Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 37. Tertangkap basah.


__ADS_3

Sementara itu di ruang kerja Putera.


Emily membawa laporan perbaikan yang sebelumnya di kembalikan oleh Putera kepadanya, karena ada beberapa kesalahan dalam peng-inputan data.


"Kenapa laporanmu ini selalu saja banyak yang salah?" tanya Putera mencoba mengoreksi kembali.


Emily tersenyum. "Kalau laporanku selalu benar semua, bagaimana aku bisa menemuimu setiap hari," balasnya merayu.


Putera tersenyum tipis dan menatap Emily yang selalu berpenampilan sekssi. "Kau selalu saja menggodaku, apa kau selalu seperti ini dengan pria lain hem?"


"Aku pemuas nafsuu para pria, sudah pasti aku akan menggoda pria manapun yang mampu membayarku dengan harga mahal," balasnya tanpa malu.


Putera menutup laporannya dan menatap Emily dari atas hingga ke bawah. "Apa kau punya waktu senggang setelah pulang bekerja nanti?" tanyanya.


Emily tersenyum. "Bukankah kau sengaja menaruhku untuk bahan praktekmu, lalu kenapa masih bertanya ada waktu atau tidak. Aku milikmu sayang, kapan pun kau membutuhkan diriku untuk memuaskanmu. Maka aku sudah pasti akan siap sedia," balasnya sekssi.


"Kalau begitu datanglah ke hotel jam tujuh malam, kita akan menghabiskan malam minggu bersama disana," ucap Putera mengajak.


Emily menarik senyum dan menarik dagu Putera agar menatapnya. "Apa kau serius dan yakin dengan keputusanmu itu?" tanyanya merayu.


Putera mengangguk. "Sudah pasti aku serius dan yakin dengan keputusanku, karena aku sudah muak ditolak terus olehnya," balasnya dan merasa kesal jika mengingat kejadian kemarin bersama dengan Lovely.


Emily menarik senyum. "Kasian sekali, kau pria tampan, seharusnya tidak boleh di sia-siakan begitu saja. Tapi, mengapa kau tidak berpisah saja kalau sudah merasa muak dengannya?"


Putera menghela nafas. "Aku ingin memberinya pelajaran, bahwa seorang istri tidak boleh menolak keinginan suaminya sendiri. Karena jika tidak, maka dia akan menyesal suatu hari nanti dan itu lah yang sedang ku tunjukkan kepada Lovely, agar dia sadar akan posisinya."


Putera kemudian menatap dan membelai wajah Emily. "Untuk itulah aku tidak ingin berpisah darinya, agar dia melihat sendiri bahwa aku juga bisa mencari dan menundukkan wanita lain. Dan dengan begitu dia akan sadar lalu menyesali karena telah menolakku. Selain itu aku juga ingin dia menjadi istri yang tunduk kepadaku," ucapnya yakin.


"Jadi kau ingin membalas dendam karena keinginanmu yang selalu saja di tolak olehnya?" tanya Emily.


"Hem, menurutmu?" tanya Putera.


"Menurutku kau hanya memanfaatkan aku untuk menyakiti hatinya saja, tapi tidak apa. Aku juga tidak peduli dengan semua itu, karena selama aku mendapatkan uang banyak dan juga kepuasan diwajah pelangganku, maka aku tidak pernah merasa keberatan kau menggunakan jasaku itu," balas Emily.


Putera menarik pinggang Emily agar mendekat dan mengusap bibir sensualnya menggunakan ibu jari. "Kau selalu mengerti diriku," ucapnya, kemudian diakhiri dengan satu ciuman mesra.


Namun belum sempat ciuman itu berakhir, sepasang mata melihat adegan tersebut.


"PRANG!!"


Bekal makan siang di tangan Lovely terjatuh begitu saja diatas lantai dan membuat seisi makanan didalamnya tumpah ruah kemana-mana.


Begitu pula dengan Putera dan Emily yang segera berhenti dari aksinya, sesaat mendengar suara gaduh yang terjadi tepat di muka pintu.


Mereka terbelalak bersamaan, ketika mendapati Lovely telah berdiri mematung dan memandang ke arah mereka berdua dengan tatapan terkejut, sambil menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangan.

__ADS_1


Putera melepaskan tangannya dari pinggang Emily dan meminta dirinya untuk pergi dari ruangannya sesegera mungkin.


Emily mengerti dan segera keluar dari ruangan Putera, kemudian melewati Lovely yang sedang diam membeku begitu saja di depan pintu.


...***...


Lovely segera tersadar dari lamunannya, lalu memunguti semua makanan yang berserakan di lantai dengan tubuh yang terus saja bergetar hebat.


Entah mengapa hatinya terasa sakit, ketika melihat suami yang tidak ia cintai itu tertangkap basah sedang bermesraan dengan wanita lain tepat di depan mata kepalanya sendiri.


"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam ruanganku hah?" ucap Putera sambil menatap Lovely yang sedang berjongkok mengambil sisa nasi yang tercecer di lantai.


"M-maaf ..." jawab Lovely bergetar menahan tangisnya.


"Mau apa kau datang kesini? Apa ingin mengangguku bekerja atau ingin memarahiku saat melihat adegan tadi?" tanya Putera.


Lovely terdiam tidak mau menjawab, dirinya hanya fokus membereskan bekal makan siang suaminya yang terjatuh dilantai.


Lalu segera berbalik untuk pergi dari sana, namun Putera tidak membiarkan Lovely pergi begitu saja. Dengan cepat dia menarik tangan Lovely dan mengunci pintu agar tidak kabur.


"Mau pergi kemana?" tanya Putera.


"Biarkan aku pergi," lirih Lovely.


"Tidak, untuk apa aku menangis. Kau ingin berhubungan dengan siapapun atau wanita manapun aku tidak peduli. Justru itu bagus, setidaknya aku bisa segera lepas darimu," balas Lovely.


"Kau tidak peduli padaku, lalu untuk apa repot-repot datang kesini dan membawa makan siang untukku?" tanya Putera.


"Kau salah mengira, aku datang kesini karena dipanggil Papa dan bekal ini baru saja aku ingin membuangnya," balas Lovely memalingkan wajahnya.


Putera menarik dagu Lovely. "Apa kau marah melihat aku berciuman dengan wanita lain? Apa kau juga mau aku cium, hem?" tanyanya tersenyum.


Lovely menepis tangan Putera dari wajahnya, lalu menampar wajah pria tampan itu hingga bergema dan memenuhi seisi ruangan.


"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu atau berusaha merampas sesuatu lagi yang bukan hak milikmu. Aku benar-benar jijik denganmu Putera dan aku benar-benar membencimu! Sekarang aku ingin berpisah darimu!" sentaknya gusar.


Putera mengepal erat kedua tangannya dan meninju dinding disebelah wajah Lovely dengan keras hingga bergetar, untuk meluapkan rasa amarahnya.


"Kau tidak boleh membenciku dan selamanya aku tidak akan membiarkan kau berpisah dariku! Kau milikku selamanya, apa kau mengerti!" sentak Putera.


Lovely mendorong Putera agar menjauh darinya. "Kau sudah gila, aku membencimu!" sentak nya lalu pergi.


"Lovely!" panggil Putera berteriak.


Lovely membuka pintu, namun pintu yang masih terkunci membuat ia tidak bisa keluar dengan mudah. "Berikan aku kuncinya!" tegasnya meminta.

__ADS_1


"Ambil sendiri kesini kalau bisa," balas Putera sambil menunjukkan kunci yang tergantung tinggi di tangannya.


"Kau pria menyebalkan dan sudah tidak waras, kau telah berselingkuh dengan wanita lain, tapi kau juga tidak ingin aku pergi darimu. Sebenarnya apa yang sedang ingin kau tunjukkan padaku dan mengapa kau tega berbuat seperti itu padaku!" sentak Lovely.


Wanita itu mulai menangis terisak dan memaki Putera karena kesal. "Kau pria tidak tahu malu, sekarang biarkan aku pergi dari sini. Aku tidak ingin bersamamu lagi, jadi lepaskanlah aku."


Bersamaan dengan hal tersebut, sebuah pintu ruangan kerja Putera yang terkunci rapat di dobrak oleh Tuan Dira.


"Papa ..." lirih Lovely kemudian berlari ke arah Tuan Dira.


"Jangan menangis, sekarang pulanglah. Biarkan Papa yang menangani Putera disini," ucapnya lalu menatap geram anaknya sendiri.


Lovely mengangguk patuh, lalu pergi dari sana dan pulang ke rumah dengan diantar oleh supir pribadinya Tuan Dira.


"Kenapa Papa ikut campur masalah rumah tanggaku dengan Lovely?" tanya Putera dengan tatapan tidak suka.


Bukannya menjawab Tuan Dira lantas menarik kerah baju Putera dan menamparnya dengan keras.


"Dasar anak tidak tahu malu, kau berselingkuh dengan wanita lain di perusahaan ku ini bahkan didepan istrimu sendiri! Apa kau sudah tidak waras hah!" ucapnya merasa gemas.


"Itu bukan urusanmu," balas Putera sambil menepis tangan Tuan Dira dari kerah kemejanya.


"Kau!" Tuan Dira menarik kembali kepalan tangannya.


"Kenapa berhenti memukulku, pukul saja wajahku ini atau bunuh saja aku. Kau sebut wanita yang pergi tadi itu istriku? Dia tidak lebih dari sekedar wanita kaku, dia bahkan tidak bisa memenuhi keinginan suaminya sendiri!" sentak Putera.


Tuan Dira meremas kedua bahu Putera. "Putera anakku, sadarlah. Lovely sedang berusaha menerimamu, namun apa yang dia lihat hari ini sudah pasti menguncang hatinya. Kau begitu terburu nafssu sampai tidak bisa memahami istrimu sendiri."


"Apa kau tahu, dia datang ke tempat ini dan telah bersedia untuk tidak berpisah darimu. Dia juga sedang berusaha menerimamu sebagai suaminya secara perlahan. Bahkan dia menemuimu karena ingin meminta maaf kepadamu secara langsung."


Tuan Dira meraup wajahnya karena kesal. "Tapi apa yang Papa lihat ini, kau malah menunjukkan sikap burukmu kepadanya. Oh Putera, kalau sudah begini maka jangan salahkan Lovely jika dia ingin berpisah darimu dan Papa juga sudah tidak punya muka lagi untuk menahannya untuk tidak pergi."


"Putera, jangan ulangi kesalahan Papa sewaktu lalu. Atau kau akan menyesal seumur hidup! Sekarang kejarlah dia dan minta maaflah padanya!" titah Tuan Dira.


Putera terdiam dan berusaha mencerna semua perkataan dan juga nasehat dari ayahnya sendiri. Seketika dia tersadar oleh ulahnya sendiri dan merutuki kebodohannya selama ini.


"Lovely ..." lirihnya.


"Lovely jangan pergi!" pekik Putera kemudian menyusul Lovely pulang ke rumah.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2