
Mansion Peterson.
Nyonya Rosa merasa sedih, setelah kejadian itu dia hanya bisa menyendiri, sambil merenungi kesalahannya di dalam kamar seorang diri.
Bagaimana tidak! Demi membebaskan anak semata wayangnya dengan Peterson, ia tega menumbalkan anak yang lain.
"Maafkan Mama Putera, gara-gara Mama kalian tidak mendapat keadilan. Mama memang pantas kau benci, karena Mama selama ini tidak pernah adil padamu," lirih nyonya Rosa.
Dadanya serasa penuh sesak dengan kesalahan-kesalahan yang pernah ia perbuat pada Putera, terlebih mereka harus mengalah demi membebaskan Alex. Pria yang selalu merebut kasih sayang seorang ibu darinya.
Wanita itu tidak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri, apalagi saat berusaha memasuki rumah tangga mantan suaminya agar menimbulkan kegaduhan diantara keluarga mereka.
"Aku benar-benar wanita hina," umpatnya memaki diri sendiri.
Ia bergegas menghapus air matanya itu dan menyadarkan diri agar tidak berlama-lama tenggelam dalam kesedihannya akan semua kesalahan masa lalu.
Karena bukan tanpa sebab, tuan Peterson akan merasa tidak senang jika kedapatan dirinya sedang menangisi anggota keluarga masa lalunya, maupun segala sesuatu yang berhubungan dengan tuan Dira.
...***...
Tak berselang lama kemudian, tuan Peterson memasuki kamar dan mendapati sang istri tengah tertidur pulas.
Ia lantas merangkak naik ke atas ranjang dan menatap wajah istrinya itu dengan seksama, lalu menciumi bibir nyonya Rosa tanpa henti. Untuk melampiaskan semua rasa senangnya yang meluap kepada sang istri diatas peraduan.
"Aku merindukanmu sayang," ucap tuan Peterson, seraya mencumbuii istrinya.
Nyonya Rosa menggeliat, karena merasa ada sesuatu yang mendindih tubuh bagian atasnya dan lantas terbangun.
"Hmm Peter ..." lirih nyonya Rosa.
Lalu keduanya pun mulai melakukan hubungan panas, demi melepaskan rasa rindu didada akibat terpisah selama beberapa hari.
...----------------...
Mansion Tuan Dira.
Sementara itu Ibu Diana merawat luka diwajah suaminya yang lebam, mereka terdiam cukup lama. Hingga akhirnya Tuan Dira mengatakan sesuatu.
"Maaf ..." ucap Tuan Dira begitu lesu.
Ibu Diana menghentikan sejenak aktifitasnya. "Maaf untuk apa," balasnya.
"Maaf karena aku telah membuatmu cemas, maaf juga karena diriku kalian yang menanggung semua. Andaikan aku bisa mengendalikan diriku, Alex pasti masih di tahan," balas Tuan Dira menyesali perbuatannya.
Ibu Diana menghela nafas. "Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, ini semua bukan kesalahanmu. Karena memang merekalah orang-orang licik yang menyebabkan ini semua terjadi," balasnya menenangkan.
Tuan Dira menatap istrinya dengan tatapan sendu. "Aku bersyukur memiliki istri sebaik dirimu, kenapa aku tidak meminangmu saja sejak dulu. Aku malah masih sibuk mementingkan diriku yang selalu ingin menyendiri," balasnya.
__ADS_1
Ibu Diana menarik senyum. "Kenapa kau berpikiran seperti itu, kalau kita berjodoh. Diumur berapapun, jika Tuhan sudah berkendak maka kita akan bersatu, seperti sekarang ini."
Tuan Dira mengulas senyumnya. "Kau benar, tidak ku sangka kau yang akhirnya menjadi jodoh terakhirku," jawabnya bersyukur.
"Sudahlah jangan terlalu banyak berbicara, nanti luka dibibirmu ini tidak kering-kering," ucap Ibu Diana meledek.
Tuan Dira terkekeh. "Terima kasih, karena kau selalu merawatku dengan baik."
"Hem, sekarang lebih baik kita tidur."
Mereka berdua menarik selimut dan saling menghangatkan tubuh mereka satu sama lain, sesekali tersenyum dan bersenda gurau sebelum menutup rapat mata mereka dan membawanya masuk ke alam mimpi.
...----------------...
Mansion Putera.
Beda halnya dengan pasangan yang satu ini, Putera masih duduk termenung di tepi ranjang. Sambil mengepal erat kedua tangannya karena kesal memikirkan semua kejadian yang terjadi.
"Ternyata dugaanku memanglah benar, kalau wanita itu sudah bersekongkol bersama suaminya untuk membebaskan Alex." Batin Putera merasa sesak sekali, jika mengingat jika sang ibu kandung hanya adil kepada anak yang satunya.
Lovely menghampiri suaminya dan memeluk Pitera yang masih melamun. "Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, kenapa kau tidak tidur saja."
Putera menghela nafas dan memutar tubuhnya, menaikkan kedua kaki ke atas kasur dan menatap sang istri.
"Lovely, aku tidak bisa tidur. Semua kejadian tadi membuatku semakin gelisah, karena Alex si pengganggu itu telah bebas dari penjara dan aku yakin dia sedang menyusun rencana untuk membalas kita," ucap Putera.
"Kenapa kau harus gelisah sayang, selama ada aku disisimu. Kau tidak perlu banyak khawatir tentang kebebasan Alex," balas Lovely menenangkan.
"Berjanjilah padaku, untuk tidak pergi dariku dan berpaling kepada pria lain. Aku mencintaimu Lovely, aku tidak ingin kehilangan dirimu. Aku juga tidak akan membiarkan pria lain merebutmu dariku," ucap Putera.
Pria itu begitu takut ditinggal oleh Lovely, sama seperti ayahnya yang di tinggal oleh nyonya Rosa disaat sedang sayang-sayang.
Lovely menggenggam tangan Putera dan tersenyum. "Kau terlalu berlebihan sekali, mana mungkin aku bisa berpaling darimu. Aku berjanji akan selalu bersamamu dan tidak akan pergi bersama dengan pria lain."
"Benarkah?" tanya Putera memastikan.
Lovely mengangguk pasti. "Sudah tentu, sekarang tidurlah. Ini sudah malam, kita harus pergi bekerja besok pagi bukan?"
Putera tersenyum dan menatap wajah istrinya penuh damba. "Lovely," panggilnya lembut.
"Iya, ada apa?" tanya Lovely.
"Aku ingin main denganmu sekali saja sebelum tidur," bujuk pria itu di telinga istrinya.
Lovely tersenyum, sesekali meremang tidak karuan disaat suaminya menciumi area sensitifnya.
"Baiklah, tapi ingat ya. Sekali saja," ucap Lovely menjauhkan wajah Putera yang ingin menyesap pucuk pegunungannya.
__ADS_1
Putera menyeringai. "Ya kalau aku ingat," balasnya bersemangat. Lalu menerkam istrinya yang masih belum siap memasang kuda-kuda.
Lovely pun hanya bisa pasrah dan menerima saja perlakuan panas yang sedang suaminya itu perbuat, sesekali mendesaah dan mengerang bersama demi menuju puncak kenikmatan surga dunia.
...----------------...
Beberapa bulan kemudian.
Semenjak Alex bebas dari penjara, Putera semakin waspada akan pergerakan pria itu. Pasalnya ia mendapat kabar jika Alex masih memiliki dendam pribadi terhadap dirinya.
Hal tersebut disampaikan oleh Martin sang asisten yang kebetulan mendapatkan info dari kerabatnya yang bekerja di perusahaan Peterson.
"Sejujurnya aku malas sekali meladeni pria itu, tapi aku juga tidak boleh mengabaikan ancaman darinya. Karena jika tidak, dia bisa saja berbuat sesuatu yang dapat melewati batas kesabaranku," ucap Putera kepada Martin.
"Benar Pak Putera, menurut saya lebih baik kita bersikap biasa saja dan jangan mudah terpancing dengan ancaman maupun perkataan buruk mereka. Karena setahuku Alex maupun tuan Peterson mempunyai tipu muslihat yang luar biasa hebatnya," balas Martin.
"Betul, mereka seperti raja drama saja." Putera menghela nafas kemudian memilih melanjutkan pekerjaannya daripada membahas kelakuan Alex yang tidak ada gunanya.
Martin terkekeh. "Raja Drama," gumamnya geli. Tapi membenarkan sebutan itu kepada keluarga Peterson.
"Kenapa cekikikan seperti itu? Jika sudah selesai tolong panggilkan Lovely ya," ucap Putera.
Martin menghentikan tawanya dan mengangguk cepat. "Siap Pak," balasnya seraya keluar dari ruangan tersebut.
Tak berselang lama setelah itu, Lovely masuk ke dalam ruangan suaminya. "Ada apa memanggilku sayang?" tanya Lovely.
Putera tersenyum dan berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri Lovely sambil tersenyum.
"Tidak ada apa-apa, hanya kangen saja. Sini duduk bersama dipangkuanku, aku ingin hari ini kau menemaniku bekerja seharian," ucapnya manja.
Lovely berdecih, semakin hari kelakuan suaminya sangat manja sekali. Sampai-sampai ia merasa mual jika melihat kemanjaan suaminya itu jika sedang bersama.
"Kenapa cemberut begitu? Apa kau mual lagi?" tanya Putera begitu cemas.
"Ya akhir-akhir ini perutku rasanya aneh, padahal aku tidak punya riwayat penyakit maag. Tapi rasanya selalu saja ingin muntah," balas Lovely bingung.
"Apa kau salah makan?" tanya Putera.
Lovely menggeleng. "Tidak mungkin, selama ini kita kan tidak jajan di luar."
Putera mengangguk. "Iya, benar kau selalu memasak untuk makanan kita," balasnya. Lalu mengajak Lovely duduk. "Kau terlihat pucat? Apa kau sakit?" tanyanya lagi.
"Aku hanya pusing, mungkin karena semalam terlambat tidur. Aku juga tidak tahu kenapa rasanya capek sekali, padahal ini masih pagi," balas Lovely.
"Kalau begitu kita ke dokter saja setelah mengerjakan ini ya," ucap Putera dan Lovely mengangguk patuh.
.
__ADS_1
.
Bersambung.