
Mansion Putera.
Setelah menikmati makan malam bersama di sebuah restoran mewah, akhirnya Lovely dan Putera telah sampai di rumahnya.
Putera senantiasa memperhatikan Lovely yang sedang murung, lalu menghampiri dan duduk disebelahnya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Putera.
"Tidak ada," balas Lovely lalu melanjutkan kembali lamunannya.
"Apa kau memikirkan perkataan mama Diana di restoran tadi?" tanya Putera mencoba menerka.
"Menurutmu," jawab Lovely.
Putera meraih tangan Lovely dan menggenggamnya. "Lovely, aku tahu kalau kau masih belum siap menyerahkan dirimu seutuhnya padaku. Tapi itu tidak apa, aku mengerti dan aku juga tidak akan memaksakannya padamu. Jadi kau tidak perlu khawatir lagi oke, sekarang istirahatlah. Aku ingin mandi," balasnya kemudian berdiri.
Lovely menelan ludahnya yang tercekat, kemudian mencekal pergelangan tangan Putera yang pergi dari sisinya.
"Kenapa Lovely, apa kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Putera menghentikan langkahnya ke kamar mandi.
"Putera ..." ucap Lovely lalu menatap suaminya.
"Ada apa? Kenapa wajahmu sedih seperti itu?" tanya Putera.
"Yang dikatakan Mama tadi benar, aku adalah istrimu. Sudah seharusnya aku melayanimu dan memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri, jadi Putera aku telah siap dan bersedia menyerahkan diriku padamu malam ini," jawab Lovely dengan semua keberaniannya.
Putera menatap tajam istrinya itu dan menangkup kedua sisi wajahnya. "Apa kau yakin ingin melakukan hal itu tanpa ada keterpaksaan sama sekali? Apa kau tahu aku tidak ingin melakukan itu jika kau hanya berpikir sedang melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri. Asal kau tahu saja Lovely, aku ingin melakukan itu bersamamu atas dasar suka sama suka. Bukanlah dari rasa terpaksa," tegasnya.
Lovely terdiam sejenak menatap mata Putera yang menginginkan dirinya, akan tetapi perkataan pria itu tadi membuat ia mengurungkan kembali niatnya. "M-maafkan aku," jawabnya ragu.
Putera menghela nafas dan menurunkan tangannya dari wajah Lovely. "Sudahlah jangan dibahas lagi, sekarang pergilah tidur. Besok kita harus bangun pagi karena banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan."
Lovely tertunduk lesu, kemudian menatapi punggung suaminya yang sedang memasuki kamar mandi.
"Dia benar, melakukan hal itu harus didasari rasa saling suka sama suka. Kalau tidak bagaimana kita bisa menikmatinya," gumam Lovely kemudian memilih merangkak naik ke atas kasur.
...***...
Lima belas menit kemudian.
__ADS_1
Putera telah selesai membersihkan diri dan mengeringkan rambutnya yang basah sehabis keramas menggunakan handuk.
Pria itu juga bertelanjang dada dan menutupi bagian sensitifnya hanya dengan sepotong handuk putih kecil yang melingkar dibagian pinggangnya, karena lupa membawa baju salinan ke dalam kamar mandi.
Ia pun bergegas pergi ke lemari pakaian, sesekali menatap ke arah Lovely yang sedang berbaring diatas kasur membelakangi dirinya. "Apa dia sudah tidur?" tanyanya pada diri sendiri.
Lalu Putera mengambil baju tidurnya dan segera berpakaian. Selain karena suhu ruangan yang cukup dingin, ia juga tidak mau Lovely sampai melihat benda pusaka keramatnya.
"Dia bisa berpikir yang bukan-bukan padaku nanti," gumamnya tergesa.
Namun karena saking tergesanya, Putera sampai terantuk kakinya sendiri dan terlilit kain saat hendak memakai celana tidur.
Membuat dirinya menjadi hilang keseimbangan dan terjinjit-jinjit cepat sekali seperti orang yang sedang lomba balap karung.
Hingga kakinya terantuk sisi ranjang dan mengakibatkan dirinya jatuh keatas kasur, dimana Lovely baru saja membalikkan badannya karena mendengar suara berisik.
Alhasil kejadian cepat tersebut membuat keduanya tidak bisa menghindar, apalagi Lovely yang tiba-tiba tertindih oleh raga kekar Putera hanya bisa membelalakkan kedua matanya dan berusaha mencerna kejadian yang sedang terjadi kepada dirinya.
"M-maaf," ucap Putera dengan posisi kini mengungkung raga Lovely.
Kedua wajah mereka memerah seketika, mengingat tubuh Putera yang masih polos tanpa mengenakan sehelai benang pun.
"A___!" Putera segera membungkam mulut Lovely menggunakan satu tangannya agar tidak berteriak dan membangunkan seisi rumahnya.
"Jangan berteriak Lovely, aku bisa jelaskan semua ini padamu. Tadi aku sedang pakai celana, tapi kakiku terlilit kain celana panjang ini, jadi aku hilang keseimbangan dan tidak sengaja jatuh menimpahmu. Maafkan aku, ini semua salahku karena tidak membawa pakaian ke kamar mandi," ucap Putera menjelaskan kejadian yang terjadi barusan.
Sedangkan Lovely masih berusaha menetralisir rasa terkejutnya, lalu menggeliat agar Putera menyingkir dari atas tubuhnya karena tidak nyaman berlama-lama dengan posisi seperti itu.
"Maaf, aku lupa." Segeralah dia menarik diri dan menjauh.
"Ya sudah tidak apa-apa, cepatlah pakai bajumu itu agar tidak kedinginan," balas Lovely sambil memegangi dadanya yang berdegub kencang.
Putera mengangguk pelan dan mulai memakai pakaian ya kembali, sesekali melihat Lovely yang masih asyik membelakangi dirinya.
"Sudah belum?" tanya Lovely.
"Sudah," jawab Putera kemudian naik ke sisi ranjang dan duduk di sebelah Lovely.
Kejadian tadi membuat keduanya menjadi tidak bisa tidur, karena mereka larut dalam pikiran masing-masing. Lalu keduanya saling menatap satu sama lain dan akhirnya mereka memutuskan untuk berbincang.
__ADS_1
"Lovely, minggu depan adalah pernikahan Papa dan Mama Diana. Bagaimana menurutmu?" tanya Putera kemudian berbaring dengan kedua tangan memangku kepalanya.
"Apanya yang bagaimana, aku senang akhirnya mereka menemukan pasangannya dan aku berharap mereka berdua bisa hidup bahagia," balas Lovely.
"Lalu bagaimana denganmu, apa kau bahagia hidup bersama denganku?" tanya Putera.
"Bagaimana aku bisa tidak bahagia, aku punya suami yang baik dan kaya raya. Apa yang aku inginkan bisa terbeli dengan mudah, belum lagi papa mertuaku yang sangat baik hati sekali. Lalu Putera bagaimana denganmu, apa kau bahagia?" tanya balik Lovely.
Putera tersenyum sambil melemparkan pandangannya ke arah langit-langit kamar. "Aku bahagia karena bisa tinggal bersama denganmu. Tapi kebahagiaanku akan lengkap kalau kau sudah menerimaku sepenuh hatimu," balasnya.
Lovely terkesiap dan menatap Putera yang terdiam menatap langit-langit kamar, kemudian wanita itu ikut berbaring dan berusaha mendekatkan dirinya, lalu memeluk lembut tubuh suaminya.
"Kau," ucap Putera terkejut saat Lovely memeluk dirinya.
"Kurasa tidak ada salahnya tidur berpelukan seperti ini, anggap saja sedang memeluk bantal guling," balas Lovely tersenyum lembut sambil memejamkan kedua matanya.
Putera mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali, perasaan senang langsung menerpa hatinya dikala Lovely akhirnya mau memeluk dirinya. "Kalau begitu bolehkah aku tidur dengan memelukmu sampai pagi?" tanyanya antusias.
Lovely tersenyum dan mengangguk cepat. "Boleh, silahkan peluk saja. Lagipula aku juga tidak ingin tidur kedinginan," balasnya yakin.
Mendapat ijin seperti itu, membuat Putera dengan segera melingkarkan kedua tangannya di tubuh Lovely dan mulai merasakan kehangatan disaat itu juga.
Aroma wangi tubuh Lovely pun akhirnya menguar kedalam indera penciumannya dan mulai terekam didala memori seakan menjadi candu bagi dirinya sendiri.
Namun ada satu masalah yang muncul, tidur berpelukan seperti itu membuat sesuatu di dalam celananya menjadi terbangun. "Oh jangan sekarang," umpat Putera pada belut listriknya.
Karena sang belut tiba-tiba on begitu saja, sedangkan gesekkan tubuh Lovely membuat dirinya semakin menegang, alhasil Putera hanya bisa menelan ludahnya susah payah.
"Matilah aku," gumam Putera membayangkan belutnya harus bangun terus sepanjang malam hingga pagi mendatang.
.
.
Bersambung.
...----------------...
Ah sayang sekali tidak ada adegan uhuk uhuknya. Mungkin lain kali ya.. Hihihi
__ADS_1