Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 11. Permintaan Tuan Dira.


__ADS_3

Nyonya Rosa keluar dari ruang rawat dimana Tuan Dira berada, lalu bersitatap dengan Putera anaknya. Putera yang penasaran tidak membiarkan ibunya pergi begitu saja, sebelum ia mendapatkan penjelasan mengenai pembicaraan saat berdua di dalam dengan ayahnya.


"Apa yang kalian bicarakan, kenapa lama sekali. Apa kau menyakiti hatinya lagi?" tanya Putera.


"Bukan hal yang penting, sekarang menyingkirlah. Mama ingin pulang," balas Nyonya Rosa. Rasa bersalah pada anaknya itu membuat ia tidak berani menatap mata tajam Putera yang menatapnya dengan lekat.


"Katakan padaku dan tataplah wajahku ini!" tegas Putera.


Nyonya Rosa menggeleng. "Maafkan Mama," balasnya singkat dan hanya itulah yang bisa ia katakan pada Putera anaknya sebelum pergi.


Putera pun tertegun, perkataan maaf dari sang Mama membuat ia membeku seketika. Pria yang lahir tanpa kasih ibu itu seakan merasakan sesak yang berkecamuk di dalam dada.


Tak terasa ia berubah menjadi lemah dan tidak berdaya, bahkan ia tidak mampu menahan ibunya agar tidak pergi. Sehingga wanita yang tega meninggalkannya itu sejak lahir, pergi sekali lagi dari hadapannya.


"Kau memang tidak berperasaan!" batin Putera dan hanya bisa menatapi kepergian nyonya Rosa dari kejauhan, sebelum akhirnya menghilang dari pandangan mata.


...***...


Putera melamun dan masuk ke dalam kamar rawat inap dimana ayahnya mendapatkan perawatan. Melihat air mata sang ayah yang masih mengalir, membuat pria itu yakin jika sang ibu tadi membicarakan sesuatu yang menyakitkan hatinya.


Tapi Putera tidak ingin membicarakan hal tersebut, karena selain kondisi kesehatan sang ayah yang sedang kurang baik, dia juga tidak ingin membahas apapun mengenai sang ibu.


"Putera ..." panggil Tuan Dira.


Putera menghampiri dan berdiri di sisi Tuan Dira. "Iya ... Ada apa memanggilku?" tanyanya.


Tuan Dira mengatur nafasnya sejenak. "Maafkan Papa, Papa tidak bisa membawa Mama mu kembali ke keluarga kita."


"Sudah berulang kali ku katakan, aku tidak butuh wanita itu kembali pada kita. Aku tidak butuh Mama yang tidak punya perasaan seperti itu," balas Putera.


"Tapi Papa yakin kau pasti merindukan sosok mama mu itu," balas Tuan Dira.


"Aku memang merindukannya, tapi setelah ia datang hanya bisa menyakiti hati. Untuk apa diperjuangkan," balas Putera.


Tuan Dira mengangguk. "Kau benar, semua adalah kesalahan Papa karena belum bisa melepas kepergian Mamamu itu," ucapnya sedih.


Putera duduk di sisi Tuan Dira dan memegang tangannya. "Jangan takut, kau masih memilikiku. Aku juga bagian darimu," balasnya.


Tuan Dira menatap Putera. "Apa kau yakin bisa membahagiakan ku ini? Apa kau mau menurut pada Papa?" tanyanya.


Putera mengangguk. "Benar, aku akan menurutimu. Asalkan kau berjanji akan melupakan Mama selamanya."

__ADS_1


Tuan Dira tersenyum. "Terima kasih, kalau begitu penuhilah permintaan Papa. Maka Papa akan melupakan Mamamu itu."


"Kau ingin apa?" tanya Putera.


"Berjanjilah pada Papa kau akan menikah, terserah dengan wanita mana. Tapi Papa ingin sekali melihat kau menikah dan berkeluarga," balas Tuan Dira.


Putera merasa gatal kembali dan melepaskan gengaman tangannya. "Sudah ku bilang, aku tidak mau menikah!" tegasnya.


"Jangan menolak permintaan Papa itu Putera, menikahlah. Maka dengan begitu Papa bisa tenang dan bisa melupakan Mamamu," pinta Tuan Dira.


Putera merasa berat, ada sesuatu yang masih mengganjal di dalam hatinya. Entah perasaan apa, tapi rasanya sangat sulit sekali memenuhi permintaan ayahnya yang satu itu.


"Jangan sama ratakan semua wanita dengan mamamu itu, banyak pernikahan diluaran sana yang berakhir bahagia. Banyak keluarga yang saling mencintai dan Papa yakin kau juga akan menemukan kebahagiaan dengan pasanganmu," ucap Tuan Dira lagi.


"Tapi aku tidak bisa, bagaimana jika aku gagal berumah tangga?" tanya Putera ragu.


"Tidak ada yang tahu nasib seseorang bagaimana di masa depan, akan tetapi kau bisa menentukan nasib bahagiamu itu dengan terus berusaha. Putera penuhilah permintaan Papa," ucap Tuan Dira memohon.


"Aku tidak percaya cinta bisa membuat kita bahagia," balas Putera ragu.


"Percayalah Putera, Cinta itu nyata!" tegas Tuan Dira.


"Apa buktinya?" tanya Putera.


"Tapi dia tidak mencintaimu ataupun diriku," balas Putera lesu.


"Dia hanya tidak mencintaiku tapi di dasar hatinya dia tetap mencintaimu, karena kau adalah darah dagingnya. Dia mempercayaiku untuk mengurus serta menjagamu dengan baik agar kau tumbuh dewasa dan untuk itulah Papa ingin melihatmu bahagia bersama dengan pasanganmu."


"Dengan begitu Papa bisa merasa tenang dan bertanggung jawab sepenuhnya akan kesalahan yang pernah Papa buat sebelumnya," ucapnya lagi.


Putera terdiam, merenungkan apa yang di katakan oleh Tuan Dira. Apa salahnya mencoba membuka hati untuk menyenangkan hati orang tuanya.


"Baiklah, aku akan mencoba mencari pendamping. Tapi aku sendirilah yang akan mencari wanitaku, aku juga tidak ingin ada campur tangan darimu maupun dari Opa Mahes seperti sebelum-sebelumnya." balas Putera.


Tuan Dira mengangguk. "Baiklah Putera, Papa janji tidak akan ikut campur masalah pribadimu dalam mencari pasangan."


Putera mengangguk pelan. "Terima kasih, tapi berikanlah aku waktu untuk mencarinya dan biarkan lah aku berpikir sejenak untuk merubah kebencianku akan wanita. ."


"Sudah pasti," balas Tuan Dira lalu menahan Putera sejenak agar tidak pergi.


"Oh iya Putera, Papa minta tolong temuilah Lovely setelah ini. Minta maaflah padanya, dia tidak bersalah tentang masalah kita. Papa juga minta tolong agar kamu memberitahu dia, untuk tidak mengirim bunga lagi ke tempat biasa mulai besok."

__ADS_1


"Bunga?" tanya Putera.


"Papa adalah salah satu pelanggan setia toko bunga miliknya, setiap pagi hari Papa selalu datang untuk membayar tagihan dan memesan satu rangkaian bunga mawar merah untuk dikirimkan pada Mamamu melalui jasanya," balas Tuan Dira.


Putera menyadari akan satu hal, jika Lovely memanglah berkata benar. Ada perasaan bersalah juga telah berkata buruk tentangnya hingga wanita itu menangis dan marah.


"Baiklah, tapi aku tidak bisa datang hari ini. Ada pekerjaannya yang harus diselesaikan. Tapi besok aku berjanji akan datang ke toko bunga itu. Menyelesaikan masalah mu dan juga kesalahpahaman diriku tentangnya," balas Putera.


"Baiklah, terserah kau saja," ucap Tuan Dira.


"Hem, sekarang istirahatlah." Putera menyelimuti ayahnya.


"Baik, ingat pesan Papa tadi, kau harus menemui Lovely dan meminta maaf padanya. Dia gadis yang baik hati, melihatnya sedih tadi aku jadi merasa bersalah sekali."


Putera berdecih. "Cih! Aku tidak tahu mengapa kau bisa begitu peduli dengannya," gerutunya.


"Karena dia sudah mengalami hari-hari berat," balas Tuan Dira.


"Apa maksudmu dia telah mengalami hari berat, dari yang ku lihat dia biasa saja," balas Putera.


"Sudahlah jangan dibahas lagi karena Papa yakin kau tidak akan mengerti." ucap Tuan Dira.


"Aku memang tidak mau mengerti dan tidak peduli dengannya," bantah Putera.


"Kalau tidak peduli mengapa bertanya," goda Tuan Dira sembari terkekeh.


Putera menghela nafas dan memilih tidak menanggapi godaan ayahnya. Dia segera keluar dari ruangan Tuan Dira dan menghampiri Opa Mahes untuk mengatakan sesuatu.


"Aku minta maaf karena telah membuatmu susah, sudah waktunya aku berubah menjadi lebih baik. Aku marah denganmu karena selalu saja ikut campur mengenai masa depanku," ucap Putera.


Opa Mahes tertunduk. "Maaf Opa telah salah karena telalu banyak ikut campur, tapi percayalah Opa hanya ingin membantumu mencari pasangan."


"Tidak apa, mulai sekarang berjanjilah padaku agar tidak menjodohkanku. Karwna aku yang akan memcari oasangan ku sendiri," tutur Putera.


Opa Mahes merasa senang. "Benarkah?"


"Benar ... Sekarang aku titip Papa, kau beristirahatlah disini dan biarkan aku yang memegang perusahaan hari ini," ucap Putera.


Opa Mahesa mengangguk. "Baiklah," balasnya singkat.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2