Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Pertemuan Keluarga#2


__ADS_3

Tatapan mata yang masih mengarah padaku membuatku jadi tak nyaman. Bagaimana tidak, setelah keributan yang di buat oleh Gafi yang memperkenalkanku sebagai calon istri kepada keluarganya, aku bagaikan tersangka di hadapan mereka. Terlebih tante Liz yang ada di hadapanku, menatapku dengan penuh tanda tanya.


Bertemu dengannya di sini saja sudah membuatku kaget bukan kepalang. Apalagi setelah tahu kalau wanita paruh baya yang sudah aku kenal lama ini ternyata adalah tantenya Gafi, semakin membuatku ketar ketir.


“ Yuna..." Tante Liz memanggil namaku dengan lembut.


" Iya, Tante," jawabku dengan suara agak pelan.


" Boleh Tante bertanya?"


" Boleh Tante."


" Yuna sejak kapan kenal dengan Gafi?" tanya tante Liz serius, " Tante sampai tidak tahu kalau Yuna selama ini berhubungan dengan keponakan Tante."


" Itu...Tante..." Aku masih ragu menjawab pertanyaan tante Liz itu.


“ Yuna, kau tak perlu takut. Ini Tante, kau tak perlu sungkan berbagi cerita.”


“ Maaf Tante, sudah membuat Tante dan keluarga menjadi gusar. Sebenarnya Yuna belum terlalu lama mengenal Gafi bahkan Yuna juga tidak terlalu mengenal Gafi lebih dalam," jawabku, " Yuna juga tidak tahu kalau Gafi sebenarnya keponakan Tante. “


“ Lalu kenapa Yuna mau menikah dengan Gafi? Apa anak itu memaksamu?”


“ Tante...” Gafi menyela.


“ Gafi...” Tante Liz menyuruhnya untuk diam. “ Katakan Yuna, jangan takut.”


“ Yang kau lakukan ini pasti ada hubungannya dengan uang, kan?” sela Ayah Gafi. “ Aku tahu wanita sepertimu pasti ingin mengeruk harta. Berapa? Akan kuberikan padamu, tapi setelah itu kau pergi dari kehidupan putraku.”


Aku bagaikan tersengat dengan ucapan Ayahnya itu. Harga diriku sepertinya hanya butiran debu bagi keluarga ini.


“ Bagas, kau tak perlu mengatakan hal yang tidak pantas seperti itu. Apa kau tak pernah belajar untuk menghargai seseorang." Tante Liz meninggikan suaranya.


“ Kak, seharusnya kau sadar bukan malah membelanya. Kakak kenapa tidak mengerti.”


“ Kau memang banyak berubah.” Terlihat Tante Liz begitu kecewa dengan sikap adik kandungnya ini.


“ Maaf...” Aku memberanikan untuk bersuara. “ Maaf karena kedatangan saya membuat suasana menjadi buruk. Saya memang bukan gadis yang Om inginkan untuk bersama dengan Gafi. Tapi, bukankah setiap anak mempunyai keputusan untuk kehidupannya sendiri?" Bagaimana kalau saya yang membalikkannya, berapa jumlah uang yang harus saya keluarkan untuk bisa bersama dengan anak Om? 100 ribu, 500 ribu atau bahkan sejuta?”


Semua orang terdiam karena ucapanku ini.


“ Untuk Om dan keluarga, uang yang saya sebutkan itu pasti tidak ada harganya, tapi bagiku uang yang sedikit itu sangat berharga. Jadi akan aku berikan hal yang berharga itu untuk kutukarkan dengannya. Jadi berikan saya nomor rekening Om, akan saya transfer nantinya.”

__ADS_1


“ Kau!” Ayah Gafi tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya terhadapku. “ Kau pikir, aku tertarik dengan uangmu itu!”


Tante Liz menyunggingkan senyumannya. Ia belum pernah melihatku yang seperti ini.


“ Jadi, kapan kalian akan menikah?” tanya tante Liz yang membuat adiknya semakin meradang.


“ Kak!”


“ Kakak Ipar, kenapa Kakak melakukan ini?” timpal ibu Gafi.


“ Sudahlah kalian berdua, Gafi bukan anak kecil lagi. Pernikahan juga bukan hal yang asing baginya. Apa kalian ingin melihat Gafi sendiri seumur hidup? Aku mengenal Yuna dengan baik, jadi aku menyetujuinya. Tidak ada perdebatan lagi, ini sudah keputusan.”


“ Tante Liz-” Soraya mencoba untuk menginterupsi.


“ Kau hanya anak kecil, tak berhak untuk berbicara. Diam dan jadilah anak yang baik.”


Soraya pun langsung terdiam dan tertunduk.


“ Gafi, kapan kau akan menikah dengan Yuna?” tanya tante Liz lagi.


“ Tiga hari lagi,” jawab Gafi lantang.


Aku hanya bisa terdiam mendengar jawabannya itu. Bagaimana bisa pernikahan diadakan dalam waktu tiga hari. Apa orang kaya punya magic yang bisa menyulap semuanya.


Tak ada yang bisa dilakukan setelah tantenya itu memutuskan semuanya. Bahkan ayah Gafi pun tak bisa menolak keputusan kakaknya itu. Apalagi denganku yang hanya bisa mengikuti alur yang sudah di jalankan tanpa memberikan naskah kepadaku terlebih dahulu.


Pernikahan pun akan dilaksanakan walaupun orang tua Gafi tidak menyukaiku sedikit pun.


...****...


Aku dan Gafi duduk di sebuah taman di belakang rumah mereka. Taman yang sangat indah yang banyak ditumbuhi berbagai macam bunga dan pepohonan. Tempat yang begitu damai dan menenangkan menurutku.


“ Kau suka tempat ini?” tanya Gafi memecahkan keheningan.


“ Ya, aku menyukainya. Tempat ini sangat berbeda dari sudut rumahmu,” jawabku.


Gafi menyunggingkan senyuman.


“ Kau memang benar, tempat ini memang berbeda dari sudut rumahku. Tempat yang membuatku tenang setiap kali aku mengunjungi rumah ini. “


Aku sedikit terkejut dengan ucapannya itu. Perkataan yang terdengar sedih di telingaku.

__ADS_1


“ Apa tempat ini sangat berarti untukmu?”


“ Ya, tempat ini sangat berarti untukku. Almarhum Mama yang membangun tempat ini.”


“ Almarhum?” aku mengulang ucapannya itu, “ jadi, wanita yang tadi itu...?”


“ Dia Mama tiriku, Papa menikah lagi setelah Mama kandungku meninggal. Secepat kilat ia melupakan wanita yang pernah bersamanya dulu.”


“ Aku minta maaf karena tidak tahu.”


“ Tidak apa-apa, kenapa kau harus minta maaf.”


Sejenak keheningan pun kembali menyeruak.


“ Oh ya, waktu tiga hari itu…… apa tidak terlalu cepat?”


“ Apa kau keberatan? Karena aku pikir lebih cepat lebih baik. Kau tidak akan tahu apa yang akan terjadi kalau kita menundanya lebih lama lagi.”


“ Tapi... “ Aku tidak melanjutkan perkataanku. Aku terdiam sesaat karena memikirkan sesuatu.


“ Aku akan meminta izin kepada keluargamu saat ini juga.”


“ Keluarga…. aku takut kau akan kecewa kalau tahu tentang keluargaku.”


“ Kenapa kau berkata seperti itu?”


“ Karena aku sudah pernah mengalaminya, seseorang kecewa ketika mendengar tentang keluargaku dan kau tak tahu kalau rasanya sangat menyakitkan.”


Gafi meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Aku sedikit shock dengan perlakuannya itu padaku. Melihat tatapan lembutnya yang belum pernah aku dapat sebelumnya darinya.


“ Kau sepertinya tidak mengenalku, Yuna. Sebelum kau katakan tentangmu, aku sudah tahu terlebih dahulu, apa yang terjadi padamu dan keluargamu, jadi kalau aku kecewa, mungkin aku sudah mundur sejak awal, tapi aku ada di hadapanmu saat ini, kan?"


Perkataan yang sangat lembut dan hangat darinya membuatku sedikit lega. Walaupun pernikahan ini bukanlah dari hati dan perasaan, tapi apakah aku bisa berharap kebahagiaan bersama dengannya.


“ Kau melamun lagi.”


Aku tersenyum karena celetukannya itu.


“ Maaf.”


“ Yuna, kalau kau menikah denganku, aku berharap kau siap dengan keadaan keluargaku yang seperti ini. Tapi, tenang saja, ada tante Liz yang akan selalu bersamamu. Dia adalah keluarga yang ku percaya dan orang yang selalu bisa diandalkan”

__ADS_1


“ Aku tahu. Kau tak perlu khawatir padaku.”


“ Baiklah kalau begitu, aku percaya denganmu.”


__ADS_2