Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Pulang


__ADS_3

Akhirnya waktu pulang pun tiba, aku sudah bersiap-siap untuk keluar setelah memberitahukan terlebih dahulu kepada Gafi. Sesuai rencana dan permintaan, aku memang harus selalu bersamanya agar keluarga tidak mengetahui apa yang kami lakukan hari ini. Kalau di pikir-pikir entah apa yang dilakukannya selama satu hari ini demi menungguku pulang. Tidak mungkin Gafi pergi ke perusahaan karena itu malah membuat orang curiga, akan banyak mata yang akan mengawasinya di sana. Kalau dia tidak di perusahaan, apa dia ke suatu tempat yang jauh dari orang-orang yang dikenalnya? Entahlah...


Terkadang, tidak…bukan hanya terkadang, aku memang tidak tahu tentangnya apalagi dunianya. Kemana, siapa atau apa, aku tidak akan pernah mengerti tentangnya.


Ha...


Aku menghela napas.


Entah mengapa aku jadi kepikiran dan ingin tahu ia ada di mana. Itu adalah hal terbodoh yang pernah aku pikirkan.


“ Yuna!”


Aku langsung tersadar dari lamunanku. Terlihat Martin dari dalam mobilnya. Ia tersenyum dan aku pun membalas senyumannya itu.


“ Kau akan pulang?” tanyaku.


“ Ya,” jawabnya singkat. “ Apa kau pulang sendiri?”


Aku menggelengkan kepalaku. “ Aku sedang menunggu seseorang.”


“ Menunggu seseorang?” Martin mengulang ucapanku. “ Oh…apa kau sedang menunggu suamimu?”


“ Ya…begitulah.”


“ Tapi, ini sudah hampir larut malam, kenapa suamimu belum juga datang?”


“ Sebentar lagi dia akan sampai.” Aku tersenyum kecil. Malam semakin dingin dan aku kedinginan karena hembusan angin yang sepertinya akan turun hujan ini.


Tiba-tiba Martin turun dari mobilnya dan memberikan sebuah jaket untukku. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa dengan pemberiannya itu.


“ Pakailah Yuna, kau pasti kedinginan, kan?”


“ Aku tidak apa-apa.” Aku menolak jaket pemberiannya itu, tapi Martin malah memakaikan jaket itu kepadaku.


“ Kenapa kau keras kepala sekali, ha!” hardiknya. “ Biarpun kau menolaknya, tapi aku tidak akan membiarkanmu kedinginan. Kau tahu aku seperti apa, kan.”


Aku tersenyum kecil kepadanya.


Ya…begitulah Martin, selalu peduli kepadaku. Bagaimanapun aku keras kepadanya, tapi dia tidak akan menyerah.


“ Terima kasih,” ucapku pada akhirnya.


Suara klakson yang terus berderu memecahkan pembicaraan kami itu. Sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempatku berdiri ini. Aku langsung tahu siapa pemilik mobil itu.


“ Apa itu suamimu?”


Aku mengangguk. “ Terima kasih sudah meminjamkan jaketmu,” ujarku memberikan jaket itu kembali. “ Aku harus pulang, sampai jumpa lagi.”


“ Yuna.” Martin menarik tanganku. Aku begitu kaget dengan tindakannya itu apalagi Gafi ada di depan sana. “ Ah…maaf,” ucapnya. “ Hati-hati di jalan.”


“ Umm,” anggukku. “ Kau juga,” ujarku lalu meninggalkannya.


Entah situasi macam apa yang terjadi malam ini. Sikap Martin yang tidak seperti biasanya malah membuatku kepikiran. Apa sesuatu terjadi padanya hingga ia tidak bisa menyampaikannya padaku. Semoga ia akan baik-baik saja.


“ Maaf membuatmu menunggu,” ucapku memasuki mobil. Tapi, tatapan mata Gafi hanya tertuju pada Martin yang masih mematung di sana. “ Gafi…” panggilku.

__ADS_1


“ Oh…kau sudah masuk,” ujarnya.


Aneh.


Mana mungkin ia tidak sadar kalau aku sudah memasuki mobil ini. Apa yang sedang di pikirkannya hingga tidak menyadari keberadaanku. Apa Gafi sedang menyimpulkan sesuatu tentang hubunganku dengan Martin.


“ Dia Martin,” ucapku tiba-tiba. “ Dia temanku. Kami tidak memiliki hubungan lebih dari itu.”


“ Kenapa kau menjelaskannya padaku?”


Ha…


Benar juga, kenapa aku harus menjelaskan hal itu padanya. Aku terlalu mengkhawatirkan hal yang tidak perlu.


“ Apa kau pikir aku perlu penjelasan?”


“ Entahlah, aku hanya ingin mengatakannya padamu. Kau memberikan kepercayaan kepadaku dan aku juga tidak ingin merusaknya. Jadi ini salah satu caraku.”


Aku pun menarik seatbelt dan memakainya. “ Bisakah kita pergi.”


Sesaat kemudian mobil ini pun melaju. Hanya keheningan yang ada di dalam sini. Tidak ada pembicaraan maupun suara musik yang mengalun.


“ Kau tidur?” Pertanyaan yang tiba-tiba membuka mataku yang baru saja kupejamkan.


“ Tidak,” jawabku. “ Aku hanya menenangkan diriku dengan memejamkan mata.”


“ Kau menenangkan dirimu karena kau marah padaku?”


“ Aku pikir begitu. Aku sedang marah dan rasanya ingin meledak.”


“ Aku juga seperti itu, rasanya aku ingin marah dan meledak begitu melihatmu bersama dengan temanmu itu. Bagaimana bisa aku tenang begitu melihat keakraban kalian. Ah…bukan hanya itu saja, terlihat sekali kalau temanmu itu sangat menyukaimu.”


“ Itukan pikiranmu. Aku sudah pernah bilang, tidak ada persahabatan diantara pria dan wanita. Pasti ada perasaan di dalamnya, entah itu sang pria atau sang wanita, mungkin juga keduanya. Kalau dalam kasus kalian, menurutmu siapa?”


Aku terdiam. Dan Gafi menujukkan senyumannya yang membuatku kesal.


“ Apa pikiranmu sepicik itu?”


“ Pikiranku? mungkin saja,” ujarnya. “ Kalau kau tidak percaya, bagaimana kalau kita taruhan saja. Kalau aku benar, maka kau harus melakukan apapun yang aku katakan.”


“ Dan kalau kau salah, maka kau harus mengikuti apa yang aku katakan.”


“ Ok, deal.”


Aku kehabisan kata-kata. Bagaimana ia begitu cepat mengatakan hal seperti itu. Seolah-olah kemenangan sudah ada di depan matanya.


“ Kenapa kau tiba-tiba diam? apa kau takut?”


“ Aku tidak takut,” ucapku. “ Kita sepakat dan tidak boleh ada yang mengingkari.”


“ Tentu.”


Entah kesepakatan apa yang sedang kami lakukan ini. Tapi, aku sudah terjebak di dalamnya. Aku juga tidak mungkin menariknya kembali.


Apa aku sudah kalah sebelum berperang, gumamku.

__ADS_1


...****...


Kami pun tiba di rumah. Kepulangan kami pun di sambut hangat oleh tante Liz seperti biasanya. Ia menanyakan begitu banyak pertanyaan perihal kepergian kami dan inilah waktunya untuk berakting seolah-olah kami memang pergi ke suatu tempat bersamanya. Rasanya sangat tidak nyaman jika sudah seperti ini, berbohong di hadapan tante Liz.


“ Tante, nanti saja ceritanya.” Gafi menyela pembicaraan kami. “ Yuna pasti sudah capek,” ujarnya. Dan tante Liz pun mengerti dengan keadaan kami ini.


“ Baiklah sayang, kalian istirahat. Maaf sudah bertanya ini dan itu, Tante terlalu semangat melihat kepulangan kalian.”


“ Tidak apa-apa Tante,” ujarku menenangkannya.


“ Sudah sana istirahat di kamar.”


“ I-ya Tante.”


Aku pun meninggalkan tante Liz. Walaupun jadi tidak enak hati padanya, tapi meninggalkannya adalah hal yang paling tepat karena aku tidak perlu mengarang cerita tentang perjalanan kami. Aku tahu tante sangat peduli dengan kebahagian kami, tapi sepertinya itu akan jauh dari harapannya dan aku tidak ingin tante kecewa nantinya.


“ Ha…”


“ Kenapa kau menghela napas begitu?”


“ Aku tidak tega melihat tante tadi. Aku harus mengarang cerita padahal tante mengharapkan sesuatu. Aku sungguh jahat padanya.”


“ Bukan kau yang jahat, tapi aku. Aku yang sudah menyeretmu kedalam keluargaku.”


Aku langsung terdiam. Perkataan pria ini benar-benar tidak bisa diprediksi. Terkadang menyetuh, terkadang menyebalkan, entah seperti apa dia ini.


“ Kenapa kau jadi melamun,ha!”


“ Karena kau membuatku kaget dengan kata-katamu.”


“ Oh ya?”


“ Jangan mengejekku,” ujarku kesal. “ Oh ya, seharian ini kau dimana saja?”


“ Aku? ke suatu tempat tentunya.”


“ Aku juga tahu itu, tapi dimana?”


“ Kenapa kau ingin tahu? apa kau sangat penasaran kemana suamimu pergi.”


“ Kau menyebalkan,” ujarku kesal lalu memukulnya dengan sebuah bantal, tapi Gafi malah menahannya dan aku terdiam.


“ Kau sungguh ingin tahu aku dimana?”


Memandang wajahnya dengan jarak dekat malah membuatku jadi salah tingkah. Detak jantung yang tadinya normal kini malah berdetak lebih kencang.


“ Kenapa wajahmu malah memerah?”


“ Ha?” Aku memalingkan wajahku. Entah kenapa aku merasa sangat kepanasan di ruangan yang sangat dingin ini.


“ Yuna…”


Tolong jangan memanggil namaku, gumamku


“ Hei…” Tiba-tiba Gafi menarik daguku dengan lembut, sedetik kemudian mata kami bertemu satu sama lain. Aku mematung, tak bergerak, tatapan matanya seakan menghipnotisku. Perlahan wajahnya semakin mendekatiku dan entah mengapa tanpa dikomandoi mataku terpejam. Dengan lembut bibirnya menyentuh bibirku. Bibir kami saling berpagut. Ciuman itu semakin dalam dan hangat.

__ADS_1


Kami saling menatap setelah melepaskan ciuman itu. Tiba-tiba Gafi menyeringai. Dan berujar...


“ Yuna…kita impas.”


__ADS_2