Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Satu Hari Yang Menyenangkan


__ADS_3

" Sampai kapan kalian terus di dalam sana, ha!" teriak Aril dari luar sana.


Tanpa di sadari olehnya, Gafi membuka pintu dan ia pun terkaget di buatnya.


" Kenapa kau berisik sekali," hardik Gafi.


" Tch...sepertinya malammu sangat menyenangkan, ya." Aril memandangi Gafi dari atas sampai bawah. Di dalam pikirannya sepertinya sudah terjadi sesuatu di dalam sana.


" Itu bukan urusanmu."


" Seharusnya kau berterima kasih padaku," ujarnya kesal. " Karena kau, aku harus membereskan kekacauan yang kau tinggalkan. Kau bersenang-senang dengan Yuna, sedangkan aku harus menjamu mereka. Kau harus memberikanku bonus."


" Kau mau kalau Yuna tahu kalau kau suka sekali mengganggu temannya?"


" Aih! kau ini!" Aril sangat kesal. " Kau hanya berani mengadu pada Yuna."


" Tentu saja," ucap Gafi datar.


" Kalau kau bukan temanku, sudah kuajak kau berdiskusi di luar sana," celetuk Aril dan Gafi hanya tertawa kecil." Oh ya, hari ini kau tak perlu bekerja. Aku yang akan membereskan semuanya. Ini hari kedua bulan madu kalian, tapi kau malah sibuk dengan pekerjaan. Jadi, kau pergilah bersama Yuna untuk bersenang-senang sebelum kalian pulang nanti malam."


" Kenapa nanti malam?"


" Ha...Yuna harus bekerja, kan? Kau yang mengizinkannya bekerja. Bukankah kau juga harus membawanya ke rumah."


" Terkadang kau terlalu tahu banyak tentang Yuna dan aku tidak suka, kau tahu itu!" ujar Gafi lalu menutup pintu, sedangkan Aril terdiam terpaku karena ucapan sahabatnya itu.


" Dasar gila!"


...****...


" Kita akan kemana?" tanyaku bingung karena Gafi membawaku masuk ke dalam mobil.


" Bukankah kita datang ke sini untuk bulan madu," jawabnya. " Sejak kita di sini, aku hanya bekerja tanpa memperdulikanmu, jadi saat ini waktuku untukmu. Kau tinggal bilang mau kemana dan aku akan membawamu ke sana."


" Benarkah?"


Aku mencoba memastikan.


Gafi mengangguk.


" Bukankah di sini ada sebuah tempat wisata yang terkenal. Aku melihatnya di media sosial, banyak orang yang datang. Aku ingin ke sana."


" Kau mau ke sana?"


Aku mengangguk.


" Baiklah, apapun yang kau inginkan, aku akan menurutinya."


Aku pun tersenyum senang.


Sedetik kemudian, Gafi menghidupkan mesin mobil, lalu melajukan mobil ini. Aku sangat menikmati perjalanan kali ini karena mataku di manjakan dengan pemandangan yang sangat indah. Sebuah perjalanan yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan.


Satu jam berlalu, kami pun sampai di sebuah kawasan wisata. Tempat yang sangat viral dengan pemandangan indahnya. Aku pun begitu takjub dengan tempat itu seperti berada di dunia lain. Pantas saja tempat ini begitu ramai dengan para pengunjung yang datang.


Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan mengambil beberapa poto. Dalam pikiranku, aku akan menunjukkannya kepada Ayah dan Aydin.


Senyuman tak henti-hentinya merekah dari bibirku. Begitu senangnya aku saat ini.


" Sejak tadi kau hanya memotret pemandangan. Berikan ponselmu, aku akan mengambil gambarmu," ujar Gafi mendatangiku.


" Ah..tidak," ujarku menolaknya.


" Kenapa?"


Aku hanya terdiam, lalu Gafi merebut ponsel dari tanganku.

__ADS_1


" Kalau begitu kita foto berdua saja." Gafi mendekatkan bahunya ke bahuku.


Aku tersenyum kecil.


" Smile..."


Aku pun mengikuti instruksi yang diberikan darinya. Beberapa foto berhasil di abadikan. Aku sangat senang dengan hasilnya. Akhirnya aku punya foto bersama dengan suamiku.


" Kenapa? Apa tidak bagus?"


" Bagus. Aku sangat suka."


" Syukurlah," ujarnya lega. " Ayo ke sana, kita istirahat sebentar."


" Oke."


Kami mendatangi sebuah restoran kecil yang tak jauh dari lokasi kami berada. Seorang pelayan datang menghampiri begitu kami memasuki tempat itu dan memberikan beberapa menu. Aku dan Gafi memilih makanan dan minuman di menu itu. Dan pelayan itu pun pergi.


Tempat yang kami duduki ini berada di teras samping dengan pemandangan yang sangat luar biasa. Angin sepoi-sepoi menambah sejuk tempat ini.


" Kau senang."


" Tentu saja," jawabku semringah. " Terima kasih sudah membawaku ke sini."


Gafi hanya menganggukkan kepalanya.


" Oh ya, aku sudah menghubungi Ben. Dan dia sudah mengakui semuanya kalau dia sudah memberikanmu minuman keras itu."


" Dia pasti balas dendam padaku."


" Tapi, setidaknya aku sedikit bersyukur dia melakukan itu padamu."


" Ha!"


" Kau!"


" Bukankah itu sangat langka. Mana mungkin aku bisa melihat tingkahmu yang seperti itu saat kau sadar."


" Terlihat sekali kau sangat senang."


" Tentu saja."


" Ha...kau ini," ujarku kesal.


Gafi malah tertawa puas.


" Sudah, jangan di bahas lagi."


Bukan apa-apa, aku malah teringat lagi dengan semua yang sudah kulakukan, batinku.


" Baiklah-baiklah. Sekarang makanlah, setelah itu kita berkeliling lagi."


Aku mengangguk.


...****...


" Gafi.."


Aku memanggilnya lembut.


" Hmm."


" Boleh aku menanyakan sesuatu?"


" Apa itu?"

__ADS_1


" Jika saja Sherin kembali. Apa yang akan kau lakukan? Apa saat itu pernikahan kita akan berakhir?"


" Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu? Apa karena ucapan Ben padamu?"


" Aku hanya ingin tahu jawabannya agar nanti aku bisa menyiapkan diriku."


" Kenapa seolah-olah kau ingin melepaskanku?"


" Karena aku takut."


" Takut?"


" Takut berharap."


Gafi menghela napas.


" Bukankah sudah kubilang, apapun yang terjadi tidak ada perpisahan. Berharaplah padaku karena itu yang kuinginkan."


Aku tersenyum simpul.


" Kau benar-benar pandai membuat hatiku menjadi bingung."


" Aku tidak mengerti kenapa kau harus bingung. Semuanya akan seperti ini, tidak akan ada yang berubah."


" Apa hatimu tetap sama? Apa tidak bisa berubah?"


Gafi menyeringai.


" Apa sisa-sisa mabuk itu masih mempengaruhimu? Kau jadi aneh, Yuna."


" Mungkin saja," celetukku. " Aku bahkan tidak mengerti dengan diriku sendiri."


Gafi menengadahkan tangannya memberi isyarat agar aku menyambut tangannya. Gafi menggenggam tanganku erat sambil tersenyum padaku.


" Jangan berpikir terlalu jauh lagi. Bukankah aku sudah pernah menjelaskannya padamu. Kenapa kau harus mengulangnya lagi."


" Maaf."


" Sudahlah. Lagi pula Sherin kembali atau tidak, aku tidak memikirkan hal itu. Bukankah aku juga tidak pernah menyinggungnya sejak awal. Dia hanya masa lalu yang coba aku lupakan."


" Sepertinya aku sudah terlalu ikut campur . Maafkan aku."


" Tidak, kau boleh ikut campur, kau harus mengeluarkan segala hal yang ingin kau ketahui. Aku malah takut kalau kau memikirkannya sendiri."


Aku tersenyum.


" Aku mengerti apa maksudmu."


Gafi pun ikut tersenyum.


Setelah berkeliling sana-sani, kami pun memutuskan kembali ke vila untuk mengambil beberapa barang. Sekitar pukul 7 malam, kami pun pulang.


Di sepanjang jalan hujan membasahi jalanan yang kami lewati. Cuaca yang dingin itu membuatku tertidur meninggalkan Gafi yang menyetir sendiri.


Senyuman tersungging di bibirnya begitu melihatku terlelap.


Jalanan yang tak begitu ramai membuat perjalanan kami lebih cepat dari biasanya.


Mobil ini pun berhenti di sebuah rumah bercat dinding hazelnut.


Melihatku yang masih tertidur, Gafi tak berani membangunkanku. Ia pun mengangkatku dan menggendongku sampai ke kamar. Meletakkanku dengan perlahan ke atas tempat tidur, lalu menyelimuti tubuhku dengan selimut berwarna abu itu.


Perlahan ia membelai rambutku, lalu mengecup keningku dengan lembut.


" Selamat tidur, Yuna," ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2