
Alex meneguk ludahnya kasar, setelah melihat keindahan di depan matanya sendiri. Ia gemetaran dan begitu gugup, lalu segera membuang wajahnya ke arah yang lain.
"Kenapa kau tidak berpakaian seperti itu, pakai baju mu cepat!" titah Alex.
Namun Feby tidak ingin mendengarkan, dia malah semakin mendekat dan menarik dagu suaminya agar melihat.
"Gaunnya terlalu tebal dan panas sekali, jadi aku buka saja. Lalu di lemari kita tidak ada baju tidur hanya ada baju dinas yang sekksi, jadi sekalian saja tidak pakai baju," jawab Feby.
Alex beringsut ke tepi, merasa geli sekali didekati seperti itu. "M-menjauhlah, kau membuatku tidak nyaman," ucapnya gugup.
"Alex, untuk apa malu-malu begitu. Seluruh tubuhku ini sekarang adalah milikmu," ucap Feby dengan senyuman menggodanya.
Alex hanya terdiam, sesekali menelan ludahnya yang tercekat. Pria itu dibuat sawan oleh istrinya sendiri. Karena bagaimana tidak, setahu dirinya Feby adalah wanita cupu dan tidak menarik.
Tapi kali ini, kenapa yang dia lihat sungguh sangat berbeda. Ia seperti melihat seorang wanita profesional dalam hal menggoda dan merayu seorang pria.
"Kenapa kau diam dan berkeringat seperti itu? Kau pikir aku tidak bisa menggodamu atau kau berpikir aku adalah wanita culun yang tidak mengerti merayu lelaki seperti dirimu?" cecar Feby menatap tajam.
Alex pun terbata. "T-tidak, b-bukan seperti itu. A-ku hanya tidak terbiasa jika kau mendesak terlalu dekat seperti itu. Aku sangat tidak nyaman sekali," jawabnya.
Karena memang ada sesuatu yang mulai merasa tidak nyaman, yaitu sesuatu yang berada di balik celananya.
Feby menyeringai. "Oh begitu, baiklah, bagaimana kalau begini," ucapnya sambil merangkak naik dan bergelayut manja dengan mengalungkan kedua lengannya pada leher Alex.
Sontak aja pria itu menjadi panas dingin, tubuhnya bergejolak aneh. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang berdiri tegang, setegang menara pemancar listrik bertegangan tinggi.
Feby menarik senyum dan merasakan ada sesuatu yang mengeras dibawah intinya itu. Dengan sigap ia membungkam mulut Alex yang sedang menganga dengan ciuman mautnya.
Sehingga pria itu kewalahan dengan aksi istrinya sendiri. "Oh! Oh tidak perasaan apa ini!" batin Alex tidak mengerti.
Akan tetapi semakin Alex menggeliat, semakin beringas pula Feby memainkan permainannya.
"Siall! Belajar darimana dia ini!" batin Alex lagi-lagi merasa heran dengan aksi Feby yang mencium bibirnya dengan lumattan-lumattan mesra.
Hingga pada akhirnya pria itupun takluk dan menyerah pada permainan Feby, karena reaksi tubuhnya yang tiba-tiba merespon balik kegiatan panas tersebut.
Alex mendorong tubuh Feby dan mengungkungnya tanpa melepaskan pagutan itu, dia melepas celana panjangnya yang menganggu, hingga tinggallah celana boxerr pendek ketat dengan si batang yang sudah menonjol tegang dan mengeras sedari tadi.
Naluri kejantanan pria itu membuatnya mengikuti hasrat yang telah menutupi ubun-ubunnya, ditambah Feby yang selalu saja memancing dirinya untuk terus melakukan kegiatan tidak bermoral namun sah itu.
Alhasil penyatuan mereka pun dimalam pertama itu tidak dapat terelakkan lagi dan Feby menjerit nikmat, membuat Alex semakin beringas memompa dirinya.
Erangan demi erangan, desahh demi desahann. Saling bersautan silih berganti, dimana keduanya sampai lupa diri dan saling memberi kenikmatan sejati.
Hingga tibalah mereka dipuncak aksi tersebut, dimana gelombang kenikmatan sudah berada diujung inti mereka.
__ADS_1
Alex mempercepat gerakannya, membuat Feby jadi kewalahan sendiri. Karena tidak disangka Alex dapat membuatnya meremang tidak karuan. Hingga bergelinjang kesana-kemari tidak beraturan.
Dadanyaa naik turun, dengan nafas yang memburu Feby membusung, merasa iapun akan segera mencapai puncaknya.
"Ah Alex, terus!" lirihnya memekik.
Alex juga sama, dia memekik nikmat. Disaat lahar hangat sebentar lagi memenuhi liang dibawah sana.
Mereka saling meraung, ketika merasakan puncak kenikmatan surgawi dan tubuh keduanya serasa lemas, setelah menegang beberapa saat yang lalu.
Alex memandangi wajah Feby yang bercucuran peluh dan nafas yang terdengar memburu, pria itu telah salah sangka.
Karena nyatanya dia mampu membuatnya tergoda, hingga pada akhirnya lepas kendali seperti ini.
Feby tersenyum dan menatap Alex yang sama lelahnya. "Dengan apa yang terjadi barusan, ku harap kau tidak mengingat wanita itu lagi," ucapnya tersengal.
Alek terpaku, bagaimana bisa Feby tahu jika dirinya masih mengingat Lovely. Pria itu kemudian beranjak dari raga Feby dan duduk ditepi.
"Jangan bicara yang bukan-bukan!" tepis Alex menyangkal pernyataan Feby.
"Jangan menyembunyikannya lagi, aku tahu semua itu dari Mommy. Kau masih memikirkan Lovely, istri dari kakak tirimu. Jadi mommy memintaku untuk membantumu melupakan dia," balas Feby.
Alex menghembus nafasnya kasar dan menatap wajah sensual Feby. "Bagaimana caramu membuatku melupakan wanita itu?" tanyanya.
"Terimalah diriku sepenuh hatimu, maka aku berjanji akan membuang dia jauh-jauh dari hidupmu." Feby menyadarkan kepalanya di bahu kekar Alex.
"Stop!" tegas Alex sambil mencengkram pergelangan tangan Feby sebelum ada yang bangun kembali setelah melemas sehabis pertempuran.
Feby terkekeh, intinya masih terasa nyeri karena hujaman dari milik Alex yang cukup besar dan panjang.
Namun, demi memuaskan hasrat serta bertekad melayani suaminya. Wanita itu kembali melakukan penyerangan-penyerangan lembut, hingga Alex pun tidak kuasa menahan hasratnya yang tiba-tiba bangkit kembali.
Mereka kedua akhirnya kembali bergumull dan menghabiskan malam pertama dengan bertarung dan bertarung hingga pagi menjelang.
...----------------...
Mansion Putera.
Keesokan paginya, Putera masih melanjutkan aksi mogok bicaranya pada Lovely. Karena kejadian semalam di tempat pernikahan Alex.
Pria itu mengacuhkan istrinya sendiri dan menjauh jika sedang didekati, hal tersebut membuat Lovely kesal.
"Ya sudah, kalau memang tidak mau didekati. Maka jangan dekati aku kalau sedang butuh sesuatu!" ucap Lovely tegas, lalu membalikkan badannya meninggalkan Putera sendirian di meja makan.
Pria itu berubah menjadi tidak berselera makan dan menatap istrinya dari kejauhan. "Apa aku sudah kelewatan, sampai dia marah-marah seperti itu," gumamnya tanpa dosa.
__ADS_1
Putera pun akhirnya beranjak dari kursi dan berniat menyusul istrinya yang masuk ke dalam kamar.
"Maaf," ucapnya.
Lovely tidak merespon ucapan tersebut, dia malah sibuk melipat baju yang sudah tersusun rapi didalam lemari.
Putera menghela nafasnya panjang, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Lovely dan tidak lupa memberikan kecupan lembut pada pipi istrinya itu.
"Menyingkirlah dariku," ucap Lovely menolak dna menjauhkan wajahnya.
"Sayang, maaf. Aku sudah minta maaf padamu sekarang maafkanlah aku," bujuk Putera.
"Untuk apa minta maaf, kau tidak salah. Akulah yang salah, karena aku memang istri yang sulit sekali untuk diatur. Tidak mendengarkan nasehatmu," balas Lovely masih mengambek.
Putera tersenyum, kemudian memutar balik raga istrinya agar bisa berdiri berhadapan dan menatap wajahnya. "Sudah jangan dibahas lagi, aku yang salah karena telah mengacuhkanmu. Jangan memgambek lagi ya," ucapnya merayu.
Lovely terdiam dan memalingkan wajahnya, namun dengan segera Putera menarik wajah istrinya itu dan mencium bibir ranumnya.
Pria itu tidak ingin melepaskan ciumannya itu sebelum Lovely memaafkan dirinya, sesekali mengeratkan pelukan agar tidak bisa meloloskan diri darinya.
"Baiklah aku akan memaafkanmu," ucap Lovely sebelum dia mati kehabisan nafas.
Putera menarik senyum, kemudian melepaskan ciumannya dari Lovely. Ia berganti memeluk istrinya, sesekali meremas bokoongg istrinya itu.
"Kau nakal sekali!" cebik Lovely.
Namun Putera terdiam, lalu menatap Lovely. "Beraninya kau menipuku," ucapnya.
"Apa maksudmu, menipu apa?" tanya Lovely kebingungan.
"Ini, kenapa kau tidak bilang padaku kalau sudah selesai datang bulannya," jawab Putera sambil tangannya menyentuh bagian istrinya itu.
Lovely tersenyum. "Maaf, tadinya aku ingin bilqng kemarin malam. Tapi kamu mengacuhkanku, jadi rasakan sendiri akibatnya."
Putera mencebik, lalu menggotong suaminya tanpa basa basi dan menghempaskannya ke atas pembaringan.
"Hei, kau harus pergi kerja." ucap Lovely sambil membelalakkan matanya karena melihat Putera membuka habis seluruh pakaiannya.
Pria itu menyeringai. "Aku akan pergi ke kantor setelah selesai menghukummu," ucapnya.
"Oh tidak! Dia pasti akan membuatku mati lemas," batin Lovely menggeleng.
Putera mencumbuii istrinya dan setelah itu melakukan pemanasan pagi, demi mengasah goloknya yang sudah karatan karena kelamaan menganggur.
.
__ADS_1
.
Bersambung.