
Toko bunga.
Lovely memandangi hadiah pemberian dari Putera, sambil mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu.
Dimana Putera menunjukkan perhatian yang tidak biasa kepada dirinya selama makan siang tadi.
"Bagaimana bisa dia berubah baik begitu saja dalam waktu satu hari? Lalu bagaimana bisa dia tahu apa saja yang jadi kegemaranku?" batin Lovely bertanya-tanya.
Karena setelah makan siang tadi, Putera mengajaknya jalan-jalan ke mall untuk menghabiskan hari dengan menonton film horor dan juga membelikan es krim rasa vanila disebuah kedai es.
Pria itu juga menitipkan banyak mainan anak laki-laki untuk Ron, serta membelikan banyak barang pribadi bermerek untuk dirinya.
"Dia benar-benar membelikanku banyak barang," gumamnya. Sambil membereskan semua produk dari berbagai macam brand ternama, pemberian dari Putera.
Lovely memijat pelipisnya karena pusing, jika memikirkan itu semua. Namun ada satu perkataan yang membuat hati batunya sedikit tergugah.
"Tidak ku sangka istriku sangatlah cantik, aku akan selalu mencintaimu dan berusaha untuk membahagiakanmu. Kembalilah padaku sayang, aku tidak bisa hidup tanpamu."
Seketika itu pula bulu kuduk Lovely merinding kembali, entah mengapa rasa gatal alergi suaminya itu kini pindah ke dirinya begitu saja.
Terlebih saat Putera menyanjungnya dan mengucapkan kata-kata manis tentang cinta kepada dirinya.
"Oh Tuhan, kenapa kau memberikan aku hukuman seperti ini," batin Lovely sambil menggaruk seluruh tubuhnya seperti seekor kera.
...----------------...
Beberapa hari kemudian.
Penjara.
Leo merasa gusar, ketika mengetahui dari anak buahnya jika Pak Marsan telah menipunya habis-habisan. Hingga uang simpanan dalam brankasnya pun raib tidak bersisa, karena telah dibawa lari oleh pria penjilat itu.
"Sial!! Bang-s*t! Kemana pria itu sekarang?" tanya Leo kepada salah satu anak buahnya yang memberikan informasi.
"Tidak ada yang tahu bos, ada yang melihat dia sekali, pas mampir ke toko bunga mantan istrinya itu. Tapi kebesokannya tidak terlihat lagi," balas si anak buah.
Leo meninju apapun benda yang berada disekitarnya dan merasa frustasi karena telah dikhianati oleh orang yang sudah di percayakan untuk menjaga sebuah amanat.
Amarahnya semakin memuncak, ketika mengetahui jika Lovely telah menikah dengan Putera, pria lain yang pernah ia kenal, bahkan sempat berkelahi dengannya.
"Siall! Siall!! Paman Marsan breng-s*k! Beraninya dia berkhianat, lihat saja kau paman. Aku tidak akan segan-segan menghabisimu!" geram Leo lalu menatap anak buahnya.
"Tedi, pergi ke rumah bos besar. Aku butuh bantuan dia sekarang!" titah Leo.
__ADS_1
"Bos besar? Bos Alexander maksudnya?" tanya si anak buah.
"Iya bos Alex! Bos Alexander siapa lagi!" tatap Leo begitu sangarnya.
"B-baik bos!" patuh si anak buah.
Leo kemudian memberitahu anak buahnya untuk menyampaikan pesan kepada Alexander, agar mau membantunya keluar dari penjara.
"Cepat pergi dan beritahu dia sekarang, tanganku ini sudah gatal sekali ingin mencincang si Marsan keparatt itu!" ucap Leo merasa gemas, sambil menendang apa saja yang berada di dekatnya.
"Baik Bos!" patuh si anak buah, lalu pergi dari penjara dimana Leo ditahan.
...***...
Beberapa jam kemudian, setelah mendapat pesan dari anak buah Leo, Alexander pun datang untuk menemui Leo di penjara.
Pria berwajah dingin ini berdecih saat melihat Leo mengemis meminta bantuan dirinya.
"Bos Alex, tolong bantu bebaskan aku dari sini. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan di luar penjara secepatnya," pinta Leo.
"Kau ingin melakukan apa?" tanya Alex dingin.
"Aku ingin menangkap seseorang, dia yang telah menipuku. Mengambil habis semua uangku, bahkan dia telah berkhianat membiarkan pria lain menikahi calon istriku," balas Leo kesal.
"Siapa?" tanya Alex singkat.
"Bukan Marsan, kalau pria licik itu, aku sudah mengenalnya. Maksudku siapa calon istrimu yang menikah dengan pria lain itu?" tanya Alex.
"Dia Lovely, anaknya paman Marsan. Orang yang dijanjikan untukku sebagai pengganti seluruh hutang-hutangnya padaku. Lovelyku sangat cantik, dia harusnya menikah denganku bukan dengan si Putera pengganggu itu!" balas Leo.
"Putera? Apa pria yang kau maksud itu adalah Putera Mahesa?" tanya Alex.
"Benar, anda benar bos!" seru Leo senang.
Alex tersenyum smirk. "Baiklah, aku akan membantumu bebas dari penjara. Tapi ada satu syarat yang harus kau penuhi," ucapnya.
"Apa itu bos, bilang saja!" seru Leo.
"Aku ingin Lovely, istri si Putera itu!" jawab Alex tanpa ragu.
"Apa! Apa maksudnya? Apa kau menginginkan Lovely juga?" tanya Leo.
Alex mengangguk. "Benar, aku menginginkan wanita itu. Wanita yang menjadi istri dari kakak tiriku," balasnya.
__ADS_1
Leo menggaruk kepalanya karena bingung. "Kenapa kau menginginkan wanita yang sudah bersuami, wanita itu pasti sudah tidak suci lagi. Dan apa maksudmu Putera adalah kakak tirimu bos?" tanyanya heran.
"Jalankan saja permintaanku, kau tidak perlu tahu mengenai urusan pribadiku!" tegas Alex menasehati.
"Baiklah kalau begitu," balas Leo mengalah.
Alex berdiri dari tempat duduknya dan menuju salah satu petugas kepolisian, dia menyerahkan sekoper uang tunai untuk membebaskan Leo dari tahanan.
"Selamat, mulai sekarang kau telah bebas. Ku harap kau tidak melupakan bantuanku ini dan segeralah menjalani permintaanku," ucap Alex kemudian masuk ke dalam mobilnya.
"Terima kasih dan kau tenang saja bos, aku tidak akan lupa bantuanmu ini. Setelah aku berhasil menangkap si keparatt Marsan itu, aku akan membawakan putrinya untukmu." balas Leo dengan senyuman smirknya.
Alex tersenyum tipis. "Bagus, aku harus pergi sekarang," ucap Leo kemudian memberi perintah kepada supir pribadinya untuk jalan.
Leo tertawa sambil berkacak pinggang, lalu menghirup udara segar di luar penjara. Pria itu menatap dinding rapat nan kokoh dibelakangnya itu dan meludah.
"Tidak ku sangka semudah itu melepaskanku dari penjara, mereka ternyata bisa dibeli dengan uang" ucapnya lalu pergi bersama dengan Tedi pulang ke rumah.
...***...
Sementara itu, sepanjang perjalanan ke perusahaan, Alex menatap majalah bisnis dimana ada wajah Putera di dalamnya.
Pria itu menyobek halaman yang bergambarkan wajah Putera, lalu mencabik-cabiknya hingga menjadi potongan-potongan kecil.
Alex merasa kesal jika mengingat sang Ibu kandungnya yaitu nyonya Rosa, yang selalu menyayangi Putera melebihi dirinya.
Walaupun ia telah berhasil meminta sang ibu untuk tidak kembali kepada keluarga pertamanya, namun hati nyonya Rosa selalu saja memikirkan anak kandung dari suami pertamanya itu.
Hingga Alex merasa kurang kasih sayang maupun perhatian dari ibu kandungnya sendiri dan membuat dirinya menjadi iri hati dan dengki.
Terlebih saat ulang tahun Putera, ibunya itu membuatkan sesuatu untuk anak pertamanya. Sebuah syal yang dirajut oleh tangan nyonya Rosa sendiri, walau tidak jadi memberikannya kepada orang yang bersangkutan karena takut ditolak.
Akan tetapi nyonya Rosa selalu menyimpannya disebuah kotak besar, dimana beliau selalu menyimpan hadiah buatan tangannya sendiri untuk Putera disetiap ulang tahunnya tiap tahun.
Beda hal dengan Alex, walau dia memiliki keluarga lengkap. Kekayaan yang berlimpah namun tak pernah sekalipun dia mendapatkan hadiah buatan tangan ibunya sendiri.
"Mam, akulah anakmu. Bukan dia," gumam Alex, lalu membuang potongan kertas tadi ke dalam bak sampah.
Alex juga merasa jika Putera selalu mendapatkan apa yang selalu dia inginkan, hingga mempunyai istri cantik di dalam kehidupannya.
"Bagaimana kalau milikmu itu aku ambil juga hah?" gumam Alex seraya melemparkan pandangan ke ruas jalan.
.
__ADS_1
.
Bersambung.