Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 70. Kehamilan


__ADS_3

Rumah sakit.


Lovely mendapatkan memeriksakan diri ke dokter, setelah mengalami nyeri tidak biasa pada bagian perutnya itu.


Ia di giring oleh suster kebagian poli kandungan, setelah ia mengeluh ketika melihat adanya bercak kecoklatan yang keluar dari bagian intinya.


"Apa anda tidak haid selama beberapa bulan ini?" tanya sang Dokter S.pog memastikan.


Lovely terkesiap, karena sibuk bekerja serta masalah yang terjadi akhir-akhir ini. Ia sampai tidak memikirkan tamu yang biasanya selalu datang setiap bulan.


"Iya Dok, saya baru ingat kalau saya sudah telat haid selama 3 bulan," jawab Lovely.


"Lalu selain itu apa lagi keluhan anda?" tanya Dokter.


"Mual dan pusing, saya juga merasa lelah sekali. Apalagi kalau selesai melakukan pekerjaan," jawab Lovely.


Dokter menduga satu hal, setelah mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaan yang diajukan olehnya kepada sang pasien dan itu menguatkan dugaannya terhadap sesuatu.


"Berbaringlah, saya akan periksa bagian perutmu." titah sang Dokter.


"Baik Dok," jawab Lovely menurut, kemudian berbaring di tempat yang disediakan dalam ruangan tersebut.


"Pak Putera, anda bisa ikut melihat. Silahkan menunggu disebelah istri anda selama saya memeriksa bagian perutnya," ucap sang Dokter.


Putera pun mangut-mangut, merasa penasaran dengan kondisi sang istri.


...***...


Selama dokter S.pog memeriksa bagian perutnya, Putera dan Lovely senantiasa memperhatikan dengan seksama.


Ada rasa penasaran didalam benak mereka berdua, apakah mungkin ada sesuatu mukjizat didalam perut yang sedang diperiksa ini.


Dokter tersenyum dan menatap pasangan suami istri yang sedang berkonsultasi dengannya. "Selamat tuan dan nyonya, sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua. Dan usia kandungan istri anda telah memasuki bulan ke tiga!"


Lovely dan Putera tercengang bersamaan, kemudian menatap satu sama lain.


"Kau dengar itu sayang, kita akan menjadi orang tua. Kita akan punya bayi dan aku akan menjadi seorang ayah!" seru Putera begitu suka cita.


Tak ada bedanya, Lovely turut bahagia mendengar kabar baik tersebut, terlebih saat melihat Putera yang begitu gembira. Hingga ia sendiri tanpa sadar menitikkan air matanya dan jatuh berguguran begitu saja.


Putera yang melihat Lovely menangis pun dengan segera menangkup kedua sisi wajahnya. "Ini kabar baik sayang, kenapa kamu menangis?" tanyanya bingung, sambil mengusap air mata yang membasahi di pipi istrinya.


"Tidak apa-apa, aku hanya senang melihatmu senang." Lovely tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu, aku sudah tidak sabar memberi kabar bahagia ini kepada semua orang!" seru Putera dan Lovely mengangguk cepat tanda setuju.

__ADS_1


"Maaf tuan, mengingat kondisi kandungan nyonya Lovely sedikit lemah. Disarankan untuk banyak beristirahat ya, jangan terlalu lemah. Kurangi aktifitas suami istri dan jangan lupa minum vitamin dan penguat kandungannya," saran Dokter.


Lovely dan Putera mengangguk mengerti. "Baiklah Dokter, apapun akan aku lakukan untuk kebaikan istri dan calon anakku ini," jawab Putera.


"Bagus kalau begitu! Nyonya, pemeriksaan anda telah selesai dan jangan lupa untuk sering memeriksa kandungan anda ke dokter ya, agar kita bisa pantau kesehatannya," ucap Dokter menyudahi pemeriksaan tersebut.


"Baik Dokter," balas Lovely, kemudian mengambil buku catatan berisi jadwal pemeriksaan dan juga untuk mencatat perkembangan bayinya.


...----------------...


Mansion Putera.


Mengetahui tentang kondisi istrinya yang sedang hamil dan membutuhkan banyak istirahat, Putera memutuskan untuk membawa istrinya itu untuk pulang ke rumah.


"Putera, kalau aku pulang. Bagaimana dengan pekerjaanku dikantor?" tanya Lovely menolak untuk berbaring dikamar.


"Sayang, pekerjaanmu biar Martin yang mengerjakan. Aku ingin kau benar-benar istirahat tanpa melakukan sesuatu, karena aku ingin calon anakku selalu dalam keadaan sehat." Putera membaringkan Lovely.


"Tapi, aku belum bilang kepada Martin berkas-berkas itu ada dimana dan apa saja yang belum selesai," balas Lovely berusaha bangkit kembali.


Putera berdecak kesal dan menghembus nafasnya kasar, tidak lupa memberi tatapan tajam kepada wanita yang dia cintai itu.


"Kan ada aku," jawabnya singkat.


"Tidak ada tapi-tapi! Aku ingin kau istirahat, mengertilah Lovely. Aku tahu kau ingin bekerja, tapi aku juga ingin kau menjaga anak kita ini dengan baik!" ucap Putera menekankan.


Lovely menghela nafasnya panjang dan akhirnya menurut. "Baiklah, tapi kau tahu aku orangnya tidak bisa diam. Bagaimana bisa aku tidur seharian disini tanpa melakukan apapun," jawabnya.


"Jangan khawatir, aku akan pulang cepat dan memanggil Mama kesini. Biar ada yang menemanimu, bagaimana?" tanya Putera memberi saran.


"Ah kau benar juga, ya sudah aku akan menelpon Mama nanti. Kau pergilah bekerja," ucap Lovely. Kemudian meraih tas dan mengambil ponselnya. Lalu menghubungi ibu Diana untuk datang ke rumah.


Sementara Lovely menelepon ibunya, Putera memandangi wajah istrinya itu. Dia begitu bahagia sekali ketika menyadari kebenaran yang ada, ternyata dia bisa juga jatuh cinta.


Cinta itu nyata!


"Kau benar Papa, cinta itu nyata. Dan aku sekarang percaya dan telah menemukannya," batin Putera seraya menatap lekat wajah istrinya yang tertawa.


...***...


"Ly ada kabar baik untuk mama, tapi Ly akan beritahu kalau mama sudah tiba di rumah!" seru Lovely merahasiakan kehamilannya.


"Jangan membuat teka teki dan membuat mama penasaran seperti itu Lovely!" jawab ibu Diana lewat ponselnya.


Lovely terkekeh sambil membayangkan wajah ibunya yang penasaran. "Sudahlah, lebih baik datang saja kesini. Dan mengenai toko kita, tutup saja dulu sehari," jawab anak itu menasehati.

__ADS_1


"Baiklah, mama menyerah tidak ada yang bisa menolak keinginanmu." Ibu Diana kemudian menutup panggilan tersebut.


Lovely tersenyum dan tidak sabar memberitahu kehamilannya pada sang ibu, lalu menatap Putera yang masih menatapnya. "Kenapa belum pergi?" tanyanya.


Putera mendekatkan diri dan tersenyum, lalu mencium bibir ranum istrinya sebelum kembali ke kantor. "Aku mencintaimu, tunggu aku pulang ya."


Lovely tersenyum. "Aku juga mencintaimu," balasnya mengangguk.


Putera kemudian berdiri dari tepi kasur dan keluar dari kamarnya dengan langkah kaki semangat, demi menempuh gelar yang sebentar lagi akan dia dapatkan.


Yaitu menjadi seorang ayah!


...----------------...


Perusahaan Mahesa.


Setibanya di kantor, Putera mentraktir semua karyawan perusahaannya itu dengan membelikan pizza dan juga makanan lainnya.


Tidak tanggung-tanggung, pria itu bahkan tanpa ragu memberikan bonus satu bulan gaji untuk seluruh karyawan yang bekerja di perusahaannya.


Hal tersebut membuat semua karyawan kantornya berseru senang, namun apa alasan sang bos melakukan hal itu. Tidak ada yang tahu.


"Pak Putera, apa ada alasan anda melakukan ini semua?" tanya Martin penasaran, sambil mengunyah pizza perlahan.


Putera tersenyum, kemudian memberikan segepok uang tunai kepada Martin. Hingga sang asistennya itu hanya bisa melonggo dengan mulut yang penuh dengan pizza.


"Ini bonusmu bulan ini dan makanlah yang banyak!" seru Putera.


Membuat Martin tersedak makannya sendiri, hingga terbatuk-batuk. "B-bonus," ucapnya sambil memukul dadanya yang tersedak. "T-tapi kenapa Pak?" tanyanya penasaran.


Putera terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Benar Martin, karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah!" seru pria itu begitu semangat, serta meluapkan semua rasa gembiranya yang meletup-letup.


Martin terbelalak mendengar berita tersebut, sampai-sampai pria itu menjatuhkan pizzanya kelantai, lalu dengan segera dia mengambilnya lagi. "B-benarkah?" tanyanya grogi.


Putera mengangguk, merasa aneh juga dengan asistennya yang turut syok dan bahagia.


"Kalau begitu selamat Pak Putera!" seru Martin kemudian pergi untuk mengabari semua orang di dalam perusahaan tersebut.


Pitera terkekeh dan menghela nafasnya panjang, tidak terasa sebentar lagi dia akan menjadi ayah dan tidak sabar menunggu waktu itu terjadi.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2