Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Sikap yang Mulai Melunak


__ADS_3

Gafi kembali ke kantornya setelah urusan pernikahannya usai. Tak ada waktu baginya untuk beristirahat karena pekerjaan yang sudah terjadwal padat sebelum melangsungkan pernikahannya nanti.


“ Selamat sore, Pak Direktur,” sapa Jenny saat melihat Direkturnya itu masuk.


“ Kau masih di sini?” tanya Gafi sambil melihat jam tangannya. “ Bukankah ini sudah waktunya kau pulang? kenapa kau masih ada di sini? apa kau ingin lembur bersamaku?”


“ Bu-bukan begitu Direktur, ini memang sudah waktunya saya pulang. Tapi…saya tidak mungkin pulang, soalnya ada Tuan di dalam ruangan.”


“ Papa…ada di dalam sana?” tunjuk Gafi.


“ Iya, Tuan ada di dalam. Sudah sejak tadi Tuan menunggu, padahal tadi sudah saya sampaikan kalau Direktur akan lama kembali ke kantor, tapi Tuan tetap memaksa menunggu sampai Bapak datang.”


Apa lagi yang akan dilakukan Papa kali ini, batinnya.


“ Ya sudah, kau pulang saja. Tapi, sebelum itu jangan lupa hubungi Aril untuk datang ke ruangan saya nanti.”


“ Baik, Pak Direktur.”


...****...


Gafi pun memasuki ruangan.


Ayahnya yang sudah lama menunggu tersenyum semringah begitu melihat putranya itu muncul.


“ Kenapa Papa tidak menghubungi Gafi kalau akan datang ke sini?”


“ Kalau Papa menghubungimu, kau pasti akan menghindari Papa.”


“ Kenapa Papa berpikiran seperti itu,” celetuknya sambil lalu.


“ Lagi pula dari mana saja kau? kenapa meninggalkan kantormu begitu lama, ha!”


“ Tentu saja mengurusi pernikahan, Pa. Lagi pula kantor ini tidak akan hilang kalau Gafi tidak ada.”


“ Pernikahan apa! Papa tidak menyetujui pernikahanmu ini. Mama dan adikmu sudah memperingatkanmu soal wanita itu, kan?”


“ Ha…sudahlah Pa, Gafi bukan anak kecil lagi. Gafi sudah memutuskan menikah dengan Yuna dan akan tetap seperti itu.”


“ Papa akan menyetujui pernikahanmu kalau itu dengan Diana.”


“ Diana lagi-Diana lagi. Kenapa keluarga ini terlalu terobsesi dengannya. Kalau Gafi memang menginginkannya, tidak mungkin Gafi menikahi Yuna. Kenapa Papa tidak mau mengerti.”


“ Diana itu anak teman bisnis Papa. Keluarga kita sudah berbisnis lama dengan keluarga Diana. Papa juga tahu seluk beluk keluarga itu. Kalau kau menikah dengannya, Papa akan merasa tenang.”

__ADS_1


“ Kenapa bukan Papa saja yang menikah dengannya?”


“ Gafi! jaga bicaramu itu!”


“ Ha…” Gafi menghela napas berat. Ia sudah tahu akan jadi seperti ini kalau sudah bertemu dengan ayahnya.


“ Kau kembalilah ke perusahaan Papa dan menikah dengan Diana. Itu akan semakin memperkuat taji perusahaan kita.”


“ Pa, apa kita tidak bisa membahas hal lainnya. Kenapa Papa tidak bisa mengerti apa yang menjadi penyebab Gafi tidak ingin ada di perusahaan Papa.”


“ Gafi, pikirkan baik-baik, kau akan menggantikan Papa di sana. Itu perusahaanmu juga.”


“ Menggantikan Papa atau menjadi boneka di sana. Jangan bawa-bawa Gafi ke dalam pusaran bisnis Papa, Gafi tidak akan menikah dengan Diana ataupun dengan wanita pilihan Papa.”


“ Gafi!”


“ Inilah yang Gafi tidak suka, Pa. Papa selalu mencampur adukkan urusan bisnis dengan keluarga. Itulah sebabnya Gafi tidak ingin berada di sana. Gafi ada di perusahaan tante karena bisnis adalah bisnis dan keluarga adalah keluarga. Tante menghargai itu tapi Papa tidak seperti itu. Papa sudah banyak berubah sejak menikah lagi dan itu sudah berkali-kali Gafi katakan. Tapi, Papa tidak pernah menyadari dan selalu menyangkal.”


“ Pikiranmu terlalu sempit, Nak. Tidak ada yang berubah dari Papamu ini.”


“ Ya…Papa akan selalu menyangkal apapun yang Gafi katakan. Kita sudah seperti air dan minyak, Pa, tidak akan pernah menyatu. Jadi, tolong jangan usik kehidupan Gafi yang satu ini.”


“ Kau yang memisahkan diri dari keluargamu sejak mamamu meninggal. Kau memutuskan untuk pergi dan melakukan apa pun yang kau inginkan. Apa Papa pernah melarangmu soal itu. Papa hanya meminta kau mengikuti keinginan Papa kali ini, apa itu salah?”


“ Salah," jawabnya tegas. " Memang benar Gafi memisahkan diri dari keluarga. Tapi, Papa tidak pernah tahu kenapa Gafi melakukan itu, kan? Gafi mengalah demi Papa. Gafi bukan patung yang tidak punya hati. Kalau saja Papa tahu apa yang dilakukan istri Papa itu, ah…untuk apa Gafi memberitahukannya karena hasilnya Papa tidak akan percaya.”


“ Terasa seperti pernah terjadi.” Gafi menatap langit-langit. “ Apa Papa tidak merasa ini pernah terjadi? pertanyaan itu terlalu familiar di telinga. Apa yang Gafi lihat dari Yuna memang tidak bisa terlihat oleh Papa. Bukankah kita sama?”


“ Gafi…dia itu Mamamu, sepertinya kau belum bisa menerima keadaan keluarga kita.”


“ Tidak akan pernah, Pa. Tapi…paling tidak Gafi sudah melakukan tugas sebagai seorang anak walaupun hanya peran semata.” Gafi memandang ayahnya. “ Gafi lelah setiap kali kita bertemu hanya pertengkaran yang terjadi, itu pun sesuatu yang tidak penting, Pa.”


“ Papa juga tidak ingin bertengkar denganmu, Nak. Papa hanya ingin yang terbaik untukmu termasuk soal pedamping hidup.”


“ Gafi mengerti, Pa. Tapi, kalau tidak dengan Yuna, tidak akan pernah ada wanita lain. “


“ Papa tidak mengerti kenapa kau begitu membela Yuna. Papa pikir kau masih memikirkan mantan istrimu, tapi ternyata kau sudah melupakannya. Baguslah, paling tidak inilah yang terbaik buatmu.”


“ Jangan menyebutnya lagi, Pa. Gafi tidak ingin mendengarnya.”


“ Baiklah, Nak. Lakukan apa yang kau inginkan. Papa juga tidak ingin Mamamu di sana membenci Papa karena sudah menghalangi keinginan putra kesayangannya. Tapi, bukan berarti restu dari Papa sudah kau kantongi. Papa belum bisa memberikan itu padamu.”


Gafi menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“ Ingat Gafi, motif apapun yang kau buat untuk menikah kali ini, jangan coba-coba mengakhirinya karena hal yang sepele. Kau sudah memulainya dengan susah payah dan menentang keluargamu karena wanita itu, jadi tunjukkan pada Papa kalau dia memang wanita yang tepat untukmu.”


“ Gafi akan ingat nasihat Papa.”


“ Baiklah, Papa harus pergi. Kau berusahalah dengan baik.”


“ Iya, Pa.”


Ayah Gafi pun pergi meninggalkan ruangan itu. Gafi tersenyum kecil. Sekeras apapun orang tua pasti akan melunak demi kebahagiaan anaknya. Tak akan ada orang tua yang ingin anaknya dalam kesedihan.


...****...


“ Aku melihat Om tadi. Apa kalian bertengkar?” tanya Aril yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Gafi tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


“ Menurutmu apa lagi?”


“ Aku rasa juga begitu. Kalau kalian tidak bertengkar, mungkin dunia akan kiamat.”


“ Tch…”


“ Aku membawa berita buruk untukmu.”


“ Berita buruk? apa tidak ada yang lebih buruk dari melihatmu di sini.”


“ Aku sedang tak ingin bertengkar, Fi.” Aril mengepalkan tangannya.


“ Ok, baiklah.”


“Lobi kita di tolak. Tanah yang ingin kau beli itu di tolak mentah-mentah oleh masyarakat sekitar.”


“ Apa? tapi, bukankah sebelumnya mereka menyetujuinya? kenapa tiba-tiba menolak?”


“ Entahlah, tapi begitulah yang aku dapati saat ke sana. Mereka tak ingin melepas tanah mereka padamu.”


“ Tapi, tidak mungkin dalam sekejap saja mereka mengubah keputusan. Ini pasti ada apa-apanya.”


“ Ya, kau benar. Ada sesuatu di balik semua ini. Kau pasti tahu siapa dan mengapa ini terjadi.”


“ Ah…om Dika.”


“ Tidak salah lagi. Mereka ingin menjatuhkanmu dengan kegagalanmu kali ini karena sebentar lagi akan ada pemilihan Presdir. Mereka yakin kalau kau yang akan menggantikan Tante Liz. Jadi, mereka melakukan segala cara untuk menjatuhkan reputasimu.”


“ Ha…padahal aku tidak tertarik dengan semua itu. Tapi, karena mereka sudah bermain denganku, lebih baik aku juga ikut bermain.”

__ADS_1


“ Begitu lebih baik. Aku akan melakukan rencana kedua kita. Jadi tenang dan lihat saja, bagaimana pergerakan mereka selanjutnya.”


“ Baguslah.”


__ADS_2