Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Fitting Pakaian


__ADS_3

Aku dan Gafi meninggalkan lembaga pemasyarakatan setelah jam menjenguk kami usai. Kedua mataku masih terlihat memerah karena air mata yang tadi terus mengalir.


Di dalam mobil, kami hanya diam tak mengucapkan sepatah kata pun.


Aku menatap diriku dari balik jendela dengan tatapan yang kosong.


Aku tersentak ketika mobil ini mendadak berhenti. Sontak aku menoleh ke arah Gafi dan menatapnya penuh keheranan.


“ Apa yang kau lakukan?” tanyaku mengeluh.


“ Akhirnya kau bicara juga,” ujarnya menatapku.


Ah ya, sejak tadi aku hanya diam. Ia pasti tidak suka denganku yang hanya diam saja.


“ Maaf.” ucapku padanya. Ia mendengus kesal. Aku langsung menyadari kekesalannya itu. “ Aku terbawa suasana karena bertemu dengan ayah tadi, jadi aku tidak banyak bicara denganmu saat ini dan…aku juga tidak menyadari kalau kau merasa kesal padaku. Aku benar-benar minta maaf.”


“ Tchh…” Gafi menyeringai.


“ Ada apa dengan reaksimu itu, aku tidak menyukainya.”


“ Kau ini wanita yang aneh,” ujarnya. “ Bagus juga kalau kau menyadari kesalahanmu.”


“ Apa kau pikir ini kesalahanku?” Gafi menganggukkan kepalanya. “ Kau!”


Aku agak kesal dengan responsnya itu yang seakan mengejek diriku. “ Lagi pula kau juga diam saja, kenapa hanya aku yang di salahkan.”


“ Baguslah kalau kau sudah marah-marah, itu tandanya kau baik-baik saja,” ujarnya lalu melajukan mobil ini kembali.


Aku hanya bisa tertegun dengan perkataannya itu. Sungguh tak bisa di percaya, benar-benar berbanding terbalik dengan ucapannya pada Ayahku barusan.


...****...


Alia Bridal


Sebuah gedung mewah tempat pemberhentian kami. Belum lagi aku mengajukan pertanyaan, Gafi langsung menjelaskan mengapa ia membawaku ke tempat ini.


“ Tante Liz, sudah menunggu kita di sana," ujarnya sambil membuka safety belt miliknya.


“ Oh.”


Aku pun langsung mengerti dengan ucapannya itu.


Begitu memasuki gedung ini, kami di sambut dengan hangat, begitu juga dengan tante Liz yang memberikan pelukan hangat untukku.


“ Kalian akhirnya sampai juga, Tante sudah menunggu lama di sini,” ujarnya menyambut kedatangan kami.


“ Maaf Tante, sudah membuat Tante menunggu dengan cemas,” ujarku memeluknya.


“ Sudah tidak apa-apa sayang.” Ia pun tersenyum. “ Kau pasti kaget tiba-tiba di bawa Gafi ke sini, kan?”


Aku menganggukkan kepalaku.


“ Ini karena pernikahan kalian yang tinggal menghitung hari, jadi kita harus mempersiapkannya secepat mungkin. Tante juga sudah menyiapkan pakaian yang akan kalian pakai nantinya, makanya Tante menyuruh Gafi membawamu ke sini.”


“ Ah…kami jadi merepotkan Tante.”


“ Tante tidak merasa direpotkan, malah Tante senang sekali. Sudah lama Tante ingin melakukannya, jadi kau tak perlu cemas.”


“ Iya Tante .”


“ Hmm…kau ini manis sekali,” ucapnya memegang kedua tanganku.

__ADS_1


“ Nyonya.” Seorang pegawai datang menghampiri kami. “ Persiapan sudah selesai, mohon untuk masuk ke dalam untuk mencoba beberapa gaun.”


“ Oh, baiklah,” ujar tante Liz. “ Ayo Yuna sayang, kita masuk.”


“ Iya Tante.”


Aku pun berjalan mengikuti Tante Liz dan pegawai itu memasuki sebuah ruangan. Sesaat aku berbalik memandang pria itu yang sedang duduk di sebuah sofa dengan ponsel di tangannya. Ia tampak sibuk dengan ponselnya itu, mungkin saja pekerjaannya begitu banyak, tapi terpaksa harus melakukan hal ini bersamaku.


“ Yuna, ada apa?” tanya tante Liz karena melihatku termenung.


“ Ah...tidak apa-apa Tante,” jawabku berjalan menghampirinya. Tante Liz hanya tersenyum melihatku.


Di dalam ruangan itu sudah ada tiga gaun pilihan tante Liz untuk aku kenakan. Gaun putih yang begitu anggun yang pernah aku lihat, tidak heran karena tempat ini merupakan tempat kaum kelas atas seperti mereka.


“ Nona, ini gaun yang akan Nona kenakan,” ujarnya memperlihatkan sebuah gaun padaku.


“ Terima kasih.”


“ Kami akan membantu Nona mengenakannya.”


“ I-ya,” ujarku agak sungkan.


Aku memasuki sebuah ruangan yang tidak terlalu besar untuk tempatku mencoba gaun ini. Dua orang pegawai membantuku memakainya. Aku merasa seperti seorang ratu sesaat. Tak pernah aku merasa diperlakukan seperti ini sebelumnya.


“ Nona,” ujarnya memanggilku. Ia mengarahkan sebuah cermin besar untukku. Sungguh aku merasa kagum dengan gaun yang melekat di tubuhku ini.


Cantik, gumamku


“ Nona, kami akan membuka tirai ini,” ujarnya lagi.


Aku menganggukkan kepalaku lalu berbalik saat tirai itu perlahan di buka.


“ Yuna, kau sangat cantik,” puji tante Liz.


“ Terima kasih Tante.”


Tante Liz tak hentinya tersenyum melihatku. Saat ia menoleh ke arah keponakannya , tante menyenggol bahunya lalu memberi isyarat agar mengatakan sesuatu.


“ Ah…gaunmu sangat cantik,” ucapnya tanpa ekspresi.


“ Oh…ya, terima kasih,” balasku.


Tante Liz terlihat tak senang dengan percakapan kami yang sangat kaku itu. Ia pun mencairkan suasana dengan menyuruhku untuk mencoba gaun yang lainnya, namun dengan cepat aku menolaknya. Aku pun beralasan lebih menyukai gaun yang aku kenakan ini dibanding gaun yang lain padahal aku hanya tak ingin mencobanya saja karena aku tahu apa pun yang aku kenakan tak akan mengubah sikap Gafi.


“ Tapi…Yuna sayang-.”


“ Maaf Tante, tapi ini sudah cukup.”


“ Umm… ya sudah kalau begitu. Tante tidak akan memaksamu, lagi pula gaun ini juga sangat bagus untukku.”


“ Terima kasih Tante, sudah mengizinkan Yuna memakai gaun ini.”


“ Iya sayang.”


“ Kalau begitu Yuna ganti pakaian dulu, ya”


“ Iya sayang, Tante dan Gafi akan tunggu Yuna berganti pakaian.”


“ Iya Tante.”


...****...

__ADS_1


Aku menghela napas panjang memandangi gaun putih ini. Gaun yang sudah lama ingin aku kenakan di hari spesialku, walaupun dengan seseorang yang sama sekali belum aku kenal dengan baik.


“ Sebaiknya jangan terlalu banyak berharap Yuna…kau sudah tahu itu tak baik untukmu.”


“ Kenapa kau malah berbicara sendiri.”


Suara itu mengagetkanku.


Aku langsung berbalik. Terlihat Gafi sudah ada di hadapanku.


“ Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku heran.


“ Memangnya kenapa?” tanyanya balik.


“ Seharusnya kau menjawab pertanyaanku bukan malah balik membuat pertanyaan,” protesku padanya. Suasana terasa kikuk karena hanya ada aku dan dia di tempat ini. Entah apa maksud dan tujuannya ada di dalam sini.


“ Apa yang kau takutkan?”


“ Ha???” Aku agak kaget dengan pertanyaanya itu. Apa ia tahu kalau aku merasa sedikit tak nyaman bersamanya di sini. “ Aku tidak takut apa pun.”


“ Oh, benarkah?”


“ Ha…sudahlah, sebaiknya kau pergi, aku akan mengganti gaunku.”


“ Bagaimana kalau aku tidak mau pergi.”


“ Apa kau sudah gila! cepatlah pergi,” ujarku kesal. “ Atau…kau ingin melihatku berganti pakaian?”


“ Ide yang bagus.”


Aku mendengus kesal karena tak percaya dengan ucapannya barusan. Bisa-bisanya ia berkata seperti itu hanya untuk menggodaku.


“ Oke, baiklah, kau bisa melihatku berganti pakaian,” tantangku.


Aku membalikkan tubuhku membalakanginya. Sebenarnya aku malu melakukan ini dihadapannya, tapi karena aku sudah terlanjur berkata seperti itu, mau tak mau aku pun harus melakukannya.


Aku mencoba meraih resleting di punggungku, walaupun sebenarnya sangat sulit untuk mengganti pakaian ini seorang diri, namun tidak mungkin bagiku untuk meminta bantuannya.


“ Apa kau perlu bantuan?”


Suara itu terdengar jelas di telingaku. Aku bisa merasakan harum parfum yang ia kenakan.


“ Yuna...”


Suaranya memanggil namaku membuatku tergetar. Entah perasaan macam apa ini, tapi yang jelas aku tak boleh terlarut dalam suasana ini. Aku harus segera tersadar.


Terdengar suara terkikik. Aku langsung menoleh. Terlihat Gafi tertawa kecil melihatku.


“ Kenapa kau tertawa?” tanyaku.


“ Karena kau,” jawabnya singkat.


“ Aku?”


Gafi mengangguk. “ Kau ini sangat lucu, Yuna. Ternyata menggodamu itu sangat menyenangkan, apalagi melihat reaksimu yang kalut, sangat menggemaskan,” ucapnya menyilangkan kedua tangannya.


“ Apa?”


“ Umm…cepatlah berganti pakaian, aku akan menunggumu di luar,” ujarnya lalu meninggalkanku yang masih kebingungan dengan perkataannya itu.


“ Dasar kau menyebalkan!” umpatku.

__ADS_1


__ADS_2