
Perusahaan Mahesa.
Tuan Dira bercerita tentang segala peristiwa mengenai keluarga Lovely beberapa hari yang lalu kepada Opa Mahes dan juga menantu mereka yang telah kembali ke rumah Putera.
Opa Mahes turut berduka atas meninggalnya pak Marsan dan merasa senang karena Lovely telah kembali ke rumah cucunya.
"Yang kau lakukan sudah benar Dira dan Papa juga berharap mereka bisa segera bersatu agar perusahaan ini memiliki penerus," ucap Opa Mahes berharap.
"Tenang saja Papa, aku yakin mereka akan bersatu jika sudah sering bersama. Lagipula aku dan Diana tidak akan membiarkan mereka berpisah lagi," balas Tuan Dira.
Opa Mahes tersenyum, melihat anaknya kembali bersemangat membuat pikirannya terlintas akan sesuatu.
"Dira ..." panggil Opa Mahes.
"Iya Papa, ada apa?" tanya Tuan Dira.
"Aku senang melihatmu kembali tersenyum dan bersemangat seperti ini, seandainya saja kau juga membuka lembaran baru seperti anakmu itu," harap Opa Mahes.
"Aku sudah tua Papa, umurku saja sudah menginjak kepala enam dan aku sudah puas hidup menyendiri seperti ini," balas Tuan Dira.
"Dira, Papa ingin sekali melihatmu memiliki pendamping kembali. Pendamping yang bukan hanya setia menemanimu seumur hidup, tetapi teman yang bisa berbagi suka maupun dukamu," ucap Opa Mahes.
Tuan Dira lantas berpikir, adakah wanita yang seperti itu didalam hidupnya. "Papa, wanita yang ku cintai telah pergi dan aku tidak memiliki wanita spesial lainnya didalam hatiku ini," balasnya menggeleng pelan.
Opa Mahes tersenyum dan menggenggam tangan Tuan Dira. "Ada ... Ada satu wanita yang menurut Papa paling spesial dihatimu," ucapnya yakin.
Tuan Dira menautkan kedua alisnya. "Siapa? Papa, selama aku bercerai dengan Rosa, tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisinya di dalam hatiku," balasnya ragu.
Opa Mahes menatap Tuan Dira. "Cobalah pikirkan lagi, apakah kau yakin dengan jawaban hatimu itu? Apa kau yakin tidak ada wanita lain selain Rosa di dalam hati kecilmu itu?" desak Opa Mahes menunjuk dada putranya.
Tuan Dira lantas membuka hati kecilnya dan berpikir, lalu mencoba menggorek isi hatinya yang paling terdalam.
Seketika itu pula terlintas satu nama yang selalu saja ada dan menemaninya dikala sedih maupun senang, yang setia mendengarkan keluh kesah ataupun kebahagiannya.
"Diana ..." batinnya menyebut nama itu.
Opa Mahes tersenyum, setelah melihat kebungkaman putranya sendiri. "Apa kau sudah menemukannya?" tanyanya langsung.
Tuan Dira menggeleng. "Tidak Papa, tidak ada yang lainnya."
"Dira kau bisa membohongi Papa, tapi tidak bisa membohongi hatimu sendiri. Papa tahu kau sudah menemukan jawabannya dan Papa berharap kau menuruti hati kecilmu itu," ucap Opa Mahes memberi saran.
__ADS_1
Tuan Dira terdiam cukup lama dan tersenyum. "Aku tidak bisa seperti itu Papa, Diana memang dekat denganku selama ini. Tapi kami hanyalah teman biasa dan tidak saling mencintai," balasnya menolak.
"Apa Papa menyebut nama Diana padamu, hem?" tanya Opa Mahes yang ternyata menjebak Tuan Dira, agar mau menyebut siapa lagi nama wanita lain selain Rosa didalam hati putranya itu.
"A-apa ..." balas Tuan Dira terbata dan menjadi salah tingkah.
Opa Mahes terkekeh. "Dira, jangan menipu kakek tua ini. Bagaimana kalau kau menjalin hubungan yang serius bersama Diana, dan dengan begitu kalian bisa tinggal dan hidup bersama dalam satu ikatan keluarga."
Tuan Dira menggeleng cepat. "Tidak mungkin Papa, kami berdua tidak saling mencintai. Sudahlah jangan membahas tentang kesendirianku lagi, aku belum bersedia menikah dengan wanita manapun. Lagipula aku sudah tua, tidak pantas mencari wanita lain."
Opa Mahes terlihat lesu, sebenarnya dia ingin sekali melihat Tuan Dira mendapatkan teman hidup, agar tidak kesepian saat sudah renta nanti.
"Ya sudah tidak apa-apa, tapi Papa berharap sekali bisa melihatmu menikah dan mendapatkan teman hidup. Karena tidak selamanya anak akan bersama dengan kita, mereka juga harus bersama dengan keluarga barunya dan disaat itu terjadi, barulah kita menyadari akan kesepian dalam hidup."
"Papa, jangan bersedih. Mengertilah Papa, tidak selamanya apa yang kita inginkan bisa terwujud. Aku berharap Papa tidak menaruh harapan besar padaku lagi," balas Tuan Dira menegaskan.
Opa Mahes mengangguk pelan. "Ya kau benar, tidak semua keinginan bisa diwujudkan. Tapi apa salahnya punya keinginan, toh keinginan Papa hanya ingin melihat kamu bahagia sekali lagi."
Tuan Dira hanya bisa menghela nafas panjang dan menatap wajah orang tuanya yang sudah keriput termakan usia. Ada perasaan tidak tega saat menolak apapun keinginannya, dan bagaimana jika ia meninggalkan dunia ini dengan beban yang belum terwujud.
"Baiklah Papa, aku akan coba membuka lembaran baru dengan wanita lain. Tapi jika aku dengan Diana tidaklah berjodoh, maka aku tidak ingin melanjutkannya," balas Tuan Dira.
Opa Mahes mengembangkan senyumannya hingga melebar. "Benarkah, kau akan mewujudkan keinginan Papa itu?" tanyanya.
Opa Mahes mengucap syukur dan tak terasa ia sampai menitikkan air mata kebahagiaannya. "Terima kasih Dira, Papa doakan kau akan berhasil mendapatkan dia dan Papa yakin kau akan mendapatkan kebahagiaan saat bersama dengan dirinya nanti."
Tuan Dira tersenyum, tapi bagaimana cara ia mendapatkan hati wanita lain, mengingat wanita itu baru saja kehilangan pria yang pernah mengisi relung hatinya.
"Jangan terlalu banyak berpikir Dira, jalanilah hidupmu dengannya seperti biasa. Papa yakin seiring berjalannya waktu, hubungan kalian bisa lebih dekat lagi," balas Opa Mahes menepis semua keraguan didalam hati putranya.
...***...
Divisi keuangan.
Lovely ditempatkan dibagian keuangan, menggantikan posisi Emily sebelumnya yang sudah dipecat secara tidak terhormat oleh Tuan Dira.
Ada kekesalan didalam hatinya, saat mengingat wajah wanita penggoda itu. Alhasil Lovely pun tidak tergerak untuk memakai seluruh peralatan bekas selingkuhan suaminya tersebut.
"Kenapa tidak memulai bekerja dan kenapa kau masih berdiri disini?" tanya Putera.
"Aku tidak mau duduk disini dan memakai semua peralatan bekas ini!" balasnya sembari mencebik.
__ADS_1
"Semua peralatan disini masih baru dan masih berfungsi dengan baik, lalu kenapa kau menolak memakai semuanya?" tanya Putera merasa bingung.
Sungguh tidak peka sekali pria itu, menyuruh istrinya sendiri untuk duduk ditempat bekas bokongg selingkuhannya.
"Maaf Pak Putera, mungkin dia tidak mau memakai semua ini karena bekas Emily," bisik Martin di telinga bosnya.
Putera lantas terkesiap dan menatap Lovely yang membuang mukanya tidak mau menatap semua barang kantor bekas peninggalan Emily.
"Maaf, aku tidak memikirkan perasaanmu. Sekarang juga aku akan mengganti semua peralatan kantor disini dengan yang baru," ucap Putera lalu meminta Martin mengganti semua.
"Cepatlah ganti semua ini dengan yang baru, aku ingin membuat istriku senyaman mungkin di tempat barunya saat bekerja!" titahnya pada Martin.
"Baik, siap Pak. Segera dilaksanakan!" patuh Martin lalu bergegas menyiapkan segalanya.
Setelah kondisi ruang itu sepi Putera lantas menghampiri Lovely, mimpi kotor semalam membuat pikirannya tidak bisa lagi berpikir dengan jernih.
Namun sebisa mungkin ia membuang pikiran kotornya itu jauh-jauh, karena dia tidak ingin membuat kesalahan yang sama sebelumnya.
Pria itu lalu menarik pinggang istrinya agar merapat. "Lovely, apa kau masih marah padaku karena mengingat kejadian waktu itu? Kalau masih, bisakah kau melupakan hal tersebut dan memaafkan diriku ini. Aku ingin kita memulai lembaran yang baru," ucapnya lembut.
"Putera, aku memang marah sekali saat melihatmu bersama dengan wanita lain. Walau aku tidak tahu mengapa aku marah seperti itu padamu. Tapi perbuatanmu bersama dengan wanita itu membuat hatiku sakit, sampai aku sulit sekali untuk memaafkanmu. Lalu Putera hingga detik ini aku masih berusaha menerimamu sebagai suamiku," balas Lovely.
"Kau sakit hati? Apa kau merasa cemburu saat aku melakukan hal itu bersama dengan wanita lain?" tanya Putera senang mendengarnya.
"Menurutmu?" tanya balik Lovely.
"Maaf, aku berjanji tidak akan melakukan itu lagi dan aku juga berjanji tidak akan menyakiti hatimu walau itu sedikitpun," balas Putera.
Lovely tersenyum. "Terima kasih, lagipula mana bisa aku marah kepada orang yang selalu membantuku dan juga keluargaku. Oiya aku belum sempat mengatakan terima kasih padamu, karena telah menyelamatkan Ron waktu itu."
Putera tersenyum, perkataan dari Lovely tadi membuat ia semakin mencengkram erat pinggang istrinya. "Tidak masalah, yang terpenting bagiku kau tidak marah lagi." Lalu pria itu mulai mendekatkan wajahnya untuk meraih sesuatu yang sudah lama menganggur.
"Ehem!" Martin berdehem.
Putera pun segera menarik wajahnya dan mereka berdua menjadi salah tingkah.
"Maaf mengganggu waktumu Pak Putera, saya kesini mau mengganti isi ruangan ini dengan yang baru," ucap Martin tidak enak hati.
"Tidak apa Martin, masuklah dan kerjakan segera. Dan kau Lovely mulailah bekerja setelah semuanya siap," ucap Putera lalu meninggalkan ruangan itu dengan wajah yang memerah.
.
__ADS_1
.
Bersambung.