Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 63. Penjelasan.


__ADS_3

"Aku sangat mencintaimu Rosa, aku menginginkanmu kembali kepadaku. Aku ingin sekali membebaskan mu dari si Peterson breng-sek itu!" tegas Tuan Dira.


Betapa terkejutnya Ibu Diana setelah mendengar perkataan suaminya itu. "Tidak ku sangka, kau masih menginginkan mantan istrimu kembali. Jika wanita yang kau cintai sudah kembali kesini, lalu apa gunanya aku berada disini," batin Ibu Diana merasa sedih. Sambil menangis menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Wanita itu berubah menjadi lemah dan memutuskan untuk kembali ke dalam kamar untuk tidur, sebelum dirinya mendengar kata-kata lain yang dapat menyakitkan hati.


Langkah kakinya terlihat goyah karena tubuhnya mendadak lemas begitu saja, lalu ia berhenti masuk ke dalam kamar, sesaat melihat pintu kamar Ron yang berada di sebelah kamarnya.


Ibu Diana menghela nafasnya dan memutuskan untuk tidur bersama malam Ron ini dikamar putranya.


...***...


Sementara itu Nyonya Rosa tersenyum, ketika Tuan Dira mengatakan hal itu kepadanya. Namun, senyum diwajahnya itu seketika runtuh, ketika mendengar kelanjutan dari kata-kata sebelumnya.


"Aku memang sangat mencintaimu dan aku juga sangat menginginkan dirimu agar kembali ke sisiku, bahkan aku sampai gila karena telah kehilangan dirimu. Tapi Rosa, itu semua telah berlalu dan kau telah terlambat," ucap Tuan Dira.


Kemudian pria itu menunjuk sebuah foto pernikahannya dengan wanita lain yang terpampang nyata didinding ruangan dimana mereka sedang berdiri.


Nyonya Rosa menoleh kearah yang sesuai dimana Tuan Dira sedang menatap dan mengacungkan jari telunjuknya ke sebuah foto pernikahan berbingkai berukuran besar.


Wanita itu langsung tersadar jika pria yang berdiri dihadapannya sudah menjadi milik wanita lain.


"Kau lihat wanita di dalam foto itu, dia bernama Diana dan dia sekarang adalah istriku. Dia adalah wanita yang selalu menemaniku, menjadi temanku disaat diriku sedang sedih dan kesusahan. Dia yang selalu ada dan menenangkanku disaat aku masih buta akan cintaku padamu," ucap Tuan Dira menegaskan.


"Dia juga wanita yang dapat menyembuhkan hatiku dari luka, dengan senyumnya, dengan tawanya dan juga dengan caranya yang lembut," sambungnya lalu menatap Nyonya Rosa kembali.


"Dan kau, setelah aku bahagia dengan wanita pilihanku. Kau datang kesini dan meminta kembali padaku, kau terlambat Rosa. Karena cintaku sudah mati untukmu sejak lama dan aku telah sadar cintaku lebih pantas untuk wanita itu. Wanita yang telah menjadi istriku," ucap Tuan Dira menjelaskan isi hatinya.


Nyonya Rosa menangis dan terduduk lemah tak berdaya. "Kau benar, tidak seharusnya aku datang kesini dan meminta padamu untuk menerimaku kembali. Aku benar-benar wanita yang tidak tahu diri," balasnya terisak.


Tuan Dira menatap Nyonya Rosa dan berjongkok. "Rosa, kembalilah pada suamimu. Bukankah kau mencintainya," sarannya.


Nyonya Rosa menggeleng. "Aku tidak ingin kembali padanya, dia pasti akan mengekangku. Dira, tolong ijinkan aku tinggal beberapa hari disini, setelah aku mendapatkan tiket, maka aku akan pulang ke kampung halamanku."

__ADS_1


Tuan Dira mengangguk. "Baiklah, bermalam lah disini selama satu hari. Aku akan membantumu memesan tiket pulang," balasnya.


"Terima kasih Dira," balas Nyonya Rosa.


Tuan Dira meminta kepala maid untuk menyiapkan satu kamar tamu untuk nyonya Rosa bermalam di mansionnya. Lalu setelah siap, Tuan Dira kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


...***...


Setibanya di dalam kamar, Tuan Dira segera mencari istrinya yang tidak ada di atas kasur.


"Bukankah dia sedang tidur tadi, ada dimana dia sekarang?" batin pria itu bertanya-tanya.


"Diana ..." panggil Tuan Dira sesekali menengok ke arah sudut ruangan. Namun wanita yang sedang dicari tidak kunjung jua ditemukan.


Pria itu kemudian keluar dari kamarnya lagi dan melihat pintu kamar Ron yang sedikit terbuka, lalu ia mendorong pintu tersebut perlahan dan menengok ke arah dalam.


"Diana," panggil lembut Tuan Dira kepada sesosok wanita yang tengah duduk menyelimuti anak tirinya.


Ibu Diana menoleh dan memalingkan wajah kembali, saat sang suami mulai duduk di dekatnya.


Ibu Diana menghela nafas. "Ron mimpi buruk dan terbangun tadi, sepertinya malam ini aku harus menemaninya tidur," balasnya menolak.


"Ron mimpi buruk, kenapa bisa seperti itu?" tanya Tuan Dira lalu mengecek kondisi Ron. "Dia sepertinya tidak apa-apa, Diana ayo kita kembali, kau juga harus segera tidur."


"Tidak Dira, Ron sedang membutuhkanku. Sama seperti Rosa yang sedang membutuhkan dirimu," balas Ibu Diana mulai menyinggung masalah yang ia lihat tadi.


Tuan Dira terkesiap dan berganti berjongkok dihadapan Ibu Diana. "Diana, kau mengatakan apa? Aku juga membutuhkanmu," ucapnya.


Ibu Diana memalingkan wajahnya dan tidak ingin menatap wajah suami yang sedang menatapnya. "Bukankah kau masih mencintai wanita itu, lalu kenapa kau menikahiku. Dia sudah kembali, bukankah itu yang kau inginkan sejak lama, kau seharusnya senang dan bisa hidup bersama dengannya lagi sekarang."


Tuan Dira mendesaah kasar, lalu berdiri dan menarik tangan Ibu Diana agar ikut dengannya kembali ke dalam kamar.


"Kau ingin apa, sudah ku katakan aku ingin tidur dengan Ron saja!" ucap Ibu Diana menolak untuk ikut.

__ADS_1


"Diana, jika ingin membahas masalah ini, tolong jangan dikamar anak kita. Aku tidak ingin dia terbangun," balas Tuan Dira.


Ibu Diana menatap Ron yang sedang tertidur pulas, perkataan Tuan Dira membuat dirinya mengikuti kemana langkah pria itu membawanya.


Tuan Dira melepaskan cekalan tangan Ibu Diana sesaat mereka telah sampai di dalam kamarnya. Pria itu segera menangkup kedua sisi wajah istrinya dan menatap serius.


"Diana, apa yang telah kau lihat dan dengar?" tanyanya memastikan, namun Ibu Diana enggan menjawab.


"Diana, please. Jangan marah seperti itu padaku," ucapnya lagi.


"Dira, bukankah wanita yang kau inginkan sudah datang kembali. Lalu mengapa kau masih menemuiku," ucap Ibu Diana.


"Diana, berhenti bicara ngawur seperti itu! Asal kau tahu saja sayang, aku sudah tidak mencintai wanita itu lagi. Aku sudah tidak menginginkan dia kembali, kau adalah istriku dan kau lah wanita satu-satunya yang aku cintai sekarang ini. Percayalah padaku," balas Tuan Dira kemudian memeluk istrinya yang mulai bersedih.


"Lalu bukankah kau memang menginginkannya kembali, membebaskan dia dari pria breng-sek itu. Apakah yang ku dengar tadi itu salah?" tanya Ibu Diana.


"Diana, aku memang mengatakan itu semua. Tapi kau telah salah paham, karena yang kau dengar itu tidak semuanya. Percayalah Diana, aku tidak menginginkan dirinya lagi. Aku hanya menginginkan dirimu," balas Tuan Dira menyakinkan.


"Apa itu benar? Apa kau sedang tidak berbohong padaku?" tanyanya memastikan.


"Kau boleh belah dadaku ini dan mengorek semua isi yang ada didalamnya untuk mencari kebenaran yang bisa menghilangkan semua keraguanmu itu," balas Tuan Dira membuka kancing kemeja dan memamerkan dadanya.


Ibu Diana menatap wajah Tuan Dira, kemudian mengancingi kembali kemeja suaminya yang terbuka. "Aku percaya padamu," balasnya singkat.


Tuan Dira tersenyum kemudian menghapus air mata pada kedua mata istrinya. "Terima kasih karena telah percaya padaku, jangan menangis lagi. Kalau kau masih ragu, maka katakan saja. Aku akan membuang semua keraguanmu itu," balasnya meyakinkan.


Ibu Diana tersenyum dan menggeleng perlahan. "Kau telah menjadi suamiku dan sudah seharusnya aku percaya padamu," balasnya.


Tuan Dira memeluk erat istrinya dan merasa bersyukur karena mendapat seorang istri yang penuh pengertian.


"Sudahlah, sekarang lebih baik kita beristirahat." Tuan Dira lantas mengajak istrinya untuk berbaring dan beristirahat diatas pembaringan, agar bisa menyongsong esok pagi dengan semangat dan juga aktifitas yang baru.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2