Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 74. Pertunangan Alex.


__ADS_3

Tak berapa lama kemudian seorang wanita berkaca mata datang menghampiri dan duduk disebelah nyonya Desi. Wanita itu tersenyum dan menatap Alex yang juga menatap dirinya.


"Nah Rosa, ini dia Feby. Putriku yang akan ku kenalkan dengan Alex putramu," ucap nyonya Desi memperkenalkan putrinya.


"Tante, aku Feby." Sapa Feby lalu menatap Alex. "Hai, aku Feby," ucapnya malu-malu.


Nyonya Rosa tersenyum. "Hai Feby," sapanya. "Desi, putrimu terlihat cantik. Dia sepertinya sangat pintar," sambungnya memuji.


"Dia memang pintar dan cerdas, sudah banyak piagam penghargaan atas prestasi yang dia dapatkan selama menyelesaikan pendidikan," balas nyonya Desi membanggakan putrinya.


"Hebat sekali, sepertinya akan cocok untuk Alex." Nyonya Rosa kemudian menatap Alex. "Ya kan Alex," ucapnya.


Alex hanya tersenyum kecut, sambil menatapi Feby dari atas hingga kebawah. Kalau dari segi penampilan wanita itu memang oke, namun jika dari segi wajah Alex sangat tidak menyukainya.


Karena menurut selera, Feby bukanlah tipe wanita yang dia sukai, tidak seperti Lovely yang begitu cantik dan tidak bosan dipandang mata.


"Cupu," batin Alex.


Sesekali berdecih lalu melempar pandangannya ke sembarang arah dan berharap agar pertemuan sekaligus acara makan ini segera berakhir.


...***...


Setelah menikmati hidangan lezat di restoran itu, nyonya Rosa mulai menanyakan hubungan lebih lanjut kepada Alex.


"Sayang, bagaimana menurutmu Feby itu? Dia sangat manis bukan?" tanya nyonya Rosa.


Alex tersenyum tipis. "Iya dia sangat manis, aku menyukainya," balas Alex dan itu membuat semua orang merasa senang. Terlebih bagi Feby yang sedang dipuji seperti itu oleh seorang pria tampan.


"Syukurlah kalau kamu menyukai Feby, lalu Alex bagaimana dengan hubungan kalian. Apa kau setuju mengenal Feby lebih dekat lagi?" tanya nyonya Rosa membuat semua kembali tegang.


Alex kembali menarik senyum keterpaksaannya. "Kenapa tidak, aku setuju melanjutkan hubunganku dengannya kearah yang lebih serius. Bagaimana denganmu apa kau juga bersedia melanjutkan hubungan ini?" tanyanya kepada Feby.


Gadis itu pun tertunduk malu, kemudian perlahan menganggukkan kepalanya. "Iya aku mau,' ucapnya pelan, namun cukup terdengar untuk semua orang yang duduk di meja itu.


Nyonya Rosa dan nyonya Desi saling bersitatap, kemudian mereka sama-sama tersenyum karena gembira mendengar penerimaan hubungan diantara putra dan putri mereka.


"Syukurlah kalau begitu, Mommy senang mendengarnya!" seru nyonya Rosa kemudian menatap nyonya Desi.


"Desi, mereka telah setuju. Bagaimana kalau kita sekalian mencari hari serta tanggal baik untuk mengikat hubungan mereka," seru nyonya Rosa bersemangat.


"Kau benar Rosa, semakin cepat semakin bagus. Bagaimana kalau tahun depan?" tanya nyonya Desi begitu antusias.


"Ya sudah kalau begitu, bagaimana kalau kita adakan pertunangan mereka terlebih dahulu bulan depan? Setelah itu kita mencari tanggal baiknya," tanya nyonya Rosa.

__ADS_1


"Aku mengikutimu saja Rosa," jawab nyonya Desi.


Mereka semua pun telah setuju dengan saran tersebut dan akan melakukan pengikatan hubungan dengan bertunangan di awal bulan depan.


...----------------...


Mansion Putera.


Beberapa hari kemudian, berita pertunangan Alex dengan Feby telah tersebar kemana-mana, termasuk ke telinga Putera dan Lovely.


Namun Putera masih merasa ada kejanggalan di dalam pertunangan tersebut, dimana Alex bukanlah tipe pria yang menyerah begitu saja dalam meraih sesuatu.


"Kau mencemaskan apa sayang?" tanya Lovely ketika melihat suaminya diam merenung.


Putera menghela nafasnya. "Tidak ada, aku hanya terkejut mendengar pertunangan Alex yang tiba-tiba saja seperti itu."


"Ya aku juga terkejut, tapi bukankah itu bagus. Setidaknya dia tidak mencoba menganggu hubungan kita lagi," balas Lovely.


"Kau benar, kalau dia mau bertunangan dengan wanita lain. Aku lega mendengar itu, setidaknya dia tidak akan mengincar atau mencoba merebut dirimu lagi. Akan tetapi, apakah dia serius dengan wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya? Atau memang dia sedang merencanakan sesuatu?" tanya Putera masih ragu.


"Sayang, untuk apa memikirkan itu semua. Lebih baik kau lupakan saja masalah yang ada di dalam pikiranmu itu. Alex ingin menikah dengan wanita lain, bukankah itu berarti dia telah berubah dan ingin menatap masa depannya," balas Lovely.


Putera mengangguk samar. "Kau memang benar, semoga saja pria itu tulus menikahi wanita pilihannya dan tidak punya maksud tersembunyi lagi," balasnya.


Putera tersenyum kemudian mengusap perut istrinya. "Sayang, aku sudah tidak sabar melihat anak kita."


Lovely tersenyum. "Iya, aku juga sudah tidak sabar berjumpa dengannya. Masih beberapa bulan lagi, kita harus sabar."


"Ya kau benar, masih menunggu beberapa bulan lagi baru ia keluar dari perutmu ini. Sehat-sehat terus ya sayang," ucap Putera memberi kecupan diperut Lovely.


Tapi bukan lelaki namanya jika tidak memakai embel-embel lain, karena dengan sekejap. Kecupan tersebut semakin merambah naik hingga ke atas pegunungan kembar.


Hingga si empunya bergelinjang karena kegelian, akibat pucuk kembarnya di sesap begitu kuat. "Ah Putera! Kenapa kau nakal sekali," desisnya.


Putera terkekeh, senang sekali bisa mengusili istrinya hingga menggeliat seperti itu. "Kenapa? Apa aku tidak boleh menikmati punyamu yang memang sudah menjadi milikku ini hm?" godanya.


"Ya bukannya tidak boleh, hanya saja kau selalu membuatku terkejut, karena menyerang tiba-tiba seperti tadi," balas Lovely mencebik.


"Baiklah jangan marah, kalau begitu boleh tidak aku melanjutkanj?" ucap Putera meminta ijin, dengan tatapan penuh dambanya.


Lovely menghela nafasnya dan tersenyum. "Silahkan, ini kan memang milikmu. Tapi ingatlah, jangan main kasar," ucapnya mengingatkan.


Putera menyeringai, mendapat ijin seperti itu membuat dirinya semakin bernafsu. Lalu tanpa banyak bicara ia menanggalkan satu persatu pakaian yang menempel pada tubuhnya.

__ADS_1


Dan merangkak naik mengungkung raga sang istri, mencumbuiinya dengan penuh kehangatan serta melakukan aktifitas demi memenuhi kebutuhan batin mereka.


...----------------...


Sebulan kemudian.


Sebuah acara pertunangan Alex dengan Feby tengah berlangsung dikediaman nyonya Desi. Acara tersebut berlangsung cukup singkat, karena Alex menolak mengadakan beberapa kegiatan yang menurutnya menghabiskan banyak waktu.


"Cukup tukar cincin saja," ucapnya meminta.


Bukan tanpa alasan ia melakukan hal seperti itu, karena memang Alex sendiri tidak menyukai acara yang berbau keramaian.


Ditambah pasangannya itu bukanlah wanita yang dia cintai, membuat Alex ingin segera menyudahi acara pertunangannya.


"Sudahlah Mom, kami sudah bertukar cincin. Tidak perlu ada acara penutup atau apa lah itu namanya!" bantah Alex menolak.


"Tapi sayang, ini adalah acara penting untuk kalian berdua. Terlebih bagi Feby," ucap nyonya Rosa membujuk.


Karena nyonya Rosa ingin sekali agar Alex mencium kening Feby sebagai sahnya acara pertunangan mereka.


Alex memijat pelipisnya karena pusing, merasa berat sekali melakukan permintaan ringan seperti itu. Tapi bukan karena tidak bisa, melainkan karena ia memang tidak menyukai Feby bagaimanapun bentuknya.


"Geli sekali," batin Alex menatap Feby.


Namun, demi tercapainya keinginan untuk mwnguasai perusahaan sang ayah. Mau tidak mau Alex pun menyanggupi perminfaan tersebut.


"Baiklah Mom, tapi berjanjilah untuk tidak melakukan hal yang lebih daripada ini," ucapnya tegas.


Nyonya Rosa tersenyum. "Iya sayang, mommy berjanji tidak akan meminta yang lain. Sekarang dekatilah calon istrimu dan ciumlah keningnya, karena mommy ingin mengambil foto kalian berdua."


Alex mengangguk pasrah dan mengikuti kemana langkah kaki nyonya Rosa menariknya. Lalu pria itu berdiri berhadapan dengan Feby, sesekali menelan ludahnya susah payah.


"T-tidak!" batinnya menolak mencium.


Pria itu membulatkan tekadnya dan mengingatkan dirinya akan suatu tujuan dan dia memberanikan diri.


Alex memejamkan kedua mata, kemudian membayangkan jika Lovelylah yang sedang berdiri dihadapannya itu dan ternyata cukup efektif.


Karena tiba-tiba ia tersenyum dan meraih kedua wajah sisi Feby dan mencium lembut keningnya. "Lovely, aku mencintaimu," batinnya berucap dengan sang bayangan wanita yang disukai didalam khayalannya.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2