Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 47. Perkelahian.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Perusahaan Mahesa Group.


Putera telah menaruh beberapa orang-orang kepercayaannya untuk berjaga di sekitar toko bunga dan dimanapun Ibu Diana serta Ron berada.


Hal tersebut lantas ia sampaikan kepada Lovely dan wanita itu pun merasa lega setelah mendengar kabar baik tentang penjagaan disekitar keluarganya tersebut.


"Bagaimana apa kau sudah merasa lega sekarang?" tanya Putera melalui ponselnya.


"Benar aku sedikit merasa lega, terima kasih karena kau telah membantuku mengawasi mereka berdua," balas Lovely dari ujung sebrang sana.


"Sama-sama, jangan sungkan seperti itu. Keluargamu adalah keluargaku juga," balas Putera.


Kemudian pria itu pun mematikan ponselnya dan menatap foto Lovely yang berada di atas meja kerjanya.


"Maaf aku berbohong padamu," gumam Putera.


Pria itu terpaksa harus membohongi istrinya sendiri, mengenai keberadaan Ron yang menghilang entah kemana.


Hal itu dia lakukan agar tidak menimbulkan rasa cemas, yang mengakibatkan Lovely menjadi sedih dan pergi keluar dari rumahnya untuk mencari keberadaan Ron.


Putera menarik nafas dalam-dalam, kemudian bangkit dari kursinya dan memutuskan untuk pergi mencari kemana perginya Ron sendiri.


Tak berapa lama kemudian, Putera mendapatkan kabar mengenai Ron. Ia pun bergegas ke rumah Leo, sesaat mendapat kabar dari Ibu Diana jika Ron telah dibawa oleh seseorang, setelah diberitahu oleh teman sekelasnya saat jam pulang sekolah.


Entah bagaimana caranya Leo dapat membawa Ron dengan begitu mudahnya, namun satu hal yang pasti. Putera akan membawa Ron kembali ke keluarganya, demi janji sebagai seorang pria dan juga janjinya kepada Lovely.


"Tenanglah Ma, aku berjanji akan membawa Ron kembali dengan selamat," ucap Putera kepada Ibu Diana yang menangis.


"Mama ikut ya," lirih Ibu Diana tidak ingin melihat menantunya pergi sendirian.


"Jangan khawatirkan aku, aku bisa menjaga diri. Lagi pula aku pergi bersama dengan Martin dan juga orang-orang kepercayaanku. Sekarang hubungilah kantor kepolisian dan beri alamatnya kepada mereka," balas Putera.


Ibu Diana mengangguk. "Baik, Mama akan telepon mereka. Jaga dirimu baik-baik," balasnya.


"Hem," balas Putera. Kemudian memacu mobilnya menuju kediaman Leo bersama dengan Martin dan juga orang-orang kepercayaannya.


"Harusnya aku meminta orangku berjaga juga di sekolah Ron, aku benar-benar kecolongan!" umpat Putera memaki dirinya sendiri dalam hati.


...***...


Kediaman Leo.


Sementara itu, seorang pria paruh baya telah tertangkap tangan oleh anak buah Leo dalam kondisi babak belur saat hendak mengambil anaknya yang ingin diambil kembali secara diam-diam.


Ia dilempar ke depan hingga tersungkur dibawah kaki Leo. "Paman Marsan, akhirnya kau datang kesini juga!" serunya menyeringai.


"Kembalikan Ron ..." lirih Pak Marsan merintih.


Namun Leo tidak memperdulikan hal tersebut, ia malah menjambak rambut Pak Marsan agar menengadah keatas untuk menatap dirinya yang sudah gemas sejak lama.

__ADS_1


"Dasar penjilat, membuatmu mati saja rasanya tidak akan cukup. Kali ini aku ingin melihat bagaimana penderitaanmu saat aku menyiksa anakmu juga," ucap Leo.


Pak Marsan menggeleng dan menangis, ia sampai merangkapkan kedua tangannya dan memohon. "Jangan Nak Leo, habisi saja Paman tapi jangan Ron. Dia masih sangat kecil."


Leo tertawa. "Masa bodo!" sentaknya. Lalu meminta anak buahnya untuk membawa Ron ke hadapannya. "Bawa kesini adik kecilku yang tampan itu!" titahnya sambil menatap Pak Marsan yang menangis tidak berdaya.


...***...


Sementara itu Putera dan Martin baru saja tiba di rumah Leo dan mereka mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Biar aku dan Martin saja yang masuk ke dalam, kalian semua tunggulah di luar sini. Jangan membuat keributan di dalam rumah orang, tunggulah sampai polisi benar-benar datang kesini," titah Putera kepada lima orang kepercayaannya.


"Baik Pak!" patuh mereka kemudian menunggu di mobil.


"Pak Putera, rumah ini terlihat sepi sekali. Apa ada orangnya di dalam?" tanya Martin membuat Putera mencebik.


"Aku datang bersamamu Martin dan belum tahu kondisi di dalam seperti apa, kau malah bertanya seperti itu padaku," balas Putera kemudian melangkahkan kaki lebih dalam.


"Iya juga ya dasar bodoh kau Martin!" batin Martin lalu menyusul Putera yang melangkah jauh di depannya.


Setibanya di dalam rumah, Putera dan Martin digiring oleh anak buah Leo untuk bertemu dengan bos mereka.


Putera terbelalak, ketika melihat seorang pria paruh baya tergeletak tidak berdaya di bawah kaki Leo dan Ron menangis terisak di pangkuannya.


"Siapa pria itu, apakah dia Papa Marsan?" batin Putera bertanya.


Ada perasaan geram menerpa pria itu, ketika melihat kelakuan dari orang jahat yang begitu tega melakukan hal tersebut kepada orang yang lebih tua darinya.


Sedangkan Leo terkejut, ketika melihat kedatangan tamu tak diundang di dalam rumahnya. "Mau apa kau datang ke rumahku?"


"Tidak bisa, kami baru saja bertemu. Lagipula bukan dirimulah yang kami inginkan datang kesini," balas Leo. Kemudian meminta anak buahnya untuk membawa Ron masuk ke kamar kembali.


"Siapa yang kau inginkan?" tanya Putera.


"Sederhana saja, aku hanya ingin Lovely disini!" jawab Leo.


"Lovely adalah istriku, maka tidak akan ku ijinkan pria manapun menyentuh dirinya dan jika urusanmu dengan papa Marsan, jangan libatkan keluarganya yang tidak bersalah," balas Putera.


"Berisik! Kau tidak perlu ikut campur masalah pribadiku, aku melibatkan siapapun itu tidak ada hubungannya denganmu!" Bentak Leo.


Kemudian pria lintah darat itu bangkit dari kursinya dan menunjuk-nunjuk wajah Putera dengan tatapan gusarnya.


"Kalau saja tidak ada dirimu, Lovely sudah pasti menjadi istriku dan ia sekarang tinggal di dalam rumah ini!" ucapnya lagi dengan kedua mata membola, apalagi saat mengingat kejadian beberapa bulan lalu saat dirinya berkelahi dengan Putera.


Putera berdecih. "Sepertinya kau masih memiliki dendam kepadaku, aku tegaskan sekali lagi. Berikan Ron sekarang juga atau aku akan menghajarmu lebih kejam daripada waktu lalu!"


Leo terkekeh. "Kau sedang masuk ke dalam kandang singa dan kau hanya berdua saja, lalu bagaimana bisa kalian mengalahkan kami semua yang berada di dalam sini."


"Kalau aku sedang masuk ke kandang singa, maka mau tidak mau akulah yang akan menjadi pawang kalian semua!" balas Putera menggertak membuat Leo semakin memanas saja.


"Bang-satt!" geram Leo, kemudian meminta beberapa anak buahnya untuk menghajar Putera yang menyindirnya terus menerus.

__ADS_1


"Dasar banci, beraninya main keroyokan. Kalau kau adalah pria sejati, maka berkelahi denganku satu lawan satu. Seperti waktu lalu dan kali ini aku pastikan kau tidak akan bisa bangun lagi!" Cibir Putera mengancam.


Leo mengeraskan rahangnya dan menitahkan agar anak buahnya agar tidak perlu turun tangan. "Baiklah, kau ingin berkelahi denganku. Jangan salahkan aku membuatmu menyesal," ancamnya.


Sementara itu Martin yang menyaksikan perkelahian tersebut, begitu takjub melihat sisi lain dari bosnya.


"Sejak kapan dia bisa bela diri?" gumam Martin bertanya-tanya.


Sedangkan Putera merasa senang dan bersemangat, sebab ia berkelahi kali ini karena ada tujuannya. Yaitu menyelamatkan keluarga orang yang ia cintai.


...***...


Sudah 15 menit baku hantam terjadi, Leo terlihat kalah telak dari Putera. Ia pun merasa kesal, lalu mundur dan meminta anak buahnya yang melanjutkan perkelahian.


"Mau pergi kemana kau banci!" ucap Putera merasa kesal karena Leo pergi meninggalkannya.


"Pak Putera, kejar saja si Leo itu. Orang-orang disini biar kami yang urus," ucap Martin kemudian berkelahi menghadapi anak buah Leo bersama dengan orang-orang kepercayaan Putera.


"Baiklah, jaga dirimu!" ucap Putera. Lalu mengejar Leo yang membawa Ron bersamanya.


"Jangan lari kau Leo!" seru Putera berlari mengejar.


Leo secepat mungkin merogoh benda pipih di dalam saku celana, kemudian menghubungi seseorang. "Bos Alex, rencana gagal. Bukannya Lovely yang datang ke rumahku, malah Putera yang datang kesini membawa orang-orangnya."


"Sialll! Lagi-lagi pria itu ikut campur urusanku!" geram Alex lewat ponselnya.


"Bantu saya Bos! Tolong bawa orang-orang bos kemari," pinta Leo.


"Baik! Kau bertahanlah, aku akan mengirim anak buahku untuk membantumu."


Belum sempat mereka memutuskan hubungan Leo berhenti karena telah terdesak ke sudut, ia memandang Putera yang menatap tajam ke arahnya.


"Siapa orang yang ada dibalik telepon itu?" tanya Putera merasa ada pria lain yang merencanakan kejahatan bersama Leo.


"Bedebah! Jangan ikut campur masalah kami!" sentak Leo kemudian buru-buru mematikan ponselnya dan menyembunyikannya ke dalam saku celana kembali.


"Baiklah, kalau begitu jawabnya di kantor polisi saja!" ucap Putera membuat Leo melongo.


"Polisi!"


"Iya angkat tangan dan kembalikan anak kecil tidak berdosa itu!" seru petugas kepolisian yang ternyata telah sampai ke kediaman Leo.


Leo berdecih dan menatap Putera gusar, tidak disangka dia kembali ke dalam sel tahanan secepat ini.


Mau tidak mau akhirnya pria lintah darat itu menyerah dan ikut digiring ke kantor polisi atas kasus penculikan seorang anak.


Sementara itu Putera menggendong Ron yang masih menangis tiada henti karena ketakutan. "Sudah jangan menangis, sekarang ikut Om kita pulang ke rumah."


Ron menghentikan tangisannya dan memeluk Putera, sesekali sesunggukkan dengan tangan yang masih memegang mainan pemberian Putera untuk menenangkan.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2