
Mansion Putera.
Tuan Dira mengunjungi rumah anaknya, bermaksud untuk menyatukan mereka hingga keduanya benar-benar menyatu layaknya pasangan suami istri kebanyakan.
Hal itu ia lakukan lantaran tidak ingin adanya jarak diantara mereka berdua, seperti saat sekarang ini. Tuan Dira tengah menceramahi Lovely agar mau tidur seranjang dengan suaminya kembali.
Kalau biasanya suami yang membujuk istrinya untuk tidur seranjang, kali ini papa mertuanyalah yang membujuk menantunya agar mau tidur seranjang dengan suaminya.
"Lovely sayang, kau sudah menikah. Seharusnya tidurlah seranjang dengan suamimu itu dan janganlah memasang wajah tidak sukamu itu kepada dia," ceramah Tuan Dira.
"Tapi Papa, setelah apa yang dia lakukan padaku waktu lalu. Aku sudah tidak sudi tidur bersama dengannya lagi," balas Lovely.
"Itu kan waktu dulu, Papa lihat Putera sudah banyak perubahan. Dia sudah bisa mengontrol emosinya sendiri dan mengenai perselingkuhannya dengan wanita lain, Papa minta maaf padamu dan sudah memarahi Putera habis-habisan."
"Papa juga sudah memecat Emily dan meminta wanita itu agar menjauh dan tidak menganggu Putera lagi. Emily bahkan telah menjelaskan kepada Papa kalau hubungan mereka tidak sampai berhubungan di atas ranjang," bujuk rayu panjang lebar Tuan Dira.
"Tapi Pa," Lovely masih enggan menuruti.
"Sayang, dengarkan ini. Bukankah kau sudah berjanji pada Papa dan juga mama Dianamu, kalau kau akan berusaha menerima Putera sebagai suamimu secara perlahan. Dan menurut Papa inilah waktu yang tepat bagi kalian untuk memulai hubungan baru," ucap Tuan Dira membujuk terus.
Sedangkan Lovely lantas terdiam dan menatap tajam Putera yang sedang menguping pembicaraan di depan kamarnya, sesekali tersenyum seperti berharap dirinya akan menuruti permintaan Tuan Dira.
Lovely pun menghela nafas panjang. "Baiklah Pa, Lovely akan menuruti keinginan Papa," balasnya pasrah. Kemudian disambut senyum kebahagiaan Tuan Dira, terlebih bagi Putera sendiri yang masih setia menguping pembicaraan tersebut.
"Dasar! Ingin tidur sekamar denganku saja harus meminta bantuan bapaknya!" gerutu Lovely dalam hati.
"Bagus! Menantu cantik Papa memanglah penurut. Nah, sekarang rapihkan semua barang-barang pribadimu ini dan biarkan Bi Ami yang memindahkan semuanya ke dalam kamar Putera," ucap Tuan Dira begitu riang dan keluar dari kamar Lovely untuk memberitahu Putera tentang kabar tersebut.
Lovely tersenyum, melihat papa mertuanya begitu senang membuat ia melupakan segala kekesalannya.
"Papa benar, aku harus mencoba membuka diri dan menerimanya. Lagipula apa salahnya membuat orang tua bahagia," gumam Lovely sambil mengemasi barang pribadinya ke dalam koper.
...***...
Sementara itu Putera bergegas merapihkan kamar, setelah Tuan Dira memberitahu jika Lovely telah bersedia tidur sekamar lagi dengan dirinya.
Pria itu pun sampai rela turun tangan sendiri, membawakan barang Lovely yang begitu berat dan banyak ke dalam kamarnya.
"Sudah biar aku sendiri saja yang merapihkannya," ucap Lovely saat Putera ingin membantu memasukkan baju-bajunya ke dalam lemari pakaian.
"Tidak apa, biar aku bantu merapihkannya. Aku tidak mau kau berpikir aku diam saja tidak membantumu," balas Putera.
"Jangan Putera, karena ada beberapa pakaian yang aku tidak ingin kau sampai melihatnya," balas Lovely.
"Apa? Menurutku semua pakaian sama saja, terbuat dari kain dan berfungsi sama," balas Putera tidak mau tahu.
Lantas muka keduanya memerah, ketika Putera tak sengaja menarik salah satu buntalan berisi pakaiaan dalam milik Lovely hingga isinga tercecer dilantai.
__ADS_1
Lovely bergegas berjongkok dan mengutip semua pakaiann dalamnya. "Tuh kan! Semuanya jadi berantakan," ucapnya malu sekali. Terlebih saat Putera merentangkan kain penyangga dan mengusap-usap bagian busa kembarnya.
"36B, cukup besar juga dan itu sangatlah sesuai ..." gumam Putera membayangkan ukuran serta bentuk, sehingga otak sucinya mulai terkontaminasi lagi.
Sedangkan Lovely merasa geram, saat melihat wajah Putera berubah mesum. "Kembalikan, ini milikku!" sentaknya seraya menarik Braa miliknya.
Putera menggeleng cepat. "Ah maaf," balasnya sambil cengengesan.
"Sudahlah Putera aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu, bagaimana kalau kau bawakan barangku yang berat itu saja." Lovely menunjuk sebuah kotak yang berisi kenangan lamanya. Berupa album dan juga beberapa bingkai foto dirinya dengan keluarga.
"Baiklah!" patuh Putera semangat.
Lalu pria itu mulai mengeluarkan dan menyusun semua album dan bingkai foto Lovely di dalam lemari yang telah disiapkan sebelumnya.
Selama membereskan itu semua, Putera memandangi semua foto Lovely dari kecil hingga dewasa. Sesekali tersenyum dan membelai wajah Lovely pada bingkai.
Sementara itu Lovely hanya menghela nafas berkali-kali, melihat tingkah aneh suaminya. Akan tetapi ia merasa bersyukur, karena tubuhnya tidak menunjukkan reaksi negatif berupa gatal-gatal selama Putera memberikan perhatiannya bertubi-bertubi.
...***...
Malam harinya.
Malam yang tidak disukai oleh Lovely akhirnya terjadi juga, dimana waktu sudah menunjukkan bagi mereka berdua untuk tidur disatu ranjang yang sama.
Baru saja mulut wanita itu ingin bicara, namun Putera langsung mendahului dirinya. "Tenang, aku tidak akan berlaku macam-macam padamu. Sekarang naiklah kesini dan tidurlah!" titahnya menepuk-nepuk lembut sisi ranjang di sampingnya agar Lovely mau naik.
"Dia pikir aku kucing apa, memanggilku dengan cara seperti itu," umpat Lovely. Lalu menurut juga berbaring diatas kasur.
"Ya, aku sudah tahu. Selamat malam," balas Lovely kemudian membelakangi Putera dan berusaha memejamkan kedua matanya.
"Selamat malam," balas Putera tersenyum. Lalu mematikan lampu dan menarik selimutnya, sesekali membayangkan bagaimana rasanya jika melakukan itu bersama dengan Lovely.
...***...
Dimalam gelap yang semakin lama semakin terasa dingin, entah mengapa Putera merasakan panas di sekujur tubuhnya.
Ia pun membuka baju yang membungkus raga kekarnya dan meminum segelas air yang tersedia diatas nakas sambil memandangi Lovely yang masih tertidur lelap diatas ranjangnya yang empuk.
Lalu, tiba-tiba Putera merasakan ada sesuatu yang terbangun dan membesar dengan sendirinya pada bagian dalam celana.
"Apa sudah waktunya," gumam pria itu menjambak rambutnya sendiri karena tidak bisa mengontrol nafsunnya yang tiba-tiba naik begitu saja.
Putera menelan salivanya kasar dan merangkak naik ke atas kasur, lalu mengungkung raga Lovely yang sedang tidur berbaring terlentang mengarah kepadanya.
Pria itupun memandangi wajah istrinya dan menatapi seluruh bagian tubuh yang tidak tertutup oleh selimut, tangannya kini bergerak sendiri dan mulai ingin menjamah sesuatu yang bertekstur kenyal itu.
"Bolehkan," gumamnya pada diri sendiri.
__ADS_1
Lalu, dicium wajah istrinya itu. Mulai dari kening, pipi hingga bibirnya tidak luput dari kecupan menggebunya.
Putera menyelusupkan tangannya pada baju Lovely dan ia tersenyum ketika mendapatkan apa yang dia mau. "Ah hangat dan begitu lembutnya," desaaahnya sambil meremas-remass dua bukit sintal dihadapannya itu.
Cukup lama ia bermain didaerah pergunungan, kali ini senjatanya sangat terasa sesak sekali. Membuat Putera harus membuka celananya, hingga menampilan sebuah benda panjang dan besar sedang berdiri tegak sangat sombongnya.
Putera menurunkan celana dalaamm Lovely yang tadi dia lihat saat membereskan pakaian, lalu sekuat tenaga dia menghentakkan pinggulnya dan ia terpejam menikmati itu semua.
Diiringi suara Lovely yang menjerit karena ulah tidak sabarannya.
Putera tersenyum, lalu semangat memompa tubuh Lovely. Namun ada sesuatu yang aneh, kenapa suara jeritan dan desahann Lovely sama dengan suara alarm pada kamarnya.
"Putera bangunlah, ini sudah pagi. Kau mau pergi ke kantor tidak," ucap Lovely sambil menggoyang-goyangkan tubuh Putera agar terbangun dari tidurnya.
Pria itu pun membuka matanya kasar dan menatap ke sekeliling seperti orang bingung. "Lovely," ucapnya menatap Lovely.
"Kenapa kau berkeringat seperti itu, apa semalam mimpi buruk?" tanya Lovely.
Putera menelan ludahnya susah payah, lalu merup wajahnya dengan kasar. "Ternyata hanya mimpi, tapi kenapa rasanya nyata sekali," gumamnya sambil menatap Lovely yang sedang menatapnya juga.
"Ada apa denganmu?" tanya Lovely merasa aneh.
Putera menggeleng dengan jantung yang terus berdebar hebat. "Tidak ada, baiklah aku harus mandi sekarang." Lalu beranjak dari kasur dan menuju kamar mandi.
"Ada apa dengannya?" gumam Lovely bertanya-tanya.
...***...
Dimeja makan Putera termenung memikirkan mimpinya semalam yang sedang bercinta dengan Lovely, sesekali tersenyum jika sekelibat bayangannya muncul saat diri nya yang tengah menggagahi Lovely.
Entah mengapa setelah merasakan bercinta didalam mimpi tersebut, membuat dirinya menjadi semakin penasaran saja bagaimana rasanya bercinta di dunia nyata.
Hal itu membuat Lovely dan Tuan Dira menatap Putera dengan tatapan bingung.
"Putera, kau sedang memikirkan apa?" tanya Tuan Dira.
"Tidak ada Pah," balasnya malu-malu.
"Dasar aneh," celoteh Lovely pelan.
"Cepatlah makan, setelah itu kita berangkat ke kantor!" ucap Tuan Dira.
"Baiklah," balas Putera lalu melirik ke arah Lovely. "Dia cantik sekali," gumamnya saat melihat istrinya berpakaian kantor.
.
.
__ADS_1
Bersambung.