
"Dira ..." ucap lembut Nyonya Rosa di depan muka pintu toko.
Tuan Dira menoleh dan dia terkesiap dengan wanita yang baru saja memanggil namanya. "Rosa ..." sahutnya lalu berdiri cepat.
"Dira ... Dira ..." Nyonya Rosa memanggil nama Tuan Dira berkali-kali.
Wanita itu juga nampak terengah-engah dan masuk ke dalam toko untuk menghampiri mantan suaminya yang masih terdiam.
"Akhirnya aku bisa bertemu juga denganmu," ucap Nyonya Rosa lalu segera berdiri berhadapan dengan mantan suaminya itu.
"Sedang apa kau disini?" tanya Tuan Dira.
Nyonya Rosa nampak menangis tersedu-sedu, kemudian meraih kedua tangan Tuan Dira dan menggenggamnya. "Dira, aku mohon. Tolong bujuk Putera agar ia mau mencabut tuntutannya kepada Alex."
Tuan Dira terdiam, lalu menghapus air mata yang mengalir di wajah Nyonya Rosa. "Jangan menangis, duduklah dulu," ucapnya sambil mengajak duduk.
"Duduklah dulu Nyonya, kau terlihat lelah sekali. Biar ku bawakan air minum dulu untukmu," ucap Ibu Diana, lalu pergi membawakan gelas baru dan menuangkan air ke dalam gelas tersebut.
"Terima kasih, kau baik sekali. Apa kau pemilik toko ini?" tanya Nyonya Rosa kepada Ibu Diana.
"Benar Nyonya, aku pemilik toko bunga Love's Florist," jawab Ibu Diana.
"Oh itu berarti kau adalah Mama mertuanya Putera. Maaf aku tidak mengenalimu," balas Nyonya Rosa memijat pelipisnya.
"Tidak apa Nyonya, aku mengerti. Kalian berbincanglah terlebih dahulu, aku harus melayani pelangganku yang baru saja datang. Tuan Dira, aku tinggal sebentar."
Tuan Dira mengangguk. "Baiklah, jika butuh sesuatu panggil aku saja."
Ibu Diana tersenyum kemudian meninggalkan Tuan Dira dan Nyonya Rosa untuk berbincang berdua.
Nyonya Rosa senantiasa memperhatikan tingkah keduanya, lalu timbul beragam pertanyaan tentang hubungan Tuan Dira yang begitu dekat dengan wanita lain.
"Rosa, kau memikirkan apa?" tanya Tuan Dira saat melihat Nyonya Rosa diam saja.
__ADS_1
"Tidak ada Dira, lupakanlah itu. Sekarang aku ingin minta tolong padamu, bujuklah Putera untuk mencabut laporan tuntutannya kepada Alex. Kau tahu bagaimana keluarga Peterson jika sudah marah bukan, dia bisa berbuat nekad menghalalkan segala cara. Aku takut Peterson akan menyakiti atau mencelakai putraku," ucap Nyonya Rosa.
Tuan Dira menatap Nyonya Rosa, lalu menggeleng perlahan. "Tidak Rosa, aku tidak akan membujuk Putera untuk menarik tuntutannya. Karena menurutku tindakan anak itu sudah benar, lagipula aku telah berjanji akan selalu mendukung setiap langkahnya dan mengenai keselamatan Putera, aku lebih memahaminya daripada dirimu."
"Dira! Apa kau tidak tahu kalau aku juga mencemaskan dia, bagaimana aku sangat mengkhawatirkan keselamatan dirinya jika tuntutan itu sampai berlanjut? Dia akan menjadi bulan-bulanan Peterson," balas Nyonya Rosa.
"Kau mengkhawatirkannya? Lalu, kemana saja kau selama 36 tahun ini? Apa kau pernah sekali datang dan mengucapkan kalau kau begitu perhatian padanya?" balas Tuan Dira menatap tajam mantan istrinya itu.
Nyonya Rosa terpaku dan tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya air mata yang bisa dia tunjukkan kalau dirinya hanyalah seorang wanita lemah yang tidak berdaya.
"Kenapa kau diam saja? Apa kau sudah mengakui jika ucapan ku itu benar, bahwa kau sama sekali tidak peduli padanya. Lalu untuk apa datang kesini!" tegas Tuan Dira memalingkan wajahnya.
"Dira! Maafkanlah aku, aku memang salah karena telah meninggalkan kalian berdua. Tapi sebagai seorang ibu aku juga tidak bisa melihat anak-anakku terluka. Ku mohon Dira penuhilah permintaanku ini, tolong cabut tuntutan itu. Aku mohon padamu," isak tangis Nyonya Rosa memohon.
Tuan Dira merasa sedih, karena hatinya sudah terluka begitu dalam oleh wanita yang sedang memohon dikakinya itu. Namun melihat mantan istri yang paling dia cintai itu menangis begitu sesak, membuat hatinya jadi ikut terenyuh.
"Pergilah, aku akan bicarakan masalah ini kepada Putera. Tapi jangan paksa aku lagi kalau anak itu tidak ingin menarik keputusannya," balas Tuan Dira.
Nyonya Rosa menghentikan tangisnya dan menengadah ke atas memandang Tuan Dira. "Benarkah kau akan bicara pada anak kita, aku percaya padamu Dira. Aku yakin Putera akan mendengar permintaan darimu," balasnya senang.
"Terima kasih Dira, kau memang seorang pria sejati." Nyonya Rosa tersenyum, lalu memeluk lembut tubuh Tuan Dira sebagai tanda terima kasihnya.
Namun Ibu Diana yang melihat hal tersebut lantas bersedih dan berpikir jika cinta nyonya Rosa dengan Tuan Dira tidak akan berakhir begitu saja.
Tak terasa kedua bola mata Ibu Diana mulai berair, lalu dengan segera ia menghapus air mata itu agar tidak dilihat oleh siapapun dan memilih pergi untuk mengerjakan pekerjaan mengurus bunga, sambil menunggu keduanya selesai berbincang.
...***...
Tuan Dira segera melepaskan pelukan Nyonya Rosa disaat dirinya tersadar jika mereka bukanlah seorang suami istri lagi, terlebih tempat itu adalah milik orang lain yang akan menjadi istri barunya.
Pria itu segera menghampiri Ibu Diana yang sedang memotong tangkai bunga mawar yang berduri.
"Akh!" ringis Ibu Diana disaat jarinya tidak sengaja tertusuk duri.
__ADS_1
Tuan Dira yang melihat kejadian tersebut segera berlari menghampiri Ibu Diana, lalu meraih tangan yang berdarah itu lalu menceramahinya.
"Apa kau baik-baik saja? Mengapa kau memotong sambil melamun hah? Lihat jarimu jadi berdarah begini!" ucapnya kemudian menghisap jari Ibu Diana yang mengeluarkan darah.
Sedangkan Ibu Diana hanya bisa terdiam menerima perlakuan manis tersebut dan menarik tangannya agar terlepas. "Jariku baik-baik saja Tuan, aku sudah terbiasa tertusuk seperti ini," balasnya lalu berdiri untuk pergi.
"Kau ingin kemana?" tanya Tuan Dira.
"Mengambil plester luka," balas Ibu Diana.
Wanita itu kemudian mengambil kotak P3K miliknya dan membalutkan plester pada jari telunjuknya yang terluka.
Entah mengapa setelah melihat kejadian tuan Dira dan nyonya Rosa berpelukan tadi membuat dirinya malah berubah sedih, hingga tidak terasa memakai plesterpun selalu saja salah posisi.
"Ck!" decak Ibu Diana.
"Sini biar aku pakaikan," ucap Tuan Dira lalu duduk dan membantu Ibu Diana memakaikan plester. "Kenapa kau jadi kikuk begitu," ucapnya lagi.
"Tidak, aku biasa saja." Ibu Diana enggan menatap wajah Tuan Dira.
"Apa kau cemburu melihat mantan istriku datang kemari?" tanya Tuan Dira.
"Tidak," jawab Ibu Diana membohongi perasaannya.
"Diana, Rosa adalah masa laluku. Dia telah pergi dariku sejak lama dan tidak akan mempunyai peluang untuk kembali ke dalam kehidupanku lagi. Aku berjanji bahwa kaulah satu-satunya wanita, yang akan menjadi teman hidupku selamanya." Tuan Dira tersenyum lembut, kemudian memeluk Ibu Diana agar perasaannya menjadi lebih tenang.
Ibu Diana terpejam dan merasakan hangatnya pelukan itu, siapa sangka diusia yang sudah tidak muda lagi, ia masih bisa merasakan cinta dari seorang pria yang tulus kepadanya.
Sementara itu Nyonya Rosa terbelalak melihat kejadian tersebut. "Dira, tak ku sangka kau sudah punya wanita pengganti diriku."
.
.
__ADS_1
Bersambung.