
Sementara itu di sudut sana, Leo mengurungkan niatnya untuk mendekat ke arah toko bunga. Saat ia melihat seorang pria tengah berbincang di depan toko itu dengan seorang gadis.
Dan Leo yakin, seyakin-yakinnya jika orang yang sedang berbincang di depan toko ialah Putera.
"Paman Marsan breng-sekkk!! Dia bilang orang itu tidak akan datang lagi kesini, karena kata-kata tipuannya. Tapi apa nyatanya, pria itu masih saja datang kemari. Berani sekali kau menipuku Paman!" geram Leo sembari meninju dinding tempatnya bersembunyi.
...***...
Tak berselang lama kemudian.
Setelah ia melihat Putera pergi dan kondisi toko sepi kembali, Leo menghampiri toko bunga Lovely untuk mengintip ke dalam sebentar.
Itu ia lakukan demi menjawab rasa penasarannya akan rupa dari putri Pak Marsan yang pernah diberitahu sebelumnya dan ingin melihat seberapa cantiknya Lovely dengan mata kepalanya langsung.
Karena jika wanita yang sedang dia incar tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, maka Leo tidak ingin melanjutkan keinginannya untuk membawa Lovely pergi.
Akan tetapi, jika apa yang di katakan oleh Pak Marsan itu benar, bahwa putrinya itu sangatlah cantik, maka Leo tidak akan segan-segan membawa kabur serta menikahi Lovely secepatnya.
Sesampainyq di depan toko Lovely, Leo berdiri di sudut dan mengintip dari balik jendela kaca, kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru dalam toko dengan seksama.
Ia lantas berhenti dan berpusat pada satu titik dimana akhirnya ia dapat melihat sesosok wanita bertubuh ramping, kulit putih mulus, rambut lurus dan indah panjang sedada.
Sedang duduk merangkai bunga-bunga berwarna-warni, pesanan para pelanggan setia tokonya.
Pria itu menarik senyum dan kedua netranya juga sulit sekali untuk berkedip.
Tanpa disadari Leo mulai hanyut dalam lamunannya sendiri, karena merasa terpesona akan kecantikan Lovely pada pandangan pertama.
Pria itu menelisik kembali penampilan Lovely dengan lekat, ia berpusat di bagian area sensitif keseluruhan yang ada pada wanita yang sedang ia pandangi. Khususnya di area wajah.
Bibir mungil nan ranum itu, rasanya ingin sekali disesap. Bola mata coklat lembut yang indah, serta leher jenjangnya yang mulus serasa mengundang dirinya untuk menggigit saja.
Belum lagi ketika Lovely berdiri dari tempat duduknya dan berjalan kesana-kemari, membuat Leo langsung berubah haluan dan berpusat kepada dua gundukan kenyal.
Yang sedang bergantung manja dan berguncang lembut, bergerak seirama mengikuti tekanan grafitasi bumi.
Leo pun meneguk ludahnya kasar dan membayangkan jika kedua bukit kembar menggantung itu ada di dalam genggamannya.
"Dia sempurna, dia milikku!" racau Leo, dengan sejuta angan-angannya.
Lovely menoleh ke arah jendela, ketika mendengar sesuatu dan merasa ada seseorang yang sedang mengawasinya.
"Sepertinya ada orang," gumam Lovely.
Dengan segera wanita itu menghampiri dan memastikan apakah ada orang atau tidak di depan tokonya.
__ADS_1
Lovely membuka pintu dan menoleh ke arah kanan lalu ke kiri, ia juga mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru jalan, namun anehnya tidak ada orang sama sekali di depan tokonya itu.
Lovely menghela nafas lembut. "Mungkin perasaanku saja," gumamnya lalu masuk ke dalam toko kembali.
Sementara itu Leo bersembunyi tepat pada waktunya, saat Lovely menyadari akan keberadaan dirinya.
Pria itu tersenyum smirk dan membulatkan tekad untuk mendapatkan Lovely bagaimanapun caranya.
"Kau begitu cantik, bagaimana bisa aku melepaskanmu begitu saja. Apalagi menyerahkanmu kepada pria lain," gumam Leo.
Pria itu bergerak dan kembali menghampiri toko Lovely agar bisa melihat wanita itu dari jarak dekat, serta ingin mendengar suara wanita cantik yang berhasil mencuri perhatiannya.
Leo pun memberi kode dan meminta para anak buahnya untuk tidak mengikuti, agar tidak mengundang perhatian dari semua warga sekitar yang berada disana.
"Jangan ada yang mengikutiku," ucapnya memberi perintah sambil terus melangkah ke arah toko Lovely.
Dan sebelum ia masuk, Leo mengenakan masker wajah, serta topi agar tidak ada orang yang dapat mengenali dirinya dengan mudah.
...***...
Lonceng di dalam toko bunga itu berbunyi nyaring dan seperti biasa Lovely segera menyambut ramah pelanggannya yang baru saja datang.
"Selamat datang di toko bunga Love's Florist, ada yang bisa ku bantu?" sapa lembutnya begitu menguncang sukma, bagi siapa saja yang mendengar suara merdunya.
Termasuk Leo yang seketika mematung begitu saja dan hanya bisa terdiam sambil menatapi Lovely dari ujung kaki hingga puncak kepala, lalu mentap wajahnya dengan penuh damba.
Leo mengulum senyum. "Aku ingin satu bunga di dalam tokomu ini," balasnya.
Lovely mengerti. "Oh kalau begitu, silahkan masuk Tuan dan silahkan anda pilih-pilih terlebih dahulu, toko ini menjual bermacam-macam jenis bunga. Ada bunga asli, yang dari bahan plastik juga ada."
Lovely memperkenalkan bunga dagangannya sembari menunjuk-nujuk ke rak susun berisi bunga-bunga cantik yang tertata.
Namun nampaknya Leo tidak peduli dengan hal tersebut, ataupun tertarik dengan bunga-bunga tidak bernyawa lainnya di dalam toko.
Karena pandangannya selalu terarah dan tak pernah lepas kepada si bunga cantik hidup yang bergerak kesana-kemari.
"Aku ingin bunga yang hidup dan bunga itu sedang berdiri di hadapanku," balasnya dengan senyuman smirknya.
"Apa maksud anda ingin bunga hidup? Apakah itu bunga yang masih tertanam di Pot? Jiia anda mau, saya bisa ambilkan untuk anda. Kebetulan toko ini juga menjual bunga tanam," balas Lovely lalu berbalik untuk mengambil bunga yang dia maksud.
Namun Leo dengan segera mencekal pergelangan tangan Lovely, hingga gadis itu menghentikan langkahnya.
"Tidak perlu, bukan bunga itu yang ku mau," ucap Leo penuh dengan syarat makna.
Lovely mulai risih, karena tatapan pria itu seperti ingin menerkam dirinya.
__ADS_1
"Lepaskan tanganku!" ucap Lovely penuh penekanan.
"Ikutlah denganku dan kau akan baik-baik saja," balasnya dengan suara berat seperti menahan hasrat yang bergejolak.
Lovely menghentak tangannya. "Siapa kau! Pergilah dari sini atau aku akan berteriak!" sentaknya.
Leo berdecih. "Teriak saja kalau bisa," lalu melangkah maju mendekati Lovely yang terus mundur.
...***...
Bunyi lonceng toko kembali berbunyi dan Leo menoleh, ia mengurungkan niatnya untuk membawa Lovely karena para pelanggan bunga telah datang memenuhi toko.
Leo menatap Lovely dan berbisik. "Awas saja kalau kau berani menceritakan hal ini kepada orang lain, maka aku tidak akan segan-segan membawa dan menyerahkan Ibu Diana kepada Paman Marsan."
Lovely terbelalak lalu menatap kedua mata tajam itu baik-baik, ada satu kemungkinan siapa pria yang sudah berani datang ke toko dan juga mengancamnya.
"Kau pasti si lintah darat itu, mau apa kau kesi__".
Leo segera membekap mulut Lovely dan memberi kode agar tidak berteriak. "Sttss! Jangan berisik, ingatlah pesanku sayang. Jangan berani macam-macam, atau ibumu bisa terkena masalah sekarang juga."
"Lovely!" panggil salah satu pelanggan toko bunganya.
Leo melepaskan bungkaman tangannya dan menatap Lovely sembari tersenyum. "Layanilah pelangganmu itu, suatu hari nanti kau harus melayani diriku. Aku akan datang lagi kesini dan tunggu tanggal mainnya, aku akan segera membawamu ke rumahku," ucapnya.
Lalu pria itu pun pergi melewati pintu belakang dan meninggalkan Lovely yang berdiri gemetaran.
...***...
Sore harinya.
Lovely terdiam di dalam toko bunganya, kejadian tadi pagi membuat dia melupakan janjinya kepada seseorang.
Wanita itu memikirkan perkataan dan juga ancaman dari Leo yang melibatkan ibunya jika berani macam-macam dengannya.
"Mengapa dia ingin membawaku pergi dari sini? Apakah karena hutang Papa yang tidak ku bayar-bayar lagi padanya? Bagaimana agar aku bisa terlepas dari cengkraman pria itu dan apa yang harus ku lakukan jika dia datang lagi kesini?" gumam Lovely bertanya-tanya.
Lovely kemudian berdecih dan menyingkirkan semua kecemasannya. "Cih! Aku yakin dia tidak akan serius dengan ucapannya itu. Semua pria sama saja, hanya bisa mengancam dan mengertak."
"Siapa pria yang kau maksud suka mengancam dan menggertak?" ucap seseorang pria datang tiba-tiba.
Lovely meneguk ludahnya kasar dan menoleh. "Pak Putera," ucapnya sembari tersenyum getir.
.
.
__ADS_1
Bersambung.