Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Akibat Salah Bicara


__ADS_3

Aku terkulai lemas di atas tempat tidurku. Perjalananku hari ini benar-benar melelahkan fisik dan pikiran. Di tambah dengan permasalahanku dan Gafi yang seharusnya mencapai titik temu malah menambah masalah berikutnya. Ia malah menyetujui permintaan spontanku waktu itu. Padahal aku hanya asal bicara saja. Ya walaupun tak dipungkiri kalau aku memang membutuhkan uang saat ini.


" Hubungi aku jika kau berubah pikiran," ucapnya saat itu.


Ia menyimpan nomornya dan nomorku setelah mengambil ponselku yang tergeletak di atas meja.


Aku semakin tak karuan memikirkan kejadian itu. Terlebih aku malah menamparnya di depan umum karena rasa kesalku yang membuncah.


Aku sadar sudah keterlaluan karena menamparnya. Tidak seharusnya aku melakukan itu padanya walaupun ia salah, ah tidak, aku pun mempunyai kesalahan yang sama. Tapi, karena dia membuatku kesal duluan, aku rasa itu setimpal untuknya.


" Ah, sudahlah, jangan memikirkan itu lagi."


Aku menutup mataku menggunakan selimut putihku.


...****...


Sementara di EJ Group.


Gafi tampak kesal dengan Aril yang tertawa terbahak-bahak karena mendengar cerita lengkap dari sang aktor utama. Ia juga tak menyangka kalau Yuna bisa menamparnya di depan umum. Wanita itu benar-benar membuat Gafi kesal.


" Sudah diamlah!" hardik Gafi. Ia hampir saja melempar ponselnya ke arah Aril yang tak mau berhenti tertawa.


" Kau kena batunya, Fi," celetuknya.


" Aku benar-benar kesal padanya, aku sangat membencinya!"


" Itu kata-kata terlarang yang tak boleh kau ucapkan pada seorang wanita. Nanti malah kau yang tak bisa melepaskannya."


" Ha! dasar pujangga karbitan."


" Sekarang kau masih bisa bilang begitu, suatu hari nanti kau akan tahu maksud dari ucapanku ini."


" Aku tak peduli."


" Terserah," ucap Aril. " Padahal aku menyukai wanita yang menamparmu itu. Dia sangat berbeda." Aril memperagakan bagaimana Yuna menampar Gafi.


Gafi menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu yang malah mengejeknya.


" Tapi, apa kau serius menikahi Yuna?"


" Ya."


" Kau menikahinya atas dasar apa? kau belum mengenalnya, kan? lagi pula barusan kau bilang tidak menyukainya."


" Apa menikah harus mempunyai alasan?"

__ADS_1


" Tentu saja, menikah itu hal yang sangat sakral, kau jangan main-main."


Gafi menyeringai.


" Kau salah orang kalau mengatakan hal itu padaku." Gafi menyilangkan kedua tangannya.


Aril pun tersadar dengan kekeliruannya. Ia sudah mengatakan hal yang tak seharusnya ia ucapkan pada Gafi. Sesuatu yang sangat terlarang untuk di ungkit kembali.


Sebelumnya Gafi pernah menikah sekitar 4 tahun yang lalu, ia menikah dengan wanita yang sudah ia kenal sejak kecil. Wanita yang juga di kenal oleh keluarganya. Pernikahan yang juga mendapat restu dari kedua keluarga.


Sherin, nama wanita itu. Mereka saling menyukai sejak dulu. Dimana ada Gafi di situ pasti ada Sherin. Semua orang sudah mengetahui hubungan mereka sejak dulu hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.


Pernikahan yang sangat meriah dan mewah berlangsung di sebuah hotel ternama. Semua orang tampak sangat bahagia dan larut dalam kemeriahan pesta pernikahan itu. Kedua pasang pengantin itu pun tak henti-hentinya menebarkan senyuman.


Namun di balik senyuman itu akan ada peristiwa besar yang merenggut semua kebahagiaannya.


Selang dua hari pernikahan, Sherin menghilang begitu saja. Gafi dan seluruh keluarga berusaha mencari keberadaan wanita itu, tapi tak menemukannya dimana pun. Segala usaha sudah di kerahkan, namun hasilnya masih nihil.


Kepergian Sherin yang tak memberikan isyarat, membuat Gafi frustrasi. Istri yang amat di cintanya itu pergi meninggalkannya begitu saja.


Hingga suatu hari, Sherin muncul dengan sebuah surat cerai. Kepulangan sang istri tercinta ternyata hanya ingin membuatnya lebih menderita.


Berulang kali Gafi menolak untuk bercerai karena ia memang tak menginginkan sebuah perpisahan. Ia amat menyayangi istrinya itu, namun Sherin tak bergeming dengan keputusannya yang sudah bulat itu.


Gafi tak mengerti mengapa Sherin berubah sedrastis itu. Ia seperti orang yang berbeda bukan wanita yang ia kenal sejak dulu.


Begitulah ucapannya.


" Aku menikah denganmu karena ingin menyakitimu."


Sebuah pernyataan yang sangat membuat Gafi shock .Tak ada yang tahu, apakah Sherin berbohong atau memang itulah kata hatinya yang sebenarnya.


Keteguhan hati dan keras kepala seorang Sherin, akhirnya membuat Gafi harus menyetujui perceraian mereka, walaupun Gafi sebenarnya tak ingin. Asal Sherin bahagia, apa pun ia lakukan meski harus berpisah, begitulah pikirnya.


Tak butuh waktu lama, ketuk palu akhirnya benar-benar memisahkan mereka. Tak ada sepatah kata pun keluar dari bibir sang mantan bahkan sebuah alasan pun tak pernah ia sampaikan langsung padanya. Ia menghilang bak di telan bumi. Gafi merasakan sakit yang luar biasa sejak kepergiannya.


Gafi berusaha menata hidupnya kembali, namun ia pun menutup rapat hatinya. Sudah berapa banyak wanita yang datang menghampirinya, namun ia tak tertarik sedikit pun. Yang ia lakukan hanya bekerja dan bekerja untuk menutupi kesepian yang ia rasakan.


" Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Aril meminta maaf.


" Tidak masalah."


" Tapi, kalau sampai Om Bagas mengetahuinya, ia pasti akan marah besar karena wanita yang kaunikahi bukanlah pilihannya."


" Aku tak peduli dengan keinginan Papa," balasnya. "Ini hidupku."

__ADS_1


" Ya, kau benar anak muda. Tapi ini juga menyangkut Yuna, bagaimana dengan dia."


" Kau tenang saja, aku serius menikahinya walaupun dengan cara yang berbeda, aku akan tetap melindunginya dari serangan keluargaku."


" Kalau Yuna tidak mau, apa yang akan kau lakukan?"


" Aku yakin Yuna pasti akan menyetujuinya. Kalau pun tidak, apa pun akan kulakukan agar dia berubah pikiran. Aku hanya perlu kata persetujuan darinya, selebihnya aku tidak peduli."


" Kalau itu sudah jadi keputusanmu, aku bisa apa. Aku hanya bisa jadi penonton kan."


" Hm, jadilah penonton yang baik."


" Ya-ya, apa pun yang terbaik untukmu. Aku tahu apa yang sudah kau lalui selama ini."


...****...


Gafi tiba-tiba menyunggingkan senyuman sesaat ponselnya berbunyi. Sesuatu yang sangat jarang didapat darinya.


" Ada apa denganmu? kenapa tersenyum seperti itu."


Gafi menunjukkan ponselnya kepada sang sahabat. Sebuah pesan dari Yuna yang berisi ingin bertemu dengannya esok hari.


" Aku sudah bilang, 'kan, dia akan menghubungiku."


Aril mengangguk-anggukkan kepalanya.


" Terlepas apa pun itu, aku harap kau tidak mempermainkannya, Fi. Apalagi kau gunakan Yuna sebagai tamengmu terhadap keluargamu."


" Aku akan ingat itu, lagi pula dia itu bukan wanita yang bisa ditindas begitu saja."


" Ya, kalau itu aku percaya." Secara tak langsung Aril mengingatkan tamparan manis itu lagi.


" Kau!"


Aril pun tertawa.


" Bukankah itu benar, kenapa kau marah."


" Terserah kau sajalah."


" Tapi ingat kata-kataku ini, jangan bermain-main dengan perasaan kalau tidak mau terjebak di dalamnya. Kalau sudah terjebak bakalan susah untuk kembali."


" Terserah sajalah."


Gafi menyerah dengan kalimat puitis seorang Aril yang selalu di dengarnya sejak dulu. Walaupun ia tahu setiap ucapannya itu memang selalu benar adanya.

__ADS_1


Tapi, Gafi memilih untuk mengabaikannya.


__ADS_2