
Beberapa hari kemudian.
Ibu Diana dan Tuan Dira akhirnya telah tiba di rumahnya, selepas pergi berlibur selama beberapa hari ditempat wisata untuk berbulan madu.
Walau tidak melakukan banyak aktifitas panas yang berat disana, namun liburan beberapa hari kemarin semakin mempererat rasa cinta serta kedekatan mereka berdua.
Begitu juga dengan Lovely dan Putera, pasangan yang sudah mengenal rasa nikmat itu tidak perlu diragukan lagi aktifitas panas mereka ditempat wisata kemarin.
Karena seperti yang sudah kita duga, mereka benar-benar menghabiskan masa-masa liburan dengan bercinta dan bercinta.
Sampai-sampai, Lovely pulang ke rumahnya dalam keadaan kesulitan berjalan karena menderita sakit pinggang dan harus memakai penyangga dibagian punggungnya akibat kebanyakan gaya dalam bermain bersama dengan sang suami.
Bagaimana tidak, berbagai jenis gaya mereka telah praktekan semua. Mulai dari gaya depan, belakang, menungging, kuda-kudaan dan lain sebagainya.
Hal tersebut membuat semua orang yang melihatnya menjadi tertawa dan geleng-geleng kepala, mengingat kedua insan tersebut dahulunya memiliki sifat anti dan alergi terhadap pasangannya.
Namun setelah tahu apa itu cinta, nikmatnya kebersamaan, menjadikan mereka seperti hilang kesadaran. Tak peduli lagi dengan lingkungan sekitar, karena dunia serasa hanya milik mereka berdua.
Berbeda dengan Ibu Diana, ia bergegas memeluk Ron setelah pulang dari masa liburan dan saling bertemu kangen. Anak itu mengeluh banyak hal selama orang tuanya pergi berlibur, namun dirinya mengaku senang di asuh oleh Martin dan juga Suster Vany.
Pasalnya Martin mengajak Ron berkeliling ke tempat hiburan anak-anak, membelikannya banyak mainan, berkunjung ke tempat edukasi anak serta mencicipi berbagai makanan enak dari berbagai toko terkenal dan sudah pasti mengajak suster Vany juga tentunya.
Pengasuhan Ron oleh Martin bersama dengan suster Vany selama beberapa hari kemarin, ternyata berdampak baik untuk kedua orang itu.
Karena hubungan mereka berdua menjadi lebih dekat, Martin bahkan sudah berani mengajak suster Vany berkencan dan mengatakan perasaan sukanya kepada wanita itu agar tidak keduluan oleh pria lain.
Beruntung niat tersebut disambut baik oleh suster Vany sendiri, karena wanita itu menerima ajakan kencan Martin tanpa banyak pertimbangan maupun penolakan.
Alhasil mereka berdua kini telah pergi bersama untuk menjalani hubungan agar semakin dekat lagi.
...***...
Malam harinya.
Disaat pasangan pengantin baru ini asyik berduaan, memadu kasih dan menunjukkan rasa sayang serta cinta mereka masing-masing.
Seorang wanita paruh baya tiba-tiba datang ke rumah Tuan Dira dalam kondisi berantakan, wanita itu memaksa ingin bertemu dengan sang pemilik rumah sambil menangis terisak.
"Tolong panggilkan tuan rumah kalian, aku adalah mantan istrinya. Dia pasti mengenaliku," pinta Nyonya Rosa memohon.
__ADS_1
"Tapi Nyonya ini sudah larut malam dan tuan Dira pasti sudah tidur, anda bisa datang lagi besok pagi," balas security rumah tersebut.
"Tolong Pak, tolong sekali saja panggilkan dia untuk nertemu denganku," ucap Nyonya Rosa, sesekali menatap ke sekeliling takut ada orang-orang Peterson yang mencari dirinya.
Kepala keamanan Mansion itu akhirnya mengijinkan nyonya Rosa untuk masuk, karena prihatin melihat kondisinya yang menyedihkan.
Lalu menghubungi pelayan rumah utama, untuk menyampaikan permintaan nyonya Rosa tersebut.
...***...
Sementara itu Tuan Dira menatap lembut sang istri yang sudah tertidur lelap disisinya, lalu bangun dari tempat tidur setelah mendapat pesan dari pelayan rumah. Jika ada seorang wanita yang ingin bertemu dirinya.
"Katakan pada security kita untuk mengantar ia masuk ke dalam rumah," titah Tuan Dira saat mengetahui wanita yang datang malam-malam begini adalah nyonya Rosa mantan istrinya.
Pria itu terbelalak, mendapati sang mantan istri datang dalam keadaan berantakan dan menangis tersedu-sedu.
"Rosa ..." sapa Tuan Dira.
Nyonya Rosa mengangkat wajahnya dan menatap pria yang sudah ia sia-siakan selama ini, lalu memeluk pria itu dan menangis sambil membenamkan wajahnya pada dada berotot Tuan Dira.
"Dira ... Aku sudah tidak sanggup lagi hidup bersama dengan Peterson, dia sudah gila. Dia selalu membuatku tersiksa, aku ingin kembali padamu. Maafkan aku karena aku selalu saja menolak permintaanmu untuk rujuk dan kembali lagi kesisimu. Tapi sekarang tidak lagi, kali ini aku datang dan aku telah bersedia untuk kembali padamu. Memperbaiki semua hubungan kita dari awal," isak tangis Nyonya Rosa.
"Minumlah dulu dan tenangkan dirimu," ucap Tuan Dira sambil mengulurkan segelas air minum.
Nyonya Rosa menyambut uluran tangan berisi segelas air lalu meminumnya dan menatap wajah Tuan Dira dengan penuh harap.
"Dira, aku menyesal. Aku telah menyia-nyiakan dirimu dan aku juga menyesal telah meninggalkan anak kita. Maafkan aku, karena aku begitu bodoh tidak bisa melihat mana pria yang tulus mencintaiku dan mana pria yang hanya mencintaiku karena sebatas nafsu belaka," ucap Nyonya Rosa.
"Rosa, aku sudah mengingatkanmu berkali-kali tentang Peterson sebelumnya dan selalu membujukmu untuk kembali ke sisiku demi Putera anak kita. Tapi kau selalu saja bilang tidak ingin kembali padaku, karena kau tidak mencintaiku seperti kau mencintai Peterson."
"Kau bahkan tega meninggalkan Putera, hanya karena ingin memenuhi syarat dari pria itu agar kau bisa menikahi dirinya. Semua sudah ku ikhlaskan, aku melepaskanmu dan memutuskan merawat Putera sendirian, padahal dia sangatlah membutuhkan kasih sayang seorang ibu."
"Disaat Putera tumbuh dewasa, aku tahu diq sangat merindukan dirimu dan aku berusaha membawa kau kembali untuknya. Namun itu tidak berhasil karena kau sudah memilih untuk tidak kembali padaku."
"Putera merasa kecewa dan dia memarahiku, yang selalu mengejar dirimu untuk meminta kembali. Setiap bujukan dariku yang kau tolak, membuat dirinya semakin membenci wanita. Hingga berdampak tidak baik untuk kesehatan dirinya sendiri."
"Rosa, apa kau tahu kalau Putera memiliki alergi terhadap cinta?" tanya Tuan Dira.
Nyonya Rosa terdiam dan menggeleng perlahan. "Aku tidak tahu," balasnya lemah.
__ADS_1
"Itu semua karena dirimu, dia membenci semua hal yang berbau cinta maupun wanita. Karena rasa kebenciannya terhadap dirimu," ucap Tuan Dira tidak sanggup lagi menceritakan perjuangan hidupnya sendirian.
Nyonya Rosa menangis, tidak disangka dia banyak menyebabkan penderitaan untuk suami dan anak pertamanya.
Wanita itu sampai bersujud dikaki Tuan Dira dan meminta pengampunan. "Maafkan aku Dira, aku telah membuatmu menderita selama ini. Aku juga membuat anak kita menjadi tersiksa, aku benar-benar ibu dan istri yang durhaka."
Tuan Dira mengangkat tubuh Nyonya Rosa dan membantunya untuk duduk kembali. "Semua sudah terjadi dan berlalu cukup lama, lagipula Putera sudah menemukan kebahagiaannya." lalu mengusap air mata pada wajah nyonya Rosa.
"Kau begitu luar biasa, aku tidak sanggup berkata-kata lagi. Aku hanya bisa meminta maaf pada kalian, Dira aku bersedia untuk kembali padamu dan memperbaiki semua kesalahan yang pernah aku buat. Tolong terimalah aku kembali," pinta nyonya Rosa memohon.
Tuan Dira memalingkan wajahnya. "Maaf aku tidak bisa menerimamu kembali kepadaku," balasnya.
Nyonya Rosa bersimpu di kaki Tuan Dira dan menggenggam kedua tangannya, dia menengadah ke atas dan menatap wajah mantan suaminya itu.
"Bukankah kau sangat mencintaiku, jadi ku mohon berikanlah aku kesempatan sekali saja untuk membahagiakan kalian. Aku akan melayanimu seperti yang selama ini kau mau," bujuk Nyonya Rosa.
Tuan Dira menatap wajah Nyonya Rosa. "Maaf Rosa, kau harus mengerti. Kau telah terlambat, aku sudah tidak bisa menerimamu lagi."
Nyonya Rosa menelan ludahnya yang tercekat, kemudian berdiri. "Bukankah kau mencintaiku, lalu kenapa kau menolaknya? Aku mohon Dira bebaskan aku dari Peterson," balasnya.
...***...
Sementara itu Ibu Diana terbangun sesaat melihat suaminya tidak berada didalam kamar, dia mendengar suara ribut-ribut di lantai bawah dan bergegas turun untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Ia begitu terkejut saat mengetahui jika tamu yang datang larut malam begini adalah mantan istri suaminya yang telah lama pergi.
Lalu wanita itu bersembunyi dibalik dinding dan memilih menguping pembicaraan mereka dan menunggu sampai keduanya benar-benar selesai.
Tuan Dira berdiri dari tempat duduknya dan mensejajarkan posisinya dengan Nyonya Rosa, pria itu menatap tajam sambil memegang kedua pundak sang mantan istri.
"Aku sangat mencintaimu Rosa, aku menginginkanmu kembali kepadaku. Aku ingin sekali membebaskan mu dari si Peterson breng-sek itu!" tegas Tuan Dira.
Pernyataan tersebut membuat nyonya Rosa tersenyum, tapi tidak untuk ibu Diana yang masih menguping dibalik dinding.
.
.
Bersambung.
__ADS_1