
Toko bunga Love's Florist.
Lovely mendatangi toko bunga milik ibunya dan segera memeluk Ibu Diana setelah sampai disana.
"Lovely, kenapa kamu datang kesini. Lalu kenapa kau menangis dan membawa tas besar ini Nak, ada apa sebenarnya sayang?" tanya Ibu Diana merasa bingung dengan kedatangan putrinya yang tiba-tiba, sambil menangis sesungukkan.
Lovely menatap Ibu Diana. "Ma, Ly mau tinggal bersama Mama lagi." Lalu melanjutkan tangisannya dipelukan sang ibu.
Ibu Diana mengurai pelukan tersebut dan menatap putrinya. "Ada apa sebenarnya Ly, ceritakan pada Mama?"
"Putera, dia telah selingkuh dengan wanita lain," balasnya sembari sesungukkan.
"Apa! Tapi bagaimana bisa?" tanya Ibu Diana, dia begitu terkejut mendengarnya.
Lovely mengangguk. "Iya Ma, aku bahkan melihatnya sendiri, dengan mata kepalaku ini. Dia ... Dia bahkan bermesraan bersama wanita lain di dalam kantornya sendiri," ucapnya tak kuasa menahan tangis.
Ibu Diana merasa sedih dan turut sakit hati mendengar pernyataan tersebut, tanpa terasa dia pun ikut menangis saat menenangkan putrinya agar tidak bersedih.
"Jangan menangis sayang, mungkin kalian hanya salah paham. Putera tidak mungkin berbuat salah seperti itu," balas Ibu Diana.
Lovely menatap Ibu Diana tidak suka. "Mama, Ly lihat sendiri bagaimana pria itu berciuman dengan wanita lain. Jadi bagaimana mungkin dia tidak berbuat salah, dia telah salah Ma!" tegasnya kemudian menuju salah satu kamar di dalam toko tersebut.
Ibu Diana terpaku, sesekali merasakan sesak di dadanya. Karena tidak menyangka, jika Putera dapat berlaku buruk seperti itu kepada Lovely putrinya.
Dengan segera dia menelepon Tuan Dira untuk bertanya dan meminta penjelasan atas semua kejadian yang terjadi kepada putrinya.
"Tuan Dira, apa yang telah anakmu perbuat kepada putriku. Kenapa dia tega sekali berlaku buruk kepada Lovelyku? Apa kurangnya anakku hingga dia berani mencari wanita lain dan berselingkuh di depan mata kepalanya sendiri!" geram Ibu Diana melalui telepon tokonya.
"Sabar Diana, aku juga sempat syok saat mengetahui kenyataan ini. Aku sudah menasehatinya dan aku juga minta maaf atas nama Putera karena telah berlaku tidak baik kepada putrimu," balas Tuan Dira melalui ponselnya.
Mereka berdua berdebat satu sama lain dan menjelaskan pandangan mereka dari sudut masing-masing, namun keduanya tetap harus menyatukan anak-menantunya.
Karena Tuan Dira maupun Ibu Diana mengambil kesimpulan, jika anak-menantunya sama-sama telah tumbuh benih-benih rasa cinta.
...***...
Tak berselang lama kemudian, Putera datang ke toko bunga. Karena ia mengetahui jika Lovely sedang berada di dalam toko tersebut.
Ia bergegas ingin masuk ke dalam, namun Ibu Diana tidak mengijinkan Putera untuk bertemu dengan Lovely.
"Jangan ganggu putriku, dia sedang tidak ingin diganggu dan ingin menyendiri sementara waktu," ucap Ibu Diana dengan tatapan kesalnya.
__ADS_1
Putera merangkapkan kedua tangannya dan memohon. "Mama Diana, ku mohon ijinkan aku bertemu dengan Lovely. Aku harus menjelaskan sesuatu kepadanya."
Ibu Diana menolak. "Tidak bisa, pulanglah. Biarkan dia tenang untuk beberapa hari," balasnya lalu menutup pintu agar Putera tidak masuk ke dalam.
Putera mengedor-gedor pintu. "Ma, tolong buka pintunya. Ada yang harus ku bicarakan dengan lovely!" pekiknya dari luar.
"Maaf Nak Putera lebih baik pulang lah, Lovely sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun," sahut Ibu Diana dari dalam.
"Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum bertemu dengan Lovely," balas Putera.
"Lovely! Keluarlah, aku ingin bicara denganmu. Aku ingin menjelaskan semuanya padamu dan aku mengaku salah, aku ingin minta maaf. Tolong keluarlah dan pulang bersamaku Lovely!" pekik Putera sengaja, agar terdengar oleh Lovely yang sedang bersembunyi di dalam.
...***...
Sedangkan Lovely meringkuk disudut ruangan, masih menangis tersedu-sedu karena sakit hati yang sedang ia rasakan. Lalu menutup kedua telinganya rapat-rapat menggunakan kedua tangan, agar suara Putera yang sedang memanggil namanya tidak terdengar lagi di indera pendengaran.
"Pergilah!" pekik Lovely, sebab tidak tahan mendengar semua itu.
Sementara itu di sisi lain Ibu Diana merasa sedih, melihat jarak diantara keduanya yang sedang meregang.
Ia menatap Lovely yang sedang menangis, lalu berganti menatap Putera yang terlihat patah semangat di luar tokonya itu. "Apa yang harus aku lakukan?" cemasnya.
Karena Ibu Diana ingin semua masalah anak-menantunya itu segera berakhir dan berharap agar mereka bisa bersatu kembali.
Tapi melihat kasus Putera dan juga penjelasan dari Tuan Dira, mau tidak mau dia juga harus membantu keduanya dalam memecahkan masalah.
Ibu Diana keluar dari toko untuk menemui Putera yang sedang menunggu di depan tokonya, pria itu terlihat berantakan dan itu menambah keprihatinan Ibu Diana sendiri.
"Apa dia menyesal?" gumamnya.
Putera segera menghampiri Ibu mertuanya. "Mama, beri aku kesempatan untuk berbicara dengan Lovely. Aku ingin mengajaknya pulang bersamaku dan menjelaskan jika aku memang bersalah. Aku menyesal sekali," ucapnya serius.
Ibu Diana menelan ludahnya kasar, sesekali mengusap air matanya yang tiba-tiba turun begitu saja. "Pulang lah dulu ke rumahmu Putera, Mama akan coba membantu menenangkan Lovely disini."
Putera menggeleng. "Tidak, aku tidak ingin pulang sampai bertemu dengan Lovely," tolaknya.
"Mengertilah Putera, dia sedang tidak ingin di ganggu. Pemaksaan mu ini akan membuat Lovely malah semakin membencimu," balasnya.
"Tapi, bagaimana kalau dia tidak mau bertemu denganku lagi selamanya?" tanya Putera lesu.
Ibu Diana merasa kasian. "Biarkan dia menyendiri Putera, kau juga pulanglah ke rumah. Wanita butuh dimengerti, kau tidak bisa memaksakan keinginanmu setiap saat."
__ADS_1
Putera akhirnya menjadi lemah tidak berdaya, ternyata beginikah rasa sakit yang disebabkan oleh cinta. Akan tetapi dia menyadari sesuatu dan akan terus berusaha memperbaiki kesalahaan bagaimanapun caranya.
Agar dapat mendapatkan kepercayaan kembali dari Lovely maupun keluarganya sendiri.
"Baiklah Ma, aku akan pulang dan datang lagi besok. Titip salamku untuk Lovely, bilang padanya kalau aku minta maaf dan ___" Putera terdiam untuk mengumpulkan keberanian sejenak.
"Dan apa Putera?" tanya Ibu Diana penasaran.
"Dan katakan pada Lovely kalau aku mencintainya," balas Putera lalu berbalik badan untuk pergi dari sana.
Ibu Diana pun terkesiap, ketika mendengar penyataan cinta dari Putera untuk putrinya.
Tidak dapat dipungkiri ia merasa senang, kalau menantunya itu telah mengungkapkan isi hati di depan dirinya sendiri.
Namun walaupun begitu, ia tetap tidak boleh terpengaruh begitu saja akan permintaan sang menantu yang ingin terus bertemu dengan Lovely.
Karena ia harus menguji sampai sejauh mana dan sedalam apa cinta Putera untuk putrinya terlebih dahulu.
...***...
Lovely mendengar semua perkataan Putera dari balik dinding, sebelum suaminya itu pergi dari toko bunganya.
Ia menangis semakin menjadi-jadi, akan tetapi rasa sakit akibat dipermainkan oleh suaminya itu. Membuat dirinya bersiteguh untuk tidak menerima Putera begitu saja dengan mudah.
"Kau yang telah memulai, bagaimana bisa aku memaafkanmu begitu saja Putera," ucapnya terisak.
Beberapa saat kemudian, Ibu Diana kembali ke dalam tokonya dan melihat Lovely sedang duduk termenung di sudut ruangan.
Ia pun menghampiri dan duduk di sebelah Lovely. "Sayang, hari sudah malam. Bagaimana kalau kita pulang bersama," ucapnya mengajak.
"Mama, aku ingin menginap disini. Kau pulqng saja dan mwngurus Ron," balasnya menolak.
"Tapi kau sendirian disini, bagaimana jika kau sedang butuh sesuatu nanti?" tanya Ibu Diana.
"Aku bisa sendiri Ma, jangan cemaskan aku. Sekarang pulanglah, biar aku tidur disini." Lovely bangkit dari tempat duduknya dan masuk ke dalam ruangan kecil di dalam toko bunga tersebut.
"Baiklah, jaga dirimu. Jika perlu sesuatu, jangan ragu hubungi Mama." ucap Ibu Diana lalu menutup toko dan pulang.
.
.
__ADS_1
Bersambung.