Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 59. Penyatuan (21++)


__ADS_3

...WARNING!!!...


...BAB INI MENGANDUNG UNSUR 21+, JIKA KALIAN YANG MASIH BERUSIA DIBAWAH 21 TAHUN, DISARANKAN UNTUK SKIP BAB INI. DAN JIKA ADA BOCIL YANG KETAHUAN MEMBACA BAB INI, MAKA AUTHOR SUMPAHIN MATANYA BINTITAN....


...SEKIAN TERIMA KASIH, SELAMAT MEMBACA, SELAMAT KEPANASAN....


...SALAM NGANU DARI AUTHOR!!...


...----------------...


...----------------...


Sesampainya di tepi ranjang, Putera perlahan menurunkan raga Lovely di atas pembaringan dan mulai merangkak naik mengungkung raga istrinya. Kemudian terdiam sejenak, hanya untuk menatapi wajah mereka satu sama lain.


Putera tersenyum, begitu juga dengan Lovely. Ada perasaan gugup dan juga malu yang melanda pada keduanya, karena ini adalah kali pertamanya mereka akan melakukan hubungan badan antara suami dengan istri.


Putera menghela nafasnya. "Apa kau sudah siap?" tanyanya pada Lovely yang kini telah berada dibawah rengkuhannya.


Lovely hanya mengangguk dan tersenyum malu-malu, kedua lengannya bahkan tak pernah ia lepaskan dari leher sang suami.


"Kau begitu cantik, malam ini aku bahagia sekali. Karena kau akan menjadi milikku seutuhnya," puji Putera dengan suara beratnya yang sudah tidak tahan menahan hasrat.


Lovely tersenyum, pujian dari suaminya itu ternyata berdampak positif bagi dirinya sendiri. Dimana alergi pada tubuhnya maupun Putera tidak bereaksi disaat seperti ini.


Hal tersebut membuat keduanya saling bersyukur, karena telah sembuh dari rasa gatal yang menyiksa. Tidak seperti reaksi tubuh mereka terdahulu, yang akan bereaksi negatif jika mendengar kata cinta maupun kata-kata romantis lainnya.


Putera mulai melakukan pemanasan, walau ia sendiri pun tidak punya pengalaman sama sekali mengenai bagaimana cara melakukan hubungan bercinta dengan seorang wanita.


Namun ia telah banyak belajar dari situs internet, maupun dari Emily si wanita bayarannya itu, tentang apa saja yang harus dilakukan pertama kali dalam membangkitkan sebuah gairah dalam berhubungan.


Akan tetapi, kali ini Putera sendiri akan mengikuti naluri kedewasaannya, sebagaimana yang dilakukan oleh seorang pria kebanyakan pada umumnya, karena menurutnya itulah yang paling terpenting.


Sebab setiap pasangan mempunyai cara bercintanya masing-masing, begitupun dengan Putera. Dia ingin sekali memiliki ciri khas sendiri dalam bergaya saat berhubungan nanti.


...***...


Putera masih betah bermain-main di atas bibir Lovely, kali ini dia ingin menyesap lembut dan perlahan-lahan, untuk merasakan sensasi nikmatnya pertautan yang didasari oleh keinginan hati tanpa pemaksaan atau beban sama sekali.


Pria itu perlahan mulai menyesap kuat setiap lekukan bibir dan membuka mulutnya demi menerobos masuk ke dalam rongga mulut.


Tak butuh waktu lama, Lovely menyambut indera pengecap yang ingin bermain di dalam rongga mulutnya itu dan mereka kini bersatu membelit lidah dan saling bertukar saliva.


Setelah puas mengabsen setiap deretan gigi dan bermain-main didalam sana, Putera melepas pagutan tersebut dan menatap lekat wajah Lovely dengan nafas yang terdengar memburu.


Keduanya kini telah memanas, merasakan gairah yang telah bangkit dari dalam tubuh. Putera dan Lovely saling meraba tubuh satu sama lain, demi merasakan hangat dan lembutnya sentuhan masing-masing dari indera perabanya.


"Aahh ..." desaah lembut dari bibir sensual Lovely mulai terdengar, ketika Putera meraup daun telinga, disertai sebuah gigitan kecil diatas sana.


Hal itu membuat Lovely bergelinjang berkali-kali, merasakan tubuhnya seketika meremang dan merinding tidak karuan, akibat ulah Putera yang tiada henti-henti mencumbui dirinya.


Tidak ada bedanya dengan Lovely, Putera pun merasakan hal demikian. Dia terpejam menikmati sapuan lembut bibir Lovely pada leher kekarnya, sesekali mengerang panjang, hingga mendesaah merasakan kenikmatan.


Sebuah sensasi yang baru pertama kali mereka rasakan dan itu membuat keduanya kini semakin memanas terbakar oleh gairah.


Putera mulai menuruni wajahnya, menyapu habis seluruh leher jenjang Lovely dan tidak lupa meninggalkan beberapa jejak percintaannya diatas sana.


"Aah ...." Lovely pun mendesaah, suara lirihan keluar begitu saja dari mulutnya dan itu menambah keberingasan Putera dalam menjelajahi raga sang istri.


Lembar demi lembar, pakaian yang menempel disekujur tubuhnya telah ia ditanggalkan dan dilemparnya ke sembarang arah hingga berceceran di atas lantai.


Kini Putera telah bertelanjang dada, hanya sebuah celana boxer pendek yang menutupi bagian sensitif miliknya itu.

__ADS_1


Sesuatu benda pusaka berbentuk belut listrik berukuran raksasa, yang tersembunyi dibalik celana dalamnnya dan belut listrik tersebut nanti akan mengarungi sebuah goa didalam lembah hitam lembab milik istrinya itu, jika sudah tiba pada masa waktunya.


Putera berganti membalikkan raga Lovely dan mulai kembali menjelajah bagian punggung mulus istrinya itu, lalu menyicipi seluruh bagian belakangnya tanpa cela sedikit pun.


Serta tidak lupa meninggalkan jejak percintaan sebanyak-banyaknya, dibagian mana-mana tempat yang ada.


Sedangkan Lovely hanya bisa mendesaah pasrah, mendapat perlakuan menyenangkan tersebut secara bertubi-tubi dari suaminya sendiri.


Kini tubuhnya sudah melemas tidak berdaya, namun Putera tidak membiarkan dirinya menganggur sedikit saja, karena pria itu kini telah membuka habis seluruh pakaiannya dan mulai mencumbui area sensitif bagian bawah.


Lovely kembali bergelinjang kesana kemari, dengan mulut yang terus menganga lebar. Desahann serta suara lirihan selalu keluar silih berganti dari mulutnya itu tanpa bisa berhenti, terlebih jika Putera sedang memainkan lembah hitam miliknya.


"Hmm ..."


Lovely menjambak rambut Putera yang sedang asyik membenamkan wajahnya dibagian area sensitifnya, sesekali ia terkekeh geli saat goa sempit miliknya dibuat main dengan ujung lidah Putera yang terus saja melakukan gerakan memutar dan mengelitiki bagian sensitifnya itu.


Nafas wanita itu pun semakin tidak beraturan, dadanya naik turun begitu cepat, seiring dengan datangnya sebuah gelombang aneh yang kini merangsek masuk ke dalam sukmanya.


Lovely mengerang dan menggeleng. "Stop Putera! A-aku ingin pipis," lirihnya mendesaah.


Putera tidak menghiraukan panggilan tersebut, karena dia tahu itu bukanlah keinginan untuk buang air kecil, melainkan sesuatu puncak kenikmatan yang akan keluar dalam waktu sebentar lagi.


"Ah, Putera! No!" pekik nikmat Lovely sambil mengigit bibir bagian bawah, sesekali menggeliat dan menggelengkan kepalanya.


Namun semakin Lovely melarangnya, semakin sengit pula Putera memainkan area sensitif tersebut.


Kali ini pria itu menatap wajah Lovely yang sudah memerah tidak karuan, ia menyeringai tipis dan berganti memasukkan jari tengahnya ke dalam goa sempit milik istrinya itu.


"Emmh!!"


Lovely mencengkram kuat sprei pada kedua sisi tangannya, bersamaan dengan masuknya salah satu jari Putera.


Wanita itu kembali bergelinjang dan meremang tidak karuan, disaat Putera memainkan bagian intinya yang sudah basah itu dengan gerakan memutar, bahkan menusuk masuk dan keluar secara bergantian.


"Ah! Putera ..." lirih Lovely.


"Keluarkan sayang jangan ditahan," desahh Putera menambah tempo gerakan jarinya. Lalu mencium bibir Lovely dan melumaatnya dengan gairahh.


"Ehmmp!"


"Eeggh ...! Aahh! Ah ..."


Lovely telah melakukan pelepasan, diiringi dengan keluarnya cairan bening yang membasahi bagian intinya itu.


Wanita itu pun melemas tidak berdaya, dadanya kembang kempis mengatur nafas yang nampak tersengal dan ia kini hanya bisa memandangi wajah Putera yang tersenyum damba padanya.


...***...


Setelah Lovely melakukan pelepasan, kini mulailah si belut listrik raksasa yang ingin beraksi.


Ia membuka celananya yang sudah terasa sesak, dan menyeringai sesaat menatap wajah Lovely berubah pias setelah melihat belut listrik raksasanya itu.


"Besar ya?" tanya Putera begitu sombongnya.


Lovely hanya bisa terbelalak, sekaligus menelan ludahnya kasar. Tidak bisa dia bayangkan benda sebesar itu akan menghujam masuk ke dalam intinya.


Tapi ia sudah tidak bisa melarikan diri lagi, karena Putera telah mengunci semua pergerakannya.


"Jangan takut, proses ini hanya akan sakit dalam waktu sebentar saja," ucap Putera sok sekali.


Lovely hanya mengangguk dan berharap Putera tidak akan membunuhnya, dengan benda keramat sebesar dan sepanjang itu.

__ADS_1


Putera mulai menggesekkan bagian inti Lovely dengan senjatanya, dengan hasrat yang telah menggebu dia menyentaknya dengan sekuat tenaga.


Namun aksinya terhenti saat melihat Lovely meringis kesakitan. Pelan-pelan pria itu menarik nafas dalam-dalam dan berkonsentrasi penuh, walau Lovely yang berada dibawah kungkungannya terus saja menjerit kesakitan meminta untuk disudahi.


"Tahan sayang, sebentar lagi," bisik Putera kemudian menciumi bibir Lovely dengan mesra.


"Ehmp ...."


Selama pertautan bibir itu berlangsung, Putera kembali menyerang. Dirasa sudah tepat kepala belutnya menghadap lubang goa. Ia segera menekan pinggulnya dan menyentak tanpa ampun.


Hingga mau tidak mau, lubang sempit milik Lovely itu pun akhirnya harus koyak, oleh ulah kebringasan si belut listrik raksasa milik Putera.


"Aaggh!!" Lovely memekik, disaat penyatuan itu terjadi. Air matanya langsung berderai membasahi wajahnya, dikarenakan rasa sakit serta perih yang menjalar diseluruh bagian dalam intinya.


Ia pun menangis terisak dan memukuli raga kekar Putera bertubi-tubi, karena rasa sakit yang ia terima.


Namun Putera tidak mempermasalahkan pukulan tersebut, karena ia sendiri sedang tersenyum menatap wajah Lovely yang tengah memarahi dirinya.


"Maaf ..." ucap Putera masih betah membenamkan senjatanya di bagian dalam intinya itu dan belum bergerak sama sekali.


Karena ia ingin Lovely membiasakan dirinya terlebih dahulu saat menerima kehadiran benda asing yang berada dalam intinya itu.


Walau jauh didalam hati, dirinya sudah tidak sabar ingin sekali menghujam kuat lubang kenikmatan yang begitu menggoda baginya.


...***...


Putera mulai menghentak perlahan disaat Lovely sudab terbiasa menerima kehadiran senjata miliknya, itu ditandai dengan desahaan yang kembali keluar dari mulut sang istri.


Putera pun menambah tempo gerakannya, sesekali meraung dan memejamkan mata sambil menikmati cengkraman kuat dari inti Lovely yang terasa amat sempit untuk pusakanya.


"Oh nikmat sekali ..." lirih Putera mendesaah bersamaan dengan bunyi hentakan pinggulnya yang sudah semakin berirama.


Tak ada bedanya dengan Putera, Lovely juga telah menikmati aktifitas tersebut dan keduanya kini saling mengerang hebat dan mendesaah bersamaan, hingga memenuhi seluruh ruang didalam kamarnya.


Peluh terlihat bercucuran membasahi tubuh mereka, raungan serta pekikan nikmat silih berganti keluar dari mulut mereka berdua, yang saling bertukar peluh dan saling menyebut kata cinta.


"Ah! aku mau keluar," desaah Putera, ketika merasakan gelombang itu datang memenuhi seluruh inderanya.


Begitu pula dengan Lovely, wanita itu juga merasakan gelombang nikmat akan hadir kembali menerjang tubuhnya.


"Oh Putera, aku juga mau keluar!" pekik Lovely, sesaat tubuhnya kembali menegang.


"Kita keluarkan bersama," ucap Putera kemudian menambah tempo gerakannya.


Mereka kembali mengerang, terlebih Putera semakin semangat memacu dan memompa tubuh Lovely.


Membuat wanita itu meremang dan semakin bergelinjang, ia terpejam sambil menegadahkan wajahnya ke atas dengan mulut yang terus menganga.


Gelombang nikmat itu telah berada di puncak kepalanya dan pekikan nikmat keluar setelah ia melakukan pelepasan. Lalu diiringi dengan keluarnya cairan bening beserta darah suci perawaannya.


Lovely pun ambruk, namun Putera masih belum melakukan pelepasan. Ia masih berjuang memompa tubuh istrinya dan mengerang disaat gelombang nikmat itu hadir padanya.


"Jadi beginikah rasanya bercinta dengan orang yang kita cintai, nikmatnya."


Putera terus meraung dan tak lama kemudian ia pun merasakan pelepasan kenikmatan surga dunia tiada tara. Diiringi dengan membuncahnya semburan lahar hangat memenuhi seluruh liang inti milik istrinya.


Pria itu pun ambruk diatas raga Lovely dan mengecup seluruh wajah istrinya sambil mengucapkan kata cinta dan terima kasih, dengan senjata yang masih terbenam sempurna.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2