Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 28. Pergi berbulan madu.


__ADS_3

Keesokan paginya.


Pagi-pagi sekali Putera sudah bangun dan segera membereskan selimut serta bantal bekas tidurnya semalam untuk dirapihkan ke tempatnya semula.


Ia menaruh bantal di sisi ranjang dan melihat Lovely masih tertidur pulas dengan gaya tidurnya yang memukau.


Padahal hanya memakai piyama sederhana dan wajah yang tidak di rias sama sekali, namun nampaknya hal tersebut memberi kesan tersendiri bagi Putera.


Entah pesona macam apa yang sedang dikeluarkan oleh Lovely dan gaya tidur seperti apa yang sedang ia lakukan. Hingga membuat suaminya itu betah mematung sambil menelan ludahnya berkali-kali.


"Kenapa dia begitu terbuka sekali," gumam Putera, ketika melihat tiga kancing piyama bagian atas istrinya tidak berkaitan satu sama lain, hingga menampilkan pemandangan indah walau tidak sepenuhnya.


Putera menghembus nafasnya kasar, rasa penasarannya akan wanita membuat dirinya terus mendekat dan ingin sekali menyentuhnya walau sesaat.


Tapi apalah daya, dia telah berjanji untuk tidak melanggar kesepakatan yang telah dibuat bersama sebelumnya dan salah satu dari perjanjian itu adalah untuk tidak sembarangan menyentuh bagian mana-mana tubuh Lovely.


Awalnya lelaki itu menyanggupi dan menganggap enteng segala sesuatu perjanjian yang berhubungan dengan Lovely, karena ia yakin rasa bencinya yang mendalam terhadap seorang wanita.


Menjadikan dirinya akan lebih mudah menyanggupi, menjauhi dan tidak memikirkan hal-hal yang berbau intim bersama dengan Lovely setelah menikah.


Akan tetapi entah mengapa setelah melihat bagain tubuh istrinya yang hanya sekilas itu membuat Putera kembali terngiang-ngiang dan selalu terbayang akan rasa menyentuh dan juga ingin mencicipi bagaimana rasanya bagian tubuh mulus milik istrinya sendiri.


Ia pun duduk di samping Lovely dan mengulurkan kedua lengannya bermaksud untuk menutupi belahan menggodanya itu.


Namun Putera berhenti mengulurkan tangannya ketika sepasang mata terbuka dengan cepat dan menatap tajam dirinya.


"Aakkhh!!!"


Lovely tersentak kaget dan segera beranjak dari tidurnya, sambil terus menutupi bagian dada dengan kedua tangan yang bersilang.


"Apa yang sedang kau lakukan! Kau ingin apa hah!" sentak Lovely.


"M-maaf, kau salah paham. Aku hanya ingin menutupi dadamu saja," balas Putera gugup.


"Dada?" Lovely kemudian menatap piyamanya yang terbuka dan dia terbelalak.


"Apa yang telah kau lakukan, kenapa bajuku bisa terbuka seperti ini!" geram Lovely sembari meraba seluruh tubuhnya.


Putera menggeleng sambil melambai cepat kedua tangannya. "Tidak! Jangan berpikiran negatif tentangku. Aku tidak menyentuhmu sama sekali," balasnya.


"Pembohong! Lalu kenapa kau duduk di sebelahku, menjauhlah dariku sekarang juga!" sentak Lovely dan menghempaskan bantal kepalanya ke arah Putera bertubi-tubi.


"Aku tidak berlaku seperti itu, jadi berhentilah memukuliku seperti ini!" Putera menangkis serangan Lovely dan refleks menyergap raga istrinya agar berhenti memukulinya.

__ADS_1


Pria itu mengunci kedua pergelangan tangan Lovely dan mengungkungnya agar diam.


"Kau mau apa? Menjauhlah dariku!"


Putera segera membungkam mulut istrinya dengan satu tangan agar berhenti berteriak. "Jangan berteriak seperti itu. Percayalah, aku tidak melakukan apapun padamu. Aku hanya ingin menutup saja," balasnya.


"Mmphh!" Lovely meminta di lepaskan.


"Oh maaf, aku tidak sengaja." Putera segera menarik diri dan berlari pergi ke kamar mandi, karena ada sesuatu yang bangun dalam dirinya.


"Dasar pria menyebalkan, tidak penepat janji!" ucap Lovely sembari melemparkan bantal kepalanya ke punggung Putera yang tengah berlari.


...***...


Setelah selesai berkemas dan berpakaian, Putera dan Lovely turun ke bawah untuk bergabung dengan Tuan Dira di atas meja makan.


Mereka berdua saling terdiam dan membuang muka satu sama lain, karena emosi atas kejadian bangun tidur tadi di dalam kamar.


Tuan Dira senantiasa memperhatikan hal tersebut dan segera bertanya. "Kenapa kalian saling diam seperti itu, apa kaliam nerdua sedang bertengkar?"


"Tidak Papa," balas Putera dan Lovely bersamaan.


"Lalu kenapa kalian berpakaian rapi seperti ini, ingin kemana?" tanya Tuan Dira.


"Dan kau Lovely?" tanya Tuan Dira.


"Aku ingin ke toko bunga dan berjualan," balas Lovely.


Tuan Dira menggeleng sambil mengacungkan jari telunjuknya yang bergoyang ke kanan kiri. "No no no no! Hari ini kalian tidak boleh kemana-mana," ucapnya.


"Kenapa?" tanya Lovely dan Putera bersamaan.


"Kalian masih pengantin baru dan masih ada satu kegiatan yang belum kalian lakukan," balas Tuan Dira.


"Apalagi, kami berdua sudah menikah. Apalagi yanh belum dilakukan?" tanya Putera.


"Ini, pergilah ke sini. Papa sudah pesankan tiket beserta hotel dan juga persiapan lainnya untuk kalian pergi berbulan madu," balas Tuan Dira.


"Apa! Bukan madu?" pekik Putera dan Lovely bersamaan.


"Iya bulan madu, setelah sarapan, kalian pergilah. Pesawatnya akan berangkat jam 10 pagi. Hotel dan segala macam tempat wisata untuk kalian sudah tertera jelas disini dan kalian tinggal menuruti saja apa yang ada," balas Tuan Dira.


"Tidak Papa, menurutku menikah saja sudah cukup. Kami berdua tidak perlu berbulan madu segala!" tolak Putera dan di sambut anggukan kepala setuju dari Lovely.

__ADS_1


Tuan Dira menggeleng. "Tidak, kalian harus berbulan madu. Kalau tidak begitu bagaimana kalian bisa disebut sebagai pengantin baru," balasnya.


"Tidak! Menurutku, pekerjaan di perusahaan lebih penting!" tegas Putera.


"Pekerjaan di kantor masih ada Opa dan juga Papa yang menangani, kau sudah diberi ijin cuti menikah selama 1 minggu. Jadi ambillah kesempatan itu, kalau bisa cuti selama sebulan juga tidak apa-apa. Asal perginya berduaan bersama dengan istrimu," balas Tuan Dira.


Putera dan Lovely saling memandang dan akhirnya hanya bisa menghela nafas pasrah, makan pun jadi tidak berselera karena pikiran sudah melayang kemana-mana.


"Bulan madu? Bagaimana kalau dia mulai berubah pikiran dan berlaku macam macam kepadaku," batin Lovely.


"Bulan madu? Bagaimana kalau aku tidak bisa mengontrol diriku ini," batin Putera.


"Sudah jangan banyak berpikir dan melamun, setelah sampai disana kalian bisa bebas melakukan apapun yang kalian mau. Sekarang bersiaplah, setelah sarapan pagi kalian akan pergi untuk bersenang-senang." ucap Tuan Dira membuyarkan lamunan keduanya.


"Tapi aku belum berkemas," balas Lovely.


"Tidak perlu, karena Papa sudah menyiapkan koper untuk kalian berdua dan di dalamnya juga sudah diisi beberapa pakaian dan bermacam perlengkapan pribadi lainnya," balas Tuan Dira.


"Tapi, aku harus mengecek terlebih dahulu. Takut ada yang kurang atau tertinggal," balas Lovely.


Tuan Dira menggeleng. "Tidak perlu, semua sudah lengkap. Papa yakin itu,' balasnya.


"T-tapi," ucap Lovely ragu-ragu.


"Selamat bersenang-senang!" Tuan Dira menggiring Putera dan Lovely agar masuk ke dalam mobil untuk segera berangkat berbulan madu ke Bali.


...***...


"Kita terjebak," ucap Putera.


"Aku lebih terjebak lagi, karena harus berduaan denganmu selama satu minggu dalam satu kamar," balas Lovely.


"Mau bagaimana lagi, Papa sudah menyiapkan semua ini. Kalau kita menolak, sudah pasti itu akan mengecewakannya. Dan aku tidak ingin membuatnya sedih kemudian terkena serangan jantung lagi," balas Putera dengan semua kepasrahannya.


"Kau benar, nasi sudah menjadi bubur. Lebih baik kita jalani saja apa yang ada, lagi pula bulan madu tidak selamanya melakukan hal kotor bukan?" balas Lovely.


"Hem," balas Putera mengangguk.


Mereka berdua menginjakkan kaki ke dalam pesawat dan terbang menuju ke tempat tujuan.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2