Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Pesta Adik Ipar 2


__ADS_3

" Hanum," panggilku saat melihatnya bersama dengan Reza memasuki aula.


" Kau cantik sekali, Yuna," pujinya.


" Terima kasih. Kau juga sangat cantik," ucapku malu.


" Lihat, wajah Yuna langsung memerah," timpal Reza menggodaku. " Tuan Gafi, kau pasti senang, kan."


" Bagaimanapun Yuna, dia tetap cantik," ujarnya yang membuatku tersipu.


" Tch, apa-apaan dia ini." Reza seakan tak percaya dengan ucapan sahabatnya ini. " Tuan Gafi sepertinya Yuna sudah memenuhi seluruh kehidupanmu."


" Tentu saja." Gafi menggenggam tanganku. " Yuna..." Gafi melancarkan senyumannya padaku. Entah mengapa ia pandai sekali membuatku tersipu.


" Gafi..." Aku menyenggolnya karena semakin malu. Hanum dan Reza tersenyum senang karena tingkahku itu.


" Apa kalian mau menunjukkan eksistensi kemesraan kalian kepada semua orang," celetuk Reza, " Kalian seperti pengantin baru saja."


" Apa masalahnya," celetuk Gafi. " Biar semua orang tahu."


" Ha...sudahlah, aku tidak mau melanjutkannya lagi. Cukup sudah mendengarnya." Ocehan Reza ini sukses membuat kami tertawa.


Pembicaraan kami ini pun harus terputus karena acara yang sudah di mulai itu.


Soraya tak henti-hentinya menebarkan senyuman. Terlihat sekali ia sangat bahagia dengan acaranya ini. Semua yang hadir ikut merasakan kebahagiaannya itu.


Dan seperti biasa, aku hanyalah bagian pelengkap yang tak diharapkan. Selalu saja ada Diana diantara aku dan Gafi. Aku tidak khawatir, hanya saja aku seperti seorang diri di kerumunan banyak orang. Mereka tidak akan bisa menerimaku begitu saja. Memang itu sudah jalannya, aku juga tidak bisa serta merta mengubahnya.


Aku berdiri seorang diri menikmati minuman yang ada di tanganku ini. Sesekali melirik ke arah ujung sana dan sesekali aku menghembus napas panjang.


" Yuna, apa kau sakit." Pertanyaan itu membuatku tersentak karena orang yang menanyakan hal itu adalah mertuaku. Aku bahkan tidak langsung menjawab pertanyaannya karena rasa kaget ini. " Yuna..." Dia menatapku khawatir.


" Yuna baik-baik saja, Pa," jawabku terbata. Selain kaget, aku juga sangat terharu karena ini pertama kalinya ia menanyakan keadaanku. Suara lembutnya, sama persis dengan suara ayah.


" Benar kau baik-baik saja?" tanyanya lagi.


" Iya, Pa. Yuna baik-baik saja," jawabku menyunggingkan senyuman.

__ADS_1


" Apa karena acara ini?"


" Ha?" Entah kenapa Papa mengucapkan kata-kata itu. Apa ia menyadari kegelisahanku ini. " Tidak, Pa."


" Papa tahu kau berbohong. Mama dan Soraya membuatmu gelisah, kan."


" Kenapa Papa berkata seperti itu?"


Papa langsung menoleh ke arah mereka, lalu menoleh kembali menatapku. Aku tersenyum kecil kemudian menundukkan kepalaku.


" Yuna... maaf," ucapnya tiba-tiba.


" Papa..."


" Papa tidak bisa melakukan hal yang seharusnya sebagai orang tua. Awalnya Papa berpikir kalau kau tidak pantas untuk Gafi, namun setelah melihat perubahan Gafi, Papa bisa memahami mengapa Gafi memilihmu. Kehidupan Gafi berubah sejak kematian bundanya. Banyak kekecewaan yang ia rasakan dan Papa memahami itu. Untuk kali ini, Papa menerimamu untuk bersamanya. Jangan mengulang kepahitan yang dulu pernah ia rasakan. Apa kau bisa berjanji, Yuna."


" Pa, dulu pasti ada seseorang yang pernah berjanji hal yang sama dan tidak bisa memenuhinya. Yuna juga pernah merasakannya, rasa sakit dan pahitnya suatu hubungan. Yuna juga masih belajar untuk memahami bagaimana Gafi sepenuhnya dan Gafi juga sebaliknya. Pa, yang terakhir, inilah yang kami inginkan, tapi badai kehidupan yang akan menghampiri, tidak akan bisa dihindari. Yuna hanya bisa mengatakan sebaik mungkin untuk bertahan, memahami dan menerima. Tapi, jika nanti ada kekhilafan, tolong tegur kami, Pa."


Papa mertuaku itu menatapku, lalu tersenyum seraya mengangguk kecil. " Yang terbaik untuk kalian," ujarnya.


" Bolehkah Yuna memeluk Papa?"


Aku pun menghampirinya dan memeluknya. Papa mengelus lembut rambutku. Akhirnya aku mendapatkan orang tua keduaku.


" Ayah, anakmu sekarang bahagia," gumamku.


Dari kejauhan diam-diam Gafi mengamati kami berdua. Hal yang sudah lama ia inginkan akhirnya terwujud sudah. Sang papa menerima dengan tulus kehadiran Yuna.


" Bunda, lihatlah bagaimana papa berubah," gumamnya.


...****...


" Seharusnya kau tidak datang ke sini." Tiba-tiba Soraya datang menghampiri. " Apa yang kau lakukan pada Papa. Kenapa kau bisa memeluknya."


Aku mendecis. Baru kali ini aku merasa senang karena kekesalannya itu. Ia pasti merasa sangat dongkol saat ini.


" Apa masalahnya. Papa juga orang tuaku."

__ADS_1


" Papa tidak menyukaimu awalnya, kenapa dia bisa melunak padamu. Apa yang sudah kau lakukan padanya."


" Aku tidak perlu melakukan apapun karena aku bukan orang seperti kau."


" Kau!" Soraya sangat kesal. "Kau membuat pesta ini tidak menyenangkan."


" Bukankah seharusnya kau memanggilku kakak?"


" Ha? kakak? yang benar saja. Kau jangan pernah bermimpi."


" Kalau begitu kau bangunlah karena ini bukan mimpi."


" Kau!" Soraya semakin geram. " Berani sekali kau! Kau pikir aku takut karena Kak Gafi selalu membelamu. Sekalipun aku di hukum karena berbuat sesuatu padamu, aku tetap tidak akan mengakuimu."


Aku menghela napas. " Sudahlah, hentikan. Di suasana seperti ini apakah etis kau membuat keributan."


" Seharusnya aku yang berkata seperti itu!"


" Ssst ...." Aku menempelkan jari telunjuk di bibirku memberi tanda agar ia menurunkan suaranya karena beberapa orang diam-diam memperhatikan kami. Seketika itu Soraya terdiam. Raut wajahnya masam karena kesal.


Perdebatan kami pun harus terhenti karena sayup-sayup suara yang saling bersahutan . Entah mengapa tiba-tiba suasana menjadi riuh. Semua orang tampak penasaran dengan keriuhan yang terjadi.


" Kak Sherin." Soraya spontan menyebut nama itu. Aku yang ada di sebelahnya tak kalah kaget. Aku memperhatikan wanita yang bernama Sherin itu. Wajah itu, walaupun di tutupi riasan, tapi aku mengenalnya. Dia adalah wanita yang kutemui tempo lalu di kampus Aydin.


Ia menghampiri Hanum dan Reza. Mereka sangat akrab dan aku langsung menyadari ada yang salah. Hanum menutupinya dariku. Sherin yang notabenenya adalah mantan istri Gafi telah kembali dan mereka menutupinya.


" Mengapa...." Suaraku terasa berat. Ada sesuatu yang berat dan mengganjal di dada.


" Yuna." Aku menoleh begitu mendengar suara Gafi. Aku menatapnya. Gafi meraih tanganku dan menggenggamnya seolah ia tahu bagaimana perasaanku. " Kita pulang?"


Aku menggelengkan kepalaku. Bukan aku tak ingin pulang, tapi aku ingin tahu kenapa wanita itu ada di tempat ini juga.


" Gafi..." Kami sama-sama menoleh begitu mendengar seseorang memanggil namanya. Ia datang menghampiriku dan Gafi. " Sudah lama tidak bertemu," sapanya menyunggingkan senyuman, tapi Gafi tak menghiraukan sapaannya itu.


" Yuna..." Gafi menarik tanganku hendak pergi.


" Hai, kita bertemu lagi," ujarnya padaku. Senyumannya itu sungguh membuatku tak senang.

__ADS_1


" Kau mengenalku?" Ia hanya tersenyum sebagai jawaban dari pertanyaanku. Aku menoleh ke arah Hanum dan Reza. Hanum mengalihkan pandangannya dariku, ia menundukkan kepalanya. Ini sebuah pesta yang sangat mengejutkan. Aku menatap wanita yang ada di hadapanku ini. Wanita yang bernama Sherin ini. Apakah pertemuan ini kebetulan ataukah sebuah kesengajaan.


__ADS_2