
“ Tuan, sudah pulang.”
Seketika kami menoleh begitu mengetahui kalau Gafi sudah kembali. Gafi berdiri tak jauh dari tempat aku dan Aril sedang duduk. Tatapan matanya lurus menatap kami saat ini.
“ Kau sudah kembali?” Gafi hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari Aril itu. Dan aku pun bangkit dari tempat dudukku lalu menghampirinya.
“ Kau mau sarapan? Bibi sudah memasak nasi goreng."
“ Tidak, nanti saja, aku belum begitu lapar," ujarnya lalu meninggalkanku. Aku hanya mematung mendapati sikap dinginnya itu.
“ Jangan dimasukkan ke hati,” ucap Aril menenangkanku. Dan aku hanya bisa tersenyum menanggapinya.
Tak ada yang tahu apa yang ada dipikiran Gafi saat ini. Suasana hatinya sedang buruk. Dan aku pun tak mengerti harus bagaimana bersikap padanya.
Setelah berganti pakaian, Gafi dan Aril mulai membicarakan pekerjaan mereka. Tampak merasa sangat serius membahas proyek yang sangat penting itu.
“ Sampai saat ini apa yang kita lakukan berjalan dengan lancar. Berharap selanjutnya akan tetap seperti ini. Semua orang sudah mendukung kita sejauh ini, kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.” Aril kemudian memberikan sebuah dokumen kepada Gafi. “ Kau tahu’kan siapa dalang di balik kegagalan kita saat itu.”
“ Aku tahu, tapi saat ini kita tidak perlu membuka masalah ini. Yang harus kita lakukan sekarang ini adalah membuat mereka kalang kabut dengan keberhasilan kita.”
“ Aku setuju, lagi pula ikut bermain di dalam permainan mereka kali ini terasa sangat menyenangkan.”
Gafi menyeringai.
“ Segera percepat kesepakatan ini. Kita tidak tahu permainan apa lagi yang akan mereka lakukan nantinya.”
“ Semua sudah dipersiapkan, kau tenang saja.”
“ Baguslah. Proyek ini tidak boleh gagal lagi”
Aril pun bangkit dari tempat duduknya, lalu mengambil sebuah ponsel di saku kantongnya. Ia sibuk dengan ponselnya di ujung sana. Sambil menelepon, Aril memandangi Gafi yang duduk dengan tatapan kosong. Pikiran dan hatinya entah ada di mana. Walaupun saat ini sedang membicarakan pekerjaan, tapi sebagian pikirannya memikirkan hal lain.
“ Aku sudah menghubungi Fadil dan yang lainnya. Mereka akan menyelesaikan sisa pekerjaan kita.”
“ Ok, baguslah”
“ Apa kau baik-baik saja?” Aril mulai menginterogasi. “ Sejak tadi kau melamun.”
“ Aku baik-baik saja.”
Tentu saja Gafi akan menjawab seperti itu. Tidak mungkin dengan mudahnya ia membuka isi hatinya.
“ Kau mungkin bisa membohongi orang lain, tapi tidak denganku. Aku sudah mengenalmu sejak kecil, jadi aku tahu seperti apa dirimu.”
“ Kau terlalu berlebihan.”
“ Terserah kau mau bilang apa, tapi yang jelas aku tahu pikiranmu sedang memikirkan apa dan siapa.”
“ Menurutmu apa dan siapa.” Gafi balas menantang.
“ Yuna dan sebuah pelukan.” Gafi terdiam karena apa yang dikatakannya memang itulah yang dipikirkannya. “ Kau sedang memikirkan istrimu itu, kan?”
“ Untuk apa aku memikirkannya?”
__ADS_1
“ Gafi, saat Yuna menghilang dari mobil, kau sangat panik. Mencarinya seperti orang gila. Kau takut kalau Yuna benar-benar menghilang saat itu, kan?”
“ Sudah kubilang kau terlalu berlebihan.”
“ Atau jangan-jangan kau masih mengingat Sherin? Apa kau masih belum bisa melupakannya?”
“ Kau cerewet sekali. Tidak bisakah kau diam saja dan tidak perlu menganalisa apapun.”
“ Terserah kalau itu anggapanmu, tapi kau sudah membuat Yuna bingung, Fi.”
Gafi menghela napas.
“ Tidak mudah untuk melupakannya, kau tahu itu, kan? Sekarang ini aku sedang berusaha untuk itu. Soal Yuna yang menghilang, kau memang benar, saat Yuna tidak ada di dalam mobil , aku teringat dengan Sherin yang tiba-tiba menghilang. Aku takut Yuna tidak kembali seperti Sherin. Aku takut semua orang yang ada di sisiku menghilang dan tak pernah kembali.”
“ Saat itu, kau memeluk Yuna atau Sherin?”
Gafi tak meresponds.
“ Yuna cerita semuanya padaku, Fi. Dia bingung dengan sikapmu padanya. Kau memeluknya dengan meninggalkan sebuah kalimat yang ia tak mengerti.”
“ Apa kau juga menceritakan tentang Sherin padanya?”
“ Tentu. Yuna juga berhak tahu. Kau juga tak pernah menceritakan tentangnya, kan.”
“ Karena kupikir itu tidak perlu.”
“ Itu menurutmu, kan. Bagaimana dengan Yuna sendiri? Bagaimana kalau Yuna ingin meletakkan sebuah harapan kebahagiaan padamu.”
“ Seharusnya itu di larang, kan.”
“ Sepertinya pembicaraan kita sudah melenceng jauh. Kita kembali ke topik awal mengenai proyek saja. Aku tidak ingin membahasnya lagi.”
“ Kau takut?”
Sekali lagi Gafi menyeringai. Sepertinya sahabatnya ini sudah membuatnya kehilangan kesabaran.
“ Malam itu aku memeluk seorang Yuna dengan sadar. Merasa kehilangan dan takut. Tidak ada Sherin di pikiranku malam itu, hanya Yuna, kau sudah puas?”
Aril menghela napas panjang.
Dua orang bodoh yang mencoba menutupi perasaan yang mungkin saja mulai tumbuh. Tapi, karena trauma masa lalu malah membuat mereka mengacuhkan semua itu.
“ Gafi.”
“ Kupikir kita sudah selesai membahasnya. Jangan memulai lagi."
“ Ok, baiklah. Aku tidak akan membicarakannya lagi.”
...****...
“ Aku sudah menyiapkan cemilan untuk kalian. Jangan lupa di makan.”
Aku berbicara dengan berpura-pura tak terjadi apa-apa di antara aku dan Gafi. Lalu aku pun pergi ke halaman belakang. Di sana aku duduk di atas rumput hijau yang menghiasi halaman ini. Tempat yang sangat menenangkan menurutku. Walaupun sebenarnya keadaanku tidak seperti itu.
__ADS_1
“ Apa yang sedang kau lakukan di sini.”
Tiba-tiba Gafi datang menghampiri, lalu duduk di sampingku.
“ Apa pekerjaanmu sudah selesai?”
“ Sudah. Aril juga sudah pulang.”
“ Oh begitu.”
Aku terdiam kembali. Kami tampak canggung satu sama lain.
“ Yuna, kau jelek sekali kalau serius seperti ini,” celetuk Gafi tanpa ekspresi.
Aku langsung menantapnya. “ Kau mau mati ya.”
Gafi tersenyum kecil.
“ Aku tidak suka melihatmu tertawa lepas dengan Aril, tapi denganku kau tidak seperti itu. Kenapa kau beda terhadapku”
“ Ha? Kenapa kau suka sekali mengatakan hal yang ambigu seperti ini. Saat malam itu kau juga seperti ini.”
“ Tidak ada yang ambigu. Semua maknanya sama.”
Aku mendengus kesal. Sebuah jawaban yang tidak memuaskanku sama sekali.
“ Kita lupakan saja. Aku tidak ingin berpikir lagi.”
Gafi menganggukkan kepala.
“ Nanti malam teman-temanku akan datang ke sini. Hanya sebuah pesta kecil, mereka ingin mengenalmu.”
“ Ha? kenapa kau baru bilang sekarang.”
“ Kenapa kau jadi panik begitu?”
“ Itu karena aku belum menyiapkan apa-apa.”
“ Tidak perlu repot, aku sudah menyiapkan semuanya. Lagi pula temanku juga tidak banyak, hanya orang-orang dekat yang kukenal.”
“ Begitu?”
“ Iya.”
“ Kau ini selalu mempersiapkan semuanya. Aku jadi merasa tidak berguna.”
Gafi tertawa.
“ Tadi cemilanmu enak.”
“ Benarkah, lain kali aku akan membuatkan cemilan yang lain untukmu.”
“ Kau harus menepati janjimu itu.”
__ADS_1
“ Aku pasti menepatinya.”
Akhirnya kau kembali sebagai Yuna lagi. Maaf sudah membuatmu tidak nyaman. Aku akan menebusnya dengan memberikan kebahagiaan untukmu.