
Satu bulan kemudian.
Feby telah berhasil melahirkan bayi perempuan hasil hubungannya dengan Alex, hal itu disambut gembira oleh keluarga Peterson. Khususnya bagi nyonya Rosa sendiri.
Wanita itu segera menghadiahkan gelang emas kepada cucunya dan tidak lupa memberikan doa-doa terbaik untuk kebahagiaan keluarga kecil Alex.
"Kau sudah punya anak sekarang, jaga dia seperti kau menjaga dirimu sendiri. Jangan lupa selalu menyayangi istrimu, karena dialah yang telah memberikanmu kebahagiaan selalu," nasihat nyonya Rosa.
Alex mengangguk, tak pernah terbayangkan jika pada akhirnya dia hidup bersama dengan Feby. Walau awalnya ia sangat tidak menginginkan Feby masuk ke dalam kehidupannya, namun seiring berjalannya waktu.
Feby nyatanya mampu menggeser wanita lain disisi hati Alex, wanita itu bahkan selalu menceramahi Alex agar selalu bersikap dewasa sebagaimana dirinya akan menjadi seorang ayah.
Wanita itu juga menasehati sedikit demi sedikit agar tidak terus bermusuhan dengan keluarga Mahesa.
"Walau bukan saudara kandungmu, tapi kak Putera tetaplah kakakmu. Hormatilah dia, mungkin dengan begitu kalian bisa akur. Masalah lama janganlah dibawa terus, kau harus segera melupakan kebencian dan juga iri hatimu kepada kak Putera."
"Kau sudah memilih jalan terbaik, dengan menata masa depan baru bersama denganku. Kita sudah memiliki keluarga kecil bahagia, begitu juga dengan mereka," ucap panjang lebar Feby.
Alex merenungi semua itu, memang rasa iri hati dirinya kepada Putera sungguhlah besar. Namun yang sebenarnya terjadi, dialah yang bersalah, karena melarang sang ibu untuk berkomunikaai bahkan bertemu dengan kakak tirinya itu selama ini.
Hingga hubungan anatara nyonya Rosa dan Putera pun semakin memburuk, hanya karena rasa takutnya akan kehilangan seorang ibu, jika ibunya itu kembali kepada keluarga lamanya.
Tetapi setelah melihat ibunya yang selalu bersamanya hingga sampai saat ini, Alex menyadari jika Putera juga membutuhkan kasih sayang darinya.
"Mommy," ucap Alex.
"Iya sayang ada apa?" tanya nyonya Rosa sambil menggendong cucunya yang baru berusia beberapa hari.
Alex mengumpulkan keberaniannya terlebih dahulu, sesekali berusaha menelan ludahnya yang tercekat.
"Mom, maaf selama ini aku selalu melarangmu untuk berhubungan dengan Putera. Aku sadar bahwa kalian juga sama-sama membutuhkan, maafkan aku terlalu egois pada kalian berdua. Hingga memisahkan hubungan antara ibu dengan seorang anak, hanya karena rasa takutku kehilangan dirimu," ucap Alex mengakui.
"Tapi mulai sekarang, aku tidak akan melarangmu lagi untuk bertemu dengannya atau ingin melepas rindu dan juga sebagainya," ucap Alex menimpali.
Nyonya Rosa terpaku mendengar pernyataan Alex yang membebaskan dirinya untuk berhubungan dengan Putera anak pertamanya yang sudah lama ia rindukan. "Apa kau serius dengan ucapanmu itu?" tanyanya.
Alex mengangguk pasti, kemudian menghampiri Feby dan duduk disisinya. "Tentu Mommy, kapanpun kau ingin bertemu dengannya. Temuilah," jawabnya.
Nyonya Rosa menarik senyum, walau sedikit begetar tapi hatinya sangat bahagia. Tanpa banyak kata, wanita itu memeluk Alex dan mencium pipinya.
__ADS_1
"Terima kasih sayang," ucap nyonya Rosa kemudian menyerahkan bayinya kembali.
"Sama-sama Mom," balas Alex.
Nyonya Rosa begitu bahagia, akhirnya ia dapat menunjukkan kasih sayang kepada Putera tanpa diam-diam lagi. Walau dia tahu Putera masih belum bisa memaafkan dirinya, akan tetapi nyonya Rosa merasa yakin. Dengan ijin dari Alex, ia mampu membuat Putera memaafkan dirinya.
...----------------...
Mansion Putera.
Sementara itu di tempat tinggal berbeda, Lovely berusaha membujuk Putera untuk tidak memusuhi keluarga Peterson lagi, terutama nyonya Rosa ibu kandungnya.
"Sayang, aku tahu kehidupanmu dimasa lalu cukup pahit karena ditinggal oleh seorang ibu kandung. Tapi Putera, itu sudah berlalu cukup lama. Aku ingin sekali melihatmu berbaikan dengan mama Rosa," ucap bujuk rayu Lovely.
Putera menghela nafasnya, lalu menggeleng. "Tidak semudah itu Lovely, karena nyatanya kebencianku kepada wanita itu sudah mendarah daging sampai sekarang ini," jawabnya menolak.
"Sadarlah Putera, bukanlah benci yang tertanam didalam hatimu itu. Tapi rasa rindu, aku tahu kau merindukan sesosok ibu dalam hidupmu. Namun kau selalu saja menyangkalnya, karena sebab itulah kai membencinya karena rasa rindumu yang tidak terbalaskan."
"Kau bahkan mengalami gejala alergi jika mendengar kata-kata manis dari seseorang, yang sebenarnya adalah kau membutuhkan kata-kata sayanh itu dari orang yang kau cintai."
"Putera, suamiku tersayang. Cobalah untuk menghapus rasa bencimu itu, karena aku yakin rasa rindumu pada mama Rosa lebih besar dari pada rasa bencimu padanya," tutur Lovely.
...***...
Putera meninju apapun benda disekelilingnya, hingga hancur berantakan. Lalu berjalan menuju sofa yang berada di dalam kamar itu, dengan langkah terhuyung-huyung.
Pikirannya penuh dengan wajah nyonya Rosa, wajah wanita yang selama ini dia benci dan juga ia rindukan.
Kemudian dengan kasar ia menghempaskan diri diatas sofa dan menengadahkan wajahnya menatap langit-langit kamar, sesekali memejamkam kedua mata dan mengumpat kata-kata kasar.
"Dia bukan ibuku!" sentaknya masih menyangkal.
Putera kemudian menunduk, berganti menatap lantai kamar marmernya yang berkilau. Lalu menangkup kedua sisi wajahnya dan tak terasa air mata keluar dari pelupuk matanya begitu saja hingga menetes dan jatuh kelantai.
"Aku memang merindukannya, tapi selama ini dia tidak pernah ada untukmu. Aku membencimu mama, aku membencimu!"
Putera kembali melempar benda apapun yang berada disekitarnya, lalu berganti menggaruki tubuhnya yang tiba-tiba gatal begitu saja.
"Siall! Jangan gatal lagi!" umpat Putera, sambil mengusap seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Lalu ia membuka baju dan segera berendam di dalam bathtub berisi air hangat, untuk meredakan rasa gatal yang menyerang pada tubuhnya itu.
Tapi sayang beribu sayang, rasa gatal tersebut tidak kunjung mereda, bahkan kondisinya semakin parah karena Putera menggaruknya dengan kasar akibat emosi.
Dan hal tersebut membuat sekujur tubuhnya mengalami luka lecet, tak sedikit luka lecet itu mengeluarkan darah segar.
Lovely yang melihat hal tersebut segera mengampiri, lalu memberikan salep agar luka pada tubuh Putera tidak mengalami infeksi.
"Sudaj jangan digaruk lagi," cegah Lovely menahan tangan Putera agar tidak menggaruk terus.
"Tapi ini rasanya gatal sekali," ucap Putera tidak tahan.
Lovely senantiasa memandangi hal tersebut dan akhirnya ia memahami sesuatu, karena ternyata rasa gatal Putera sebenarnya muncul dari pikiran pria itu sendiri.
Dan yang sebenarnya adalah, suaminya itu sedang melukai dirinya sendiri, karena tidak bisa meluapkan apa yang selalu saja mengganjal dihatinya selama ini.
Lovely mencekal pergelangan tangan Putera. "Sayang, jika kau ingin menangis, maka menangislah sepuasnya dan jika kau ingin marah, maka marahlah sepuasnya. Kau tidak bisa menyimpannya sendiri, karena itu berdampak tidak baik untukmu."
Putera berhenti menggaruki dirinya. "Kau itu bicara apa, aku sedang merasa gatal. Kau bukannya membantu malah cuma menasehatiku," ucapnya.
"Putera, aku sedang membantumu keluar dari masalah pribadimu. Karena selama kau belum bisa melepaskan semua yang mengganjal didalam hatimu ini, maka selama itu pula kau tidak akan pernah bisa sembuh. Karena sejatinya segala penyakit berasal dari hati dan juga pikiran orang itu sendiri," balas Lovely.
Putera terdiam kembali, jawaban yang cukup menampar untuknya, hingga dapat membuat hatinya tersadar saat itu juga. Pria itu kemudian memandang wajah istrinya dengan lekat, lalu memeluknya dengan erat.
"Kau benar sayang, aku memang merindukannya. Aku menginginkan ibu kandungku ada disisiku saat ini, tidak seharusnya aku membencinya. Aku bersalah karena telah membencinya selama ini," ucap Putera terisak dan menumpahkan segala isi hatinya selama ini kepada Lovely.
Tentang keinginannya, tentang rasa rindu yang menyiksa dan tentang apapun yang berkaitan dengan nyonya Rosa.
.
.
Bersambung.
...----------------...
Hai para pembaca setia, hanya mau mengumumkan. Cerita "Cinta itu nyata" akan menghadapi beberapa episode terakhir..
Jadi mohon dukungannya
__ADS_1
terima kasih.