Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata
Bab 73. Mengambil inisiatif.


__ADS_3

Lusa harinya.


Sesuai jadwal kunjungan kerja hari ini, Putera bersama dengan Martin dan juga team sukses perusahaan Mahesa, datang mengunjungi sebuah tempat berupa lahan kosong yang sangat luas, dimana nantinya tanah itu akan dibangun sebuah proyek perumahaan cluster bergaya minimalis modern.


Mereka berkumpul bersama di suatu tempat berbentuk gubuk sederhana yang akan dijadikan sebagai kantor pemasaran nantinya, lalu melalukan rapat serta berdiskusi dengan pihak-pihak terkait atas pembangunan rumah cluster tersebut.


Salah satu dari mereka ialah pihak kontraktor yang akan membangun bangunan serta fasilitas-fasilitas pendukung nantinya diatas tanah tersebut.


Serta seorang perancang desain rumah juga turut hadir untuk menjelaskan hasil maha karyanya kepada semua orang.


"Silahkan pak Ken, dimulai rapat ini." Putera meminta sang arsitek kepercayaan miliknya untuk menjelaskan sebagian detail rancangan yang telah pria itu kerjakan.


"Baik pak Putera," patuh sang arsitek, kemudian menjelaskan beberapa point penting tentang gaya rumah tersebut pada papan putih yang tertembak sinar proyektor.


Begitu pula dengan orang-orang dari pihak pemborong, setelah mendapatkan giliran untuk berbicara, mereka segera menjelaskan tentang bahan-bahan material apa saja yang akan digunakan, beserta biaya anggaran proyek selama proses pembangunan itu berlangsung.


Sedangkan Martin fokus menyimak pembicaraan tersebut, sekaligus menjadi notulen rapat yang berguna untuk mencatat point- point penting selama pertemuan dari berbagai macam pihak.


...***...


Beberapa jam kemudian.


Setelah cukup lama mereka membicarakan tentang proyek pembangunan rumah tersebut, dari berbagai macam aspek serta permasalahan yang akan muncul pun tidak luput dari pembahasan mereka.


Lalu Putera beserta rombongan, bersama-sama menuju lahan kosong yang nantinya akan dibangun perumahan.


Mereka berbincang kembali, mendiskusikan segala sesuatu yang berhubungan dengan proyek, sampai benar-benar matang dan sempurna. Hingga melupakan waktu dan juga jam makan siang mereka yang telah terlewat beberapa jam yang lalu.


Tapi itu semua bukanlah tanpa sebab, karena Putera dan semua teamnya ingin proyek tersebut berjalan dengan lancar, tanpa ada suatu hambatan yang berarti.


"Pak Putera, bagaimana kalau makan siang dulu." Martin berbisik dibelakang telinga sang bos, saat cacing didalam perutnya mulai semakin terasa memberontak karena kelaparan.


Putera terdiam lalu melihat jam di pergelangan tangannya. "Kau benar Martin, ini sudah jam 3 sore. Kalau begitu kita makan siang dulu, tolong kamu pesankan makanan. Biar saya yang ajak semua orang untuk masuk ke dalam," jawabnya.


"Baik Pak," jawab Martin mengangguk. Kemudian dengan gesit merogoh benda pipih dan menghubungi toko makanan sekitar.


Sedangkan Putera menggiring semua team suksesnya agar masuk ke dalam kantor untuk memulai ritual makan siang dan menyudahi perbincangan tersebut.


...----------------...


Pada malam harinya.


Mansion Putera.

__ADS_1


Kunjungan kerja ke tempat proyek membuat Putera pulang terlambat ke rumah, namun rasa lelah karena seharian berkeliling tempat tersebut segera terobati ketika melihat sang istri yang berdiri menyambut kedatangannya.


"Sayang, kamu belum tidur?" tanya Putera sambil melonggarkan dasinya.


"Bagaimana aku bisa tidur kalau suamiku belum pulang ke rumah. Sekarang katakan padaku, apa kau sudah makan malam? Martin bilang kalau hari ini kalian sangat sibuk, sampai melupakan makan siang." Lovely membantu membuka jas dan juga sepatu suaminya.


Putera tersenyum, merasa senang sekali diperhatikan seperti itu oleh istrinya. "Aku sudah makan malam sayang, maaf kalau aku membuatmu khawatir. Sudah jangan banyak bergerak, nanti kau lelah."


Pria itu lalu melingkarkan kedua lengannya di pinggang Lovely dan menatapnya dengan lekat. "Nah sekarang giliran aku yang bertanya padamu, bagaimana keadaanmu hari ini. Apa kau sudah minum susu dan juga vitamin? Apa anakku ini sudah makan dengan cukup dan apa kau masih merasa mual?" tanyanya bertubi-tubi.


"Keadaanku sudah lebih baik, aku juga sudah makan dan minum vitamin. Susu setiap hari aku minum, hanya sehari satu kali saja karena aku tidak terlalu suka dengan bau susu hamil. Lalu rasa mualku sepertinya sudah mulai berkurang," balas Lovely menjawab setiap pertanyaan dari Putera.


"Baguslah kalau begitu, aku senang dan lega mendengarnya. Sekarang lebih baik kau beristirahat dan jangan tunggu aku, karena aku masih harus mandi terlebih dahulu," ucap Putera menuntun istrinya untuk naik ke tempat tidur.


Lovely tersenyum. "Baiklah, jangan mandi air dingin nanti kau bisa sakit. Setelah mandi kau juga harus segera tidur," nasehatnya sambil merebahkan diri.


Putera mengulas senyumnya. "Iya sayang, aku mengingatnya. Selamat malam." lalu memberikan kecupan di dahi Lovely.


"Selamat malam," jawab Lovely.


Putera mengarahkan wajahnya ke arah perut Lovely dan memberikan satu kecupan lembut diatas sana. "Selamat malam juga untukmu anak Daddy," ucapnya lalu menarik selimut.


"Sudahlah sayang, cepatlah mandi. Ini sudah malam dan kau juga harus segera tidur!" titah Lovely saat Putera bukannya pergi mandi tapi malah asyik menyelusupkan tangan nakalnya ke dalam baju.


Putera terkekeh. "Iya sayang, maaf. Habisnya kau selalu saja terlihat menggoda, apalagi kita masih belum bisa bermain. Aku jadinya serba salah begini," balasnya lalu menarik lengannya dari dalam baju Lovely.


Memang selama beberapa hari ini, ia tidak berhubungan dengan Putera, mengingat kondisi kandungannya yang masih sangat rentan.


Ia kemudian menatap punggung suaminya yang sudah polos dan bersiap untuk mandi, lalu mencegahnya agar tidak masuk ke dalam.


"Putera," panggil Lovely.


Putera pun menoleh. "Ada apa?" tanyanya.


Lovely turun dari ranjang dan menghampiri suaminya yang masih setia berdiri menunggu dirinya.


"Kenapa kau bangun, apa ada sesuatu?" tanya Putera.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya kasihan padamu. Bagaimana kalau aku membantu menuntaskan keinginanmu itu di dalam kamar mandi," ucap Lovely malu-malu.


"Benarkah?" tanya Putera mendekatkan dirinya.


"Tentu saja," balas Lovely dengan senyuman terindahnya.

__ADS_1


Putera pun melengkungkan bibirnya, hatinya merasa senang sekali. Setidaknya ia bisa merasakan istrinya semakin lama semakin mengerti akan rasa keinginan batinnya yang memang sedang membutuhkan.


Dan dia sangat bersyukur sekali, karena tanpa dipaksa Lovely akhirnya mau mengambil inisiatif sendiri melayani dirinya.


Pria itu segera menuntun Lovely masuk ke dalam kamar mandi dan memastikan kondisi lantai agar tidak licin.


Lalu tanpa banyak kata ia segera mengikis jarak yang ada dan merampas ciuman dari bibir ranum istrinya itu, sesekali menarik tengkuknya dan menyesap hingga ke dalam.


Selagi mereka menikmati pertautan itu, salah satu tangan Putera mulai mengarahkan lengan Lovely untuk menggenggam belut raksasanya yang sudah berdiri tegang.


Dan ia mendesaah nikmat, disaat istrinya terus memainkan belutnya dengan beberapa kali pijatan lembut.


Remasan demi remasan, pijatan demi pijatan, pria itu begitu sangat menikmati dan Lovely senantiasa memberikan pelayanan terbaik hingga suaminya itu benar-benar merasa puas.


...----------------...


Keesokan harinya di sebuah restoran mewah, dua wanita paruh baya saling memperkenalkan putra dan putri mereka satu sama lain.


"Desi, dia adalah putraku Alex," ucap nyonya Rosa memperkenalkan Alex kepada sahabatnya. "Alex beri salam kepada tante Desi."


"Tante," sapa Alex mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Nyonya Desi tersenyum dan menjabat tangan Alex. "Wah Rosa, putramu sangat tampan. Aku sampai heran, mengapa anakmu yang tampan ini belum menikah diumurnya yang sudah cukup. Padahal aku yakin, wanita manapun akan tertarik dengannya."


"Kau terlalu memujiku tante, aku tidak setampan itu dan mengenai aku belum menikah adalah karena aku masih belum menemukan wanita yang cocok denganku," balas Alex.


"Baguslah kalau begitu, kebetulan putri tante juga belum menikah dan tante senang karena menemukan pria yang cocok untuknya," ucap nyonya Desi.


Alex tersenyum. "Kalau begitu ada dimana putrimu tante?" tanyanya.


"Dia sedang ke toilet, katanya gugup bertemu dengan pria tampan," balas nyonya Desi sedikit berbisik.


Tak khayal nyonya Rosa pun langsung tertawa mendengarnya. "Putrimu lucu sekali, sudah besar masih saja gugup bertemu dengan seorang pria."


Nyonya Desi mengangguk pelan dan menghela nafasnya. "Ya mau bagaimana lagi, selama hidup dia belum pernah berpacaran dan itu sudah pasti membuat ia gugup saat di pertemukan dengan seorang pria yang akan dijodohkan untuknya nanti."


"Kau benar Desi, kita harus memperkenalkan mereka secara bertahap. Kalau langsung dinikahkan, bisa-bisa putrimu akan pingsan di tempat."


Mereka berdua tertawa, tapi tidak dengan Alex. Dia hanya mengepal erat tangannya karena kesal. "Cih! Belum pernah berpacaran, wanita itu paati sangat polos dan lugu. Kalau benar begitu, bagaimana bisa ia memuaskan semua keinginanku?" geramnya.


Alex merasa kesal, sepertinya wanita yang akan dipertemukan untuknya hanyalah seorang gadis biasa yang tidak bisa apa-apa.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2