
Perusahaan Mahesa.
Putera begitu terkejut, ketika mengetahui ada karyawan dari perusahaan Peterson yang datang ke perusahaan Mahesa hanya untuk mencari keberadaan nyonya Rosa.
Pria itu sampai memarahi semua orang suruhan Peterson itu hanya karena menganggap mereka sedang berbual saja.
"Maaf Pak Putera, tapi kami hanya menjalankan perintah dari pak Peterson saja. Apakah anda tahu dimanakah nyonya Rosa berada sekarang ini? Kami sudah mencarinya kemana-mana, tapi istri dari pak Peter tidak ada dimana pun," ucap salah satu karyawan Peterson.
Putera berdecih. "Kalian sedang mencari wanita itu disini? Apa mata kalian sedang kelilipan debu merapi hingga mencarinya sampai kesini?" tanyanya kesal.
"Tapi, pencarian kami hanya tinggal di perusahaan ini dan juga di rumah Tuan Dira. Jika memang nyonya Rosa tidak berada disini, maka kami akan pergi dengan segera," ucap karyawan tuan Peterson mohon pamit.
"Iya sana pergilah dan bilang pada si Peterson itu, jaga istrinya baik-baik. Jangan sampai diambil oleh pria lain," cibir Putera berdecih.
Karena menurut pria itu, nyonya Rosa pergi karena sudah bosan dengan suaminya yang sekarang dan ingin pergi mencari suami baru.
...***...
"Putera, mengapa kau berkata seperti itu kepada mereka? Dan kenapa kau tega sekali berkata buruk tentang mamamu itu," ucap Lovely menasehati saat suaminya selalu saja mengutuki sifat ibunya.
"Kau tidak tahu sayang, bagaimana wanita itu pergi. Dia pasti sedang mencari pria lain, atau memang sudah kebiasaannya pergi jika sudah bosan dengan suaminya. Asalkan jangan kembali kepada Papa saja," celoteh Putera tidak berhenti.
"Kau itu bicara apa sih, mana mungkin mama Rosa kembali kepada Papa Dira. Papa kan sudah menikah dengan mamaku," balas Lovely.
"Ya mana kita tahu, sudahlah jangan dipikirkan. Mana pekerjaanmu sini biar aku bantu," ucap Putera kemudian menarik pinggang Lovely agar duduk dipangkuannya.
Kebiasaan!
Tak berapa lam kemudian, Martin masuk ke dalam ruangan Putera dengan tergesa hingga lupa mengetuk pintu ruangan.
Membuat sang asisten kepercayaan Putera satu ini, terbelalak saat melihat kelakuan sang atasan dengan istrinya yang sedang bermesraan.
Lovely segera mendorong wajah Putera agar berhenti menciumi bibir ranumnya, sesaat melihat Martin masuk ke dalam ruangannya itu.
Dan menarik diri dari pangkuan sang suami lalu membereskan kemejanya yang sedikit berantakan akibat ulah jahil suaminya yang keasyikan memainkan kedua pergunungannya.
Hal tersebut membuat Putera menatap tajam Martin, karena tidak mengetuk pintu terlebih dahulu saat ingin masuk ke dalam ruangannya.
"M-maaf Pak Putera dan Bu Lovely," ucap Martin merasa bersalah.
"Ada apa Martin?" tanya Putera. Sambil merapihkan bagian celananya yang terasa sesak.
"Pak, saya dapat kabar dari orang rumah di Mansion Tuan Dira. Kabarnya disana sedang ada tamu tidak terduga," jawab Martin.
"Tamu tidak terduga, apa maksudmu Martin? Tolong kalau kasih informasi itu yang lengkap," balasnya gemas.
__ADS_1
"Ada nyonya Rosa di rumah tuan Dira," jawab Martin.
Putera dan Lovely sama-sama terkejut, kemudian saling menatap satu sama lain. "Mama," batin Lovely tak enak perasaan mengingat ibunya didalam satu atap yang sama.
"Putera, bagaimana kalau kita pergi ke rumah Papa sekarang. Aku ingin tahu ada apa sebenarnya disana," bujuk Lovely.
Putera mengangguk. "Iya baiklah, aku juga ingin tahu. Apa sebenarnya rencana wanita jahat itu," balasnya sambil meremas benda di tangannya.
...----------------...
Mansion Tuan Dira.
Tuan Dira bersiap untuk pergi bekerja, kali ini dia ingin membantu pekerjaan istrinya di toko bunga. Namun, dia berhenti melangkah masuk ke dalam mobil sesaat melihat nyonya Rosa yang sedang melamun di depan teras rumah.
"Bukankah kau akan pergi, kenapa masih melamun disini dan mengapa tidak membereskan semua barang-barangmu?" ucap Tuan Dira.
"Apa yang harus aku bereskan Dira? Aku datang kesini tidak membawa apapun dan hanya membawa badan saja," balas Nyonya Rosa.
"Lalu, apa kau sudah makan?" tanya Tuan Dira.
Nyonya Rosa mengangguk pelan. "Sudah," balasnya merasa lesu. Entah mengapa hatinya begitu sakit jika pria itu menyapa dan masih memberikan perhatiannya.
"Syukurlah kalau begitu, aku harus pergi. Nanti ada supir yang akan mengantarmu ke bandara," ucap Tuan Dira.
"Dira ..." panggil Nyonya Rosa sebelum menaiki mobil.
"Bolehkah kalau kau saja yang mengantarku ke bandara?" tanya Nyonya Rosa.
Tuan Dira menghela nafas panjang. "Aku tidak bisa janji padamu, karena banyak sekali pekerjaan yang harus aku kerjakan di toko bunga."
"Kau ke toko bunga, tidak pergi ke perusahaan?" tanya Nyonya Rosa aneh.
"Iya, memangnya kenapa?" Tuan Dira balik bertanya.
"Tidak apa-apa ... Hem Dira, jadwal pesawatku jam 4 sore. Aku berpikir, daripada menunggu waktu disini, bolehkah kalau aku ikut saja denganmu membantumu dan Diana di toko bunga?" tanya nyonya Rosa menawarkan diri.
Tuan Dira mendesaah kecil, jika dirinya dulu sulit sekali mendekati wanita itu. Namun sekarang, justru sulit sekali menjauhkan wanita ini darinya.
Akan tetapi, rasa prihatin dan kasihan masih tersimpan di dalam hati pria itu, membuatnya mengijinkan nyonya Rosa untuk ikut bersamanya pergi ke toko bunga.
"Baiklah, kau boleh ikut. Tapi ingatlah batasanmu," ucap Tuan Dira menasehati sebelum pergi.
Nyonya Rosa mengangguk dan tersenyum senang. "Baiklah, terima kasih Dira."
Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam mobil untuk pergi ke toko bunga Love's Florist, dimana Ibu Diana sudah berada di toko itu setelah mengantar Ron pergi sekolah.
__ADS_1
...----------------...
Toko bunga.
Ibu Diana menerima panggilan dari Lovely, dia menjelaskan kekhawatiran anaknya itu melalui telepon toko.
"Tidak apa sayang, nyonya Rosa dia baik tidak menganggu hubungan Mama dengab papamu," ucap Ibu Diana.
"Tapi Ma, apa tujuan wanita itu datang ke rumah Papa? Aku tidak mengerti, tiba-tiba datang begitu saja," balas Lovely dari ujung selulernya.
Ibu Diana menghela nafas panjang. "Mama juga tidak tahu," balasnya.
Panggilan tersebut berakhir, setelah Ibu Diana melihat mobil suaminya telah sampai dan terparkir di halaman toko.
Namun senyum lembut di wajahnya kembali dia urungkan, saat melihat wanita yang turun dari dalam mobil tersebut.
"Mau apa dia ikut kesini juga?" batin Ibu Diana bertanya-tanya.
Wanita itu kemudian membukakan pintu toko dan menyambut mereka berdua seperti layaknya pelanggan yang baru saja tiba.
Tuan Dira tersenyum. "Sayang," ucapnya. Kemudian mendaratkan satu kecupan lembut untuk istrinya.
Sedangkan Nyonya Rosa tersenyum getir saat melihat kejadian dimana mantan suaminya itu begitu mesra kepada istri barunya.
"Duduklah," Ibu Diana menggeser satu kursi untuk nyonya Rosa duduk.
"Terima kasih," balas nyonya Rosa tersenyum.
"Diana, mana pekerjaan yang harus ku bantu?" ucap Tuan Dira menawarkan bantuan.
"Tidak perlu, hanya pekerjaan ringan saja. Jika kau mau membantu, tolong potongkan beberapa tangkai bunga mawar merah disana." Ibu Diana menunjuk letak kebun bunganya yang berada di belakang toko.
"Baiklah kalau begitu," balas Tuan Dira kemudian memakai perlengkapan berkebunnya.
Nyonya Rosa merasa tidak enak hati melihat merekq bekerja, sementara dirinya hanya duduk-duduk saja.
"Diana, apa ada pekerjaan lain yang bisa ku bantu?" tanya nyonya Rosa menawarkan diri.
Ibu Diana menggeleng, namun nyonya Rosa yang memaksa meminta pekerjaan membuatnya mau tidak mau memberikan pekerjaan itu.
"Kalau begitu, bantulah suamiku di belakang kebun dan bawakan keranjang rotan ini untuknya," ucap Ibu Diana. Lalu melayani pelanggan yang baru saja masuk ke toko.
Nyonya Rosa mengangguk. "Baiklah," ucapnya kemudian menghampiti Tuan Dira yang sedang memetik beberapa tangkai bunga mawar merah.
.
__ADS_1
.
Bersambung.