
Mansion Putera.
Sesampainya di rumah, kedatangan Putera dan Lovely langsung disambut hangat oleh para maid dan juga Tuan Dira disana.
"Selamat datang Putera dan menantu cantik Papa, selamat kembali ke rumah. Silahkan masuk," sapa hangat Tuan Dira kepada anak dan menantunya.
"Terima kasih Papa," sahut Lovely dan Putera bersamaan kemudian masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana dengan bulan madu kalian, apakah lancar?" tanya Tuan Dira memancing dan ingin tahu.
Wajah Putera seketika berseri-seri, karena selama berbulan madu dia berhasil tidur seranjang dengan Lovely. "Lancar," jawabnya yakin.
Walaupun tidak banyak kegiatan serius yang dapat ia lakukan diatas ranjang bersama dengan istrinya itu.
Akan tetapi yang paling terpenting saat tidur bersama selama seminggu kemarin ialah, ia telah merasakan sedikit dan juga tahu bagaimana rasanya bersentuhan dengan seorang wanita dikala itu.
Serta belajar dan memahami, bahwa berdekatan dengan wanita tidaklah begitu buruk untuk dirinya sendiri.
Bagaimana rasanya jika berdekatan dengan seorang wanita dari jarak dekat, berciuman hingga berpelukan dan menunggu reaksi apa yang akan terjadi sesudahnya.
Pria itu benar-benar banyak belajar, karena dalam waktu seminggu ini, ia telah menguasai teknik berciuman bak seorang pria handal dan telah mahir melakukannya.
"Baguslah kalau lancar, Papa senang mendengarnya. Lovely bagaimana apakah kau senang berlibur disana?" tanya Tuan Dira kepada Lovely yang hanya menunduk saja.
"Aku senang Papa," jawab Lovely.
Lain halnya dengan Putera, Lovely malah menekuk wajah cantiknya hingga berkali-kali lipat. Karena mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari suaminya itu dikala berbulan madu seminggu kemarin.
Wanita itu menjadi bahan praktek suaminya sendiri, hanya karena ingin menjawab semua rasa penasarannya selama ini terhadap seorang wanita.
Mulai dari memeluknya saat tertidur, memandangi wajahnya dari dekat, makan satu piring berdua serta baru-baru ini Putera kembali merampas satu ciuman lagi sebelum pulang ke rumah.
"Itu yang ketahuan olehku, bagaimana yang tidak ketahuannya. Pasti banyak sekali," gumam Lovely menerka-nerka.
"Syukurlah kalau kau juga senang, ya sudah! Kalian istirahatlah terlebih dahulu di kamar dan Lovely nanti malam akan ada tamu spesial untukmu," ucap Tuan Dira.
"Tamu spesial, siapa Pa?" tanya Lovely.
"Mama mu dan Ron akan datang kesini untuk makan malam bersama dengan kita," balas Tuan Dira tersenyum.
Lovely mengukir senyum indahnya, hari-hari menyebalkan saat seminggu kemarin bersama dengan Putera pun akhirnya sirna sudah, setelah mendengar kabar bahagia akan kedatangan Ibu dan juga adiknya.
Wanita itu pun berlonjak kegirangan dan refleks memeluk Putera karena saking gembiranya.
__ADS_1
"Kau dengar itu, Mama ku dan Ron si manja akan datang kesini. Aku senang sekali!" serunya seraya mempererat pelukan itu tanpa sadar.
Sedangkan orang yang sedang di peluk oleh Lovely seketika berubah menjadi salah tingkah, apalagi kejadian tersebut dilihat oleh banyak orang termasuk Papa Dira sendiri.
Putera menarik senyum tipis, bukannya mengurai pelukan Lovely, pria itu malah memeluk tidak kalah eratnya.
"Ternyata berpelukan itu sangat nyaman sekali ya, kalau begitu jangan lepas saja," bisiknya nakal.
Wanita itu pun merasa malu dan tersadar dari aksi tiba-tibanya, kemudian mengurai pelukan itu dengan segera. "Maaf, aku hilang kendali."
Putera hanya membalas semua itu dengan senyuman biasa, walau kesannya biasa saja. Namun bagi Tuan Dira itu berdampak sangat luar biasa bagi dirinya maupun untuk Putera sendiri.
Dimana akhirnya ia dapat melihat, ada senyuman juga di wajah putranya itu yang selama ini tidak pernah ia lihat sebelumnya. Dan bukan hanya itu saja, Tuan Dira juga merasa takjub.
Disaat Putera kini telah berhasil menyesuaikan diri dengan seorang wanita, dimana itu ternyata berdampak positif bagi dirinya sendiri, karena ia melihat Putera tidak menunjukkan reaksi alergi saat berdekatan sengan Lovely.
"Sudah, jangan bertengkar," ucap Tuan Dira melerai perdebatan keduanya. Lalu ia meminta para maid untuk membantu Lovely membawa semua barang dan juga tas ke dalam kamarnya.
"Bi Ami, setelah membereskan semua barang-barang mereka. Mulailah menyiapkan makan malam untuk semua orang," ucap Tuan Dira.
"Baik Tuan Besar," balas Bi Ami kemudian menjalankan perintah sesuai dengan keinginan majikannya.
"Bibi, bolehkah aku membantumu memasak. Aku tahu menu apa saja yang disukai oleh Mamaku dan juga Ron," serobot Lovely mengekor dibelakang Bi Ami.
"Ijinkan saja dia membantu di dapur Bi, sekalian beritahu chef kita apa saja menu yang harus dia masak malam ini untuk keluarga Lovely," sahut Tuan Dira.
"Baik Tuan," balas Bi Ami kemudian menatap Lovely. "Silahkan Nona, anda bisa mengikuti saya."
Lovely tersenyum. "Terima kasih," serunya bersemangat.
Sementara itu Tuan Dira mengajak Putera untuk duduk dan membicarakan masalah pekerjaan kantor bersama dengan anaknya.
...***...
Malam hari.
Ibu Diana dan Ron telah tiba di mansion, mereka langsung di sambut hangat oleh Lovely dan juga orang-orang di dalam sana.
"Mama, Ron!" seru Lovely di muka pintu.
"Lovely," sahut Ibu Diana.
"Kak Lovely!" seru Ron. Mereka kemudian saling berpelukan untuk melepas rindu.
__ADS_1
"Ini bunga untukmu," Ibu Diana menyerahkan buket bunga Lily putih kesukaan putrinya.
Lovely bersuka cita menyambut bunga tersebut. "Mama, kenapa repot-repot membawakan bunga ini. Kau tahu kan bunga ini sedikit mahal," bisiknya.
Ibu Diana tersenyum dan menatap Tuan Dira. "Iya, tapi bunga ini pesanan khusus dari papa mertuamu sendiri," balasnya.
"Benarkah, ini untukku?" tanya Lovely tidak percaya.
Tuan Dira mengangguk. "Benar, itu Papa pesankan khusus untukmu. Apa kau suka?" tanyanya.
"Aku suka sekali, ini bunga kesukaanku. Bagaimana Papa bisa tahu kalau bunga lily putih ini adalah bunga kesukaanku?" tanya Lovely sedikit bingung.
"Itu karena ibumu yang memberitahu Papa dan namamu bukankah terinspirasi dari bunga lily putih ini? Bunga yang cantik dan putih suci, serta nama mu yang juga berarti kata cinta," balas Tuan Dira bersajak seperti biasanya.
Lovely merasa tersentuh, tidak disangka Tuan Dira pandai sekali dalam menyenangkan hati wanita.
Lovely menatap takjub. "Luar biasa Papa, kau begitu memahami hati wanita. Tidak seperti anakmu itu tuh," ucap nya seperti menyindir seseorang.
Sedangkan Putera hanya berdecih saat mendengar hal tersebut dan menggaruk-garuk seperti biasa. "Dasar orang-orang aneh," gerutunya.
Lovely mendengar gerutuan tersebut dan menegur orang yang berani menyebutnya aneh. "Kau yang aneh, sedikit-sedikit merasa gatal kalau ada yang mengucap kata-kata indah seperti itu," sindirnya.
"Aku tidak aneh, hanya merasa jijik saja mendengar kata-kata kalian," balas Putera tidak mau kalah.
"Kalau jijik tidak usah dengar, masuk saja ke dalam sana!" balas Lovely ketus.
"Kau ini," Putera mendengus kesal.
"Sudah, jangan berdebat terus!" sergah Tuan Dira melerai keduanya.
"Sayang, jangan berlaku tidak sopan kepada suamimu sendiri," ceramah Ibu Diana.
"Kau dengar itu, Mama Diana benar. Berlakulah sopan kepada suamimu sendiri, yaitu aku!" tegas Putera sambil meledek.
Lovely mencebik dan menahan emosi sesaat. "Iya Ma," jawabnya patuh.
"Ya sudah, jangan ribut terus. Mari kita makan bersama," ajak Tuan Dira kemudian menuntun semuanya ke meja makan untuk makan malam.
.
.
Bersambung.
__ADS_1