Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Rasa Bersalah Ini


__ADS_3

Gafi membawaku pulang dengan kondisiku yang sudah basah kuyup. Dan sebenarnya Gafi pun kondisinya sama denganku. Mobil yang membawa kami pulang ini pun kondisinya sudah tak karuan.


Pakaianku yang basah itu, ia ganti dengan pakaian baru. Sebenarnya aku sudah mengatakan bisa melakukannya sendiri, namun Gafi tidak mengindahkan permintaanku itu dan tetap membantuku. Ia khawatir karena kondisiku yang terlihat lemah.


" Istirahatlah, aku akan membuatkan makanan untukmu," ucap Gafi mengelus lembut rambutku. Dan aku menganggukkan kepalaku perlahan.


Gafi meninggalkanku di kamar sendirian. Ruangan ini terasa sangat dingin, mungkin karena hujan yang masih mengguyur di luar sana.


Aku merasakan tubuhku sangat berat. Kubaringkan tubuh ini di atas tempat tidur. Dan mataku terpejam setelahnya.


...****...


Perlahan-lahan aku membuka mataku, terlihat samar-samar dari kejauhan ada sosok pria yang sedang berdiri memandangku. Segera ia mendekatiku yang sudah terbangun.


" Aril," ucapku begitu menyadari sosok pria itu.


" Kau sudah sadar, Yuna," ujar Aril. Ia terlihat sangat khawatir padaku.


" Sadar?" Aku mengulang ucapannya itu. " Bukankah aku hanya tertidur."


" Kau tak sadarkan diri. Suhu tubuhmu juga sangat tinggi. Tapi syukurlah kau sudah membaik."


" Jadi ini bukan pagi?"


" Ini sudah sore."


" Sore??"


Aril mengangguk sebagai jawaban kebingunganku ini.


" Kau membuat kami khawatir, Yuna. Terlebih Gafi, dia sangat ketakutan karena kau tidak merespons."


" Sekarang Gafi ada di mana?"


" Dia sedang istirahat. Kalau aku tidak membuat alasan atas namamu, dia pasti tidak akan peduli dengan kesehatannya. Sepanjang malam hingga siang tadi, dia tidak mau melepaskan pandangannya darimu. Gafi takut kau kenapa-kenapa walaupun dokter sudah menanggani mu."


" Aku ingin menemui Gafi," ujarku. Aku hendak bangkit dari tempat tidur, tapi Aril langsung mencegah.


" Kau juga harus istirahat. Gafi sudah di tangani oleh dokter. Kau tidak perlu khawatir."


" Tapi...."


" Seperti yang sudah aku katakan, Gafi hanya perlu istirahat, dia pasti baik-baik saja. Kau juga harus istirahat."

__ADS_1


Aku mengangguk. " Baiklah."


Aku terdiam sesaat. Rasanya menyesakkan mendengar kondisinya seperti itu.


" Yuna...saat Gafi tahu kau demam tinggi dan terus mengigau, dia langsung menghubungiku. Aku membawa dokter yang kebetulan juga adalah temanku ke sini. Tangannya terus menggenggam tanganmu. Matanya selalu memandangmu. Walaupun kau sudah di tangani oleh dokter, namun Gafi tak meninggalkanmu sedikitpun. Dia benar-benar takut kehilanganmu."


Aku tertunduk. Air mataku jatuh. Mengingat kejadian kemarin membuatku sangat marah dengan diriku sendiri. Begitu bodohnya aku sampai tidak mempercayainya. Atas nama pertemanan, aku di butakan.


Aku menangis segugukkan hingga membuat Aril bingung. Ia mencoba menenangkan ku, namun aku tidak bisa menghentikan air mata ini.


" Yuna..."


" Aku sudah bersalah padanya. Kesalahan ini tidak bisa di maafkan."


" Yuna...apapun itu, Gafi pasti memaafkanmu."


Aku menggelengkan kepala. " Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Aku bahkan tidak bisa menjaga diriku."


Aril terdiam dan hanya mendengarkan keluh kesahku. Rasa bersalah yang sangat besar ini entah bagaimana aku harus membayarnya.


...****...


Aku melangkahkan kakiku, membuka pintu kamar, lalu berjalan menuju kamar depan. Kubuka pintu yang tertutup itu, terlihat Gafi masih memejamkan matanya di sana. Kudekati ia, lalu kupandangi wajahnya yang damai itu.


Raut wajahnya menyiratkan kelelahan karena terjaga. Entah bagaimana perasaannya saat itu.


" Terima kasih sudah sabar denganku selama ini. Dengan segala keras kepalaku dan kecerobohanku. Dan Aku juga belum bisa menjadi istri yang baik buatmu."


" Sekali lagi maafkan aku." Aku terisak. Mencoba menahan rasa sesak yang ada di dada.


" Kenapa kau menangis?"


Aku tersentak dengan suaranya itu. Aku sangat senang mendengar suaranya lagi. Tapi malah membuatku tak bisa menahan tangisanku


" Jangan menangis." Gafi menghapus air mataku. " Aku senang kau sudah sadar. Tapi, tolong jangan membuatku ketakutan lagi, bisa, kan?"


Aku mengangguk. " Maafkan aku."


" Yuna..." Gafi menenangkanku. " Jangan meminta maaf lagi, itu malah membuatku merasa bersalah karena tidak bisa menjagamu."


" Kau tidak bersalah, akulah yang bersalah."


" Tidak, jangan berkata seperti itu." Gafi memelukku.

__ADS_1


Maafkan aku, Yuna. Seharusnya aku lebih cepat datang ke sana setelah mendapatkan info dari Putra, dengan begitu kau tidak akan mengalami hal itu. Melihat kau diperlakukan seperti itu, aku sangat marah dengan diriku sendiri karena tidak bisa menjagamu. Apalagi karena kejadian itu kau terus mengigau karena demammu yang sangat tinggi. Aku sangat takut kalau sesuatu terjadi padamu.


" Kau baik-baik saja, kan?" tanyaku khawatir.


" Aku baik, aku hanya kelelahan dan perlu istirahat. Lagi pula dokter sudah mengobati. Kau tidak perlu khawatir."


" Bagaimana bisa aku tidak khawatir padamu. Karena aku, kau jadi seperti ini."


Gafi tersenyum kecil. " Sungguh aku sudah tidak apa-apa. Setelah istirahat, aku merasa jauh lebih baik."


Aku menatapnya. Aku tahu dia hanya menenangkanku agar aku tidak kepikiran. Sakit yang dirasakannya, aku tahu bagaimana sakitnya.


" Yuna...aku benar-benar tidak apa-apa," ujarnya menenangkanku.


" Umm...," ujarku mengangguk.


" Aku tidak mengizinkan kau bekerja lagi."


" Aku mengerti."


" Aku akan membereskan semuanya. Dan kau harus tahu yang melakukan perusakan serta yang membuat surat pengunduran dirimu itu adalah Martin sendiri."


" Ha??" Aku sangat kaget mendengar ucapannya. " Martin yang melakukannya? Kenapa dia melakukan itu padaku? Pantas saja saat aku menemukan surat itu, Martin merampasnya dari tanganku."


" Karena dia menyukaimu dan ingin kau membenciku. Dia tahu kalau kau pasti mengira aku yang melakukannya karena sebelumnya kita sudah bertengkar. Dengan begitu dia ingin kita berpisah."


" Jadi dia sudah merencanakannya. Aku tidak mengira dia akan melakukan itu padaku."


" Apapun bisa dilakukan kalau sudah merasa frustasi."


" Aku juga sudah membuatnya marah karena aku tidak mengikuti ucapannya. Aku bilang apapun yang terjadi, aku akan tetap bertahan bersamamu."


Gafi tersenyum simpul.


" Lupakan yang sudah terjadi, Yuna. Peristiwa buruk itu buang jauh, jangan kau ingat lagi."


" Aku juga tidak ingin mengingatnya, tapi aku merasa jijik dengan diriku sendiri. Aku masih merasakan kejadian itu menghinggapiku. Aku merasa bersalah padamu."


" Aku juga merasakan hal yang sama. Aku juga gagal sebagai pelindungmu. Kalau ayah tahu, dia pasti sangat kecewa padaku dan kalau Aydin tahu, dia pasti akan membunuhku karena tidak menjaga kakaknya. Mari kita membuka lembaran baru sebagai pasangan sesungguhnya."


" Ha?"


" Kita bertemu dan menikah dengan cara yang aneh, tapi walaupun begitu aku tetap serius dengan hubungan ini. Aku hanya berharap dengan mengatakan ini, kau tidak merasa ragu lagi. Apapun yang terjadi kita harus tetap bersama, kau mau, kan?"

__ADS_1


Tanpa ragu aku langsung mengangguk. " Ya, aku mau."


Gafi memelukku kembali. " Terima kasih, Yuna, sudah mau bersamaku."


__ADS_2