Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 67. Pergilah dari sini!


__ADS_3

"Papa," ucap Putera kepada Tuan Dira yang baru saja tiba di rumahnya. Kemudian menatap tajam wanita yang berdiri dibelakang ayahnya itu.


"Kenapa wanita itu masih disini?" tanya Putera sedikit membentak. "Apa sebenarnya tujuanmu datang kesini dan apa yang kau inginkan dari kami hah?"


Nyonya Rosa terkesiap melihat Putera menghampiri dirinya dengan tatapan mata yang begitu menakutkan. "S-sayang ..." ucapnya terbata.


"Jangan pernah memanggilku sayang, aku tidak sudi kau bilang seperti itu. Katakan kenapa kau datang kesini, bukankah kau sudah pulang. Kenapa kembali lagi kesini, apa kau ingin menghancurkan hubungan papa dan mamaku yang sudah bahagia ini hah?" tanya Putera bertubi-tubi.


Nyonya Rosa terdiam membisu, ia hanya bisa menundukkan wajahnya dan merasa sedih dengan kebencian anaknya yang sudah terlalu dalam itu.


"Putera ..." lirih nyonya Rosa.


Lovely segera menenangkan Putera yang mulai menunjukkan sikap anarkis. "Putera, jangan seperti itu kepada Mamamu sendiri. Walau bagaimanapun dia itu adalah mama kandungmu," ucapnya menyela.


Putera berganti menatap tajam Lovely. "Dia memang Mama kandungku, tapi dia bukan Mamaku yang sesungguhnya. Bayangkan saja bagaimana bisa wanita ini begitu tega meninggalkan anak dan suami yang begitu mencintainya demi seorang laki-laki lain. Lalu setelah kami menemukan kebahagiaan masing-masing. Kenapa dia datang tiba-tiba seperti ini? Jika tidak punya tujuan tertentu, lalu apa namanya?"


Putera kemudian menatap nyonya Rosa kembali. "Pergilah dari sini dan kembalilah ke rumah suamimu, karena apapun masalahmu disana itu bukan urusan kami."


Nyonya Rosa menangis, sebegitu bencinya Putera kepada dirinya. Hingga tega mengusirnya secara terang-terangan di depan banyak orang.


"Maafkan Mama Putera, Mama memang tidak pantas menjadi mamamu. Tapi jujur Mama begitu menyayangimu," ucap Nyonya Rosa.


"Pembohong! Jika kau menyayangiku, maka kau tidak akan meninggalkanku dan juga Papa. Sekarang pergilah dari sini!" Putera mencekal pergelangan tangan Nyonya Rosa, kemudian menarik wanita itu keluar dari rumah Tuan Dira dan mendorongnya hingga tersungkur.


"Akh!" pekik Nyonya Rosa, tubuhnya sudah terduduk dibawah.


Sedangkan Lovely beserta Ibu Diana dan juga Tuan Dira langsung tercengang dibuatnya, mereka bertiga pun menghampiri Putera dan berusaha meredam amarah pria itu.


"Putera, jangan bertindak kasar seperti itu!" bentak Tuan Dira menghadang tubuh Putera agar tidak berbuat lebih buruk lagi.


Sementara itu Ibu Diana dan Lovely membantu Nyonya Rosa untuk berdiri. "Apa kau tidak apa-apa?" tanya Ibu Diana.


"Aku tidak apa-apa, Putera benar. Aku seharusnya pergi dari sini dan tidak mengemis perhatian dan juga kasih dari kalian lagi. Aku juga seharusnya tidak berada di tengah-tengah kalian," ucapnya menangis.

__ADS_1


Wanita itu begitu terluka hatinya, penolakan dari anak kandung sendiri nyatanya lebih menyakitkan daripada penolakan dari sang mantan suami.


Hingga akhirnya Nyonya Rosa pergi dari rumah itu dalam kondisi menangis pilu, namun dengan segera Lovely menghadangnya.


"Jangan pergi dari sini, walau Putera tidak menganggapmu sebagai mama kandungnya. Tapi bagaimanapun juga kau tetap mama mertuaku, bagaimana aku bisa melihatmu pergi dalam kondisi seperti ini," ucap Lovely kemudian menatap suaminya.


"Putera, aku tahu kau tidak menyukai mama mu ini. Tapi jangan pernah bertindak apapun yang dapat membuatmu menyesal nantinya," ceramah Lovely.


Putera berdecak. "Apa yang harus aku sesali, justru aku tidak menyesal jika dia pergi dari sini dengan segera."


"Putera," ucap Lovely dengan sedikit penekanan.


"Sudah cukup Lovely, aku tidak ingin mendengar apapun tentang pembelaanmu terhadap wanita ini. Dia seharusnya pergi dari rumah Papa," ucap Putera berkacak pinggang.


Tuan Dira menghela nafas dan menghampiri nyonya Rosa. "Rosa, aku tidak tahu masalahmu dengan Peter seperti apa. Tapi setelah melihat kejadian ini, aku harus membuat keputusan."


Nyonya Rosa hanya diam mendengarkan dan menerima apapun keputusan dari mantan suaminya itu. "Kau harus pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi."


Semua orang tertegun mendengar hal tersebut, terlebih untuk Nyonya Rosa pribadi. "T-tapi bagaimana dengan Peterson, bagaimana jika dia marah atau tidak ingin menerimaku kembali. Aku takut sekali dia akan mencelakaiku setelah tahu aku telah tinggal bersamamu."


Kemudian pria itu mengambil sebuah mobil dan mengajak Nyonya Rosa untuk masuk ke dalam. "Cepatlah naik, aku akan mengantarmu pulang."


Nyonya Rosa tidak ada pilihan lain selain mengikuti keinginan dari Tuan Dira, yaitu pulang ke rumah suaminya. Dan sebelum wanita itu meninggalkan kediaman sang mantan suami, ia menyempatkan diri untuk berpamitan dengan semua orang.


"Maafkan Mama, karena selama ini tidak bisa menjadi orang tua yang terbaik untukmu. Mama akan selalu menyayangimu Putera," hanya itu yang diucapkan Nyonya Rosa, namun Putera tidak bergeming sedikitpun.


"Kau menantuku, terima kasih karena membela dan juga menganggapku sebagai mertuamu." Nyonya Rosa membelai wajah Lovely dan mencium pipi kanan dan kiri menantunya.


"Sama-sama," balas Lovely tersenyum.


Kemudian, ia juga berpamitan kepada Ibu Diana. Wanita yang kini telah berstatus istri Tuan Dira. "Maafkan aku karena telah membuatmu tidak nyaman, aku hanya bisa mengucapkan terima kasih karena kau masih sudi menerima dan juga mengurusku."


"Jangan sungkan seperti itu, aku tidak merasa keberatan. Jaga dirimu baik-baik dan ku harap kau bahagia selalu," ucap Ibu Diana.

__ADS_1


"Kau berusia jauh dibawahku, tapi kau lebih dewasa daripada aku. Kau juga cantik seperti bunga-bungamu, ku harap kau juga bahagia bersama keluarga barumu." Nyonya Rosa tersenyum.


Lalu Ibu Diana membalas dengan senyuman, kemudian mereka pun berpisah. Setelah mobil yang dilajukan oleh Tuan Dira keluar dari mansion itu.


Ibu Diana menghela nafasnya panjang, walau dia tahu hatinya sedikit tidak suka kepada Nyonya Rosa. Akan tetapi saat melihat hati wanita itu bersedih, dia pun turut merasa sedih. Dimana Putera tidak menerima nyonya Rosa sebagai orang tua kandungnya hingga detik ini.


...***...


Mansion Putera.


Selama perjalanan pulang ke rumah Lovely selalu mengerucutkan bibirnya dengan raut wajah masam , karena Putera tidak mendengarkan nasehatnya tadi saat mendorong nyonya Rosa.


Wanita itu bahkan menepis tangan suaminya yang ingin memeluknya karena masih kesal.


"Jangan pegang-pegang!" cebiknya.


"Lovely kenapa mukamu masam saja dari tadi? Apa salahku?" tanya Putera terheran-heran.


"Kau pikir saja sendiri, aku ingin mandi!" balas Lovely kemudian meninggalkan Putera yang masih duduk di kursi mobil.


"Dasar lelaki kasar, tega sekali dia mendorong ibu kandungnya sendiri. Apa dia tidak takut durhaka?" sepanjang perjalanan ke kamar wanita itu terus saja menggerutu, menyayangkan sikap arogan Putera kepada ibunya sendiri.


Namun, Putera yang tahu rasa kesal Lovely akibat dirinya dengan segera ia meminta maaf. "Maaf, aku membuatmu kesal. Tapi mengertilah, aku melakukan itu karena rasa benciku padanya."


"Tapi, apakah kau harus mendorong mamamu sendiri hingga tersungkur seperti itu. Mana rasa hormatmu Putera, kenapa kau lebih mementingkan egomu daripada rasa kasihan dihatimu itu hah?" ucap Lovely tidak habis pikir.


Putera meraup wajahnya. "Iya maaf, tapi jangan marah kepadaku. Aku juga melakukan hal itu begitu saja dan aku menyesalinya."


Lovely lantas membuang wajahnya. "Jangan minta maaf padaku, minta maaflah pada mamamu itu. Dia yang seharusnya mendapatkan hak ini daripada diriku."


Putera menghembus nafasnya kasar dan terus mengikuti kemana langkah kaki istrinya itu pergi, meminta maaf dan menyesali perbuatannya demi keutuhan hubungan mereka agar tidak ada jarak diantaranya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2