selalu ada membantuku. Aku benar-benar tak enak dengan Martin karena perlakuan Gafi. Seharusnya ia tak melakukan itu padanya.
Aku pun menghempaskan tubuhku di atas ranjang empuk ini. Pikiranku melayang memikirkan ini dan itu. Belum ada ketenangan di pikiranku saat ini.
Hujan juga belum ada tanda-tanda akan reda, malah semakin deras. Menambah cekamnya suasana di rumah ini.
Perlahan demi perlahan aku mulai terlelap hingga aku tak sadar kalau Gafi sudah berada di sampingku. Terang saja ia bisa masuk ke dalam kamar ini. Pastinya ia sudah mempunyai kunci cadangan seluruh ruangan ini.
Gafi menatapi wajah tidurku, memastikanku tidur dengan nyaman.
" Maafkan aku, Yuna, sudah membuatmu marah."
" Kau tak tahu kalau aku selalu mengamatimu di tempat kerja. Itu aku lakukan karena aku tahu pasti Diana akan melakukan sesuatu padamu. Tapi, aku malah tidak ada di saat kau di serang, malah pria lain yang menolongmu dan menjagamu di sana."
" Aku tidak suka kau terlalu dekat dengannya. Terlihat di matanya kalau kau bukan hanya sekedar teman untuknya, tapi kau tak menyadarinya."
" Maafkan aku."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Gafi pun keluar dari kamar. Ia memilih untuk tidur di kamar satunya.
Selama ini Gafi menyuruh Putra untuk menjagaku. Putra selalu stand by di depan kafe. Apapun yang ia lihat, selalu ia laporkan kepada tuannya itu. Gafi selalu tahu keadaanku di sana melalui Putra bahkan tentang Martin sekalipun.
Di saat kejadian, Putra langsung menghubungi Gafi. Namun, saat itu Martin lah yang membantuku. Gafi yang mendengar kalau aku bersama Martin, langsung bergegas menghampiriku.
Di saat itulah Gafi melihatku bersama Martin di rumah. Amarahnya tiba-tina memuncak dan aku pun demikian. Aku yang merasa tidak melakukan kesalahan apapun dan balik marah padanya, bersikeras kalau hubunganku dan Martin hanya sebatas teman, namun Gafi mengartikan lain dengan hubungan kami ini.
Hubungan kami pun berubah tegang dan memanas. Aku tak ingin bicara dengannya walaupun Gafi berusaha ingin berdamai.
...****...
Aku terbangun dari tidurku. Kulihat jam yang ada di dinding sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.
Aku melompat dari tempat tidurku karena sudah kesiangan. Aku pun bergegas untuk mandi.
Setelah selesai membersihkan diri, aku mengambil sebuah kemeja dan celana jeans untuk kupakai.
Aku hanya memoleskan bedak dan lipstik ke wajahku, lalu ku ikat rambutku dengan rapi.
Aku bergegas keluar untuk bersiap pergi. Tak ada Gafi maupun Putra, namun ada dua orang pria yang tidak aku kenal menghampiriku.
" Nyonya," sapa mereka.
" Kalian siapa?" tanyaku heran dengan kehadiran mereka.
" Kami yang akan menjaga Nyonya di sini "
" Menjaga? Apa maksudnya? Aku tidak perlu itu, aku harus pergi bekerja."
" Maaf Nyonya, anda tidak bisa keluar kemanapun termasuk pergi bekerja."
" Apa? Kenapa aku tidak boleh keluar dari rumah ini?"
" Kami hanya menjalankan perintah dari Tuan Gafi."
__ADS_1
Aku tak peduli dengan ucapan mereka. Aku menerobos keluar, tapi kedua orang itu mencegatku. Aku memperingatkan mereka, namun usahaku itu sia-sia.
" Apa kalian harus begini padaku."
" Maaf Nyonya."
Aku pun kembali ke kamar.
kuambil ponselku, lalu kutekan sebuah nomor.
" Halo Yuna," ujar Gafi dari ujung telepon.
" Kenapa kau melakukan ini padaku? Apa sekarang aku seorang tahanan."
" Maafkan aku, tinggallah di rumah."
" Tapi kita sudah sepakat, asal aku mengikuti persyaratanmu, aku bisa bekerja, lalu kenapa jadi begini."
" Kau sudah melanggar satu syaratku, Yuna. Kau pulang dengan orang lain."
" Tapi, kemarin itu bukan hari biasa. Kenapa kau tidak mengerti juga."
" Perjanjian yang sudah di langgar akan ada konsekuensinya. Kau juga harus mengerti."
" Gafi, kenapa kau tega sekali padaku. Apa ini yang kau bilang mengurusku dengan baik?"
" Ini demi kebaikanmu, Yuna."
" Kebaikanku atau kebaikanmu."
" Yuna mengertilah."
Gafi tak menjawab.
" Kau melindungiku dari perbuatan Diana atau kau tak ingin aku bertemu dengan Martin? Katakan!"
" Keduanya, jadi tetaplah di rumah."
Gafi menutup sambungan telepon. Aku terduduk di lantai. Dia benar-benar menggunakan power yang ia punya.
" Kau sangat menyebalkan."
Aku benar-benar tak habis pikir dengan perlakuan Gafi padaku kali ini. Entah apa yang ada di pikirannya itu dan entah rencana apa yang sedang ia bangun untukku.
Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi hingga ia membuat keputusan yang sangat aneh ini. Mengurungku di rumah ini.
" Baiklah, kau membuat perang ini, Gafi."
...****...
Aku menghabiskan waktuku dengan membaca buku-buku yang tersusun rapi di rak yang tak begitu besar ini. Ada berbagai jenis buku terpajang di sini, mulai dari sejarah, ekonomi maupun sastra. Gafi memang suka membaca buku, sama sepertiku.
Deringan suara dari ponselku mengalihkan perhatianku. Aku bergegas mengambil ponselku dan terpampang nama Tia di sana.
" Halo Tia," jawabku saat mengangkat
telepon darinya.
__ADS_1
" Kau ada di mana?"
" Di rumah. Gafi tak mengizinkanku keluar."
" Kenapa?"
" Entahlah..."
" Yuna, kenapa kau tidak cerita kalau kau akan mengundurkan diri?"
" Ha?? Mengundurkan diri? Aku tidak melakukan itu."
" Tapi, surat pengunduran dirimu ada di sini dan bos sudah membacanya."
" Apa? Tapi, aku tidak mengundurkan diri. Siapa yang melakukannya."
" Aku tidak tahu, makanya aku menanyakannya padamu."
" Jangan-jangan ini ulah Gafi."
" Apa kau yakin?"
" Tentu saja, dia saja bisa mengurungku di sini, apalagi melakukan hal seperti itu."
" Kau tak boleh menuduhnya begitu. Mungkin Gafi punya maksud lain di balik semua tindakannya."
" Kenapa kau malah membelanya."
" Aku bukan membelanya, tapi yang terjadi bukan hanya surat pengunduran dirimu saja. Keadaan di kafe juga berantakan, sepertinya ada orang yang sengaja merusak tempat ini."
" Kau serius?"
" Tentu saja aku serius, lagi pula untuk apa aku berbohong."
" Kenapa jadi rumit begini. Apa Gafi juga melakukan perusakan itu."
" Jangan menuduhnya, nanti kau menyesal."
" Lalu menurutmu siapa?"
" Aku tidak tahu, yang pasti orang-orang mengira kalau kau yang melakukan ini karena surat pengunduranmu yang tiba-tiba ini."
Aku menghela napas.
" Tenangkan dirimu dan jangan gegabah."
" Iya."
" Aku tutup dulu. Di sini sangat berantakan."
" Ok."
Sambungan telepon itu pun terputus. Sungguh berita yang sangat mengejutkan. Semua memungkinkan mengarah kepada Gafi, entah benar dia melakukannya atau tidak, aku juga tidak tahu. Gafi bisa saja melakukan hal itu, tapi untuk apa dia melakukan hal kotor seperti itu.
" Tidak- tidak... ini tidak mungkin."
Semakin rumit dan membingungkan. Aku tidak tahu harus percaya pada siapa lagi, aku benar-benar sangat kebingungan.
__ADS_1
" Gafi, semoga itu bukan kau."