
" Diana, tolong dengarkan penjelasan Tante."
" Apalagi yang harus di jelaskan? Tante tidak lihat bagaimana Gafi memperlakukan Yuna. Terlihat sekali kalau Gafi sangat melindunginya."
" Apa kau mau menyerah begitu saja dan memberikan Gafi pada Yuna? Tante yakin kalau itu hanya pura-pura saja."
" Aku tidak akan menyerah, tapi bukan dipermalukan seperti ini. Gafi terang-terangan mencium Yuna di depan umum. Dan satu lagi, Tante bilang kalau Gafi akan datang sendiri, tapi mengapa Yuna tiba-tiba datang ke sini juga."
" Waktu Tante menyampaikan acara ini pada Gafi, Gafi tidak mengatakan akan pergi bersama Yuna. Tante tidak tahu akan jadi seperti ini."
" Seharusnya Tante memastikan semuanya, tidak seperti ini. Sekarang orang sudah tahu kalau Gafi memiliki istri."
" Diana, tenanglah, Tante tidak akan tinggal diam."
" Jangan lakukan apapun lagi Tante. Biarlah rencanaku kali ini berantakan, tapi tidak lain kali."
Obrolan yang serius itu tanpa mereka sadari sudah aku dan Gafi ketahui. Diam-diam aku dan Gafi mengikuti kemana mereka pergi.
Sedikit terkejut, satu hal yang tak bisa kututupi. Memang sedari awal aku sudah tahu mereka tak menyukaiku, namun hal yang seperti ini tak pernah terlintas dipikiranku. Apakah Aku yang terlalu meremehkan atau aku yang tidak peka sedikitpun.
" Kau sudah mengerti, kan?"
Aku mengangguk.
" Inilah yang aku maksud, kau harus lebih peka."
" Maafkan aku."
" Kenapa kau minta maaf?"
" Tadinya kupikir kau tidak memperdulikanku saat menyanggupi permintaan mama. Kau juga tidak mengatakan apa-apa, mengabariku saja kau enggan. Aku juga takut tinggal sendiri di rumah, aku kesepian. Aku juga berpikir kalau kau memang akan meninggalkanku."
" Tapi, saat Putra datang menjemputku, aku sangat senang sekaligus khawatir. Apalagi aku harus datang ke tempat ini seorang diri, aku seperti orang asing di tengah kerumunan. Kau membuatku takut."
" Ha..." Gafi menghela napas panjang. " Sebenarnya bukan salahmu sepenuhnya. Aku juga bertindak sesuka hatiku. Kau pasti banyak mengumpat, kan?"
" Kau ini!"
Aku jadi kesal sendiri.
Gafi malah tersenyum puas sudah menggodaku.
" Oh iya." Aku teringat sesuatu dan mengambil kartu yang Putra berikan padaku tadi. " Aku kembalikan kartunya."
" Simpanlah, itu untukmu."
" Mengapa aku harus menyimpannya?"
" Kau ini suka sekali berdebat denganku. Itu memang kuberikan untukmu."
" Kalau aku menghabiskannya bagaimana?"
" Baguslah."
__ADS_1
" Ha?? Kau ini memang aneh."
" Kenapa aku yang aneh. Justru malah aneh kalau aku tidak mengurusmu dengan baik."
" Terdengar sangat tulus."
Gafi menyeringai.
" Sepertinya kalau satu hari saja tidak berdebat denganmu terasa ada yang kurang."
Aku tersenyum. " Terima kasih."
" Apa?"
" Aku akan menyimpan ini, setidaknya kita tidak perlu berdebat lagi."
" Tch... dasar kau ini."
...****...
Pesta masih tetap berlangsung seperti rencana walaupun sempat terjadi insiden yang tidak mengenakkan. Semua larut dalam meriahnya acara ini, setidaknya mereka tidak terlalu terpengaruh dengan insiden itu.
Aku duduk seorang diri di pojokan, sedangkan Gafi tengah berbincang dengan papa mertua. Terlihat mereka sangat serius di sana.
Tante Liz sendiri sudah pulang lebih awal karena ada urusan mendadak, jadilah aku terperangkap di tempat ini. Tak ada satu pun orang yang aku kenal, alhasil aku hanya mengamati orang-orang di sekitarku.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Aku ingin sekali bergegas pulang karena besoknya aku harus kembali bekerja seperti biasanya, tapi aku tidak mungkin mengganggu Gafi dan mertuaku.
Aku hanya mengangguk begitu tahu siapa yang mendatangiku ini.
" Minumlah."
Diana menyodorkan segelas minuman padaku. Aku memandangnya sesaat, segala kecurigaan mulai menghinggapi. Aku sudah belajar dari peristiwa terakhir kali dimana Ben memberikanku segelas minuman.
" Kenapa tidak di ambil? Apa kau takut aku memberikan racun ke dalam minuman ini?"
" Ya."
Diana menyeringai.
" Aku tidak akan melakukan hal yang merugikan diriku sendiri. Jika aku mau kau menghilang, lebih baik aku membayar seseorang ketimbang mengotori tanganku sendiri."
" Aku rasa kau sudah tidak waras."
" Mungkin saja," ocehnya. " Entah apa yang Gafi lihat hingga ia harus menikahimu. Aku tidak mengerti dengan seleranya. Setelah bercerai dengan Sherin, aku yang selalu bersamanya, tapi mengapa malah kau yang menikah dengannya. Kau wanita jalang yang merebut milik orang lain."
Aku mendengus kesal. Wanita yang ada di hadapanku ini benar-benar bermulut bisa.
" Apa sudah selesai pidatonya?"
Aku bangkit dari tempat dudukku.
" Apa kau tidak lelah dengan semua ucapanmu itu? Seolah-olah kau adalah korban, padahal kau bukanlah pemeran utama dalam kehidupan Gafi. Apapun yang kau lakukan tidak akan membuat Gafi bersamamu."
__ADS_1
" Kau memang penuh percaya diri, sebagai seorang pelayan, kau memang cukup berani. Ingatlah Yuna, aku bisa melakukan apapun."
" Aku tahu kau bisa melakukan apapun, tapi tidak selamanya apa yang kau inginkan akan menjadi kenyataan. Kau sudah lihat' kan tadi bagaimana Gafi menciumku di depanmu dan orang banyak. Itu menandakan kalau dia ingin orang tahu kalau aku adalah istrinya."
" Kau!"
Diana akhirnya terpancing dengan ucapan yang cukup provokatif dariku. Ia terlihat sangat kesal, tapi karena ini adalah acaranya, ia hanya bisa menahan rasa amarahnya itu.
" Kau tahu' kan bagaimana suami dan istri. Sentuhan demi sentuhan yang tak akan pernah kau bayangkan. Aku sudah merasakannya."
Diana semakin meradang. Namun, ia tak bisa melampiaskannya. Ia pun memutuskan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Aku tertawa kecil karena sudah berhasil membohonginya. Ia terlalu gampang untuk di bohongi dengan kata-kata seperti itu.
" Sentuhan apa? aku hanya membual soal itu. Sejak menikah hingga sekarang, kami tidak melakukan hubungan seperti itu. Dia malah percaya saja."
" Kau semakin pintar saja," bisik Gafi yang membuatku terperanjat.
" Sejak kapan kau di sini."
" Sejak tadi, aku bahkan ingat setiap ucapanmu pada Diana."
" Ha?"
Aku langsung memalingkan wajahku karena malu. Bisa-bisanya Gafi mendengar setiap ucapanku pada Diana tadi. Mau di taruh di mana wajahku ini.
" Sentuhan...kau memang pandai memilih kata. Tapi, bukankah itu terlalu vulgar untuk di ucapkan?"
" Ah...itu, bukankah kata-kata itu biasa saja untuk suami istri. Lagi pula aku hanya ingin dia berhenti menganggu, hanya itu saja."
" Benarkah?"
Aku mengangguk.
" Apa aku harus memberikanmu sentuhan seperti yang kau katakan tadi?"
" Apa? Aku rasa kau sedang mabuk."
" Ya."
" Oh Tuhan, cepatlah sadar jangan membuatku takut."
Gafi tertawa puas.
" Kenapa kau harus takut. Aku bahkan belum melakukan apa-apa. Aku juga tidak akan memaksamu kalau kau belum siap."
" Kenapa arah pembicaraan kita jadi aneh begini."
" Suatu saat nanti aku pasti akan mendapatkannya."
" Sudah hentikan! Aku tidak ingin mendengarnya lagi!"
Aku merasa geli sendiri dengan perkataan Gafi padaku. Gafi terlihat sangat senang karena reaksiku itu. Gafi akan tertawa dengan puas kalau sudah berhasil dengan kejahilannya itu. Baginya membuatku kesal adalah kesenangan tersendiri untuknya.
__ADS_1